Halaman Utama > Fokus Internasional > 15 Juni 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Bhaisajyaguru Buddha di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple


15 Juni 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Bhaisajyaguru Buddha di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple


《 TBS – Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple 西雅圖雷藏寺 》

Demi merayakan hari jadi Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu, sebanyak hampir 500 orang siswa dari berbagai negara berdatangan ke vihara cikal bakal (Seattle Ling Shen Ching Tze Temple - 西雅圖雷藏寺). Pada puja bakti bersama hari Sabtu, yaitu puja bakti Sadhana Istadevata Bhaisajyaguru Buddha, di bagian dalam dan luar vihara penuh dengan dekorasi aneka warna, memancarkan sukacita, selain itu, pihak vihara juga telah membuat poster besar berisi ucapan selamat ulang tahun yang dipasang di atas pintu utama vihara, setiap kata merupakan doa tulus dari segenap siswa kepada Mulacarya. 

Balon aneka warna turut meramaikan suasana dalam vihara, persembahan bunga segar membuat bhaktisala dipenuhi keharuman semerbak, di antara sarana puja banyak yang melambangkan berkah panjang usia, di segala sudut penuh dengan sukacita perayaan hari ulang tahun. Ruang santap di vihara juga telah menyediakan banyak lauk yang lezat, supaya para umat yang datang dari jauh dapat terkenyangkan oleh cita rasa yang istimewa, sehingga setiap orang merasakan kehangatan bagai di rumah sendiri. 

Barisan panjang rohaniwan menyambut Guru, dengan tulus mengundang Dharmaraja Liansheng hadir secara langsung untuk memimpin puja bakti hari ini. Usai puja bakti yang berjalan dengan khidmat, terlebih dahulu Mahaguru secara khusus menyebutkan ada banyak sekali umat dan tamu agung dari berbagai negara, yang datang dari jauh untuk Berdharmayatra ke Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, Dharmaraja mengungkapkan bahwa beliau merasa senang sekali bisa berjumpa kembali dengan semua. Mahaguru juga mengungkapkan bahwa pada puja bakti malam hari ini Buddha Bodhisattva yang hadir sangat banyak, tiga sampai empat kali lipat dari biasanya, banyak cahaya prajna yang turun dari angkasa. Pada saat puja bakti, Bhaisajyaguru-vaidurya-prabha Tathagata hadir bersama para parivar, semua turun hadir mengadhisthana umat. 

Mahaguru mengungkapkan bahwa Bhaisajyaguru Buddha memiliki banyak ikrar agung, sama seperti Istadevata dari Mahaguru, yaitu Amitabha Buddha, sama-sama menyeberangkan semua makhluk. Bhaisajyaguru Buddha pernah menolong Mahaguru sebanyak dua kali, oleh karena itu, Mahaguru sangat berterima kasih kepada Bhaisajyaguru Buddha. 

Pertama kali adalah saat Mahaguru masih dalam masa pertapaan, saat itu kondisi kesehatan sangat buruk, menderita sindom otak terbelah. Mahaguru memutuskan untuk pergi ke Korea berpradaksina dan bersembah puja kepada Buddha, usai berpuja kepada Bhaisajyaguru Buddha, dalam perjalanan kembali, beliau benar-benar menyaksikan Bhaisajyaguru Buddha. Mahaguru menjelaskan penglihatan saat itu, kedua mata terpejam, di sekeliling mata ada banyak lingkaran cahaya seperti kapas, terus berkilauan. Tiap kali melihat kemunculan Buddha Bodhisattva, di sekitar pasti banyak kilauan cahaya, di bagian tengah ada lingkaran layar berwarna putih. Saat itu Mahaguru menyaksikan Bhaisajyaguru Buddha dan parivar, semua nampak jelas, dan memancarkan cahaya mengadhisthana Mahaguru, saat itu langsung yakin bahwa penyakit itu pasti tersembuhkan. 

Yang kedua kali juga menderita sakit yang sangat parah, kaki terkena selulitis, saat itu rumah sakit menggunakan antibiotik paling keras untuk mengobatinya. Ada siswa yang demi memohon kesembuhan bagi kaki Mahaguru, pergi Berdharmayatra ke gunung Bagong di Korea untuk memanjatkan permohonan kepada Bhaisajyaguru Buddha, setelah berdoa, serta melalui pengobatan dokter, akhirnya bengkak di kaki Mahaguru perlahan mengempis, hingga sembuh total, dan saat itu Bhaisajyaguru Buddha benar-benar muncul untuk menolong Mahaguru. Saat Mahaguru berbaring di atas ranjang di rumah sakit, beliau juga menyaksikan kehadiran Mahabiksu Xuyun yang berdiri di atas awan, tangan Beliau terjulur menembus awan, terus sampai menjamah kepala Mahaguru. Kontak batin terjadi terus-menerus. 

Mahaguru mengupas 12 ikrar agung Bhaisajyaguru Buddha :

1.    Ikrar supaya tubuh diri sendiri dan insan lain memancarkan cahaya terang. Selain diri sendiri, juga mengupayakan supaya insan lain dapat memancarkan cahaya yang terang.

2.    Kekuatan dan kewibawaan menerangi para insan ; Arti dari menerangi adalah menyeberangkan insan.

3.    Mengenyangkan dan memenuhi harapan para insan, supaya tiada kekurangan ; Artinya : Beliau sanggup memenuhi segala harapan para insan yang baik dan wajar.

4.    Supaya para insan kukuh dalam Mahayana ; Artinya : Supaya setiap insan tidak menekuni Hinayana, melainkan menekuni Mahayana, supaya semua dapat menyeberangkan semua makhluk, dan bukan hanya berbhavana untuk diri sendiri. 

5.    Supaya para insan menjalankan Brahmacari dan memiliki tiga sila kumulatif ; Brahmacari adalah kehidupan suci, yaitu berbuat yang selaras dengan maitri-karuna-mudita-upeksha, dan catur-apramana. Maitri adalah memperlakukan insan lain dengan penuh kasih, karuna adalah menggunakan welas asih untuk mencabut penderitaan para insan, mudita adalah dengan penuh sukacita dan tekun melakukannya, upeksa adalah menggunakan prinsip kesetaraan untuk menyeberangkan semua insan, tidak peduli itu orang yang disukai maupun yang tidak disukai, atau kepada sesama umat manusia atau bukan manusia. Upeksa ini sangat penting, memperlakukan para insan dengan prinsip kesetaraan, tidak mebeda-bedakan, tidak boleh ada musuh, bahkan harus mengasihi musuh-musuhnya, ini yang disebut sebagai upeksa kesetaraan. 

6.    Supaya para insan memiliki indra-indra yang lengkap. Difabel tubuh adalah suatu hal yang sangat menyedihkan, namun Bhaisajyaguru Buddha memiliki ikrar untuk melindungi para insan yang difabel.

7.    Menyingkirkan berbagai penyakit para insan, supaya para insan memperoleh ketenteraman, merealisasi Anuttarabodhi.

8.    Mentransformasikan perempuan menjadi laki-laki ; Dapat mengubah janin perempuan menjadi laki-laki. 

9.    Supaya para insan terbebas dari jerat mara dan tirthika, terbebas dari pandangan sesat, menuntun mereka pada pandangan benar.

10.    Supaya para insan terbebas dari bahaya perampokan dan petaka lainnya. Petaka yang dimaksud adalah bencana elemen tanah, air, api, angin, bencana alam maupun bencana buatan manusia. Asalkan telah berkontak yoga dalam Sadhana Bhaisajyaguru Buddha atau kontak yoga dalam penjapaan Nama Agung Bhaisajyaguru Buddha, maka pasti dapat terhindar dari petaka. 

11.    Supaya para insan terbebas dari kelaparan dan dahaga ; Dapat membuat para insan yang haus dan lapar memperoleh makanan yang baik. 

12.    Supaya yang kekurangan sandang memperoleh pakaian yang indah.

Dharmaraja Liansheng melanjutkan pengulasan Lamdre :

11,3. Abhiseka Prajna 

1.    Tahap awal
Tiga hal mengikuti arus pikiran :
1.    Acarya yang memiliki kebijaksanaan mula dalam Sutrayana maupun Tantra.
2.    Jalan abdi.
3.    Penglihatan asali : saat mengikuti arus pikiran mesti dalam marga satu pikiran.

2.    Tahap Inti
Kesadaran dalam kondisi antarbhava mencari lima hal untuk dipertahankan, pada saat yang sama muncul tujuh macam kondisi menakutkan, beserta lima hal yang perlu dipertahankan, atau muncul Bodhicitta laksana sebutir mutiara putih, yang merupakan satu hakikat dengan pembentukan dan keleburan Mahasukha asali, selain fenomena yang muncul dalam antarbhava, tidak ada kesinambungan lain untuk meningkatkan tujuan, atau mencapai keberhasilan vidyadhara ; Nidana sebagai pengulangan.

Mahaguru mengulas, Abhiseka Prajna yang disebutkan di sini, merupakan abhiseka antara Adhinatha dengan roh. Dalam aktivitas menyeberangkan semua makhluk, bagaimana cara Mahaguru menyeberangkan roh ? Mahaguru memberi contoh, saat beliau menyeberangkan mendiang ayahnya, ayahnya adalah siswa sarana, namun sama sekali tidak berbhavana. Sang ayah memiliki kegelapan batin yang besar, yaitu berpendapat bahwa setelah meninggal dunia, tidak ada apa pun lagi, tidak ada roh, tidak ada karma baik maupun karma buruk, tidak ada reinkarnasi, dan tidak ada sad-gati, banyak orang memiliki pemikiran demikian. 

Ayah dari Mahaguru memiliki silsilah Abhiseka Sarana, Mahaguru membuka Hati-nya sendiri, menjelma menjadi sekuntum padma, kemudian mengundang sang ayah untuk masuk melalui ubun-ubun menelusuri nadi tengah dan masuk ke dalam padma di cakra anahata. Saat itu Mahaguru memasukkan diri sendiri ke dalam Hati Istadevata, Mahaguru meninggalkan sang ayah di dalam Hati Istadevata, kemudian beliau sendiri kembali ke dunia fana, dengan demikian Mahaguru telah menyeberangkan ayahanda. 

Penyeberangan arwah yang sesungguhnya adalah membuka cakra anahata diri sendiri, supaya arwah tersebut masuk ke dalam cakra anahata diri, kemudian diri sendiri bersama arwah tersebut masuk ke dalam Hati Istadevata, kemudian arwah itu tetap tinggal dalam Hati Istadevata mencapai Negeri Buddha, kemudian sadhaka kembali ke alam fana. Ada juga metode lain, yaitu mengundang Istadevata untuk menjemput. 

Saat Milarepa menyeberangkan sang ibu : Nyangtsa Kargyen, metode yang digunakan sama persis dengan yang digunakan oleh Mahaguru. Beliau mengundang Nyangtsa Kargyen masuk ke dalam cakra anahata diri sendiri, kemudian menggunakan daya adhisthana silsilah dari Guru Marpa, memasuki Negeri Buddha, melepaskan sang ibunda di dalam Negeri Buddha, kemudian Milarepa kembali ke dunia fana. 

Dalam tahap awal yang disebutkan dalam teks Lamdre, kita diajarkan untuk mengenang Guru sendiri, serta mengenang parivar-Nya, saat roh sedang berbhavana, mesti mengenang Guru, Istadevata, dan Dharmapala. Saat muncul tujuh fenomena menakutkan, seperti : Mendengar suara hardikan, tiupan angin kencang, gempa bumi besar, air bah, kobaran api, Anda mesti bisa menjapa Nama atau Mantra Hati Guru, Istadevata, atau Dharmapala, atau mempertahankan terangnya hati. 

Kalimat : “Yang merupakan satu hakikat dengan pembentukan dan keleburan Mahasukha asali”, ini sangat penting, Abhiseka Prajna ada dalam kalimat ini. Jika Anda memperoleh vyakarana dari Dakini, Anda dapat menjadi : “Satu hakikat dengan pembentukan dan keleburan Mahasukha asali” vyakarana ini sangat penting, jika Anda telah memperoleh vyakarana dari Dakini, maka Anda mesti mengingat saat menerima vyakarana dari Dakini, mengingat vyakarana tersebut, maka Anda dapat meningkatkan tujuan Anda, dan mempertahankan kemunculan cahaya terang Anda. Vyakarana Dakini ini adalah nidana. 

Apa itu ‘tujuan’ ? Tujuan adalah terlahir di Negeri Buddha, menjadi Buddha adalah tujuan, atau mencapai keberhasilan japa mantra menghasilkan cahaya terang, dan saat berhasil mempertahankan terang tersebut maka sadhaka menjadi Rsi vidyadhara. Mesti mengenang vyakaran, mengingat nidana diri sendiri. 

Mahaguru menggunakan kisah humor untuk membimbing umat memahami makna Dharma, Mahaguru menuturkan, sesuai dengan yang diajarkan oleh Guru ( Guru dari Dharmaraja Liansheng ), setiap hari mesti bermeditasi, sadhaka mesti belajar memasuki samadhi. Saat mulai meditasi, kaki akan sakit, Anda mesti mengatur posisi duduk ; Atau saat kesemutan, atur posisi duduk Anda, sampai menemukan posisi yang sesuai dengan diri sendiri, supaya tidak lagi kesemutan. Jika tidak mengatur posisi, kaki akan terus sakit dan kesemutan, ini menyebabkan Anda tidak bisa masuk samadhi, Anda mesti mengatur posisi tubuh sampai menemukan posisi yang sesuai dengan diri sendiri, demikian secara bertahap, ini merupakan dasar pertama untuk masuk samadhi, dan ini sangat penting. 

Usai Dharmadesana yang jelas dan mengena, regu pelantunan memandu semua untuk melantunkan Nama Agung Amitabha Buddha. Kemudian Dharmaraja memberikan Abhiseka Sarana kepada para umat yang memohon sarana, serta mengadhisthana Air Mahakaruna Dharani, dan mengabhiseka rupang Buddha. Vihara mengeluarkan kue tar yang sangat besar untuk merayakan hari jadi Guru, semua bersama menyanyikan lagu selamat ulang tahun dalam berbagai bahasa yang berbeda, Mahaguru dan Gurudara bersama memotong kue, bhaktisala penuh dengan suara tepukan tangan, semua umat, baik itu yang hadir langsung maupun melihat melalui internet, semua siswa di seluruh dunia dengan tulus memanjatkan doa sebagai persembahan bagi Mulacarya.

Marilah memanjatkan doa bagi Mahaguru,
Semoga tubuh sehat laksana naga,
Sukacita menetap di dunia dan leluasa,
Silsilah Ajaran Tantra Zhenfo Buddha Liansheng,
Terus sinambung di surga dan di bumi.

































Judul Asli :
2019年6月15日美國西雅圖雷藏寺藥師佛本尊法同修

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4853

Siaran Langsung Kebaktian dari Ling Shen Ching Tze Temple, setiap Minggu pukul 10:00 ( WIB )
Siaran Langsung Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap Senin pukul 05:00 ( WIB )

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.