Halaman Utama > Fokus Internasional > 18 Mei 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple


18 Mei 2019 Puja Bakti Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple

《Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple TBS》

Setiap orang yang pernah Berdharmayatra ke vihara cikal bakal di Seattle dapat merasakan daya tarik Mahaguru yang sangat besar, bagaikan mentari yang sangat dibutuhkan oleh bumi ini, Mahaguru senantiasa menyinari semua makhluk. Mahaguru tidak hanya memikat para siswa dari berbagai negara untuk datang Berdharmayatra, bahkan juga memikat para insan dari suku dan bahasa yang berbeda untuk datang bersarana kepada Buddha.

Pada tanggal 18 malam, Mahaguru dan Gurudara bersama menghadiri puja bakti Sadhana Istadevata Cundi Bhagavati di vihara cikal bakal. Setelah menjalankan sadhana sesuai tata ritual dengan penuh khidmat, Mahaguru Berdharmadesana. Banyak orang yang bertanya, jika Istadevata adalah Cundi Bhagavati, maka siapakah Dharmapalanya ? Mahaguru menjawab, Dharmapalanya tetap adalah Cundi Bhagavati. Sebab Cundi Bhagavati bisa menjadi Istadevata sekaligus Dharmapala, Beliau memiliki Dharmabala yang sangat besar. 

Dalam keseharian, saat melihat peristiwa bencana alam, atau bencana ulah manusia, maka Mahaguru akan melakukan penyeberangan arwah. Selain itu, Mahaguru juga melakukan penyeberangan bagi karma membunuh yang terakumulasi sejak banyak kehidupan, termasuk di antaranya unggas yang terbang di udara, binatang yang merangkak di tanah, bahkan hampir semua jenis binatang yang diketahui telah diseberangkan. Mahaguru memberitahu Cundi Bhagavati, setiap hari melakukan penyeberangan arwah, semestinya semua telah selesai diseberangkan ? Jawaban Cundi Bhagavati adalah, Mahaguru belum menyeberangkan kerang totok, mendengarnya, Mahaguru teringat semasa kecil pernah menangkap banyak kerang totok, hanya jenis inilah yang telah terlupa untuk diseberangkan. Dari sini dapat diketahui betapa agungnya Dharmabala Cundi Bhagavati, sungguh ampuh !

Mahaguru menyebutkan bahwa untuk menguasai metode penyeberangan, sesungguhnya sangat sederhana, boleh menjapa Sukhavativyuha Dharani dan membentuk Mudra Sagara, visualisasikan makhluk yang hendak diseberangkan hadir di hadapan, dari satu menjadi sebidang, kemudian semua diseberangkan, dan cahaya Buddha akan benar-benar muncul di hadapan. 

Pada saat tengah hari, Mahaguru memejamkan mata dan nampak beberapa cahaya terpancar, ada cahaya berbentuk lingkaran, ada juga yang berbentuk persegi, ada cahaya putih yang sangat terang. Saat cahaya terpancar ke bawah, sangat menyilaukan, makhluk yang hendak diseberangkan naik melalui cahaya tersebut. Tiap kali homa, saat melakukan penyeberangan, semua arwah akan menjelma menjadi sosok manusia kecil berwarna hijau, semua berada di samping kobaran api. Kemudian, saat cahaya Buddha terpancar turun seperti pancaran sinar, ada yang berbentuk lingkaran, ada yang berbentuk persegi, menarik sosok manusia hijau itu masuk ke dalam cahaya, dan satu persatu naik ke angkasa. Menekuni Sadhana Mata Ketiga Cundi Bhagavati dapat memperoleh kemampuan penglihatan batin. 

Dharmaraja Liansheng melanjutkan pengulasan Lamdre :

10.3, Memanfaatkan Aktivitas
Jika tanda-tanda pasti kematian telah muncul, dan tidak dapat diatasi lagi, jika ingin memanfaatkan aktivitas saat itu juga, ada empat metode :

1.    Metode alam bahagia
2.    Metode ambil alih raga
3.    Metode terlahir di benua lain
4.    Metode marga Mahamudra

1.    Metode alam bahagia
Di saat menjelang wafat, untuk tahap awal gunakan metode jelang wafat dalam abhiseka kalasa, tanpa tahap awal juga boleh. Dalam tahap inti, tubuh duduk tegak dan gunakan kiat postur duduk, punggung bersandar, jemari tangan saling silang di belakang kepala, gunakan aksara untuk menutup semua lubang, namun jangan tutup lubang menuju alam baik yang diinginkan. Kemudian visualisasikan dengan jelas, pada prana cakra anahata, di atas cakra candra, terdapat aksara Hum kesadaran hati, gunakan bunyi “Xi Ji” 20 kali untuk membawa aksara tersebut sampai ke cakra visuddha, pada japa yang ke-21 kali aksara melesat keluar melalui lubang yang terbuka ( alam baik yang diinginkan ), gunakan pintu ( lubang ) tersebut sebagai nidana untuk terlahir di alam baik, mencapai keberhasilan manfaat aktivitas. 

Terlebih dahulu, Mahaguru menjelaskan apa itu metode terlahir di benua lain, di dunia ini dibagi menjadi : Benua Amerika, Asia, Afrika, Eropa, dan Australia, semua ini adalah benua di dunia, namun dalam agama Buddha, ada empat benua besar : purva-videha di timur, apara-godaniya di barat, jambudvipa di selatan, dan uttarakuru di utara. Gua Shuilian kediaman Sun Go Kong dalam Kisah Perjalanan ke Barat berada di purva-videha ( timur ), sedangkan kita umat manusia di bumi ini berada di jambudvipa ( selatan ).

Mahaguru melanjutkan membaca Lamdre bagian : “Metode terlahir di alam bahagia”, kemudian mengulasnya : Saat sadhaka dalam kondisi jelang wafat, jika ingin terlahir di surga, seperti : Surga kamadhatu, surga rupadhatu, dan surga arupadhatu, semua ini tergolong sebagai alam bahagia. Dewa, manusia, dan asura tergolong sebagai alam bahagia. Di saat seseorang jelang wafat, jika tidak sempat lagi melakukan tahap awal, saat itu boleh langsung lakukan tahap inti. 

Mahaguru telah beberapa kali membabarkan, dalam bersadhana, jika waktu yang tersedia ada banyak, maka Anda harus melakukan tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir ; Jika waktunya sangat pendek, Anda cukup melakukan tahap inti. Tahap inti meliputi : Visualisasi, japa mantra, dan memasuki samadhi. Dalam Lamdre disebutkan, dalam melakukan tahap inti, kiatnya adalah posisi tubuh mesti duduk tegak, yaitu tujuh postur Vairocana, akan tetapi, di saat jelang wafat, tentu saja tidak bisa duduk dalam tujuh postur Vairocana. Mahaguru mengajarkan sebuah metode, yaitu Metode Mencapai Kebuddhaan Dalam Tujuh Hari. Anda cukup berbaring, visualisasi tubuh Anda adalah aksara Hum, di angkasa terdapat aksara A, bagian kaitan aksara A mengait bagian lingkaran aksara Hum, kemudian prana diarahkan ke atas, untuk mengangkatnya, mengandalkan nafas terakhir dalam tubuh. 

Dalam Lamdre disebutkan, saat jelang wafat, Anda harus duduk tegak, kiatnya adalah tujuh postur Vairocana, saat jelang wafat tidak bisa duduk tanpa bersandar, sebab jika tidak bersandar, Anda bisa rebah, oleh karena itu punggung mesti bersandar, jemari bersilang di belakang kepala. 

Gunakan aksara Hum berwarna biru, terlebih dahulu tutup jalan gandum ( anus ) dan jalan air seni yang menyebabkan kelahiran di alam rendah. Jika tidak bisa menggunakan metode samkranti, maka gunakan aksara Hum biru untuk menutup lubang tersebut. Lubang pusar juga ditutup, kemudian tujuh lubang ( mulut, dua lubang hidung, dua lubang telinga, dan dua lubang mata ) semua ditutup menggunakan aksara Hum biru, sisakan lubang cakra ajna dan cakra usnisa. 

Kemudian, dengan jelas visualisasikan prana cakra anahata Anda, hati Anda berubah menjadi sekuntum padma, di atas padma terdapat cakra candra, di tengah cakra candra terdapat prana hati, di dalam hati tersebut juga berupa aksara Hum biru. Saat itu japa : “Xi Ji” 20 kali, angkat prana sampai ke tenggorokan, dan pada penjapaan yang ke-21 kali, keluarkan prana melalui cakra usnisa di ubun-ubun atau di cakra ajna, dengan demikian Anda dapat terlahir di alam bahagia. 

Intinya ada pada visualisasi aksara Hum biru, pada prana terakhir di ulu hati, mengerahkan aksara Hum biru untuk keluar melalui lubang ubun-ubun atau lubang cakra ajna yang tidak ditutup, yang paling baik adalah keluar melalui ubun-ubun, ini merupakan cara wafat yang paling utama. 

Usai Dharmadesana, Mahaguru menganugerahkan Abhiseka Sarana, mengadhisthana Air Mahakaruna Dharani dan mengabhiseka rupang Buddha. Sebelum meninggalkan tempat, Mahaguru berwelas asih memberikan adhisthana jamah kepala kepada tiap umat yang hadir. 

Melangkah keluar dari pintu bhaktisala, nampak bulan purnama memancarkan cahaya terang, teringat pelimpahan jasa yang diucapkan oleh Mahaguru di tahap akhir puja bakti, Mahaguru memanjatkan permohonan supaya Cundi Bhagavati mengadhisthana mata ketiga para siswa sehingga dapat mengamati batin sendiri, mengamati cahaya mula dalam diri sendiri. Bukan melihat ke luar, melainkan melihat Buddhata diri sendiri. Supaya dalam bhavana, kita dapat belajar meditasi, dan jalan menuju Nirvana. Memancarkan cahaya terang dalam diri untuk menerangi diri sendiri dan menerangi seluruh dunia. Menggunakan cahaya diri melebur dalam cahaya alam semesta. 

Syukur kami panjatkan, atas adhisthana kebijaksanaan dari Mahaguru yang sangat luhur, laksana abhiseka kebenaran yang menggugah kesadaran !

Judul Asli :
2019年5月18日西雅圖雷藏寺大準提佛母本尊法同修

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4832

Siaran Langsung Kebaktian dari Ling Shen Ching Tze Temple, setiap Minggu pukul 10:00 ( WIB )
Siaran Langsung Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap Senin pukul 05:00 ( WIB )

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.