Halaman Utama > Fokus Internasional > 1 Desember 2018 Upacara Homa Pertama di Taiwan Lei Tsang Temple Setelah Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu Kembali di Taiwan


1 Desember 2018 Upacara Homa Pertama di Taiwan Lei Tsang Temple Setelah Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu Kembali di Taiwan

【Liputan TBS Helan/Taiwan】

Pada tanggal 1 Desember 2018, Taiwan Lei Tsang Temple ( 台灣雷藏寺 ) mengundang Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu untuk memimpin Upacara Agung Homa Mahadewi Yaochi. Upacara ini merupakan upacara pertama yang dipimpin oleh Dharmaraja Liansheng di Taiwan Lei Tsang Temple setelah kembali di Taiwan. Pada hari itu, langit cerah, banyak tamu agung yang menghadiri upacara, selain itu banyak pula jajaran rohaniwan, umat, dan simpatisan dari berbagai negara yang datang berpartisipasi dalam upacara. 

Pada tanggal 6 Desember 2018, Dharmaraja Liansheng akan berkunjung ke Jakarta Indonesia, dan pada tanggal 8 Desember 2018, pukul 2 siang di Indonesia Convention Exhibition ( ICE ) akan memimpin Upacara Agung Homa Atisa Dipamkara Sri-jnana, dan menganugerahkan transmisi perdana Sadhana Adinatayoga Atisa Dipamkara dan Bodhipathapradipa ( Termasuk Abhiseka Sarana dan Purifikasi ), acara ini sangat istimewa, dan mengandung makna yang sangat luas. Perjalanan pembabaran Dharma kali ini selama 8 hari, Dharmaraja akan membabarkan Dharma, mengabhiseka altar mandala, serta menganugerahkan abhiseka di 7 Vihara Vajragarbha di berbagai wilayah di Indonesia, antara lain : Vihara Madha Tantri di Jakarta, Vihara Dharma Purnama di Cirebon, Vihara Vajra Viriya Dharma di Manado, Vihara Vajra Bumi Lampung di Lampung, Vihara Vajra Bumi Silampari di Lubuklinggau, Vihara Vajra Bhumi Prabu di Prabumulih, dan Vihara Satya Dharma Virya di Dusun Lamuk. 

Sekitar pukul 11 siang, Dharmaraja tiba di Taiwan Lei Tsang Temple dan menerima wawancara dari media Indonesia ( Kompas TV ), dalam wawancara, Dharmaraja mengungkapkan makna pembabaran Dharma ke Indonesia kali ini, Dharmaraja memberitahu wartawan makna dari tiap aksara dalam nama “Atisa”, aksara “A” merepresentasikan semua Buddha dan Bodhisattva, aksara “Di” merepresentasikan Manjusri Bodhisattva yang merupakan perwujudan kebijaksanaan, dan aksara “Xia” mengandung kekuatan besar, sangat mulia, dan merupakan Dipamkara Buddha yang manggala. Kebijaksanaan dari Dipamkara Sri-jnana ( Atisa ) dapat memenuhi Indonesia, supaya bangsa dan negara Indonesia memperoleh kebahagiaan dan berkah yang melimpah.

“Dalam pembabaran Dharma kali ini, penyelenggaraan Upacara Agung Homa Atisa Dipamkara diharapkan dapat memberikan kedamaian bagi Indonesia, dan semoga berkat Y.A. Atisa dapat membuat kehidupan rakyat Indonesia menjadi lebih bahagia dan sempurna. Wanita yang berpartisipasi dalam upacara ini dapat menjadi lebih cantik, dan pria yang berpartisipasi dalam upacara kali ini dapat menjadi lebih tampan, selain itu, Y.A. Atisa memiliki 2 macam berkah, antara lain berupa sambhara materi yang dapat membuat sebuah negara menjadi lebih makmur, dan sambhara secara spiritual dapat meningkatkan kualitas batin, sehingga para peserta dan para penduduk setempat, bahkan seluruh Indonesia dapat memperoleh peningkatan kualitas spiritual. Y.A. Atisa dapat memberkahi kita semua.”

Bupati Lin Mingzhen baru saja menjabat, dan secara khusus menghadiri upacara hari ini, selain untuk menyampaikan rasa terima kasih atas adhisthana dari Dharmaraja, beliau juga mengutarakan bahwa pemulihan kualitas udara dan perekonomian di Taiwan merupakan kewajiban utama yang mesti diupayakan sesegera mungkin. “Semua penduduk paling mengharapkan supaya kondisi perekonomian menjadi lebih baik, dan semua bisa meningkatkan pendapatan, ini merupakan salah satu janji saya ketika ikut serta dalam pemilihan bupati. Saya yakin, setelah terpilih berkat 190 ribu suara ini, dan berkat pemberkatan dari Mahaguru, saya pasti bisa memajukan kabupaten Nantou dalam segala bidang, dan dalam waktu 4 tahun mendatang, saya berharap supaya pemasukan penduduk Nantou dapat meningkat, dan dapat menjalani kehidupan yang lebih bahagia.”

Sebelum Dharmadesana, Dharmaraja memberitahukan waktu upacara agung di Indonesia, dan mengajak semua untuk hadir. Selain itu, menyampaikan saran dari Tim Akademisi Zhenfo Zong, yaitu berharap supaya Pusdiklat Weide dapat membentuk studi pascasarjana yang diakui oleh Kementerian Pendidikan, dan Dharmaraja meminta kepada Tim Akademisi untuk mengajukan proposal. 

Dharmaraja Liansheng menanggapi kata sambutan dari Bupati Lin mengenai masalah pencemaran udara, menurut Dharmaraja, sinar matahari, udara, dan air merupakan tiga unsur utama yang diperlukan untuk kehidupan, udara yang dihirup akan masuk dalam tubuh, Dharmaraja mengkhawatirkan kesehatan masyarakat, menyarankan untuk penelitian dan penemuan kipas angin terbesar di dunia yang digerakkan oleh tenaga pembangkit listrik tenaga panas, untuk meniup cerobong asap dari pusat pembangkit listrik tenaga panas, dan untuk menyiramkan air, mengarahkan tiupan angin ke arah lautan, mengendap di lepas pantai. Dharmaraja meminta kepada Tim Akademisi untuk meneliti, apakah cara ini dapat diaplikasikan. 

Membahas mengenai Adhinatha Homa, Mahadewi Yaochi, Dharmaraja mengungkapkan bahwa Mahadewi Yaochi memiliki budi jasa besar dan menganugerahkan segalanya, “Tanpa Mahadewi Yaochi, tidak ada Zhenfo Zong. Tanpa Mahadewi Yaochi, tidak akan ada Lu Sheng-yan. Tanpa Mahadewi Yaochi, tidak akan ada 5 juta siswa.” Mahadewi Yaochi adalah Raja Suciwan, Dharmaraja memuji, “Kedudukan Mahadewi Yaochi sangat mulia, ada pada urutan pertama dalam Hagiografi Jajaran Dewata, Beliau dapat menganugerahkan berkah melimpah, Anda dapat memanjatkan permohonan kepada Beliau, dan Beliau dapat menganugerahkan berkah. Upacara Homa Mahadewi Yaochi kali ini adalah untuk menyampaikan rasa syukur kepada Mahadewi Yaochi.”

Dharmaraja melanjutkan pengulasan Lamdre : “Ikat pinggang untuk mengikat prana, kedua tangan mengikat pinggang erat seperti ikat pinggang, ibarat kayu yang diputar, diputar di arah pinggang, duduk bersila, kedua tangan berkacak pinggang, menggoyangkan badan bagian atas bolak balik ke empat arah, dengan demikian tubuh dapat meliputi segala arah.”

Hal utama yang dikupas oleh Dharmaraja adalah prana, pada tubuh manusia terdapat lima prana, mulai dari puncak kepala sampai ke pusar disebut sebagai prana sirkulasi atas, dan mulai dari pusar ke bawah disebut sebagai prana sirkulasi bawah, di cakra anahata disebut sebagai prana jiwa, dan yang menelusuri nadi tengah adalah nadi mitra api, sedangkan yang tersebar ke sekujur tubuh adalah prana sirkulasi menyeluruh. 

Semula prana berhimpun di nadi tengah, prana mesti dipertahankan di tubuh, namun bagaimana cara menyebarkan prana ke sekujur tubuh ? Mahaguru memperagakan dua macam metode :

1. Metode Memutar Tubuh
Saat hampir tidak sanggup lagi menahan napas, kedua tangan berkacak pinggang, putar ke arah kiri, kanan, kiri, kanan, kiri, kanan, dengan demikian dapat membuat prana yang semula berhimpun di nadi tengah ( atau cakra manipura ), ( pernapasan botol ), menjadi prana sirkulasi menyeluruh, supaya prana dapat merata ke nadi, cakra, dan pori sekujur tubuh.

2. Metode Pental
Ambil postur duduk, kemudian pentalkan tubuh ke arah atas, dan jatuh kembali ke posisi semula, sekujur tubuh bergerak bebas, seperti anak yang sedang bermain, dengan demikian dapat meratakan prana ke setiap nadi di sekujur tubuh. Akan tetapi, orang yang memiliki masalah tulang belakang atau masalah tulang jangan menirukan metode ini. 

Dharmaraja menekankan, pelatihan prana memerlukan tiga hal utama :

1. Prana harus masuk nadi tengah, mesti menekuni pernapasan botol, sehingga prana dapat masuk nadi tengah.
2. Mesti tahan napas, latihan tahan napas dapat memperkuat prana dan mengubahnya menjadi prajna. 
3. Saat tidak sanggup lagi tahan napas, prana mesti disebarkan ke sekujur tubuh.

Berikutnya, melalui sebuah lelucon, Dharmaraja menekankan, barang siapa belum mencapai kondisi anasrava, maka tidak boleh meminta Abhiseka Berpasangan, tanpa abhiseka resmi melakukan sadhana berpasangan berarti melanggar ketentuan Dharma, melanggar sila, dan pasti terjerumus ke Neraka Vajra !

Dharmaraja menegaskan : “Kita mesti melakukan terobosan ! Zhenfo Zong mesti menerobos, jangan berdiam di satu titik, harus berkembang ke luar ! Babarkan Buddhadharma yang luhur ini, supaya semua insan mengenalnya !”

Judul Asli :
2018年12月1日蓮生法王盧勝彥返台於台灣雷藏寺主壇首場護摩大法會

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4747

◎ Tautan Siaran Langsung Upacara Homa di Taiwan Lei Tsang Temple, setiap hari Sabtu pukul 14:00 ( WIB )

Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.