Halaman Utama > Fokus Internasional > 29 Juni 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Avalokitesvara Bodhisattva di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple


29 Juni 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Avalokitesvara Bodhisattva di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple

《TBS Liputan Seattle Ling Shen Ching Tze Temple - 西雅圖雷藏寺》

Keluhuran Avalokitesvara Bodhisattva tiada tara,
Keagungan dan kesuciannya merupakan hasil bhavana berkalpa-kalpa,
32 penjelmaan hadir di semua loka,
Selama puluhan ribu kalpa membimbing insan Jambudvipa,
Memegang dahan yangliu senantiasa memercikkan amrta dalam kalasa,
Hadir menanggapi doa di setiap penjuru,
Menjadi bahtera menyeberangkan insan di samudra samsara.

Istadevata puja bakti minggu ini adalah Avalokitesvara Bodhisattva,  banyak umat yang mengenakan pakaian berwarna putih, sesuai dengan Istadevata puja bakti malam hari ini, berharap dapat memperoleh berkat dan perlindungan dari Avalokitesvara Bodhisattva, mengikis karmavarana dan menghalau petaka. Para siswa dengan tulus mengundang Dharmaraja Liansheng untuk hadir memimpin puja bakti, serta melanjutkan pengulasan Lamdre. 

Usai puja bakti, Dharmaraja membahas ungkapan terkenal di kalangan masyarakat : “Setiap keluarga melafal Nama Amitabha Buddha dan memuja Avalokitesvara Bodhisattva.”, yang artinya, banyak keluarga memuja Avalokitesvara Bodhisattva. 

Avalokitesvara Bodhisattva memiliki penjelmaan yang paling banyak, bagi yang pernah membaca Samantamukha Varga ( Pu Men Pin ) dalam Saddharmapundarika Sutra pasti tahu, dalam sutra disebutkan bahwa Avalokitesvara Bodhisattva dapat menjelma menjadi wujud yang sesuai untuk menolong dan membimbing Anda. Sedangkan dalam Mahakaruna Dharani dari Sahasrabhuja Sahasranetra Avalokitesvara Bodhisattva, telah mencakupi banyak perwujudan Avalokitesvara Bodhisattva. 

Ada pula Ekadasamukha-lokesvara ( Awalokiteswara Bermuka Sebelas ), yang berkepala dan berwajah 11, merepresentasikan Bodhisattva bhumi ke-11. Tingkatan Bodhisattva terbagi menjadi : Mulai dari bhumi awal ( pramudita-bhumi ) sampai ke bhumi ke-10 atau Dharmamega-bhumi ( Sambodhi atau calon Buddha ) yang sudah akan menjadi Buddha. Ekadasamuka-lokesvara merepresentasikan Bodhisattva bhumi ke-11 atau Bodhi Luhur, yaitu Buddha. 

Dalam Tantra, Avalokitesvara Bodhisattva memiliki penjelmaan yang paling banyak, seperti : Syama Tara, Sita Tara yang merupakan penjelmaan dari dua tetes air mata Avalokitesvara. Sesungguhnya, Avalokitesvara Bodhisattva tidak hanya memiliki 32 penjelmaan, penjelmaan Beliau tak terhingga banyaknya, Beliau memiliki Dharmabala yang tak terhingga, dan insan yang telah dibimbing sangat banyak, Tianshang Shengmu ( Mazu ) juga mencapai kesucian berkat bimbingan Avalokitesvara Bodhisattva. 

Setelah mencapai kontak yoga dalam penekunan Sadhana Istadevata Avalokitesvara Bodhisattva, maka sadhaka juga dapat mencapai kontak yoga dengan Istadevata lain. Avalokitesvara Bodhisattva merupakan penjelmaan dari Samyakdharmavidya Tathagata, karena welas asih agung maka Ia menjelmakan diri dalam wujud Bodhisattva demi menyeberangkan semua makhluk, Beliau memiliki banyak penjelmaan, seperti Avalokitesvara Makara-vahana, Avalokitesvara Cintamani, Avalokitesvara Laut Selatan, dan lain sebagainya, bahkan alam suci Avalokitesvara ada banyak, ada alam suci penembusan sempurna, alam suci Potaloka di Laut Selatan, dan lain sebagainya. 

Di Tiongkok ada empat tanah suci agama Buddha, antara lain : Gunung Wutai di Shanxi yang merupakan tanah suci bagi Manjusri Bodhisattva, Gunung E-mei di Sichuan yang merupakan tanah suci bagi Samantabhadra Bodhisattva, Gunung Jiuhua di Anhui yang merupakan tanah suci bagi Ksitigarbha Bodhisattva, dan Gunung Putuo di Zhejiang yang merupakan tanah suci Avalokitesvara Bodhisattva. 

Dalam jajaran Trini Arya Avatamsaka :  Sakyamuni Buddha, Manjusri Bodhisattva, dan Samantabhadra Bodhisattva, kedua Bodhisattva ini ( Manjusri Bodhisattva dan Samantabhadra Bodhisattva ) merupakan Jina-putra Dharmaraja. Sedangkan dalam jajaran Trini Arya Sukhavati : Amitabha Buddha, Avalokitesvara Bodhisattva, dan Mahastamaprapta Bodhisattva, kedua Bodhisattva ini ( Avalokitesvara Bodhisattva dan Mahastamaprapta Bodhisattva ) merupakan Jina-putra Dharmaraja. Vajrasattva merupakan Jina-putra Dharmaraja dari Pancadhyani Buddha, sedangkan Vajrapani Bodhisattva merupakan penjelmaan Vajrasattva yang merepresentasikan Dharmabala, Manjusri Bodhisattva merepresentasikan kebijaksanaan, dan Avalokitesvara Bodhisattva merepresentasikan maitrikaruna, ketiganya merupakan Tiga Jina-putra Dharmaraja dalam Tantra. Seluruh Tibet merupakan Bodhimanda Caturbhujalokesvara ( Awalokiteswara Bodhisattwa Berlengan Empat ), Dalai Lama dan Karmapa merupakan titisan Caturbhujalokesvara.

Avalokitesvara Bodhisattva memiliki banyak mudra, Beliau merupakan siswa dari Amitabha Buddha, tergolong dalam Padmakula ( Keluarga Teratai ), sehingga Beliau menggunakan padma sebagai mudra, di antaranya, juga ada mudra padma kuncup, dan padma setengah mekar. Utpala yang dipegang oleh Syama Tara, ada yang mekar penuh, ada yang setengah mekar, dan ada yang masih kuncup. Avalokitesvara Bodhisattva memiliki welas asih agung terhadap semua makhluk, oleh karena itulah jumlah insan yang telah diseberangkan olehnya merupakan yang paling banyak. 

Teks Lamdre : 

1.    Abhiseka Kalasa
Samaya kedudukan mula, merupakan utpattikrama. 
Samaya yang diperoleh kemudian, merupakan tiga substansi.  
Samaya makan dan minum, lima macam daging dan lima pil amrta.
Samaya perlindungan, merupakan yang paling mendasar dan dibagi menjadi 22 samaya.
Samaya tak terpisahkan adalah vajra dan ghanta.


Dharmaraja melanjutkan pengulasan Lamdre :

Dalam Dharmadesananya, Mahaguru memberitahu semua, makna sejati dari samaya adalah Dharma. Dharma yang telah dibabarkan oleh Mahaguru mengandung lingkupan samaya yang sangat luas. Dalam prayoga yang ditekuni pada permulaan bhavana, juga dalam sambhara-marga ( jalan memupuk bekal bersadhana ) semua terdapat samaya. 

Dalam tahap darsana-marga ( pencerahan ), bhavana-marga ( pembinaan diri setelah pencerahan ), dan parayana ( tahap akhir ), semua ada samaya. Dalam hal Dharma, sambhara, dan keinginan, semua ada samaya. Makan, minum, berpakaian, tempat tinggal, dan aktivitas, semua juga ada samaya, juga ada samaya-carya, dan samaya-kaya. 

Mahaguru memberi contoh hal-hal mengenai samaya, Sadhana Istadevata Avalokitesvara Bodhisattva yang kita tekuni malam hari ini mengutamakan maitrikaruna dan santika, maka kita mesti mengenakan pakaian berwarna putih. Sebelum memberi abhiseka, seorang Acarya mesti terlebih dahulu mengenakan mahkota, sebab mahkota merepresentasikan Pancadhyani Buddha, kecuali Anda telah mencapai kontak yoga mandala tubuh, cakra ajna adalah Mahavairocana Buddha, cakra visuddha adalah Amitabha Buddha, cakra anahata adalah Aksobhya Buddha, cakra manipura adalah Ratnasambhava Buddha, dan cakra svadhisthana adalah Amoghasiddhi Buddha, maka Anda telah mencapai keberhasilan samaya-kaya, dan boleh memberikan abhiseka tanpa mengenakan mahkota. 

Selama belum mencapai keberhasilan mandala tubuh, jika Anda tidak mengenakan mahkota, berarti Anda telah melanggar samaya. Seorang biksu atau biksuni, jika berjalan di jalan umum dengan mengenakan pakaian awam, berarti ia telah melanggar samaya. Guru, Istadevata, dan Dharmapala, hubungan ketiganya dengan Tantrika juga adalah samaya. Seorang yang meninggalkan Gurunya untuk bersarana kepada Guru lain, maka samaya dia dengan gurunya yang sebelumnya telah sirna, berubah menjadi samaya antara dia dengan gurunya yang baru. Ini disebut jalinan segitiga, ibarat pendupaan berkaki tiga, meliputi : Samaya tubuh, samaya ucapan, dan samaya pikiran, selain itu, semua aturan juga tergolong sebagai samaya. 

 Guru, Istadevata, dan Dharmapala diri sendiri tidak boleh dicampakkan. Ada orang yang bertanya, kenapa Mahaguru bisa mempunyai empat Guru Sarana ? Mahaguru memberitahu, beliau tidak mencampakkan Guru-gurunya, tiap kali bersadhana, beliau senantiasa menjunjung keempat Gurunya di puncak kepala. Dalam Sutrayana, Mahaguru menjunjung tiga orang Guru dan tiga orang Guru Transmisi Sila, dalam Tantra punya empat Guru Sarana, Mahaguru menegaskan, kita mesti ingat kepada Guru kita sendiri. Inilah samaya.  

Mahaguru menjelaskan makna dari Abhiseka Kalasa. Istadevata di angkasa, memasuki Istadevata di mandala, kemudian Istadevata memasuki kalasa abhiseka, dan Acarya menggunakan kalasa untuk mengabhiseka. 

Contohnya : Sebelum memberikan Abhiseka Padmasambhava, Acarya mesti mengundang Padmasambhava, dan mesti melakukan Sadhana Padmasambhava. Mengundang dengan menggunakan tata ritual, Padmasambhava hadir di mandala, kemudian angkat kalasa abhiseka, mengundang Padmasambhava memasuki kalasa abhiseka, kemudian Padmasambhava mengalirkan energi dan daya Beliau melalui pori-pori, sehingga Dharmabala melebur dalam air, kemudian Acarya menggunakan kalasa untuk mengabhiseka semua, ini merupakan serangkaian samaya. 

Istadevata Prajna dari angkasa turun hadir di mandala, kemudian masuk ke dalam kalasa, dan Acarya menggunakan kalasa tersebut untuk memberikan Abhiseka Kalasa, ini adalah samaya, tidak boleh kurang satu tahap pun. Jika abhiseka dilakukan tanpa hadirnya Istadevata Prajna di mandala, maka perbuatan tersebut merupakan pelanggaran samaya. Jika Istadevata di mandala tidak turun hadir dalam kalasa, tapi Acarya tetap memberi abhiseka kepada semua, berarti ia telah melakukan pelanggaran samaya. Jika dalam kalasa tidak ada Dharmabala Istadevata, berarti ia juga telah melanggar samaya. Abhiseka mesti dilakukan sesuai dengan tata ritual.

Mahaguru mengulas lebih lanjut : “Samaya kedudukan mula, merupakan utpattikrama”, apa itu utpattikrama ? yaitu kebenaran duniawi yang berwujud, sedangkan Sampannakrama tergolong sebagai tidak berwujud. “Samaya kemudian, merupakan tiga substansi”, apa itu tiga substansi ? Ada tiga substansi dalam diri manusia, yang satu adalah Aku Mula yang berasal dari angkasa, kemudian aku jasmani, dan aku batiniah. Dalam “Samaya makan dan minum” ada lima jenis daging, di antaranya meliputi daging kuda, dan zaman sekarang sudah tidak bisa memperoleh lima jenis daging. “Samaya tak terpisahkan”, maksudnya adalah seorang Vajracarya tidak boleh terpisah dari vajra dan ghanta, oleh karena itu tiap kali pergi membabarkan Dharma mesti membawa vajra dan ghanta pribadi. “Samaya perlindungan”, Mahaguru menjapa satu mantra : “Om. Bolilanzheli.”, “Boli” adalah Vajrasattva Bodhisattva. Mantra, mudra, dan visualisasi tangan kanan Vajrapani memegang vajra, tangan kiri memegang tali, kaki membentuk busur dan panah, ini adalah samaya perlindungan. 

Usai Dharmadesana, Dharmaraja menganugerahkan Abhiseka Sarana, mengadhisthana Air Mahakaruna Dharani dan mengabhiseka pratima. Sebelum meninggalkan vihara, Mahaguru berwelas asih memberikan adhisthana jamah kepala kepada setiap siswa yang hadir. 

Malam hari ini, Mahaguru membuat kita memahami bahwa beliau sangat menghormati dan menjunjung tinggi setiap Guru Sarana beliau. Sebagai siswa, kita mesti meneladani Guru kita, dan selamanya menjunjung tinggi Mulacarya, dengan demikian, bhavana kita akan penuh dengan daya kebajikan, dan dapat mencapai keberhasilan. 
 
Judul Asli :
2019-06-29西雅圖雷藏寺觀世音菩薩本尊法同修

Klik di Sini untuk Versi Bahasa Mandarin

◎ Situs TBSN Terbaru ( Mandarin ) :
https://ch.tbsn.org/

Siaran Langsung Kebaktian dari Ling Shen Ching Tze Temple, setiap Minggu pukul 10:00 ( WIB )
Siaran Langsung Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap Senin pukul 05:00 ( WIB )

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.