Halaman Utama > Fokus Internasional > Bagian 2 - Dialog Nilai Sejarah dan Upacara Agung di Candi Borobudur


Bagian 2 - Dialog Nilai Sejarah dan Upacara Agung di Candi Borobudur

【TBS Liputan Acarya Lianhua Huijun- 蓮花慧君】

Tanggal 28 Oktober 2018 merupakan hari kedua Dialog Nilai Sejarah yang diselenggarakan oleh Zhenfo Zong di Yogyakarta. Sebelum acara dimulai, ketua umum True Buddha Foundation beserta ketujuh direktur bersama mengabhiseka arca bersejarah yang dipamerkan di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, upacara sederhana ini merepresentasikan arus Dharma silsilah yang mengalir melalui para Acarya yang mewakili Mahaguru untuk membabarkan Dharma, supaya cahaya Dharma menerangi Indonesia. 

Panitia mengundang arkeolog kehormatan dari Universitas Indonesia : Prof. Dr. Noerhadi Magetsari ; Dr. Hari Untoro Dradjat, tenaga ahli Menteri Pariwisata pada Badan Otorita Borobudur ; beserta Dr. Niken Wirasanti, M.Si. , dosen Universitas Gadjah Mada, ketiga arkeolog terkemuka ini berbagi pengetahuan berharga mengenai sejarah Y.A. Atisa dengan Nusantara, beserta candi-candi Buddhis di Indonesia. 

Dr. Hari Untoro Dradjat mengungkapkan bahwa Y.A. Atisa adalah seorang tokoh reformis agama yang lahir di Benggala ( Bangladesh ), menjadi biksu dengan gelar : Dipamkara Srijnana, kemudian pergi ke Suvarnadvipa, Nusantara, dan di Tibet merintis sekte Kadam.

 Apa perbedaan Beliau dengan Je Tsongkhapa ?

Wujud Y.A. Atisa menurut penggambaran di Tiongkok, Tibet, dan Nepal berbeda. Rupang Y.A. Atisa juga berbeda dengan Je Tsongkhapa. Kita dapat mengenalinya melalui mudra yang dibentuk, dan benda-benda yang menjadi atribut. 

Y.A. Atisa lahir di Benggala yang wilayahnya saat itu sangat luas, dekat dengan sungai dan laut. Pada usia 11 tahun Beliau belajar Dharma di Nalanda, kemudian ke Suvarnadvipa untuk belajar kepada Serlingpa Dharmakirti. Beliau pernah menjadi seorang kepala vihara, namun kemudian memenuhi undangan raja Tibet untuk membabarkan Dharma di Tibet. Dalam karya tulis Je Tsongkhapa, nampak bahwa Beliau mengetahui reformasi yang dilakukan oleh Y.A. Atisa yang tidak mendiskriminasi antara Sutrayana dan Tantrayana, Y.A. Atisa lebih mengutamakan sepenuh hati membabarkan Buddhadharma. 

Di Indonesia sendiri terdapat 160 lokasi candi Buddha, di Sumatera ada 30 lokasi. Dahulu tempat yang dikunjungi oleh Y.A. Atisa bukan hanya Suvarnadvipa, namun diyakini masih banyak tempat yang lain. 

Kedua bapak arkeolog Indonesia ini pernah berjumpa dengan Mahaguru di Taiwan, berdialog mengenai beberapa makna luhur dan mendalam dari Candi Agung Borobudur, kemudian melakukan penelitian lebih lanjut, mendapati bahwa makna Dharma dari Candi Agung Borobudur yang disampaikan oleh Mahaguru adalah benar adanya. 

Berikutnya, Dr. Niken Wirasanti, M.Si. , dosen Universitas Gadjah Mada, menyampaikan mengenai penelitian beliau akan aspek lingkungan Candi Agung Borobudur : Sesungguhnya Borobudur dikelilingi oleh pegunungan dan di antaranya adalah gunung berapi. Di sekitarnya juga terdapat sungai dan danau. Di dekatnya terdapat Candi Pawon dan Candi Mendut, yang ternyata satu garis dengan Candi Borobudur, menjadi tiga serangkai yang saling berhubungan. 

Usai santap siang, Prof. Dr. Noerhadi Magetsari menyampaikan hasil penelitian beliau : Ajaran Buddhadharma banyak yang disampaikan melalui relief dan pahatan, telebih adalah Candi Borobudur. 

Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Borobudur saling berhubungan, seperti yang disampaikan oleh Avatamsaka Sutra mengenai keberadaan Buddha Trikala, maka dalam ketiga candi ini terdapat Buddha masa lampau dan Buddha masa sekarang. 

Dari ajaran luhur yang disampaikan melalui relief Candi Borobudur, kita dapat mengetahui bahwa demi belajar mengenali Buddhata, segala hal yang lain dapat dilepaskan. Oleh karena itu, Borobudur adalah sebuah mandala yang sarat akan ajaran mulia. 

Sesungguhnya dari Candi Pawon kita juga dapat melihat ajaran Sutrayana dan Tantrayana, demikian pula dari candi yang lain, ini bermakna bahwa umat Buddha dapat memilih metode bhavana yang sesuai bagi diri sendiri.

Candi Agung Borobudur terdiri dari : Kaki candi, badan candi, dan puncak candi. Di tingkat pertama terdapat relief Jataka dan Lalitavistara. Di tingkat kedua terdapat relief Gandavyuha. Candi Borobudur merupakan sebuah mandala agung yang dapat kita masuki. Pada zaman dahulu, Y.A. Atisa juga melakukan pradaksina kepada stupa, yaitu sebuah metode meditasi yang dilakukan sambil berjalan. Hanya dengan melepaskan kemelekatan dan membersihkan tubuh, ucapan, dan pikiran, barulah kita bisa memasuki mandala agung Borobudur. 

Profesor juga memperkenalkan relief dalam Candi Borobudur, di sana terdapat kisah saat Sakyamuni Buddha belum menitis ke dunia saha, saat masih berada di surga, saat itu Sang Bodhisattva dapat menentukan kelahiran-Nya sendiri. Dalam riwayat Sakyamuni Buddha disebutkan bahwa demi mencapai keberhasilan, Beliau sempat menekuni penyiksaan diri, demikianlah Beliau mesti melalui proses tersebut, kemudian melanjutkan bhavana mencapai Kebuddhaan. 

Sebelum mencapai Kebuddhaan, Beliau tekun membersihkan karma tubuh, ucapan, dan pikiran, melepaskan keduniawian, melepaskan takhta kerajaan, menjalani penyiksaan diri, kemudian berbhavana mencapai keberhasilan. 

Dalam Gandavyuha, Sudhanakumara sendiri berbhavana dengan melalui beberapa tahapan. Dalam relief ada pula tahapan saat Sudhanakumara belajar Dharma kepada Manjusri Bodhisattva, Samantabhadra Bodhisattva, Avalokitesvara Bodhisattva, dan Maitreya Bodhisattva. Proses belajar Y.A. Atisa kepada Guru Agung Dharmakirti juga melalui tahapan-tahapan. Agama Buddha sendiri tidak akan terkena pengaruh luar yang menyebabkan kehilangan keistimewaannya yang semula. 

Dalam sesi tanya-jawab, Dr. Hari Untoro Dradjat menyampaikan, Y.A. Atisa menekuni Sadhana Arya Tara, di pulau Jawa terdapat Candi Kalasan yang merupakan sebuah candi yang dipersembahkan bagi pemujaan Dewi Tara. Di seluruh Indonesia terdapat 160 situs candi, sesungguhnya, meskipun agama Buddha masuk dari luar, akan tetapi, Suvarnadvipa ( Nusantara ) pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha, bahkan di Sumatera Barat terdapat situs yang menandakan keberadaan Heruka. 

Mengenai Dewi Tara sebagai Dewi istimewa dalam agama Buddha di Tibet, Prof. Dr. Noerhadi Magetsari mengemukakan, kemanapun perginya, Y.A. Atisa senantiasa membawa serta rupang Dewi Tara, di beberapa lokasi di Indonesia juga ditemukan candi Dewi Tara, dari sini dapat diketahui bahwa Y.A. Atisa membawa ajaran mengenai Dewi Tara dari Nusantara ke Tibet.

Ada sebuah pertanyaan, apakah pembangunan candi saat itu menggunakan prinsip fengshui ? Dr. Niken Wirasanti, M.Si. mengatakan, saat itu nenek moyang kita menggunakan beberapa kitab yang memuat syarat-syarat pendirian sebuah candi, salah satu contohnya adalah : Candi mesti didirikan di tanah Brahmana. Dari situs bersejarah yang telah ditemukan saat ini, kita dapat mengetahui kebijaksanaan luar biasa dari nenek moyang Nusantara di zaman dahulu. 

Saat dialog juga disampaikan sebuah saran supaya para arkeolog melakukan penelitian yang manakah versi yang benar dari Gandavyuha. 

Prof. Dr. Noerhadi Magetsari menyampaikan, tokoh yang barusan mengungkapkan pertanyaan tersebut adalah salah satu kalyanamitra beliau. Kitab yang paling awal sudah tidak ada, sedangkan Jatakamala yang dipahatkan di Borobudur mungkin juga saat itu sudah ada beberapa versi. Akan tetapi, saat itu, Acarya yang merancang Candi Borobudur sudah merupakan seorang Acarya agung, oleh karena itu menurut profesor, versi yang digunakan di Candi Agung Borobudur sudah merupakan versi yang terbaik. 

Dr. Hari Untoro Dradjat menjawab : Arkeolog akan terus melakukan penelitian terkait. Candi Borobudur merupakan perpustakaan yang terbaik. Kali ini, berkat True Buddha Foundation, ajaran agama dan kajian ilmiah dapat berpadu dalam satu kegiatan yang sungguh bermakna, beliau menyampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan kali ini sungguh baik. Terlebih adalah di lokasi acara juga dipamerkan beberapa arca bersejarah, sungguh istimewa, sungguh sebuah kesempatan yang sangat langka. 

Pandita Dharmaduta Hendrik selaku moderator acara menyampaikan : Kawan-kawan dari luar negeri mesti berkunjung ke Indonesia, sebab di Indonesia terdapat peninggalan bersejarah agama Buddha yang paling berharga !

Berikutnya adalah kata sambutan dari Acarya Lianhua Chengzu (蓮花程祖上師) selaku ketua TBF : Dalam acara Dialog Nilai Sejarah selama 2 hari ini, beliau merasa sungguh terharu. Mahaguru akan datang ke Indonesia untuk memutar Dharmacakra Y.A. Atisa, dan hari ini setelah mendengar penjelasan dari ketiga arkeolog tekemuka, sungguh merupakan pengalaman yang sangat berharga. Acarya menyampaikan bahwa TBF bersedia menyanggupi saran dari arkeolog, yaitu akan melanjutkan penyelenggaraan Dialog Nilai Sejarah. 

Acarya juga memuji Ibu Siti Hartati Murdaya, ketua umum WALUBI, yang selama bertahun-tahun telah berupaya membabarkan Buddhadharma, dan mengembangkan agama Buddha di Indonesia, Acarya mengajak untuk bersama membabarkan Buddhadharma di masa mendatang. 

Acarya Chengzu juga memperkenalkan struktur organisasi Zhenfo Zong, mulai dari True Buddha Foundation, Vihara Vajragarbha, cetiya, perkumpulan puja bakti, sampai jajaran rohaniwan yang telah tersebar di 25 negara. Selain itu, Acarya juga memperkenalkan yayasan sosial dalam Zhenfo Zong, yaitu : Sheng-yen Lu Foundation dan Lotus Light Charity Society. 

Dalam kata sambutannya, Acarya Lianfei (蓮飛上師) juga menyampaikan hal-hal menarik sehubungan dengan keistimewaan Candi Agung Borobudur, selain itu juga mengisahkan bahwa dahulu Mahaguru pernah datang ke Indonesia dan berkunjung ke Candi Agung Borobudur. Di dalam banyak karya tulis Mahaguru, ada banyak dibahas mengenai Y.A. Atisa, Acarya juga membacakan salah satu karya tulis Mahaguru mengenai Y.A. Atisa, yaitu : ‘Atisa Abdi Guru Selama 12 Tahun’

Dalam acara penutupan Dialog Nilai Sejarah, True Buddha Foundation bersama para Acarya menghadiahkan karya lukis Mahaguru kepada para tamu agung, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan dana sebesar Rp. 500,000,000,- melalui ketua umum WALUBI, Ibu Siti Hartati Murdaya, yang merupakan bantuan dari Lotus Light Charity Society Indonesia, Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan, dan Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia kepada para korban bencana di Sulawesi Tengah dan Lombok. Serangkaian acara Dialog Nilai Sejarah pun usai dengan sempurna dalam hangatnya rasa persaudaraan.

Pada malam hari tanggal 28 Oktober 2018, semua berkumpul di salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Candi Agung Borobudur untuk mengikuti Upacara Agung Homa Sahasrabhujanetra Avalokitesvara Bodhisattva yang dipimpin oleh Acarya Lianseng (蓮僧上師).

Usai homa, terlebih dahulu Acarya Lianseng menyampaikan rasa duka yang mendalam dari Mahaguru Dharmaraja Liansheng atas bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa Sulawesi Tengah dan bencana gempa di Lombok, Mahaguru juga sangat peduli dengan persoalan kesehatan dan pembangunan kembali di daerah bencana. Mahaguru bahkan berwelas asih memberikan petunjuk untuk mengerahkan daya upaya Zhenfo Zong, di Indonesia, dan Taiwan, untuk menyelenggarakan Upacara Homa Sahasrabhujanetra Avalokitesvara demi melimpahkan jasa bagi para korban bencana. Mahaguru sendiri juga melakukan pelimpahan jasa dalam upacara homa di Rainbow Temple. Acarya mendoakan semoga berkat adhisthana dari Sahasrabhujanetra Avalokitesvara yang memiliki welas asih agung, para arwah dapat terbebas dari rasa takut, memperoleh penjemputan, terlahir di alam suci Buddha, dan para korban luka-luka dapat segera pulih, pembangunan kembali juga dapat berjalan dengan lancar dan sempurna, supaya semua memperoleh ketenteraman. 

Acarya Lianseng menyampaikan bahwa ini adalah pertama kalinya beliau memimpin upacara di Indonesia. Beliau berterima kasih kepada CEO Upacara Atisa 2018, Acarya Lianyue (蓮悅上師) yang telah memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi upacarika bagi upacara agung yang diselenggarakan di tempat suci Mandala Agung Borobudur ini. Meskipun ini merupakan kehormatan bagi diri sendiri, akan tetapi, yang paling utama dan menggembirakan adalah dapat bersama-sama para Acarya, biksu, biksuni dan umat sekalian untuk melimpahkan jasa bagi Indonesia, dan mohon Buddha menetap di dunia. 

Acarya Lianseng menyampaikan, Acarya Lianyue pernah memberitahu beliau bahwa Candi Agung Borobudur hanya digunakan untuk upacara Waisak dan Asadha setahun sekali, kali ini berkat adhisthana dari Mulacarya, kita dapat memperoleh kesempatan yang langka dan istimewa ini. 

Di akhir Dharmadesana Acarya Lianseng mendoakan semoga Indonesia aman sejahtera, makmur sentosa, dan semoga semua makhluk tekun dalam bhavana dan mencapai keberhasilan. 

Acara akhir diisi dengan pradaksina di tengah alunan musik Mantra Peredam Bencana, para Acarya berada di barisan paling depan, memandu segenap rohaniwan, para tamu agung, dan para peserta, untuk bersama melakukan meditasi berjalan, melantunkan Mantra Peredam Bencana, berpradaksina kepada Mandala Agung Borobudur. 

Sekembalinya di hadapan altar utama, semua berlutut melantunkan Gatha Mohon Buddha Menetap di Dunia, memohon Buddha menetap di hati, mengenang kebajikan Mulacarya, dan berharap supaya Mulacarya senantiasa sehat dan terus memutar Dharmacakra di dunia saha demi kebahagiaan semua makhluk. 

Melalui acara penutupan yang sangat istimewa yang dibawakan oleh Acarya Lianyue, serangkaian kegiatan Dialog Nilai Sejarah dan upacara di Candi Agung Borobudur telah usai dengan sempurna dan manggala. 


Judul Asli :
#印尼日惹歷史學術交流與婆羅浮圖法會(2)

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4712

◎ Tautan Siaran Langsung Pembabaran Dharma Mahaguru di Seattle ( Waktu Indonesia ) : Puja Bakti di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu pukul 10:00 ( WIB ) ; Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin pukul 05:00 ( WIB )

Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.