Halaman Utama > Fokus Internasional > Janji Sewu Tahun, Menempuh Perjalanan Jauh demi Memutar Dharmacakra nan Agung, Menyempurnakan Bodhicitta


Janji Sewu Tahun, Menempuh Perjalanan Jauh demi Memutar Dharmacakra nan Agung, Menyempurnakan Bodhicitta

Pada tahun 982 Masehi, di Kerajaan Zahor, lahirlah seorang pangeran yang bernama Candragarbha. Sang pangeran memiliki berbagai kualitas-kualitas kebajikan, beliau hidup dengan penuh kelimpahan, semenjak kecil beliau sudah menunjukkan kecerdasan dan kegemaran untuk belajar. Sama seperti Sakyamuni Buddha, Beliau terlahir mulia sebagai putra raja, namun memiliki niat untuk meninggalkan kehidupan duniawi yang penuh dengan kemewahan. Pada saat Sang Pangeran menginjak usia 29 tahun, Beliau ditahbiskan sebagai biksu oleh Upadhyaya Silaraksita dari Mahasanghika di Mahabodhi Vajrasana di Odantapuri Mahavihara, dengan nama Dharma : Dipamkara Srijnana, dan saat ini dikenal sebagai Y.A. Atisa. 

Y.A. Atisa berguru kepada banyak Mahasiddha, menguasai pustaka dari tiap aliran, dan mempelajari berbagai macam pustaka lainnya. Beliau mendengar bahwa di Suvarnadvipa, sebuah tempat nun jauh di sana, ada seorang Mahaguru dari Suvarnadvipa ( Serlingpa ) yang penuh welas asih, yang dijuluki sebagai Raja Bodhicitta, yaitu : Dharmakirti. 

Mendengar mengenai Sang Mahaguru, timbul sukacita besar dalam hati Y.A. Atisa, Beliau sangat menjunjung tinggi Mahaguru tersebut, dan bertekad untuk berlayar dari Sri Lanka mengarungi samudra untuk memohon Dharma. Mendengar kabar mengenai niat dari Y.A. Atisa, anggota Sangha yang lain juga minta untuk ikut serta dalam pelayaran memohon Dharma ke Suvarnadvipa. Maka, bersama dengan para kalyanamitra dan ratusan anggota Sangha terkemuka, Y.A. Atisa membawa banyak sarana puja yang berharga, naik perahu mengarungi lautan, dan akhirnya pada tahun 1012 menyusuri Sungai Batang Hari mencapai tempat kediaman Suvarnadvipi Dharmakirti, yang saat ini dikenal dengan sebutan Jambi di Sumatera.

Setelah menempuh perjalanan panjang dan penuh rintangan, terlebih dahulu Y.A. Atisa dan Suvarnadvipi Dharmakirti saling mengamati selama 3 tahun, barulah kemudian Y.A. Atisa melakukan upacara mohon transmisi Dharma, memohon ajaran agung mengenai Bodhicitta. Demi menguji tekad Y.A. Atisa, Sang Mahaguru meminta supaya Y.A. Atisa menetap di Nusantara selama 12 tahun, jika tidak sanggup, maka tidak akan memperoleh transmisi Dharma. Tanpa goyah dari tekad awalnya, Y.A. Atisa langsung menyanggupi, semenjak saat itu, Beliau mengabdi kepada Suvarnadvipi Dharmakirti selama 12 tahun, dan berhasil mencapai kesempurnaan melalui ajaran Bodhicitta, merealisasikan keberhasilan agung. 

Setelah mencapai realisasi dalam ajaran Bodhicitta, Y.A. Atisa memperoleh restu dari Sang Mahaguru untuk kembali ke India menyeberangkan insan luas. Saat Y.A. Atisa hendak meninggalkan pulau Sumatera, Beliau berpesan kepada tetua setempat mengenai tanda-tanda penitisan-Nya serta kedatangan-Nya kembali ke Nusantara demi menyambung silsilah Dharma. Tepat seribu tahun telah berlalu, pada tahun 2012, Dharmaraja Liansheng datang membabarkan Dharma ke Indonesia dan menanam pohon Bodhi di Jambi. Pada saat menanam pohon Bodhi, mendadak suara guntur menggelegar di angkasa, gerimis amrta tercurah dari langit, seakan para Dewata dan Dharmapala memberikan sambutan sukacita, saat itu Mahaguru mendengar suara dari angkasa : “Anda adalah kedatangan kembali dari Y.A. Atisa !”

◎ Upacara Agung Atisa Dipamkara Srijnana Menyambung Nadi Dharma Silsilah Tantra Satyabuddha di Indonesia

Memenuhi undangan dan permohonan transmisi Dharma dari True Buddha Foundation, beserta Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia dan Majelis Agama Buddha Tantrayana Satyabuddha Indonesia, kelak pada tanggal 8 Desember 2018, Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu akan memimpin Upacara Agung Atisa Dipamkara di Indonesia, menganugerahkan transmisi perdana Sadhana Adinatayoga Atisa dan Bodhipathapradipa, serta Abhiseka Sarana dan Purifikasi, memutar Dharmacakra agung, supaya silsilah nadi Dharma sewu tahun terus sinambung. Perjalanan pembabaran Dharma Mahaguru kali ini, tidak hanya memimpin Upacara Agung di Tangerang, dalam beberapa hari pembabaran Dharma, Mahaguru juga akan memutar Dharmacakra dan meresmikan altar mandala tujuh vihara, berkumpul bersama segenap siswa, memenuhi harapan semua.

Selama 12 tahun Y.A. Atisa belajar ajaran Bodhicitta kepada Svarnavipi Dharmakirti, Beliau telah melalui proses : Ikrar Bodhciitta, pengamalan Bodhicitta, dan penyempurnaan Bodhicitta, sebuah tahap bhavana bertahun-tahun yang luar biasa. Oleh karena itu, Direktur Departemen Publikasi True Buddha Foundation : Acarya Shi Lianyue (蓮悅上師) yang juga selaku CEO Upacara Agung Atisa kali ini, bersama kedua majelis Zhenfo Zong di Indonesia telah dengan saksama merencanakan serangkaian kegiatan ‘Tapak Tilas Sewu Tahun’ sebelum Upacara Agung, di mana kegiatan pertama ‘Ikrar Bodhicitta’ diselenggarakan pada bulan Agustus di Candi Muaro Jambi, dan ‘Pengamalan Bodhicitta’ di Candi Borobudur, serta kegiatan utama adalah : ‘Janji Sewu Tahun – Penyempurnaan Bodhicitta’ Upacara Agung pada tanggal 8 Desember 2018. Demikianlah nidana istimewa dari perjalanan Tapak Tilas Sewu Tahun – Mohon Buddha Menetap di Dunia sampai dengan penyempurnaan, yaitu : ‘Janji Sewu Tahun’. 

Memenuhi permohonan transmisi Dharma dari True Buddha Foundation, Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan, dan Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia, pada tanggal 8 Desember 2018 di Indonesia Dharmaraja Lian-sheng Sheng-yen Lu akan memimpin Upacara Agung Homa Atisa Dipamkara, manunggal dengan Y.A. Atisa, tiada berbeda, dengan daya kebajikan tertinggi ini, menganugerahkan transmisi perdana : Sadhana Adinatayoga Atisa Dipamkara dan Bodhipathapradipa, serta menganugerahkan abhiseka ( Termasuk Abhiseka Purifikasi dan Abhiseka Sarana ), supaya nadi Dharma silsilah sewu tahun terus sinambung ! Dalam perjalanan pembabaran Dharma di Indonesia kali ini, Mahaguru tidak hanya akan memimpin upacara agung di ICE BSD Tangerang, namun juga akan mengabhiseka altar mandala 7 Vihara Vajragarbha, berkumpul bersama para siswa di berbagai daerah di Indonesia, memenuhi harapan dan penantian para siswa ! Perjalanan pembabaran Dharma kali ini melintasi 3 pulau besar di Indonesia dengan jarak yang saling berjauhan ! Janji Sewu Tahun, menempuh perjalanan jauh demi menabuh genderang Dharma, memutar Dharmacakra nan agung, menyempurnakan Bodhicitta !

Judul Asli :
千年之約,萬里行縱,轉大法輪,圓滿菩提!

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4752

◎ Tautan Siaran Langsung Upacara Homa di Taiwan Lei Tsang Temple, setiap hari Sabtu pukul 14:00 ( WIB )

Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.