Halaman Utama > Fokus Internasional > Bagian 4 : Berita Kegiatan TBF Cahaya Kalacakra dan Hevajra di Candi Agung Borobudur – 23 November 2019 Upacara Agung Homa Hevajra


Bagian 4 : Berita Kegiatan TBF Cahaya Kalacakra dan Hevajra di Candi Agung Borobudur – 23 November 2019 Upacara Agung Homa Hevajra

Candi Agung Borobudur merupakan Mandala Buddha bersejarah yang terletak di Jawa Tengah Indonesia, pada abad ke-9 merupakan bangunan Buddhis yang terbesar di dunia. Namun entah semenjak kapan, Borobudur terkubur oleh debu vulkanik, pepohonan dan semak belukar, sampai akhirnya pada awal abad ke-19 ditemukan kembali oleh seorang insinyur Belanda. Setelah candi berhasil digali dan terlihat, ia membuat takjub semua orang, dan bersama tembok raksasa di Tiongkok, piramida di Mesir, Angkor Wat di Kamboja disebut sebagai empat keajaiban dari Timur. 

Dalam bukunya Dharmaraja Liansheng telah beberapa kali menyatakan kekaguman beliau terhadap Borobudur, menyatakan bahwa Candi Agung Borobudur merupakan Mandala Tantrayana terbesar. Konon Borobudur didirikan pada abad 8 s.d. 9 pada masa wangsa Syailendra. Mandala Ribuan Buddha ini disusun menggunakan 300,000 bongkah batu, dan bertingkat sembilan. Tingginya 35 meter, panjang 110 meter. Ada banyak Buddhaguha, banyak relief yang terukir sangat halus yang mengisahkan kisah hidup Sang Buddha, Lalitavistara Sutra, dan perjalanan Sudhanakumara belajar kepada 53 Kalyanamitra. 

Dharmaraja pernah mencapai puncak candi, berpradaksina dari atas sampai bawah sebanyak 1 kali putaran, sambil berpradaksina sambil menjapa Mantra Seribu Buddha. Bersyukur karena dapat berjumpa dengan Seribu Buddha, dalam batin ini hanya tersisa kerendahan hati. 

Pada Februari 2018, dua arkeolog terkemuka Indonesia : Arkeolog kehormatan dari Universitas Indonesia : Prof. Dr. Noerhadi Magetsari ( pernah menulis sebuah buku mengenai Candi Agung Borobudur ), dan tenaga ahli Menteri Pariwisata pada Badan Otorita Borobudur : Dr. Hari Untoro Dradjat, bersama berkunjung ke Taiwan untuk berjumpa dengan Dharmaraja Liansheng, memohon petunjuk Dharmaraja mengenai beberapa hal terkait bagian puncak stupa di Candi Agung Borobudur. Dharmaraja memberikan petunjuk bahwa puncak Borobudur melambangkan Adi Buddha dan alam semesta, selain itu, Dharmaraja juga menjelaskan tiga tingkat mandala : paling dasar, dalam Tantra disebut vajrabhumi, bagian tengah  mandala, dan paling atas yang melambangkan alam semesta. Para arkeolog memuji penjelasan Dharmaraja Liansheng yang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Setelah Prof.Dr.Noerhadi Magetsari kembali ke Indonesia, beliau senantiasa memuji pengetahuan Buddhadharma dan pencapaian bhavana agung dari Dharmaraja Liansheng. 

Pada bulan Oktober 2018 di Yogyakarta, True Buddha Foundation ( TBF ) menggelar acara : Lintas Nilai Sosial Budaya dan Religi Zhenfo Zong Indonesia, serta menyelenggarakan Upacara Agung Homa Maha Padmakumara Putih di Candi Agung Borobudur. Berkat banyak nidana yang istimewa ini, pada tanggal 21 s.d. 23 November 2019, Zhenfo Zong berpartisipasi dalam 'The 8th Borobudur Writers and Cultural Festival 2019', pihak penyelenggara teristimewa mengundang TBF untuk menyelenggarakan upacara homa di Candi Agung Borobudur. 

TBF memilih Kalacakra sebagai tema utama, dan mengikutsertakan karya tulis Dharmaraja Liansheng dalam pameran buku dan bincang buku bersama penulis, mengisi acara ceramah umum membedah karya ilmiah mengenai Kalacakratantra dengan isi utama berdasarkan ajaran dari Dharmaraja Liansheng. Berkat undangan panitia, tercipta nidana Dharma yang sangat istimewa, Mandala Stupa Pancacakra Kalacakra berdiri tegak di Candi Agung Borobudur, kemudian pada malam hari tanggal 23 November menyelenggarakan Upacara Homa Hevajra di zona 1 pelataran Candi Borobudur. 

Banyak fenomena manggala yang menyertai penyelenggaraan upacara kali ini, antara lain : Saat Stupa Pancacakra Kalacakra tiba di arena, langit mencurahkan amrta tirta dan gemuruh halilintar bersahutan. Sehari sebelum upacara, area Mandala Kalacakra dibersihkan oleh curahan air hujan, laksana amrta yang membasuh gunung untuk menyambut kedatngan Buddha, segalanya menjadi bersih dan sejuk. 

Ternyata sudah 6 bulan lamanya di wilayah tersebut tidak turun hujan, telah terjadi kemarau, direktur Departemen Publikasi TBF : Acarya Shi Lianyue (釋蓮悅上師) memenuhi permohonan dari umat setempat, dan secara khusus menulis surat mohon adhisthana Dharmaraja Liansheng untuk mengatasi kemarau. Saat Stupa Kalacakra tiba di pelataran candi, para Dewa Naga dan Dharmapala telah menerima titah Dharma, secara berturut-turut mencurahkan amrta, membuat suhu udara yang semula sangat panas menjadi sejuk. Satu jam setelah upacara usai, seluruh wilayah sampai Yogyakarta, semua diguyur hujan lebat ! Segalanya merupakan pengaturan yang terbaik !

Sebelum upacara dimulai, titik-titik embun menghiasi Mandala Kalacakra, ibarat untaian kristal yang dipersembahkan untuk memperagung Mandala Buddha, sungguh indah ! Para umat menuju ke Candi Agung Borobudur untuk bernamaskara kepada Buddha, dan banyak yang berhasil memotret matahari yang nampak bagai Mata Buddha. 
                
Upacara dimulai pada pukul 18:30, di atas Mandala Kalacakra, empat orang Acarya upacarika masing-masing menghadap ke setiap penjuru mata angin yang berbeda, mandala dan sarana puja ditata rapi berdasarkan warna karman : putih untuk santika, kuning untuk paustika, merah untuk vasikarana, dan biru untuk abhicaruka. Upacarika antara lain : Acarya Lianhe (蓮訶上師), Acarya Lianfei (蓮飛上師), Acarya Lianyuan (蓮元上師), dan Acarya Lianzu (蓮祖上師). Dharmaraja Liansheng memberikan izin khusus untuk menjadikan Hevajra sebagai Adhinatha upacara. 

Saat upacara dimulai, prosesi barisan menyambut para Acarya, biksu, biksuni, dengan khidmat melangkah memasuki mandala. Upacara dihadiri oleh sekitar 2000 umat Zhenfo Zong yang kompak mengenakan seragam biru Kalacakra, semua duduk dengan formasi melingkar mengitari Mandala Kalacakra, mengamalkan ajaran laku wibawa Zhenfo Zong, menjadikan Mandala Kalacakra di Candi Agung Borobudur laksana alam suci Shambala. 

Upacara ini memadukan ritual homa, tarian rohani, dan pelantunan gita, sehingga dalam sebuah upacara suci Tantra ini nampak peleburan indah antara religi dan seni. Setelah para rohaniwan menempati tempat duduk masing-masing, acara dibuka dengan persembahan permainan tambur dari umat Semarang, kemudian penulis dan yayasan kebudayaan mempersembahkan tarian dan kidung yang melambangkan proses insan dalam mencari bimbingan dan pembebasan. 

Setiap obor yang mengelilingi arena juga mulai dinyalakan, seolah-olah membawa semua kembali ke ritual lampau di Nusantara, menambah pancaran keagungan Stupa Kalacakra. Religi dan seni berpadu untuk memberikan persembahan kepada Kalacakra, Buddha, dan Bodhisattva, seiring harapan semoga para insan dapat menapaki jalan terang. 

Ketua yayasan dan para penulis dari acara bincang buku juga berada dalam jajaran tamu agung, saat ritual homa dimulai, para penulis dari luar negeri terus menanyakan perihal ritual homa dan saling berbagi materi dengan yang lain. Usai upacara homa, mereka juga berpartisipasi dalam acara pradaksina stupa. Para Acarya yang memandu, biksu, biksuni, para rohaniwan, para umat, dan para tamu agung masing-masing memegang pelita teratai sembari menjapa Mantra Hati Kalacakra. Langkah demi langkah pradaksina mengitari Candi Agung Borobudur dan Mandala Kalacakra, barisan panjang prosesi pradaksina nampak sangat khidmat mempersembahkan pelita dan suara mantra kepada dua Mandala Agung dan para Buddha Bodhisattva, keagungan yang terpancar sungguh menyentuh sanubari. 

Dalam upacara ini, para siswa juga menyanyikan Prathana dalam bahasa Indonesia, lantunan kidung merdu meliputi arena, membuat semua semakin merindukan Dharmaraja, setiap kepingan kenangan saat Dharmaraja Liansheng berwelas asih berkunjung di Indonesia di tahun 2018 kembali terbesit dalam benak, para insan masih sangat membutuhkan bimbingan Guru, mohon Buddha menetap di dunia, selamanya memutar Dharmacakra demi kebahagiaan semua makhluk. 

Seiring dengan usainya upacara, kegiatan TBF di Indonesia selama tiga hari ini juga telah paripurna. Kita semua berharap semoga di bawah bimbingan TBF, Zhenfo Zong dapat menjalin jodoh luas, lebih banyak lagi menyelenggarakan kegiatan besar bersama khalayak luas, supaya semakin banyak yang dapat memperoleh manfaat, supaya melalui semangat persatuan ini, ajaran welas asih dan kebijaksanaan leluhur dapat terus lestari di bumi Nusantara. 

Judul Asli :
2019年11月23日雙聖交輝於神聖的婆羅浮屠

Klik di sini untuk versi bahasa Mandarin

◎ Situs TBSN Terbaru ( Mandarin ) :
https://ch.tbsn.org/

Siaran Langsung Kebaktian dari Ling Shen Ching Tze Temple, setiap Minggu pukul 10:00 ( WIB )
Siaran Langsung Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap Senin pukul 05:00 ( WIB )

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :

http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.