Halaman Utama > Fokus Internasional > 22 Juni 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Amitabha Buddha di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple


22 Juni 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Amitabha Buddha di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple


《TBS – Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple - 西雅圖雷藏寺 》

Keunggulan Sadhana Tantra Zhenfo, dan daya adhisthana Dharmaraja Liansheng Lu Shengyan (蓮生活佛盧勝彥), senantiasa menghasilkan kontak batin bagi para insan. Sebelum puja bakti dimulai, di antara banyak umat dari berbagai negara yang hadir dalam puja bakti Sadhana Istadevata Amitabha Buddha kali ini, ada umat dari Australia yang datang secara khusus untuk berterima kasih atas adhisthana dan penjemputan dari Dharmaraja Liansheng kepada mendiang ayahnya. Ia mengisahkan kontak batin nyata yang ia alami sendiri saat ayahnya menghadapi kondisi jelang wafat. Peristiwa ini kembali menjadi saksi atas keunggulan Sadhana Tantra Zhenfo serta daya adhisthana Buddha Guru Dharmaraja Liansheng. 

Mantra Hati Padmakumara berkumandang, para rohaniwan penyambut Guru berbaris rapi di depan Taman Arama Zhenfo, dengan tulus mengundang Dharmaraja Liansheng untuk hadir di bhaktisala memimpin puja bakti Sadhana Istadevata Amitabha Buddha. 

Usai puja bakti yang berjalan dengan khidmat, terlebih dahulu Mahaguru memperkenalkan Adhinatha puja bakti hari ini : Amitabha Buddha, yang merupakan salah satu dari Asta-maha-adhinatha dalam Zhenfo Zong. Amitabha Tathagata memancarkan cahaya tanpa batas dan memiliki usia tanpa batas. Usia Amitabha Buddha tanpa batas dan kekal, Beliau memiliki banyak penjelmaan, salah satunya adalah : Amitayus Tathagata, semua merupakan parivar dari Amitabha Buddha. 

Mahaguru mengungkapkan, begitu sadhana dimulai, parivar dari Amitabha Buddha dan banyak Buddha Bodhisattva terus berdatangan, malam hari ini cahaya terang dan anubhava yang kuat terus memancar dari tubuh Mahaguru. Mahaguru merasakan batin menjadi sangat tenang, namun ketenangan ini bukan seperti air ladung ( air yang diam tidak mengalir seperti genangan ). Dalam pelimpahan jasa, Mahaguru menyebutkan air yang mengalir, yang bersih, terang, jernih, dan bukan air ladung, yang tidak masuk dan tidak keluar, yang hening tak bergerak. Jika bhavana mencapai kondisi air ladung, berarti Anda telah memasuki kondisi hampa, seperti kayu kering, seperti abu, tidak ada energi kehidupan, dan tidak memiliki fungsi. Sesungguhnya, keberhasilan tertinggi yang sejati sifatnya mengalir, jernih, terang, dan bersih. Keberhasilan sejati ada dalam dhyana-samadhi, dan sesungguhnya mengalir, gerakan tersebut mengandung sukacita, terus mengalami kemajuan. 

Saat sadhaka memperoleh sukacita dalam dhyana-samadhi, ia akan lebih bersungguh-sungguh dalam mengamalkan maitri, karuna, mudita, dan upeksa. Menurut Mahaguru, maitri, karuna, mudita, dan upeksa itu mengalir dan memiliki fungsi. Sukha dalam empat tanda pencapaian : Abadi, sukha, aku sejati, dan suci, adalah sukha yang mengalir. 

Saat puja bakti, Mahaguru duduk di atas Dharmasana, dan kondisi batin beliau sangat tenang. Pelimpahkan jasa diucapkan mengalir dari dalam hati, dan ini merupakan pancaran cahaya kedamaian hati. Saat puja bakti, ada banyak cahaya yang memancar kepada dirinya, mata tidak bisa terbuka, sehingga batin yang semula bergolak menjadi tenang, sangat damai. Merasakan kondisi kedamaian yang luar biasa, seolah-olah hendak memasuki kondisi tidur, namun belum masuk kondisi tidur, ada di antara kondisi jaga dan tidur, inilah dhyana samadhi. 

Di hadapan terus nampak Amitabha Buddha. Demikianlah fenomena yang bisa muncul saat belajar dhyana-samadhi, dalam kondisi antara hendak tidur dan belum tidur, batin sangat jernih, sangat damai, sangat terang, ini adalah samadhi. Namun karena di hadapan ada Amitabha Buddha, dan fokus pada Amitabha Buddha, maka tetap merupakan samadhi beratribut.  Namun ini bukan samadhi yang kasar, ini merupakan samadhi yang halus, yang bisa muncul pada saat pelimpahan jasa. Ada pelimpahan jasa dalam samadhi kasar, ada juga pelimpahan jasa dalam samadhi yang halus, keduanya berbeda. Mahaguru merasakan bahwa anubhava dalam Sadhana Amitabha Buddha malam hari ini sangat baik, semua karmavarana dan klesha terasa dibersihkan oleh Amitabha Buddha, sekujur tubuh terasa rileks, batin sangat terang, merasa sangat hening. 

Teks Lamdre : 

11.4, Abhiseka Keempat 

1.    Tahap Awal
Tiga jenis kesadaran :
1.    Kesadaran mengingat Guru suci yang menganugerahkan Abhiseka Keempat.
2.    Kesadaran mengingat marga gelombang vajra.
3.    Kesadaran mengingat darsana kesucian Tathata ; Ketiganya fokus. 

2.    Tahap Inti
Lima atribut yang dipertahankan, muncul bersamaan, berlindung pada sarana, mengutamakan daya kesadaran, mengingat Guru yang mentransmisikan ajaran suci, kemudian mengingat marga gelombang, kedua hal ini dipertahankan sehingga prana dapat masuk, menetap, dan keluar dari tiga nadi utama, dan terakhir, kedua nadi dan nadi tengah satu rasa, masuk dan keluarnya napas juga satu rasa dengan tahan napas, melebur dalam empat aktivitas, satu rasa dengan hati sendiri, setelah merealisasikan sukha sunya terunggul, dengan adhisthana jnana dari antarbhava, memperoleh kesinambungan jalinan kelahiran tanpa karma, meningkatkan tujuan bhavana, atau mencapai keberhasilan vidyadhara. 

Kemudian, dalam hal lima atribut yang dipertahankan, batin yang melekat pada cahaya putih redup dapat terjerumus ke neraka, melekat pada cahaya kuning redup dapat terjerumus ke alam preta, melekat pada cahaya biru redup dapat terjerumus ke alam hewan, melekat pada cahaya merah redup dapat terjerumus ke alam surga, melekat pada cahaya hijau redup dapat terjerumus ke alam asura, melekat pada cahaya aneka warna redup dapat terlahir di alam manusia. Pikiran terpusat pada kondisi, ini sangat penting ; Ajaran ini ditujukan bagi pudgala yang memiliki akar rendah, ada 20 metode marga dan instruksi yang menyertai. 

Dharmaraja Liansheng melanjutkan pengulasan Lamdre :

Mahaguru membabarkan, empat abhiseka antara lain : Abhiseka Kalasa, Abhiseka Sadhana Internal, Abhiseka Guhya, dan Abhiseka Guhyatiguhya, sesuai dengan urutannya : Abhiseka Awal, Abhiseka Kedua, Abhiseka Ketiga, dan Abhiseka Keempat. 

Dalam teks Lamdre dibahas mengenai Abhiseka Keempat, salah satu jenis abhiseka yang dibahas di dalamnya adalah bardo. Anda mesti mengingat abhiseka yang telah Anda peroleh, dan kondisi apa saja yang semestinya muncul dalam bardo. Antarbhava dalam teks Lamdre yang dimaksud adalah bardo, atau alam roh. Kemampuan mengendalikan kelahiran dan kematian diri sendiri disebut pemindahan kesadaran, menggunakan kesadaran sendiri masuk ke dalam rahim seorang ibu, berganti tubuh jasmani dan menitis kembali, penitisan ini disebut pemindahan kesadaran, demikianlah penitisan seorang Tulku. Namun pemindahan kesadaran juga bisa diarahkan ke alam surga atau bisa juga ke Mahapadminiloka. 

Jika sadhaka telah menerima Abhiseka Keempat namun belum mencapai keberhasilan pemindahan kesadaran, maka sadhaka mesti mengingat Guru yang menganugerahkan Abhiseka Keempat kepadanya. Baik itu Abhiseka Awal, Abhiseka Kedua, maupun Abhiseka Ketiga, semua mesti ingat kepada Mulacarya yang memberikan abhiseka. 

2. Mesti mengingat marga gelombang vajra dari Mulacarya dan marga gelombang vajra dari Dharma.
3. Diri sendiri mengalami anubhava sukha, sunya, Tathata, dan pikiran mesti terus fokus pada anubhava ini. 

Mahaguru menyebutkan bahwa pikiran sangat penting. Mahaguru memberi contoh, mendiang ayah dari umat di Australia yang tadi mengisahkan kesaksiannya tadi, sang ayah dapat mengingat Mulacarya, asalkan dapat mempertahankannya, maka Mulacarya pasti muncul. Asal dalam kondisi bardo dapat terus mengingat Trimula, maka pasti dapat tertolong. 

Seperti saat bermimpi di malam hari, saat memimpikan kondisi yang sangat buruk, dapat ingat untuk menjapa Mantra Guru, Istadevata, dan Dharmapala, maka pasti dapat tertolong. Jika saat mimpi buruk dapat menjapa : “Om. Gulu. Liansheng. Xidi. Hum”, dan langsung dapat menghentikan mimpi, terbangun, maka mimpi buruk pun dapat diatasi. 

Mahaguru mengisahkan pengalaman diri sendiri, setiap malam selalu melakukan simabandhana di tempat tidur sendiri, simabandhana ini dibuat supaya saat tidur malam tidak mimpi buruk. Meskipun kadang tidak muncul mimpi yang sangat baik, namun juga bukan mimpi buruk, melainkan sebuah mimpi biasa. 

Tanpa simabandhana, kadang sesuatu yang tidak baik akan masuk, dan menyebabkan mimpi buruk. Dalam mimpi buruk, jika sadhaka dapat mengingat Mulacarya, Istadevata, dan Dharmapala, maka mimpi buruk dapat diatasi. Oleh karena itu, sama halnya dengan kondisi bardo, saat kondisi tidak jelas, jika dalam benak Anda ada Guru, Istadevata, dan Dharmapala, maka Anda pasti dapat tertolong. 

Demikian halnya, jika Anda dapat mempertahankannya, mengingat Guru, Istadevata, Dharmapala, maka Trimula dapat memasuki roh dan bersemayam di dalamnya, membuat simabandhana. Sama seperti sadhana sehari-hari, saat Istadevata masuk dalam tubuh sadhaka, manunggal dengan kita, kemudian bersama naik ke alam yang lebih baik ( tujuan bhavana ), misalnya alam Surga Mahabrahma, rupadhatu, arupadhatu, atau kamadhatu, atau mencapai keberhasilan vidyadhara, terang kekal, menjadi Rsi Vidyadhara.  

Jika dalam bardo melihat cahaya redup, maka itu merupakan cahaya kemelekatan dan kebingungan, dan bukan cahaya yang terang. Cahaya putih yang redup dan membingungkan dapat menjerumuskan Anda terlahir di alam neraka. Cahaya kuning yang redup dapat menjerumuskan ke alam preta. Cahaya biru redup dapat menjerumuskan ke alam hewan. Cahaya merah redup dapat menjerumuskan ke alam dewa. Cahaya hijau redup dapat menjerumuskan ke alam amanusya ( makhluk bukan manusia ). Cahaya aneka warna yang redup dapat menjerumuskan ke alam manusia, ini adalah kemelekatan terhadap cahaya yang redup. Namun jika cahayanya sangat terang-benderang, maka itu istimewa, seorang sadhaka mesti bisa membedakan. 

Mahaguru mengatakan, Tantra disebut juga sekte daya batin, menggunakan pikiran untuk mengubah diri sendiri dan roh. Sadhaka Tantra dibagi menjadi : Kapasitas agung, menengah, dan rendah. Sadhaka dengan kapasitas agung dapat langsung mencapai Kebuddhaan atau mencapai tingkat Bodhisattva. Sadhaka kapasitas menengah dapat terlahir di alam surga. Sadhaka kapasitas rendah dapat terlahir di empat benua besar, atau di alam manusia, atau alam asura ( amanusya ). Sedangkan yang lebih rendah lagi adalah tiga alam rendah. 

Sebagai penutup, Mahaguru menggunakan kisah humor untuk menyampaikan makna hati, bagaimana pun manusia berpikir, tetap tidak keluar dari hati, oleh karena itu kondisi hati sangat penting. Sadhana berarti melatih hati, yaitu supaya hati menjadi damai, sehingga hati ini bisa memasuki dhyana-samadhi, dan menghasilkan kebijaksanaan. Terus mengingat tahap bhavana, dengan sendirinya cahaya terang pun akan terpancar, dapat menyaksikan cahaya suci yang sejati. Cahaya terang ini menyilaukan, dan bukan cahaya yang redup. 

Usai pengulasan Lamdre yang sangat mendetail, grup pelantunan vihara memandu semua untuk bersama melantunkan Nama Agung Amitabha Buddha. Kemudian Mahaguru menganugerahkan Abhiseka Sarana kepada siswa baru, mengadhisthana Air Mahakaruna Dharani, dan mengabhiseka pratima. 

Sebelum meninggalkan lokasi, Mahaguru berwelas asih menganugerahkan adhisthana jamah kepala kepada setiap siswa yang hadir. Barisan rapi rohaniwan mengantarkan Guru kembali ke Taman Arama Zhenfo, semua bernamaskara kepada Mulacarya sebagai ungkapan rasa terima kasih atas Dharma mulia yang telah dibabarkan. 

Judul Asli :
2019年6月22日西雅圖雷藏寺阿彌陀佛本尊法同修

Klik di Sini untuk Versi Bahasa Mandarin
 

◎ Situs TBSN Terbaru ( Mandarin ) :
https://ch.tbsn.org/

Siaran Langsung Kebaktian dari Ling Shen Ching Tze Temple, setiap Minggu pukul 10:00 ( WIB )
Siaran Langsung Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap Senin pukul 05:00 ( WIB )

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.