Halaman Utama > Fokus Internasional > 23 Maret 2019 Upacara Agung Homa Syama Tara Bhagavati di Taiwan Lei Tsang Temple


23 Maret 2019 Upacara Agung Homa Syama Tara Bhagavati di Taiwan Lei Tsang Temple

【Liputan TBS Helan dari Taiwan】

Pada tanggal 23 Maret 2019, Taiwan Lei Tsang Temple (台灣雷藏寺) dengan tulus mengundang Mulacarya Zhenfo Zong Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu untuk memimpin Upacara Agung Homa Syama Tara. Syama Tara atau Bodhisattwa Tara Hijau ( Duo-luo Pusa ) merupakan penjelmaan dari air mata welas asih Avalokitesvara Bodhisattva yang mengasihani semua makhluk samsara, satu tetes air mata menjelma menjadi Syama Tara ( Tara Hijau ), dan satu tetes menjelma menjadi Sita Tara ( Tara Putih ). 

Di Tibet, para sadhika ( praktisi perempuan ) menekuni Syama Tara, dan para sadhaka menekuni Padmasambhava. Syama Tara memiliki tiga ikrar :

1. Beliau berikrar untuk selamanya tampil dalam wujud perempuan demi menyeberangkan semua makhluk.
2. Asalkan para insan yang menderita memanjatkan doa kepada-Nya, maka Ia pasti akan melindungi dan mengadhisthana. Beliau juga dapat menaklukkan semua rintangan mara.
3. Syama Tara dan Sita Tara berikrar untuk bersama memikul sukarnya tanggung jawab Avalokitesvara Bodhisattva untuk menyeberangkan semua makhluk.

Beberapa hari lalu, Syama Tara hadir dan berbincang dengan Dharmaraja, hal pertama yang dikatakan oleh Beliau kepada Dharmaraja Liansheng adalah : “Aku sangat mencintaimu.” Dharmaraja menjawab : “Aku juga.” Kemudian, Syama Tara mengajarkan apa itu cinta yang sejati, “Guru Lu, Anda telah berikrar untuk tidak mengabaikan satu insan pun, ini adalah cinta yang sejati. Oleh karena itulah para Buddha, Bodhisattva, semua makhluk suci mencintai Anda.” 

Syama Tara memberitahu Dharmaraja : Untuk memahami cinta kasih terhadap para insan, mesti belajar dari teladan Santa Teresa dari Kalkuta, “Santa Teresa memandang dan melayani semua insan sebagai Tuhan.” Oleh karena itu, Dharmaraja berpesan kepada semua, terhadap semua insan, baik itu yang sekujur tubuhnya berbau sekalipun, semua mesti dipandang sebagai Buddha. “Inilah cinta sejati, jangan mengabaikan satu insan pun.”

Syama Tara bertanya : “Apa yang paling mengerikan ?” Dharmaraja menjawab : “Sepertinya adalah proses kematian.” Syama Tara bertanya lagi : “Apa yang paling bau ?” Dharmaraja menjawab : “Cairan jenazah yang telah membusuk adalah yang paling bau di dunia.” 

Syama Tara lanjut bertanya : “Anda cinta insan, apakah Anda berani mencium bau cairan tersebut ?” Tiap kali melakukan forensik, mendiang dokter forensik Taiwan : Bapak Yang Ri-song selalu menggunakan tangan untuk menyentuh cairan jenazah, kemudian menggunakan lidah untuk mencicipinya, dan melalui pengalaman ia dapat mengetahui penyebab kematian dari jenazah tersebut, “Itulah bentuk cinta yang agung.” Demikianlah Syama Tara memberitahu Dharmaraja. 

Syama Tara melanjutkan, jangan karena Tara berwujud rupawan maka kita bisa menjawab : “Aku juga mencintai Tara.”, Syama Tara mengandaikan “Jika Aku bergigi tonggos, juling, pesek, apakah Anda masih akan mencintai-Ku ? Anda mesti memandang para insan sebagai Bodhisattva, atau Buddha, dan dengan sungguh hati mencurahkan perhatian kepada mereka yang menderita, inilah cinta agung yang sejati.” Dari sini kita dapat mengetahui bahwa welas asih Syama Tara tanpa batas. 

Mantra Hati Syama Tara adalah : “Om. Dale. Dudale. Dule. Suoha” ( Om. Ta Le. Tu Ta Le. Tu Le. Suoha ) mengenai bagaimana pelafalannya, yaitu : “Ada di antara Dalie dan Dala.” Dharmaraja memberitahu semua, “Kadang pelafalan mantra memang tidak mudah, namun asalkan kita menjapanya sesuai pelafalan Guru pasti muncul daya adhisthana.” 

Di tangan kiri Syama Tara ada tiga kuntum padma, merepresentasikan masa lampau, sekarang, dan mendatang, Dharmaraja mengajarkan kunci sadhana Tara : Visualisasi di tengah setiap padma terdapat aksara “Dang” ( Tam ) yang bersinar, kemudian cahaya yang dipancarkan aksara “Dang” menyatu, masuk melalui puncak kepala sadhaka, menyusuri nadi tengah dan sampai di cakra anahata ( cakra hati ), padma kelopak delapan di cakra anahata sadhaka mekar, di tengahnya terdapat aksara “Dang”, kemudian mengundang Syama Tara memasuki hati sadhaka, duduk di atas padma aksara “Dang”.

Menerima Pertobatan Dengan Tangan Terbuka

Karena peristiwa Nenek Hantu, ada tiga tempat ibadah di Taiwan Utara yang terkena dampak yang paling berat, setelah Dharmaraja hadir secara langsung untuk mengadhisthana dan mengabhiseka altar mandala di sana, semua telah sepenuhnya bersih, Dharmaraja Liansheng berwelas asih menyampaikan tiga pesan : 

1. Jangan lagi menggunjingkan bahwa tiga tempat ibadah tersebut pernah percaya kepada Nenek Hantu, asalkan orang yang pernah menjadi pengikut Nenek Hantu berkenan untuk kembali dan menerima purifikasi, maka kita semua harus menerimanya.

2. Terhadap insan yang menderita karena gangguan mara, kita justru harus lebih welas asih menolong mereka.

3. Bahkan Nenek Hantu sekalipun, asalkan ia berkenan untuk kembali dan bertobat, maka Mahaguru juga akan tetap menerimanya.

Dharmaraja Melanjutkan Pengulasan Lamdre

Dalam Lamdre disebutkan : Nisyandaphala, vipakaphala, dan vimalaphala, Dharmaraja menjelaskannya satu-persatu, selain itu, Dharmaraja menjelaskan makna dari : sapta-ksana. Ksana merepresentasikan waktu, namun yang dimaksud di sini adalah merepresentasikan Dharma apa adanya atau alamiah, dengan alamiah memancarkan cahaya tujuh kali, satu ksana berarti memancarkan cahaya sekali. Saat bindu berada di puncak kepala, maka dengan sendirinya ia akan memancarkan cahaya.

Seorang sadhaka mesti memiliki tekad untuk terlahir di alam suci atau mencapai Kebuddhaan, mesti berbhavana dengan tekun dan sungguh-sungguh, berkontak yoga dengan Istadevata, senantiasa bersama Istadevata, Istadevata senantiasa mengadhisthana dan memberikan kekuatan, dengan demikian barulah dapat mencapai keberhasilan. 

Dharmaraja kembali menekankan bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam belajar Buddha, dibutuhkan tiga unsur utama, inilah kasih karunia yang sejati. 

Usai upacara, Dharmaraja berwelas asih menganugerahkan Abhiseka Sadhana Istadevata Syama Tara dan Mantra Tujuh Tawa Syama Tara, dengan demikian upacara telah manggala dan sempurna, penuh dengan pancaran maitri-karuna tanpa batas. 

Judul Asli :
2019年3月23日台灣雷藏寺綠度母護摩大法會

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4816

◎ Tautan Siaran Langsung Upacara Homa di Taiwan Lei Tsang Temple, setiap hari Sabtu pukul 14:00 ( WIB )

Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.