Halaman Utama > Fokus Internasional > Upacara Pemandian Rupang Buddha dan Puja Bakti Sadhana Istadevata Sakyamuni Buddha


Upacara Pemandian Rupang Buddha dan Puja Bakti Sadhana Istadevata Sakyamuni Buddha

《Berita Seattle Ling Shen Ching Tze Temple - TBS》

Menyertai kepulangan Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu di Seattle, pancaran sinar mentari agung menerangi seluruh Seattle. Sudah beberapa hari ini langit di Seattle berwarna biru cerah, wibawa Buddha Guru terpancar ke seluruh penjuru, menggugah para umat dari berbagai negara untuk datang Berdharmayatra ke vihara cikal bakal berbasuh Dharmasukha. Hari ini merupakan pertama kalinya Dharmaraja Liansheng memimpin puja bakti di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple ( 西雅圖雷藏寺 ) pada tahun 2019, dan yang paling istimewa adalah bertepatan dengan Hari Jadi Sakyamuni Buddha, semesta merayakan kebahagiaan ganda ini. 

Sebelum mulai puja bakti, sosok yang telah dinantikan oleh segenap siswa di Amerika dan Kanada, Mahaguru dan Gurudara hadir berpartisipasi dalam puja bakti hari ini, saat keduanya memasuki pintu utama vihara, mengobati kerinduan segenap siswa, terdengar gemuruh tepuk tangan, terasa sukacita perjumpaan antara Guru dan siswa. 
 
Berkat adhisthana cahaya Buddha dari Mahaguru, serta tata ritual puja bakti yang berjalan dengan khidmat, ditunjang dengan tim pelantunan Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, berpadu dengan Sutra Pahala Pemandian Rupang Buddha yang dibacakan bersama, puja bakti hari ini menjadi manggala dan sempurna. 

Usai puja bakti, Acarya Lianyin mewakili Lei Tsang Temple memberikan kata sambutan. Ia mengungkapkan rasa terima kasih, bahagia dan syukur, serta mengisahkan bahwa Seattle Ling Shen Ching Tze Temple merupakan vihara yang didirikan berkat upaya dan pengorbanan dari Mahaguru dan Gurudara, supaya kita semua memiliki tempat untuk bersama berpuja bakti Sadhana Tantra Zhenfo. Acarya menyampaikan rasa terima kasihnya karena Mahaguru telah membabarkan Ajaran Tantra ke seluruh dunia, supaya para insan memahami makna kehidupan. Berkat bimbingan Mahaguru, kita semua dapat memahami bahwa kesadaran benar adalah senantiasa mengingat Bodhi, tidak terpengaruh oleh kemelekatan pada anak, istri, harta, dan usia, sebab tiada sesuatu apa pun yang dapat kita bawa mati, hanya karma yang akan terus mengikuti kita. Kita mesti memahami tiada suatu yang dapat diperoleh, leluasa dalam hidup, jangan sampai terikat oleh nama dan keuntungan. Acarya juga sangat berterima kasih atas upaya Mahaguru dalam menyeberangkan para insan, dengan tulus ia memanjatkan permohonan supaya Mulacarya senantiasa sehat dan panjang usia, terus menetap di dunia demi kebaikan para insan. 

Berikutnya, yang telah dinantikan oleh semua, yaitu Dharmadesana dari Mahaguru : Hari ini melakukan Pemandian Rupang Buddha, dengan Istadevata Sakyamuni Buddha, pemimpin spiritual utama dalam agama Buddha yang sangat kita junjung tinggi. Mahaguru menceritakan, ada seorang profesor dari Universitas Oxford Inggris : Richard Gombrich yang pergi ke Taiwan untuk mencari Mahaguru, ia mempelajari bahasa Pali dan Hinayana, ia juga mempelajari bahasa Sansekerta, di negara Barat ia merupakan seorang profesor ahli agama Buddha yang terkemuka. Ia menyampaikan tiga hal : 1. Menurutnya, pencerahan adalah pembebasan akhir ; 2. Arhat adalah pencapaian Kebuddhaan ; 3. Niat awal Sang Buddha bukan untuk mendirikan suatu agama, sebab Beliau adalah seorang filsuf. Sesungguhnya yang sering kita sebut sebagai agama Buddha adalah ajaran dari Sang Buddha. 

Mahaguru setuju dengan pendapat bahwa Sang Buddha adalah seorang filsuf, Sang Buddha melatih diri melalui perenungan, Beliau menyadari bahwa hidup manusia tidaklah lama, juga memahami bahwa dunia ini penuh penderitaan, maka Beliau menapaki jalan untuk membebaskan diri dari penderitaan dan ketidakkekalan di dunia. Sama seperti Laozi, Guru Sesepuh Dao, Laozi juga tidak pernah menyatakan bahwa diri-Nya adalah seorang pemimpin spiritual, predikat tersebut disematkan oleh orang generasi belakangan, yaitu kaisar masa dinasti Tang yang sangat menjunjung tinggi pemikiran Laozi, sehingga makin lama, pemikiran Laozi diubah menjadi sebuah agama, dan Laozi pun menjadi Guru Sesepuh agama Dao. Sama seperti Konfusius yang bergelar Guru Mahasuci, Beliau juga tidak berniat mendirikan agama Konghucu, orang generasi belakangan yang membuatnya menjadi agama Konghucu, menjadi sebuah agama. 

Mahaguru melanjutkan, Mahaguru tidak sepakat terhadap dua pandangan Profesor Richard, yaitu mengenai pencapaian Arhat adalah pencapaian Kebuddhaan, di dalam Saddharmapundarika Sutra yang awal, dalam teks bahasa Pali, profesor menyatakan bahwa ia menemukan pernyataan dari Sang Buddha bahwa Arhat adalah Buddha. 

Mahaguru menjelaskan, di dalam Mahayana diajarkan mengenai Caturyana : Buddha, Bodhisattva, Pratyekabuddha, dan Arhat. Arhat adalah pencapaian Hinayana, yaitu diri sendiri berupaya mencapai kondisi tidak mundur lagi, diri sendiri sepenuhnya suci ; Sedangkan Bodhisattva, mencerahkan diri dan mencerahkan insan lain, disebut juga sebagai menyadarkan diri dan insan lain ; Pratyekabuddha mencapai moksa melalui pratityasamutpada. Yang paling utama adalah Buddha, Beliau telah terbebaskan, aktivitas Beliau dalam menyeberangkan insan dan welas asih Beliau sangat sempurna, yaitu yang telah sempurna dalam pencerahan dan aktivitas. Kita belajar ajaran Buddha, dan mengetahui ada Dasadharmadatu yang terdiri dari Empat Tingkat Suci dan enam alam tumimbal lahir. Arhat adalah orang yang telah mencapai pembebasan bagi diri sendiri, sedangkan Buddha adalah Ia yang telah sempurna dalam pencerahan dan aktivitas menyeberangkan insan. Ini adalah letak perbedaan pendapat antara Mahaguru dengan Profesor Richard. 

Satu pandangan lagi dari Profesor Richard adalah : Pencerahan adalah moksa. Mahaguru menyebutkan bahwa di dalam Zhenfo Zong sendiri ada beberapa siswa yang telah tercerahkan secara teori, Mahaguru juga telah memberikan jubah Dharma dari Guru Sesepuh kepada beberapa siswa yang telah cerah secara teori. Siswa yang telah cerah memang telah memiliki pemahaman cerah, namun apakah benar-benar telah mencapai moksa ? Menurut pengamatan Mahaguru, ada siswa yang memang telah dekat dengan moksa, namun ada juga yang masih sama persis dengan insan awam. Orang yang benar-benar telah terbebaskan pasti akan berucap satya, jika telah berbuat salah, maka katakan salah, benar maka katakan benar, tidak akan menyembunyikan sesuatu. Di dunia ini, semua bisa diamati menggunakan Mata Dharma dan Mata Buddha. Ada juga yang telah cerah, namun masih bicara dusta di hadapan Mahaguru. 

Jika memang telah cerah dan telah moksa, maka Anda adalah Anuttara ( Tertinggi ), sudah tidak ada lagi yang bisa menjadi Guru Anda, oleh karena itu, jika Anda masih pergi bersarana kepada orang lain, ini artinya Anda belum moksa, ini artinya Anda masih butuh perlindungan. Ada pula yang masih dikuasai amarah, dikuasai suasana hati, tidak bisa mengendalikan tabiat diri, ini artinya belum moksa. Oleh karena itu, pencerahan belum tentu telah moksa. 

Dalam Zhenfo Zong sendiri banyak sekali yang sudah mencapai pencerahan dalam hal pemahaman, akan tetapi pencerahan tersebut masih harus dipraktikkan. Harus bisa mengikis suasana hati diri, sebab setelah tercerahkan, mesti benar-benar memahami tiada suatu yang dapat diperoleh, dalam sekejap langsung memutus klesha. Tiada suatu apa pun, uang dan permata hanya dipinjamkan untuk Anda pandang, sebab tidak mungkin bisa selamanya memilikinya, tiada suatu apa pun. Tidak menetap dalam suatu apa pun. Sadhaka yang benar-benar mencapai keberhasilan, di seluruh penjuru alam semesta ada Anda, di pegunungan dan perairan ada Anda. Namun apa yang Anda miliki ? Tidak menetap. Keberhasilan ibarat setetes air yang masuk ke dalam lautan, di mana kah Anda ? Semua adalah Buddhata, tiada menetap, apa yang masih Anda kuatirkan ? Mati tidak lagi menakutkan, Anda cukup membuang wadak, dan mencapai keberhasilan batin. Memahami tiada menetap, tiada suatu yang diperoleh, tiada suatu apa pun, menjadi benar-benar tiada masalah. 

Mahaguru pernah diserang banyak hujatan, Mahaguru memberitahu semua, jika ingin mencapai keberhasilan bhavana, maka mesti memahami : Tiada masalah, tidak apa. Mahaguru bahkan berterima kasih kepada semua orang yang telah menghujat, sebab mereka semua telah membantu Mahaguru untuk mengikis karmavarana, sadhaka mesti memiliki kelapangan dada, hati yang luas tanpa batas, inilah yang disebut moksa. 

Yesus dan Sang Buddha mengajarkan supaya kita mengasihi musuh kita, sebab, jika Anda membenci musuh, berarti Anda telah memiliki rasa benci, Anda telah memikul karma sendiri, batin tidak tenang, karena Anda memikul kebencian tersebut. Oleh karena itu, sadhaka tidak boleh membenci siapa pun, termasuk terhadap musuh. Mesti mencintai semua makhluk, bahkan Anda juga harus mencintai musuh Anda, inilah bhavana. 

Mahaguru juga mengatakan, di mana ada manusia, di sana pasti ada perselisihan, saat kita telah tawar terhadap perselisihan, tiada suatu apa pun ! Mengamati hujatan, tiada suatu apa pun ! Segalanya, tiada suatu apa pun ! Batin sepenuhnya damai, tiada gejolak, dengan demikian baru bisa bersamadhi, ini sangat penting. Di akhir, Mahaguru memberitahu semua, apa yang diucapkan oleh sadhaka mesti sejalan dengan perilakunya, jangan sampai teperdaya oleh uang, kedudukan, dan rupa, Mesti bisa mengurangi hasrat diri terhadap harta, rupa, nama, makan, dan tidur, terus sampai akhirnya tiada lagi nafsu keinginan. 

Usai Dharmadesana, Mahaguru menganugerahkan abhiseka sarana kepada beberapa umat, kemudian mengadhisthana Air Mahakaruna Dharani dan mengabhiseka rupang Buddha. Kemudian, Mahaguru dan Gurudara memimpin semua untuk memandikan rupang Buddha, menggunakan daya upacara pemandian rupang Buddha untuk membersihkan tubuh, ucapan, dan pikiran diri sendiri, menyingkirkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Usai pemandian rupang Buddha, Mahaguru berwelas asih memberikan tanda tangan pada buku. 

Bagi setiap siswa yang berbaris dalam acara tanda tangan, buku terbaru dari mahaguru ibarat permata, setiap orang memegang satu buku dengan penuh sukacita. Usai tanda tangan buku, Mahaguru, Gurudara, dan semua bersama memotong kue hari jadi Buddha sekaligus Hari Ibu, semua bersama penuh sukacita menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. 

Malam hari yang indah dan sarat makna sudah hampir berlalu, setelah penuh aktivtas sepanjang malam, Mahaguru yang welas asih masih menyempatkan diri untuk menganugerahkan adhisthana jamah kepala kepada setiap siswa. Seiring langkah, semua berjalan meninggalkan vihara dengan penuh rasa syukur karena telah memperoleh bimbingan Mulacarya, bersyukur karena dapat bersarana kepada Guru yang telah mencapai keberhasilan sempurna, sungguh merupakan kesempatan yang paling berharga dalam hidup ini. 

Judul Asli :
2019年5月11日釋迦牟尼佛本尊法同修暨浴佛法會

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4830

Siaran Langsung Kebaktian dari Ling Shen Ching Tze Temple, setiap Minggu pukul 10:00 ( WIB )
Siaran Langsung Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap Senin pukul 05:00 ( WIB )

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.