Halaman Utama > Fokus Internasional > 6 Juli 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Ksitigarbha Bodhisattva di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple


6 Juli 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Ksitigarbha Bodhisattva di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple

《TBS – Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple》

Keluhuran Ksitigarbha Bodhisattva tak terperi,
Tubuh mulia menjelma di berbagai penjuru,
Supaya sad-gati tiga alam rendah dapat mendengar Dharma luhur,
Sepuluh jenis makhluk 4 jenis kelahiran mendapat curahan kasih-Nya,
Cintamani menerangi jalan menuju alam surga,
Khakkara emas membuka pintu neraka,
Para leluhur terseberangkan ke alam bahagia,
Di alam sembilan jenjang padma berpuja kepada Maitrinatha.

Istadevata puja bakti malam hari itu adalah salah satu dari jajaran Astamahaistadevata Zhenfo Zong : Ksitigarbha Bodhisattva. Semenjak berkalpa-kalpa lampau, Sang Bodhisattva telah mengupayakan berbagai cara yang terampil untuk mengamalkan ikrar agung demi mengentaskan semua makhluk dari penderitaan sad-gati, ikrar agung Beliau adalah : 

Tidak akan menjadi Buddha sebelum neraka kosong.
Merealisasi Bodhi hanya jika semua makhluk telah habis diseberangkan.

Pada pukul 8 malam, suara mantra agung terdengar, segenap siswa beranjali, dan regu penyambut Guru berbaris rapi dengan khidmat mengundang kehadiran Mulacarya yang paling mulia : Dharmaraja Liansheng Lu Shengyan (蓮生活佛盧勝彥) untuk masuk bhaktisala vihara cikal bakal, memimpin puja bakti, dan melanjutkan pengulasan Lamdre. 

Usai puja bakti, Mahaguru membabarkan kemuliaan Ksitigarbha Bodhisattva yang merupakan pemimpin spiritual di alam baka. Dalam Sutra Buddha dikenal Ksitigarbha Sad-gati yang bermakna bahwa di enam alam samsara terdapat Ksitigarbha Bodhisattva, sehingga Ksitigarbha Bodhisattva bukan hanya menyeberangkan makhluk di alam baka saja. 

Mahaguru mengisahkan, ada orang yang bertanya : “Sesungguhnya neraka itu ada atau tidak ada ?”

Mahaguru menjelaskan, pernah ada seseorang pergi menjumpai orang suci, dan bertanya apakah neraka itu ada ? Orang suci menjawab : “Tidak ada neraka.” Setelah mendengar jawaban, ia pun turun gunung untuk pulang. Namun di tengah perjalanan, ia merasa ada sesuatu yang salah, ia kembali untuk bertanya kepada orang suci : “Anda mengatakan tidak ada neraka, apakah itu benar ?” Orang suci itu menjawab : “Ada neraka.” Orang suci melanjutkan : “Tanyakan pada diri sendiri, jika diri sendiri menciptakan karma buruk yang menyebabkan terjerumus ke neraka, maka neraka itu ada. Jika diri sendiri tidak berbuat sesuatu yang menyebabkan terjerumus, maka tidak ada neraka.” 

Mahaguru menjelaskan, untuk menemukan neraka, tidak perlu pergi ke alam neraka, sebab di alam manusia ada manifestasi neraka, semua rumah sakit adalah neraka, di sana dilakukan : Bedah otak, cabut lidah, bedah mata, bahkan sekujur tubuh dipotong-potong. Ada banyak macam neraka, di antaranya ada 16 neraka besar ( 8 neraka dingin dan 8 neraka panas ). Sedangkan di alam manusia, ada pula penderitaan kedinginan sampai mati, kepanasan sampai mati, kelaparan sampai mati, semua itu adalah manifestasi neraka. Bahkan kondisi tiga alam rendah juga dapat terlihat di alam manusia. Hewan menjalani hidup dengan penuh rasa takut, yang kuat memangsa yang lemah, setiap saat bisa kehilangan nyawa, inilah penderitaan alam hewan. Di tempat yang kekurangan pangan, semua kelaparan, itulah manifestasi alam preta.

Mahaguru mengisahkan pengalaman diri sendiri saat pertama kali opname di rumah sakit, beliau melihat derita sakit para insan di rumah sakit, air mata mengalir, semua penderitaan itu sungguh adalah manifestasi neraka ! 

Seorang sadhaka sejati, seperti mendiang Acarya Liandeng (蓮嶝上師), beliau juga pernah opname, dan saat itu menghebohkan seisi rumah sakit, semua melihat beliau, sebab sekujur tubuh beliau ditancapi selang, namun masih dapat duduk bermeditasi. Beliau menderita kanker, dokter telah memvonis usianya tinggal beberapa bulan saja, namun ternyata beliau berhasil hidup selama 4 tahun. Tiap kali berjalan-jalan, tidak nampak raut kekhawatiran pada wajah beliau, beliau selalu tersenyum dan tertawa, inilah perwujudan keyakinan kukuh beliau terhadap bhavana diri sendiri, ia tahu kelak dirinya akan menjadi seorang Bodhisattva. Hanya orang semacam ini yang tiada neraka, sebab ia tahu tidak akan jatuh ke neraka, dan pasti mencapai keberhasilan. Sekalipun menderita kanker, beliau tetap tersenyum seperti biasa, menjalani hari seperti biasa. 

Mahaguru memberitahu semua, dalam hidup manusia sudah ada neraka, kita mesti sangat berhati-hati, sebab kita yang belajar Buddha tahu bahwa alam neraka diciptakan oleh karma buruk diri sendiri. Peperangan yang berlangsung selama berhari-hari juga merupakan manifestasi neraka, begitu peperangan dimulai, maka dunia ini bagaikan neraka. Di dunia ini ada banyak gejolak, peristiwa yang terjadi semata-mata disebabkan oleh berat atau ringannya karmavarana. Oleh karena itu, lebih baik kita berbhavana, jangan menciptakan karma buruk, diri sendiri mesti mengikis karma buruk tubuh, ucapan, dan pikiran, dengan demikian dapat mencapai keberhasilan. Orang yang tidak melakukan karma buruk, baginya tidak ada neraka. Ada atau tidaknya neraka sepenuhnya tergantung pada karma diri sendiri.  

Berikutnya, Mahaguru membahas perbandingan antara belahan bumi utara dan selatan, di sebelah utara adalah manusia berkulit putih, di sebelah tengah adalah manusia berkulit kuning, dan di sebelah selatan didominasi oleh kulit gelap, kenapa demikian ? Sebab utara berelemen air, dan sifat manusianya lebih dingin. Selatan berelemen api, sifatnya lebih ramah. Sedangkan tengah berelemen tanah ( kuning ). Pada umumnya, jika terjadi peperangan antara utara dan selatan, bagian selatan akan kalah. Hal ini bisa diketahui oleh orang yang benar-benar belajar fengshui dan bagua ( langit, bumi, petir, angin, waduk, air, api, dan gunung ), bagua yang digambar oleh Fuxi sungguh memiliki dasar yang kuat. Di Tiongkok kuno sudah diajarkan bagua, sedangkan komputer masa kini merupakan evolusi dari prinsip bagua. 

Orang yang belajar Buddha tahu bahwa segala sesuatu pasti ada penyebabnya ( Sebab – akibat ). Orang awam tidak bisa memilih di mana ia harus dilahirkan. Orang yang bisa memilih di mana ia ingin dilahirkan berarti orang itu adalah orang suci. Tanpa bhavana, orang hanya bisa terlahir kembali mengikuti karma, entah itu terlahir di wilayah miskin dan terbelakang, atau terlahir di negara yang telah berpikiran maju dan memiliki teknologi tinggi. 

Lingkungan dapat mengubah seseorang, namun orang yang belajar Buddha mesti ingat satu hal, batin membunuh lingkungan ( Batin menaklukkan lingkungan ), dan bukannya lingkungan yang membunuh batin Anda ( Batin terikat oleh lingkungan dan tidak bisa membebaskan diri ). 

Apa definisi baik ? Apa definisi buruk ? Hal-hal yang dapat membawa diri sendiri kepada moksa adalah baik. Segala sesuatu yang tidak dapat membawa diri sendiri pada moksa berarti adalah hal yang tidak baik. Belajar Buddha bertujuan untuk mencapai moksa, terbebas dari enam alam samsara. Baik dan buruk sangat sukar untuk diungkapkan, contohnya adalah di bulan yang tak berpenghuni, apa itu baik ? Apa itu buruk ? Sebab baik dan buruk baru muncul setelah adanya manusia, oleh karena itu, mesti bisa membebaskan diri dari karma yang mengikat diri. 

Teks Lamdre :

3. Abhiseka Prajna
Cakra mandala sebagai samaya kedudukan mula.
Sahajajnana sebagai samaya kemudian. 
Sukha sebagai samaya makan dan minum.
Enam tetes bindu sebagai melindungi samaya.
Mudra wujud dan mudra jnana , tidak meninggalkan samaya.

Dharmaraja melanjutkan pengulasan Lamdre :

Cahaya Prajna yang kita dapat dalam potret adalah cahaya mandala, itu adalah cakra mandala yang tak berwujud. Cakra mandala Istadevata ada di angkasa. Mandala dalam tantra dibuat berdasarkan aturan, mandala pasir dibuat menggunakan warna, ada istana, ada cahaya terang, dan ada berbagai bentuk. 

Warna adalah mandala tubuh. 
Japa mantra adalah mandala ucapan. 
Cahaya yang dipancarkan adalah mandala pikiran. 

Samaya yang diperoleh kemudian adalah Sahajajnana. 
Sahajananda ditransformasikan menjadi Sahajasukha, Sahajajnana adalah prajna yang semula ada, sedangkan prajna yang semula ada adalah sunyata. 

Manusia makan, kemudian sukha yang dihasilkan melalui prana, nadi, dan bindu, menjadi samaya makan dan minum. Berkat mengonsumsi amrta, tubuh menghasilkan panas, seperti Milarepa yang pada akhirnya mesti mengonsumsi sesuatu, sehingga tiap kali makan, tubuh Beliau dapat menghasilkan panas, oleh karena itu, kita butuh makan untuk membangkitkan kundalini. 

Bindu tiris berarti merusak samaya. 
Bindu terjaga berarti menjaga samaya.

Mudra berwujud dan mudra jnana tidak terpisahkan dari samaya. Maksudnya adalah, diri sendiri tidak pernah terpisah dari Vidyarajni sendiri. Mudra berwujud adalah Vidyarajni berwujud, sedangkan Mudra Jnana adalah Dakini, Vidyarajni Prajna adalah Vidyarajni angkasa yang tidak berwujud. 

Mahaguru kembali menggunakan kisah humor untuk membabarkan makna Dharma, kita belajar Buddha memang sangat sukar, sebab di dunia fana ini ada banyak godaan besar, seperti uang, kedudukan, dan rupa. Sadhaka sejati mesti bisa mengenali dengan jelas, mesti menjauhi segala godaan, menjaga kepatutan diri, dan yang paling penting adalah berbhavana dengan sebaik-baiknya. Milarepa dapat mencapai keberhasilan juga berkat tekad meninggalkan keduniawian seperti uang, kedudukan, rupa dan lain sebagainya. Barang peninggalan terakhir Beliau hanya berupa jubah yang biasa Beliau kenakan, yang merepresentasikan keagungan tubuh, dan diwariskan kepada siswa, selain jubah, tidak ada apa pun lagi. 

Bhavana memang sukar, agama Buddha berbhavana berangkat dari kesadaran akan duhkha, sebab dunia ini penuh duhkha, bahkan orang kaya atau rupawan sekalipun juga penuh derita, pada akhirnya, Mahaguru berpesan supaya semua tekun berbhavana. 

Usai Dharmadesana, Mahaguru menganugerahkan Abhiseka Sarana kepada banyak umat yang baru, kemudian mengadhisthana Air Mahakaruna Dharani, dan mengabhiseka pratima. Sebelum meninggalkan bhaktisala, Mahaguru berwelas asih memberikan adhisthana jamah kepala kepada setiap umat yang hadir. Diiringi oleh prosesi mengantar Guru, Mahaguru kembali ke Taman Arama Zhenfo, segenap rohaniwan dan umat bernamaskara kepada Mulacarya, berterima kasih atas transmisi Dharma nan mulia. Di bawah kelembutan dan kehangatan cahaya rembulan, malam hari penuh Dharmasukha pun telah berlalu. 

Judul Asli :
2019年7月6日西雅圖雷藏寺地藏王菩薩本尊法同修

Klik di sini untuk versi bahasa Mandarin
 

Siaran Langsung Kebaktian dari Ling Shen Ching Tze Temple, setiap Minggu pukul 10:00 ( WIB )
Siaran Langsung Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap Senin pukul 05:00 ( WIB )

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.