Halaman Utama > Fokus Internasional > 24 Februari 2019 Upacara Agung Nagarjuna Bodhisattva di Stadion Linkou Taoyuan


24 Februari 2019 Upacara Agung Nagarjuna Bodhisattva di Stadion Linkou Taoyuan

【Liputan TBS Helan dari Taiwan】

Pada tanggal 24 Februari 2019, bertempat di Stadion Linkou di Taoyuan (林口體育館), Cetiya Chungkuan Taipei (中觀堂) dengan tulus mengundang Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu untuk memimpin Upacara Agung Nagarjuna Bodhisattva untuk Pemberkahan, Perlindungan Negara, dan Penyeberangan, untuk yang ke-2 kalinya mentransmisikan Abhiseka Sadhana Istadevata Nagarjuna Bodhisattva ( Longshu Pusa Benzun Fa -龍樹菩薩本尊法 ) dan Abhiseka Mulamadhyamakakarika, serta transmisi perdana Abhiseka Prajna Avatamsaka Sutra, dan Abhiseka Memutar Sewu Dharmacakra. 

Nagarjuna Bodhisattva atau “Longshu Pusa” dalam bahasa Mandarin, pernah masuk istana naga dan dikenal sebagai Mahasiddha yang mencapai keberhasilan bhavana berkat bangsa naga, dan karena lahir di bawah pohon Arjuna, maka Beliau dinamakan Nagarjuna. Beliau memiliki kedudukan yang sangat terhormat, dijuluki sebagai Buddha ke-2, memiliki sumbangsih yang sangat besar bagi pembabaran Buddhadharma dan memberikan manfaat bagi para insan, Nagarjuna Bodhisattva teristimewa memiliki kebijaksanaan untuk secara langsung menunjuk kepada Buddhata. 

Nagarjuna Bodhisattva membabarkan Buddhadharma dan menaklukkan ajaran sesat, serta menghasilkan karya tulis yang berisi pandangan Dharma Beliau, Nagarjuna Bodhisattva telah menghasilkan banyak karya sastra Buddhis yang luar biasa dan pengaruhnya sangat besar dalam dunia agama Buddha, sehingga dijuluki sebagai Penguasa Seribu Sastra. 

Demi membangkitkan kembali agama Buddha yang mulai melemah di India, Nagarjuna tekun berbhavana dan membuat ikrar agung, hingga akhirnya berhasil membuka berbagai pustaka Tantra di stupa besi di India Selatan, di dalam stupa tersebut Vajrasattva dan para Bodhisattva mentransmisikan pustaka Tantra, dan setelah keluar dari stupa, Beliau membabarkan Tantra ke dunia, dan menjadi Guru Sesepuh Tantra, kemudian mentransmisikannya kepada Nagabodhi Bodhisattva, demikianlah nadi silsilah Tantra dimulai. 

Semasa hidup, Nagarjuna Bodhisattva sangat tekun belajar Dharma, termasuk mempelajari Hinayana, Mahayana, bahkan semua pustaka Tantra, sehingga pengetahuan Dharma Beliau sangat luas dan dalam, selain itu, demi membabarkan Buddhadharma, Beliau berupaya sekuat tenaga menghasilkan banyak karya tulis, di antaranya : Mulamadhyamakakarika yang menjadi pencetus Madhyamika ( pemikiran jalan tengah ) yang merupakan filosofi dan konsep pemikiran spiritual yang agung dalam agama Buddha, membangun struktur yang baru dalam agama Buddha. 

Nagarjuna Bodhisattva memperoleh Avatamsaka Sutra dari Istana Naga, dan menyebut Avatamsaka Sutra sebagai yang teragung di antara pustaka Mahayana, Raja dari semua sutra, serta sutra pertama yang dibabarkan oleh Sang Buddha, dan dibabarkan bukan kepada insan awam, melainkan kepada para Bodhisattva. Avatamsaka Sutra tidak hanya mengungkapkan berbagai fenomena keagungan yang menyertai pencapaian Kebuddhaan dari Sang Buddha, keindahan luar biasa dari Negeri Buddha, namun juga ada banyak Mahabodhisattva yang hadir untuk menuturkan berbagai pemahaman dari realisasi bhavana masing-masing. Avatamsaka Sutra merupakan kristalisasi dari komunikasi para Buddha dan Bodhisattva. 

Sekitar pukul 10:30, Dharmaraja tiba di lokasi upacara, Acarya Shi Lianyue (釋蓮悅上師) memandu Dharmaraja dan para abdi menuju ke “Arena Balon Udara dan Lampion Terbang”, Dharmaraja menuliskan kalimat : “Naga Terbang di Langit” dan “Naga Terbang Melintasi Samudra Berkah”, serta melepaskan balon udara dan lampion terbang sebagai tanda doa restu. Saat melalui lorong waktu, Dharmaraja memberikan abhiseka buka mata bagi rupang Sudhanakumara yang berukuran 2 meter, juga melihat tayangan rekaman pembabaran Dharma diri sendiri selama ini. 

Sekitar pukul 13:20, Dharmaraja menganugerahkan kaligrafi pusaka : “Long-teng ci-fu.” ( Naga Melambung Menganugerahkan Berkah”, serta menerima wawancara dari wartawan beberapa stasiun televisi, antara lain : CTi News, Unique Satellite TV, Next TV, dan SET News. “Orang yang memiliki pengetahuan positif adalah seorang kalyana-mitra, ia dapat menganugerahkan energi positif kepada semua makhluk, ini disebut Maha-kalyana-mitra.” 

Dharmaraja menekankan pentingnya pendidikan, hanya melalui upaya pendidikan baru bisa membuat Taiwan terhindar dari kondisi rumit, serta berharap melalui daya spiritual agama dapat memberikan keharmonisan, jangan saling berebut kekuasaan dan keuntungan, lakukan pembinaan batiniah. Dharmaraja berharap supaya seluruh Taiwan memperoleh berkah dari Delapan Kelompok Makhluk Dewa dan Naga Pelindung Dharma, “Biarlah berkah dari Delapan Kelompok Makhluk Dewa dan Naga Pelindung Dharma dapat tercurah di bumi ini.”

Sekitar pukul 14:00, upacara dimulai, para tamu agung dari berbagai kalangan hadir di arena, semua bersama mengundang Dharmaraja untuk naik Dharmasana memutar Dharmacakra agung. Tamu agung, Bapak Qiu Junming (邱俊銘) selaku wakil sekretariat kantor pemerintah kota Taoyuan menyampaikan bahwa beliau merasa sangat terhormat dapat mewakili Wali Kota Taoyuan : Bapak Cheng Wen-tsang (鄭文燦) untuk menghadiri upacara ini, beliau berpendapat bahwa pandangan jalan tengah dapat memberikan pencerahan kepada umat manusia masa kini, kita mesti mawas diri dalam berkawan, mesti berani mengakui kesalahan, mesti tahu bagaimana mengenal diri, bagaimana memperbaiki diri, mesti tahu diri, jangan bersikap takabur, “Menurut saya, ajaran yang demikian luhur ini, sangat bermanfaat dan bertalian dengan pemerintahan.” Beliau juga memuji ajaran dari Dharmaraja Liansheng, beliau benar-benar menyaksikan aplikasi prinsip “Manunggal dengan Sang Jalan” dalam menjalankan pelayanan Dharma, memberikan pendidikan kepada umat manusia, membimbing para insan untuk tekun berbhavana. Di sini merupakan tempat pembinaan diri yang menjadikan Hati Bodhisattva sebagai pedoman semangat dalam berbagai aktivitas. 

Kandidat anggota legislatif Yuan : Yu Tien (余天) sangat berterima kasih dapat memperoleh kesempatan untuk berdiri di atas podium, beliau berharap supaya semua orang bisa seperti Dharmaraja,  setiap orang memiliki hati welas asih, “Dengan demikian, saya yakin, di dunia ini tidak akan ada persengketaan, semua yang hadir di sini memiliki welas asih, untuk peduli kepada orang lain yang membutuhkan.”

Panitia, Acarya Shi Lianyue (釋蓮悅上師) dan Acarya Lianmiao (蓮妙上師) mewakili semua dengan tulus mempersembahkan khata kepada Dharmaraja Liansheng, memohon Buddha menetap di dunia. Dengan diiringi Mantra Hati Nagarjuna Bodhisattva, Dharmaraja membentuk mudra santika, paustika, vasikarana, abhicaruka, dan penyeberangan, semua bervisualisasi diri sendiri memasuki samudra banyu wangi, mencuci karma hitam, membersihkan diri, memperoleh kesejukan amrta Dharma, manunggal dengan argam, dan manunggal dengan Nagarjuna Bodhisattva. 

“Mari kita panjatkan rasa syukur atas kehadiran para Buddha dan Bodhisattva, semoga melalui abhiseka Nagarjuna Bodhisattva hari ini, dapat meningkatkan kebijaksanaan kita, semoga semua harapan yang baik dan wajar dapat terpenuhi.”, demikianlah restu yang diucapkan oleh Dharmaraja Liansheng sebelum mulai Berdharmadesana.

Empat aliran pemikiran dalam agama Buddha antara lain : Sarvastivada, Sautrantika, Madhyamika, dan Vijnaptimatra. Di antaranya, Madhyamika didirikan berdasarkan konsep jalan tengah dari Nagarjuna Bodhisattva dan Aryadeva. “Konsep Madhyamika adalah, bukan milikku, juga bukan bukan milikku, bukan kepunyaanku, juga bukan ‘punyaku’, merupakan perpaduan keduanya.” Dharmaraja menggunakan otak manusia sebagai perumpamaan untuk dengan detail mengupas konsep pandangan jalan tengah. Dharmaraja memberitahu semua, sama seperti saat termenung, kadang fokus, kadang buyar, demikianlah otak ini kadang menjadi milik Anda, dan kadang bukan milik Anda, “Tidak memihak pada keberadaan, juga tidak memihak kepada sunya.”, Dharmaraja menuturkan, Madhyamika tidak memihak kepada samvrti-satya ( kebenaran duniawi ), juga tidak memihak kepada Paramarthasatyha (kebenaran final), Madhyamika adalah parinispanna ( terpadu sempurna ).

Dharmaraja menggunakan proses menghasilkan api dengan cara mengebor kayu sebagai contoh, “Dari mana asal api ? Api berasal dari angkasa.”, seperti segala sesuatu di dunia ini, termasuk umat manusia, gunung, danau, dan daratan, semua dihasilkan melalui konsep jalan tengah. “Tidak memikirkan baik dan buruk, saat itulah !” Kemudian Dharmaraja mengupas konsep pemikiran jalan tengah dengan menggunakan kalimat pencerahan dari Patriark ke-6 Huineng. Dharmaraja membabarkan Dharma dengan berpedoman pada Madhyamika Prasangika. 

“Belajar Buddha tidak bisa tanpa samvrti-satya, sebab berkat bhavana samvrti-satya, barulah ada keberhasilan Paramartha-satya.” Dharmaraja memberitahu semua, Buddhadharma yang kita gunakan dalam bhavana, merupakan perpaduan upaya dan kausalya untuk mencapai kesucian Bodhisattva dan bahkan Kebuddhaan, inilah Buddhadharma, inilah Madhyamika. 

Membahas mengenai 10 ikrar Samantabhadra, Dharmaraja menjelaskan bahwa 10 ikrar ini dibuat sebagai sarana bhavana untuk umat manusia, “Karena bagi umat manusia barulah ada 10 ikrar Samantabhadra, setelah mencapai kesucian Bodhisattva atau Buddha, apakah masih ada 10 ikrar Samantabhadra ? 10 Ikrar Samantabhadra adalah samvrti-satya, dan Paramarthasatya adalah saat sudah tidak lagi diperlukan 10 ikrar Samantabhadra.”

Dharmaraja menggunakan peristiwa upacara dan semua yang hadir sebagai contoh dalam mengulas tiga pandangan dalam Avatamsaka Sutra : Pandangan sunya, pandangan ilusi, dan pandangan tengah. Di arena ini, setelah upacara usai, kondisinya akan berbeda, “Apakah Anda masih duduk di tempat semula untuk mendengar Dharma ? Tidak, walau saat ini mungkin dalam waktu sesaat, namun nanti tidak mungkin ( tidak mungkin tetap duduk di sini dalam situasi dan kondisi serupa ), perpaduan keduanya ini adalah pandangan jalan tengah.” 

Dalam pandangan Dharmaraja, tidak ada orang yang membabarkan Dharma, tidak ada orang yang mendengar Dharma, setiap tahap kehidupan ini berbeda, namun tahapan mana yang merupakan diri Anda yang sesungguhnya ? “Sesungguhnya semua tidak kekal, tanpa diri, tidak pasti, semua palsu, inilah yang disebut sebagai pandangan ilusi.”

“Di dunia ini, tidak perlu saling membenci.” Dharmaraja berharap supaya kedua pihak dapat menggunakan konsep pemikiran jalan tengah untuk menjalin hubungan yang harmonis, “Minum air ingat sumbernya”, duduk dan berdialog dengan baik, demi kebaikan bagi rakyat, bahas sistem dan kuasa pemerintahan dengan baik, mesti saling mengupayakan keselarasan yang sempurna, jangan ada perang, masing-masing saling mengalah, demi semua. 

Di pengujung acara, Dharmaraja berwelas asih menganugerahkan Abhiseka : Sadhana Istadevata Nagarjuna Bodhisattva, Prajna Avatamsaka, Mulamadhyamakakarika, dan metode Memutar Sewu Dharmacakra, dengan demikian upacara telah berjalan dengan manggala dan sempurna. 

Judul Asli :
2019年2月24日台北真佛宗中觀堂桃園林口體育館龍樹菩薩護國息災祈福超度大法會

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4807

◎ Tautan Siaran Langsung Upacara Homa di Taiwan Lei Tsang Temple, setiap hari Sabtu pukul 14:00 ( WIB )

Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.