Halaman Utama > Fokus Internasional > 13 Juli 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple


13 Juli 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple


《 Berita TBS - Seattle Ling Shen Ching Tze Temple西雅圖雷藏寺》

Senja musim panas di Seattle, angin bertiup sepoi, dan udara yang bersih menyegarkan semangat. Beberapa umat yang datang dari negara-negara tropis di Asia Tenggara sangat menyukai udara segar di Seattle. 

Puja bakti hari Sabtu malam di vihara cikal bakal kali ini adalah Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati. Suara mantra mulai menggema, barisan agung berjalan ke depan Taman Arama Zhenfo untuk mengundang Dharmaraja Liansheng memimpin puja bakti dan melanjutkan pengulasan Lamdre. 

Usai puja bakti, Mahaguru mengulas visualisasi Cundi Bhagavati, serta Mudra Cundi yang utama, yang disebut juga Mudra Dharani. Cundi Bhagavati memiliki nidana yang sangat erat dengan Avalokitesvara Bodhisattva, sebab parivar dari Cundi Bhagavati adalah Asta-maha-bodhisattva, dan Avalokitesvara Bodhisattva merupakan salah satu Mahabodhisattva dalam jajaran Asta-maha-bodhisattva. 

Mahaguru menjelaskan, mantra yang dimulai dengan kata “Namo”, sebagian besar berasal dari Tantra Timur. Sedangkan yang dimulai dengan kata “Om”, sebagian besar dari Tantra Tibet. “Om” juga bermakna Bodhi, dan Kesadaran Mahatinggi Alam Semesta. Dalam Agama Hindu, “Om” adalah Brahma yang merupakan Dewa Pencipta. Mahaguru mengatakan bahwa usia Dewa Mahabrahma mencapai 100 kalpa, satu kalpa Brahma sama dengan masa terbentuk sampai musnahnya bumi ( bentuk, tetap, rusak, kosong ), dan ini sama dengan satu tahun usia Brahma. Oleh karena itu, usia Mahabrahma sangat panjang. Setiap aksara dalam Mantra Hati Cundi Bhagavati : “Om. Zheli. Zhuli. Zhunti. Suoha.” mengandung makna yang sangat mendalam.

Berikut merupakan makna tiap aksara Mantra Cundi Bhagavati :

 “Om” bermakna segalanya sunya, dan mengandung makna yang sangat mendalam. 
“Zhe” bermakna sarvadharma tidak lahir juga tidak musnah. 

“Li” bermakna sarvadharmalaksana tiada yang dapat diperoleh. Seperti satu kalimat yang sangat penting dalam Hrdaya Sutra : “Karena tiada suatu yang diperoleh, Bodhisattva.” Setelah tercerahkan, kita memahami makna dari tiada suatu yang diperoleh. 

Kita belajar Buddha, yang terutama adalah untuk mengenali bahwa dalam segala hal sesungguhnya tiada suatu yang diperoleh. Setelah mengenalinya dengan jelas, maka kita bisa menjalani hidup dengan tenang dan tak tergoyahkan. Apa itu baik, apa itu buruk, sesungguhnya semua tiada. Namun dalam perjalanan bhavana kita mesti berbuat kebajikan, menghindari karma buruk, sebab yang dapat membebaskan kita dari samsara supaya terlahir di Negeri Buddha adalah kebajikan. 

Usia manusia sangat pendek, saat elemen tanah, air, api, dan angin terurai, maka kita akan tahu bahwa sesungguhnya tiada suatu yang diperoleh. Meskipun demikian, dalam bhavana kita tetap membutuhkan sumber daya berupa berkah dan kebajikan. Dengan berkah, kita dapat memelihara tubuh kita, sehingga dapat berbhavana dengan baik. Sedangkan kebajikan yang tak berwujud merupakan sumber daya bagi kita yang terhimpun di alam bahagia. 

Saat baru mulai berbhavana, kita mesti terlebih dahulu berlatih menghimpun berkah dan menghimpun kebajikan, supaya dalam kehidupan saat ini, kita memperoleh nidana baik, sehingga dapat berjumpa dengan Guru sejati yang baik, dengan demikian barulah kita dapat mencapai keberhasilan bhavana. 

“Zhu” bermakna tidak menetap. Tidak menetap berarti tiada batin itu, selama masih ada batin itu, berarti masih menetap, ini adalah dasar dari dhyana samadhi. Saat memasuki dhyana-samadhi, di mana kah Anda ? Mahaguru mengatakan : “Tidak ada Anda.” 

Dhyana-samadhi beratribut membutuhkan sarana berupa satu atribut, ini disebut Samadhi Laksana. Sampai pada dhyana samadhi yang sejati, kita memasuki kondisi tiada menetap. Sedangkan petunjuk meditasi yang umum : “Mata mengamati ujung hidung, ujung hidung mengamati batin.” Ini masih tergolong meditasi menetap pada sesuatu. Fokus kepada mantra merupakan dhyana samadhi berkondisi, menggunakan satu kondisi untuk memasuki dhyana samadhi, disebut sebagai Samadhi Satu Hati. Pada saat Anda telah mencapai kondisi tanpa batin, itulah kondisi tidak menetap. 

“Li” bermakna tiada kekotoran, tidak ada cela sedikitpun. 

“Zhun” bermakna Anuttarabodhi, Bodhisattva bhumi ke-10 disebut Sambodhi, namun Sambodhi masih memiliki kesadaran, kita mesti bisa memasuki kondisi avitarka. 

“Ti” bermakna tidak ambil pun tidak lepas, tidak perlu melekati suatu apa pun, tidak ambil juga tidak lepas. 

“Suoha” bermakna tak terkatakan, tidak perlu dibabarkan. Tak terkatakan berarti sempurna. 

Mantra Sataksara Vajracitta dapat mengatasi segala sesuatu di dunia dan alam semesta, menampakkan sunyata. Mantra Cundi Bhagavati dan Mantra Sataksara sama agungnya, dan dijunjung tinggi oleh Mahaguru. 

Mahaguru melafalkan satu gatha pujian :

Bernamaskara dan bersarana kepada Susiddhi.
Bersembah puja kepada Mahacundi Bhagavati.

Dharmaraja Liansheng membaca teks Lamdre :

2. Pelanggaran
Dibagi menjadi 2 : Melanggar samaya yang mengakibatkan penderitaan kelahiran samsara, dan melanggar samaya yang mengakibatkan bhavana menjadi lamban dan lama.

1.    Melanggar samaya yang mengakibatkan penderitaan kelahiran samsara
Merupakan samaya yang mesti dipatuhi karena adanya ikrar saat pertama kali menerima Abhiseka Kalasa, contohnya : 14 Sila Dasar Tantrayana.

2.    Melanggar samaya yang mengakibatkan bhavana menjadi lamban dan lama :
Melanggar samaya di atas 19, jika melanggar samaya ini, maka akan mengakibatkan bhavana menjadi lamban dan lama, jika semestinya dalam separuh masa awal kehidupan dapat mencapai keberhasilan, maka keberhasilan akan mundur sampai pada separuh masa akhir kehidupan, atau jika semestinya dapat mencapai keberhasilan pada masa separuh akhir kehidupan, maka akan mundur sampai jelang wafat. 

Mahaguru membaca 14 Sila Dasar Tantrayana :

Sila ke-1: Tidak menghormati Mulacarya melalui ucapan, pikiran, dan perbuatan.
Sila ke-2: Tidak mematuhi Tata Sila Tantra maupun non-Tantra.
Sila ke-3: Menaruh rasa dendam dan menghujat sadhaka sedharma.
Sila ke-4: Tidak memiliki maitri karuna. 
Sila ke-5: Gentar akan kesulitan dan meninggalkan Bodhicitta. 
Sila ke-6: Mengecam Sutra Tantra maupun Sutra non-Tantra bukan berasal dari Buddha. 
Sila ke-7: Mengajarkan Sadhana Tantra tanpa memiliki kualifikasi. 
Sila ke-8: Melekat pada pancaskhanda yang merugikan sesama. 
Sila ke-9: Mengabaikan sunya dan abhava. 
Sila ke-10: Bersekutu dengan orang yang mengecam.
Sila ke-11: Memamerkan kekuatan spiritual dan melupakan makna mulia sebenarnya. 
Sila ke-12: Tidak mengajarkan Sadhana Tantra yang sejati berarti merusak akar kebajikan. 
Sila ke-13: Tidak memiliki alat ritual yang lengkap.
Sila ke-14: Mengecam kebijaksanaan kaum wanita.

Begitu mulai bersarana, kita mesti mematuhi 14 Sila Dasar Tantrayana. Saat Sang Buddha hendak parinirvana, siswa bertanya, kelak Sang Buddha mangkat, siapa yang dapat menjadi Guru ? Sang Buddha menjawab : “Jadikan sila sebagai Guru.” Namun bagaimana jika seorang sadhaka melanggar sila ? Japa Mantra Sataksara atau Mantra Cundi Bhagavati, kedua mantra ini dapat mengikis semua karma buruk, sebab melalui mantra ini, karma baik maupun karma buruk, serta semua karmavarana, dapat dikembalikan pada sunyata. Selain itu, yang tidak mengetahui adanya tumimbal lahir, melakukan berbagai karma buruk, dan terus bertumimbal lahir dalam enam alam, tidak dapat keluar dari samsara, tidak dapat mencapai moksa. 

Samaya lamban dan lama dalam bhavana, apa maksudnya lamban dan lama ? Seumpama bhavana telah mencapai kondisi merasa diri sendiri sangat kukuh, kondisi ini ditimbulkan oleh pengaruh elemen tanah, mendadak menjadi setinggi Gunung Sumeru, namun berhenti pada rasa kukuh, tidak ada kemajuan lagi, inilah yang disebut sebagai lamban dan lama, yaitu terhenti dalam anubhava semacam itu. 

Bisa juga mendadak merasa diri sendiri sangat kecil, sekecil semut, mendadak menjadi sebesar Gunung Sumeru. Mendadak besar, mendadak kecil, ini merupakan pengaruh elemen air dalam tubuh. Atau saat bermeditasi, mendadak mencapai Negeri Buddha, mendadak dari Taiwan berkelana ke Tiongkok, ini merupakan pengaruh elemen angin. 

Setelah memperoleh Dharmasukha, atau Mahasukha, terhenti pada rasa sukha, tidak ada kemajuan lagi. Saat bermeditasi, prana melewati nadi di sekujur tubuh, kundalini melewati nadi, bindu melewati nadi, sekujur tubuh terasa sangat nikmat, dan tak terperikan. Jika sadhaka menjadi melekat pada rasa nikmat itu, dan tidak mau meninggalkan rasa nikmat tersebut, berarti sadhaka telah melanggar samaya lamban dan lama dalam bhavana. 

Saat bermeditasi, prana melewati nadi, kenikmatan timbul karena gesekan prana dengan nadi, juga gesekan kundalini dan bindu yang menghasilkan kenikmatan, ini adalah Mahasukha yang dihasilkan dalam meditasi. Jika sadhaka berhenti di situ, tidak rela meninggalkan Mahasukha tersebut, berarti sadhaka telah melanggar samaya. 

Saat bhavana telah mencapai keberhasilan elemen angin, sadhaka bisa terbang, ini disebut ilmu menari di angkasa. Saat benar-benar mencapai keberhasilan, para Adhinatha memasuki tubuh, dan para Adhinatha menggunakan Dharmabala mengangkat tubuh sadhaka. Y.A. Milarepa juga menguasai ilmu menari di angkasa. 

Mahaguru mengulas dua jenis pelanggaran : 
Yang satu adalah terus berada dalam enam alam samsara, dan satunya adalah akibat bhavana berhenti di tempat, semua merupakan pelanggaran samaya. Saat bhavana mencapai kondisi tiada suatu yang diperoleh, barulah dapat mencerahi Nirvana, mencerahi Bodhi yang sejati, inilah keberhasilan sejati, keberhasilan yang sejati sama dengan avitarka. Namun dalam samadhi ada yang disebut cahaya tunggal, yaitu kemunculan cahaya tunggal, saat itu dapat dikatakan telah mencapai keberhasilan akhir. 

Mahaguru kembali menggunakan beberapa kisah humor untuk mengulas makna Dharma, beliau membahas keagungan tubuh, sama seperti tubuh beliau yang mengenakan rompi naga dan jubah biksulama, ini merupakan keagungan tubuh. Rambut, kuku, kulit, dan sarira, juga disebut sebagai keagungan tubuh. Dalam Tantra, keagungan tubuh mencakupi banyak hal. 

Mahaguru juga menegaskan pentingnya mengenali jalan yang ditempuh oleh diri sendiri dalam belajar Tantra. Belajar Buddha ada lima tahapannya, tahap pertama adalah berlatih sambharamarga, yaitu menghimpun berkah dan kebajikan, saat sadhaka memiliki keduanya, maka ia dapat berjumpa dengan Guru sejati. Tahap kedua adalah menekuni prayogamarga, belajar Tantra mesti mengukuhkan fondasi, mesti menekuni semua prayoga Tantra sampai sempurna. Tahap ketiga adalah berkat penekunan prayoga, maka dapat memahami sunyata, saat memahami sunyata, berarti telah mencapai darsanamarga, mulai menempuh bhavana sejati, sehingga disebut bhavanamarga. Setelah menjalani bhavanamarga, sampai pada akhirnya mencapai Parayana. Sambharamarga, prayogamarga, darsanamarga, bhavanamarga, dan Parayana adalah Dharma yang dibabarkan oleh Sang Buddha, kemudian dirumuskan oleh para Guru Sesepuh menjadi tahapan bhavana. 

Mahaguru sendiri telah berbhavana sekian lama, sehingga memandang segala sesuatu dengan tenang, punya juga baik, tidak punya juga boleh. Selama masih bisa membantu orang lain, maka upayakan dengan sekuat tenaga. Saat tidak mampu lagi, juga tidak perlu menjadi beban hati. Membebankan pada batin berarti menyiksa diri. Jika dapat mengosongkan batin, maka barulah bisa tidur dengan nyenyak, tidak ada lagi kerisauan. 

Ini sederhana sekali, alamiah, tidak perlu dipaksakan, hubungan antar manusia juga alamiah saja. Jalani kehidupan bhavana dengan santai, jangan sampai memaksakan diri, sebab meskipun Anda memperoleh sesuatu, sesungguhnya tetap saja tiada suatu yang diperoleh. 

Ada satu lagi yang sangat penting, jangan membenci orang lain, sebab saat Anda membenci orang, berarti saat itu Anda sedang menyiksa diri. Sang Buddha mengajarkan bahwa rasa suka itu setara dengan benci, namun lebih baik mengasihi daripada membenci. Jika ingin mencapai samadhi, maka ada dua hal yang penting, yaitu tiada persoalan dan tiada batin. Saat hati lapang, maka baru bisa memasuki samadhi. Semua metode pada akhirnya adalah demi memasuki samadhi. Mahaguru meleburkan Sutra Memasuki Samadhi ke dalam karya tulis beliau : “Chanji Dui Chanji”, di dalam buku tersebut ada diajarkan bagaimana memasuki samadhi.  

Usai Dharmadesana yang sangat menarik, Mahaguru menganugerahkan Abhiseka Sarana, kemudian mengadhisthana Air Mahakaruna Dharani dan mengabhiseka pratima Buddha. Sebelum meninggalkan vihara, Mahaguru berwelas asih memberikan adhisthana jamah kepala, supaya semua harapan yang baik dari para siswa dapat terpenuhi. Menatap bayangan tubuh welas asih dari Mahaguru melangkah keluar dari bhaktisala, mengalir rasa syukur dalam hati kami, dalam relung batin memanjatkan harapan, semoga Ayahanda jiwa kebijaksanaan kami, Dharmaraja Liansheng, sehat sentosa, dan senantiasa menetap di dunia. 

Judul Asli :
2019年7月13日西雅圖雷藏寺準提佛母本尊法同修

Klik di sini untuk versi bahasa Mandarin
 

Siaran Langsung Kebaktian dari Ling Shen Ching Tze Temple, setiap Minggu pukul 10:00 ( WIB )
Siaran Langsung Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap Senin pukul 05:00 ( WIB )

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.