Halaman Utama > Fokus Internasional > 21 September 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati


21 September 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati

《Berita TBS Seattle Ling Shen Ching Tze Temple - 西雅圖雷藏寺》

Vihara cikal bakal di Seattle senantiasa dipenuhi sukacita kebersamaan para siswa dari berbagai negara yang Berdharmayatra, namun kadang terasa pula kesedihan perpisahan, kedua hal ini terus terjadi silih berganti. Marilah menghargai setiap detik kebersamaan dengan Buddha Guru, sebab saat tiba waktunya semua akan mengalirkan air mata perpisahan. Namun kita yakin, setiap perpisahan merupakan awal bagi kebersamaan yang baru. 

Puja bakti hari Sabtu ini masih dihadiri oleh banyak siswa dari berbagai belahan dunia, antara lain : Australia, Indonesia, Tiongkok, dan Hong Kong. Bagian dalam bhaktisala dan di luar dipenuhi para umat yang khusus hadir untuk berpartisipasi dalam puja bakti Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati yang dipimpin langsung oleh Dharmaraja Liansheng. Saat Dharmaraja Liansheng tiba di dalam bhaktisala dengan diiringi oleh barisan penyambut Guru, seketika pancaran welas asih Guru memberikan kedamaian di relung hati setiap siswa, semua beranjali dengan penuh khidmat, bernamaskara kepada Mulacarya yang paling mulia. 

Usai puja bakti Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati berjalan dengan sempurna, terlebih dahulu Dharmaraja secara khusus mengupas Mantra Hati Cundi Bhagavati yang mengandung makna rahasia, Mantranya adalah : “Om. Zheli. Zhuli. Zhunti. Suoha.”, maknanya adalah :

‘OM’ : Sarvadharma pada hakikatnya tidak terlahirkan.
‘ZHE’ : Sarvadharma tidak lahir dan tidak musnah. ( Karena tidak lahir, maka mana mungkin musnah )
‘LI’ : Sarvadharma tiada yang diperoleh.
‘ZHU’ : Sarvadharma tidak timbul dan tidak bertahan.
‘LI’ : Sarvadharma tiada noda.
‘ZHUN’ : Sarvadharma tiada Sambodhi.
‘TI’ : Sarvadharma tiada mengambil dan melepas.
‘SUOHA’ : Sarvadharma setara dan tak terperikan.

Dharmaraja menyebutkan ada sebuah sutra yang bernama : “Sutra Mestika Keagungan Manjusri yang Dibabarkan oleh Buddha”, di dalamnya dikisahkan, pada suatu hari, Manjusri Bodhisattva bersama Arhat agung Sariputra pergi berkunjung ke Negeri Buddha di sebelah selatan, keduanya terbang melintasi ksetra yang tak terhitung banyaknya, dan akhirnya tiba di alam suci Ratnasambhava Buddha, yaitu Negeri Keagungan di sebelah selatan. Manjusri Bodhisattva menanyai Y.A. Sariputra, kita baru saja melewati ksetra yang tak terhingga banyaknya, ada ksetra yang terdapat api, atau air, ada juga yang barusan terbentuk, dan ada yang sedang mengalami proses kehancuran, Manjusri Bodhisattva menanyakan apa yang dirasakan oleh Y.A. Sariputra saat melihat semua fenomena tersebut ? Y.A. Sariputra menjawab : Ksetra yang terdapat api dipenuhi oleh api, yang terdapat air dipenuhi oleh air, demikian pula nampak ksetra yang miskin, ksetra yang makmur, ksetra yang baru terbentuk, dan ksetra yang sedang mengalami kehancuran. 

Y.A. Sariputra balik bertanya, apa yang dilihat oleh Manjusri Bodhisattva ? Manjusri Bodhisattva hanya menjawab : “Angkasa.”, selain angkasa tiada suatu apa pun. Y.A. Sariputra lanjut bertanya, jelas-jelas ada ksetra yang tak terhitung banyaknya, kenapa menyebutnya angkasa ? Manjusri Bodhisattva menjawab : “Semua ksetra pasti mengalami kehancuran, hanya angkasa yang tidak akan hancur.”

Mantra Cundi Bhagavati juga bermakna “Angkasa”, angkasa tidak terlahirkan, angkasa juga tidak akan musnah, di dalam angkasa tiada suatu yang diperoleh, di angkasa tidak ada kebangkitan, tidak ada proses menetap, tidak ada kotor, tidak ada rasa, tidak ada ambil dan lepas, di alam angkasa semua setara. 

Dharmaraja menggunakan film sebagai perumpamaan. Sama seperti nonton sebuah film, film tersebut memerankan polemik cinta, benci, budi, dan dendam, ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Apa yang kita lihat dari film ? Yang dilihat adalah alur cerita dalam film. Demikian pula semua ksetra yang dilihat oleh Y.A. Sariputra ibarat alur cerita dalam film, sedangkan Manjusri Bodhisattva telah melepaskan diri dari alur cerita film, Beliau masih tetap Manjusri Bodhisattva, tiada suatu apa pun lagi. Saat pemeran utama film mati, penonton tidak mati. Saat pemeran utama dalam film mengalami cinta mati, bukan penonton yang mengalami cinta mati, tidak ada hubungannya dengan diri penonton, diri sendiri masih diri sendiri. Oleh karena itu semua fenomena yang dilihat oleh Y.A. Sariputra pasti akan berlalu, yang sejati hanyalah angkasa. 

Mantra Hati Cundi Bhagavati adalah angkasa, tak terhancurkan, angkasa dapat melahirkan semua, namun angkasa juga yang memusnahkan semua. Kita hidup seolah-olah semua ada, namun sesungguhnya tidak nyata, dan kelak semua juga akan musnah, tiada apa pun lagi. Semua nama, kedudukan, harta, rupa di dunia ini, pada akhirnya kembali pada sunya, hanya angkasa yang tidak tercemari, hanya Buddhata yang tidak tercemari. 

Tidak ada apa pun yang dapat mengotori Buddhata, Buddhata tidak akan terkotori, Buddhata berdiri sendiri, bahkan kekal, tiap insan memiliki Buddhata, namun kenapa Buddhata ini tidak nampak ? Sebab tertutupi oleh klesha dan karmavarana diri sendiri. Saat klesha telah disingkirkan, bahkan melupakan semua penderitaan dan kebahagiaan, di saat tiada suatu apa pun, Buddhata pun muncul. Oleh karena itu yang terutama dalam bhavana adalah menyingkirkan klesha, kemelekatan dan keakuan, setelah semua disingkirkan, Buddhata pun muncul.

Dharmaraja Liansheng Mengulas Lamdre :

Apa yang dimaksud dengan menyingkirkan racun ? Yaitu menyingkirkan yang palsu. Fenomena palsu antara lain : mata, telinga, hidung, lidah, kulit, pikiran, rupa, tubuh, bebauan, rasa, sentuhan, dan corak pikiran. 

Menerima Amrta : Arus Dharma alam semesta memasuki tubuh, arus Dharma angkasa, arus Dharma Istadevata, dan daya agung Istadevata, semua ini adalah amrta. 

Memotong Habis : Mesti memotong habis semua racun, menyingkirkan semua kemelekatan. 

Lepas Genggaman : Kemelekatan dari enam indra, enam kesadaran mesti dipotong habis. 
Mengatasi Lembam : Tidak boleh tertidur. 
Himpun dan Sebar : Ada yang menghimpun atau menjadikan satu, ada yang menyebar. 

Setelah semua kemelekatan disingkirkan, sadhaka dapat memasuki bhavanamarga, memasuki jalan untuk masuk samadhi. Mesti mengubah kemelekatan dan diskriminasi menjadi kesetaraan tiada berbeda, tidak melekat, tiada klesha, semua dibersihkan, baru bisa memasuki samadhi, inilah meditasi yang sejati. 

Dharmaraja kembali menggunakan kisah humor untuk menyampaikan makna Dharma, mengajarkan kepada segenap siswa supaya saat memasuki samadhi mesti menyingkirkan rasa suka dan tidak suka, semua sama. 

Usai Dharmadesana yang sangat menarik dan sarat akan kebijaksanaan agung, Dharmaraja berwelas asih memberikan Abhiseka Sarana kepada umat baru yang memohon sarana, kemudian mengadhisthana Air Mahakaruna Dharani dan mengabhiseka pratima Buddha. Sebelum meninggalkan bhaktisala terlebih dahulu Dharmaraja berwelas asih menganugerahkan adhisthana jamah kepala kepada semua siswa yang hadir, supaya semua harapan yang baik dan wajar dapat terpenuhi. Terima kasih atas pengulasan Lamdre yang sangat mendalam, menggunakan metode yang mudah dipahami, bahkan perumapamaan melalui kisah humor, Dharmaraja membuat para siswa dapat memahami Dharma mendalam yang semula susah dimengerti. Semoga berkat adhisthana agung dari Mulacarya, kita semua dapat mencapai keberhasilan bhavana, dan terbebas dari kemelekatan klesha. 


Teks Lamdre :

Empat metode ini, semua jalan yang ditekuni, mustahil tidak menggunakan salah satunya. 

Dibagi menjadi Enam Instruksi, dan dibagi lagi menjadi dua : Enam Instruksi Bersama, Enam Instruksi Mahayogesvara, dan Pembagian Enam Instruksi Bersama : Menyingkirkan racun, menerima amrta, memotong habis, lepas genggaman, mengatasi lembam, himpun dan sebar. 

Enam Instruksi Mahayogesvara dibagi menjadi meditasi menyingkirkan racun, menerima amrta, memotong habis ; Menyingkirkan racun dari penglihatan, menerima amrta, dan memotong habis. 

Meskipun sloka ini terlebih dahulu mengupas Tiga Instruksi Meditasi, mendahulukan Tiga Instruksi Penglihatan dari realisasi, diputar balik. Dalam sloka dituturkan : “Menyingkirkan jalan memasuki bhavana, dengan perbedaan penekunan pikiran suci, merupakan proses menyingkirkan racun dari penglihatan.” ; Tiga Instruksi dari penglihatan ini adalah batin tidak menetap pada perintah menetap, dan Tiga Instruksi Meditasi adalah demi mengenal dhyana-samadhi, ditemukan manfaatnya dan menyingkirkan kekeliruannya. 

Judul Asli :
2019年9月21日準提佛母本尊法同修

Klik di sini untuk versi bahasa Mandarin

◎ Situs TBSN Terbaru ( Mandarin ) :
https://ch.tbsn.org/

Siaran Langsung Kebaktian dari Ling Shen Ching Tze Temple, setiap Minggu pukul 10:00 ( WIB )
Siaran Langsung Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap Senin pukul 05:00 ( WIB )

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :

http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.