Halaman Utama > Fokus Internasional > Dharmaraja Berharap Supaya Semua Siswa Dapat Mencapai Keberhasilan Bhavana


Dharmaraja Berharap Supaya Semua Siswa Dapat Mencapai Keberhasilan Bhavana

Hanya Dharmaraja yang Dapat Memahami Makna Guhya dari Guhyasamaja

【Liputan TBSN】

Pada hari Minggu, tanggal 9 September 2018, meskipun prakiraan cuaca di Seattle menyatakan bakal mendung dan turun hujan, namun setibanya di Rainbow Temple ( 彩虹雷藏寺 ) mentari bersinar cerah, bahkan ada umat yang pada saat perjalanan menuju ke Rainbow Temple berhasil memotret awan pelangi yang sangat indah, hal ini membuat kita teringat bahwa dahulu Dharmaraja Liansheng menyusuri sampai ke pangkal pelangi dan menemukan lokasi 7 Bintang Jatuh ke Bumi yang merupakan lokasi Rainbow Temple saat ini, sungguh merupakan sebuah nidana yang menakjubkan. 

Karena sehari sebelumnya, tanggal 8 September merupakan hari Upacara Agung Musim Gugur, maka hari ini banyak sekali umat yang hadir dalam upacara homa di Rainbow Temple. Semua datang dari jauh untuk Berdharmayatra ke Tanah Suci Zhenfo Zong, semua berkumpul bersama penuh sukacita ibarat silaturahmi keluarga di hari raya.

Usai Homa Guhyasamaja Vajra, segenap direktur TBF bersama perwakilan Majelis Agama Buddha Tantrayana Kasogatan dan Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia ( Madha Tantri ) bersama melakukan upacara mohon Dharma kepada Dharmaraja Liansheng, mengundang kehadiran Dharmaraja Liansheng untuk memimpin Upacara Agung Homa Atisa Dipamkara di Indonesia tanggal 8 Desember 2018 di Indonesia Convention Exhibition ( ICE ), dan menganugerahkan transmisi perdana Sadhana Adinatayoga Atisa Dipamkara dan Bodhipathapradipa ( Abhiseka termasuk : Abhiseka Sarana dan Purifikasi ). 

Panitia mempersembahkan berbagai benda-benda rohani yang memiliki nilai Dharma nan mulia, antara lain : Pratima Y.A. Atisa, Kitab Bodhipathapradipa, Stupa Kadam, pratima Arya Tara, jubah silsilah Dharmaraja, rompi naga berwarna emas, topi Dharmaraja berwarna emas, miniatur Borobudur, Dharmasankha, Dharmacakra, dan lain sebagainya. 

Berikutnya, Dharmaraja memberikan pemberkatan nikah kepada sepasang mempelai yang sama-sama merupakan sukarelawan di Rainbow Temple, kedua mempelai juga merupakan pelatih judo. Dharmaraja melontarkan candaan yang mengundang tawa para hadirin, yaitu mewanti-wanti supaya kedua mempelai tidak mempraktikkan judo di rumah.

Dharmaraja mengawali Dharmadesana dengan transmisi lisan Sadhana Penjapaan Guhyasamaja Vajra. Dalam upacara kemarin, yang ditransmisikan secara perdana adalah Sadhana Penjapaan Je Tsongkhapa, dan Guhyasamaja merupakan Dharmapala teragung bagi Je Tsongkhapa, selain itu, Yamantaka, Adhinatha homa minggu depan, juga merupakan Dharmapala dari Je Tsongkhapa.

Tubuh Guhyasamaja Vajra berwarna biru tua, bermuka tiga, berlengan enam, dan memiliki sepasang kaki, tubuh berhiaskan kain sutra warna-warni, mengenakan untaian perhiasan terbuat dari tulang, duduk bersila penuh di atas padmasana.

Tubuh yang berwarna biru merepresentasikan Kebenaran Tertinggi menurut ajaran Buddha. ( Langit berwarna biru, merepresentasikan Sifat Sejati Kesunyataan. Saat lima cakra kita telah terbuka, cahaya pelita yang terpancar dalam hati juga berwarna biru ) 

Guhyasamaja berlengan enam, bermuka tiga dengan warna : biru ( abhicaruka ), putih ( santika ), dan merah ( maitrikaruna dan vasikarana ), masing-masing merepresentasikan kualitas maitri-karuna, santika, dan abhicaruka ( menaklukkan mara ). Guhyasamaja berparas krodha dan sukha, atau perpaduan keduanya. 

Pada tiap wajah terdapat tiga mata, yang masing-masing merepresentasikan, masa lampau, saat ini, dan yang akan datang. Kepala mengenakan mahkota lima kelopak, merepresentasikan Panca Buddha atau Panca Bodhisattva, dan Aksobhya Buddha sebagai ornamen puncak. 

Keenam tangan memegang Dharmayudham : Sepasang tangan utama memeluk Bhagavati Vajra, memegang ghanta, merepresentasikan prajna dan upaya untuk mencapai keberhasilan ; Tangan kanan paling atas memegang Dharmacakra, melambangkan Dharmacakra terus berputar ; Tangan kanan bawah memegang padma, melambangkan kebijaksanaan nan suci ; Tangan kiri paling atas memegang cintamani, melambangkan pemenuhan segala harapan ; Tangan kiri bagian bawah memegang ratna-khadga ( pedang mestika ), melambangkan memotong habis semua avidya. 

Gatha Pujian Guhyasamaja :
Adhinatha Krodha dengan tubuh berwarna biru,
Aksobhya Tathagata sebagai ornamen puncak,
Senantiasa mengamati para insan mencapai Mahasiddhi,
Aku bersembah puja kepada Guhyasamaja Vajra. 

Dharmaraja menjelaskan, pada umumnya, mantra Tantra Jepang diawali dengan 'Namo'. Contohnya adalah Mantra Sahasrabhujanetra Avalokitesvara : "Namo. Sanmanduo. Muduonan. Warila. Damo. Xie." Sedangkan Mantra Guhyasamaja adalah : "Om. Biezha. Dake. Hum Hum. Suoha." Atau "Om. A. Biezha. Dake. Hum Hum. Suoha" kedua mantra ini boleh digunakan. Kata 'Dake' berarti nama dari Guhyasamaja, pelafalan aksara 'Ke' cukup singkat saja, mirip dengan pelafalan bahasa Inggris : "duck". 

Mandala Guhyasamaja dikelilingi oleh gunung berapi, sehingga semua roh jahat tidak bisa masuk. Di rumah Dharmaraja sendiri, terdapat simabandhana menggunakan Acalanatha Vidyaraja dan Mahabala Vajra. Pada semua bagian lantai rumah, dipasang vajrabhumi dan visvavajra. Di bagian jendela, bersemayam Acalanatha Vidyaraja, dan di angkasa penuh dengan Mahabala Vajra. Di bagian tempat tidur terdapat Mahadewi Yaochi. Sedangkan di luar ruangan, dijaga oleh dua singa.

Di bagian atas Guhyasamaja terdapat istana mestika, di bagian tengah terdapat vajraprakara, ini adalah sebuah istana, terdapat vajrabumi, di bagian atas adalah vajrajala, di bagian tengah muncul teratai, di atas teratai terdapat aksara 'Hum', cakra surya dan cakra candra, dan aksara 'Hum' berubah menjadi Guhyasamaja. 

Seperti sebuah Mantra Dao :

天圓地方,律令九章,
tiān yuán dì fāng ,lǜ lìng jiǔ zhāng ,

我居中央,五臟君常,
wǒ jū zhōng yāng ,wǔ zàng jūn cháng ,

愿享寧康。
yuàn xiǎng níng kāng.

Langit berbentuk lingkaran ( Tian yuan ), bumi persegi ( Di fang ), di bagian tengah adalah Anda ( wo ju zhong yang ). Lima organ dalam Anda : Jantung, lever, paru, limpa, dan ginjal, semua adalah Dewata ( wu zang jun ). Terdapat Dewa yang bersemayam pada lima organ dalam dan organ pencernaan. Arti kalimat : "Wu zang jun chang" adalah : kelima organ dalam dalam kondisi normal. "Yuan xiang ning kang" semoga senantiasa dalam kondisi sehat. Tiap kali japa mantra ini, jamah bagian jantung Anda, metode ini dapat membantu menyehatkan tubuh.

Visualisasi Guhyasamaja sangat mudah :

Pertama, visualisasikan mandala Guhyasamaja, diawali dengan visualisasi api vajra, di sekitar terdapat pegunungan, semua mandala menggunakan prinsip bentuk : Langit bundar, bumi persegi, menitahkan sembilan bagian. Langit lingkaran : Istana di bagian tengah berbentuk lingkaran, bagian luar berbentuk persegi. Di bagian tengah istana terdapat sebuah ratnasana, di atas ratnasana terdapat sebuah teratai, di dalam teratai terdapat aksara 'Hum', kemudian aksara 'Hum' menjelmakan Guhyasamaja yab-yum, dengan Sparshavajra Bhagavati.

Guhyasamaja berarti himpunan guhya kaya ( tubuh ), vak ( ucapan ), dan citta ( pikiran ) dari semua Tathagata. Menggunakan nafsu keinginan untuk berbhavana. 

Dalam Sutra Buddha ada tertulis bahwa rasa tamak, kebencian, kebodohan, berahi, amarah, dan kemelekatan merupakan metode bhavana, akan tetapi selama sadhaka belum mencapai tingkat Anuttara-tantra, maka sadhaka mesti berbhavana sesuai dengan ketentuan dalam kriya-tantra, carya-tantra, dan yoga-tantra. Secara mendasar, mesti terlebih dahulu mencapai kondisi anasrava, memahami sunyata, mencapai Siddha Sunyata, dengan demikian baru bisa menekuni Anuttarayoga. 

Guhyasamaja tergolong sebagai Anuttara-tantra, di zaman dahulu, bahkan pratima Guhyasamaja pun tidak boleh dilihat. Selama sadhaka masih tiris, berarti belum boleh menekuni Anuttara-tantra, bagi yang melanggar, bisa terjerumus ke neraka anantarya. Bagi orang yang belum berkualifikasi, namun langsung menekuni Anuttara-tantra, padahal belum merealisasi anasrava, kundalini belum bangkit, nadi tengah belum tembus, belum merealisasi keberhasilan bindu, namun telah menekuni Anuttara-tantra, maka Yamaraja aka menyeretnya masuk ke neraka anantarya. Menekuni Anuttara-tantra sebelum mencapai tingkatan yang ditentukan, berarti melanggar sila berdusta dan sila asusila.

Gatha Guhyasamaja : "Mestika agung lima warna, sebanyak biji wijen, pusatkan perhatian pada ujung hidung, tekun dalam latihan yoga." Lima warna antara lain : cakra ajna berwarna putih, cakra visuddha berwarna merah, cakra anahata berwarna biru, cakra manipura berwarna hijau, cakra svadhisthana berwarna kuning, kelima warna ini seperti permata kecil, berkumpul di ujung hidung, saat itu sadhaka mesti tekuni yoga, yaitu Sadhana Yoga. Namun karena gatha selanjutnya tergolong dalam ranah rahasia, maka Dharmaraja tidak mengulasnya.

Dharmaraja Liansheng melanjutkan pengulasan Lamdre :

2. Api membakar.
Setelah menjadi kukuh, visualisasikan metode kedua, api membakar, kiat utama bagi tubuh adalah duduk tegak, visualisasi pada bagian tengah masing-masing telapak kaki terdapat aksara "Rang", kemudian secara bergantian gunakan telapak kaki untuk menggosok punggung kaki yang lain, serta tekuk dan julurkan.

Kemudian, kedua aksara "Rang" mengobarkan api, naik ke atas melalui nadi dua pergelangan kaki, sampai ke pangkal paha, terus sampai ke cakra svadhisthana untuk menyatu dengan api di lokasi pertemuan 3 nadi, visualisasikan membakar setinggi empat jari, tajam, cepat, dahsyat, dan meledak.

Tajam laksana ujung jarum. Cepat seperti angin yang meniup nyala pelita. Dahsyat seperti sensasi terbakar. Meledak ibarat planet mars yang terberai. Pikiran fokus pada api, 24 sirkulasi prana, dan yang lain seperti sebelumnya."

Pengulasan oleh Dharmaraja :

Duduk bersila, visualisasi pada kedua telapak kaki terdapat aksara "Rang" berwarna merah, visualisasi api berkobar, buka kedua kaki, gunakan telapak kaki untuk menggosok punggung kaki, api menyusuri nadi dan membakar sampai bagian pangkal paha, terus sampai ke cakra manipura, bagian atas api di cakra manipura setajam ujung jarum, supaya dia menjadi sangat cepat, dahsyat ( saat itu kedua tangan Dharmaraja berpegangan pada kedua pegangan Dharmasana, mengangkat tubuh, dan memperagakan cara bersila dan menggosok punggung kaki ) metode ini dapat dengan cepat membangkitkan kundalini. 

Dharmaraja mengungkapkan bahwa banyak metode dalam Tantra yang bersifat rahasia. Sang Buddha sendiri pernah menyimpan Dharmasankha di kedalaman gunung, yang pada akhirnya Dharmasankha ini berhasil ditemukan oleh Je Tsongkhapa. Pada upacara memohon Dharma yang dilakukan oleh TBF dan kedua majelis di Indonesia kali ini juga dipersembahkan Dharmasankha, kemarin dalam Dharmadesananya, Dharmaraja telah mengungkapkan bahwa Je Tsongkhapa, Y.A. Atisa, dan Dharmaraja Liansheng ketiganya manunggal, Dharmaraja bercanda bahwa mungkin saja ini adalah Dharmasankha milik Sakyamuni Buddha. 

Dharmaraja mengingatkan siswa, dalam penekunan Tantra, Sadhana Caturprayoga yang merupakan fondasi mesti ditekuni sampai cukup, tidak boleh melangkahi urutan. Sesungguhnya Sutrayana dan Tantrayana adalah saling terpadu. Di Tibet sendiri, mesti terlebih dahulu mempelajari lima sastra utama paling sedikit 12 tahun lamanya, barulah dilanjutkan dengan penekunan Tantra selama 8 tahun. Dengan demikian baru memiliki fondasi. Sadhaka mesti menekuni Caturprayoga : Mahanamaskara, Catursarana, pembangkitan Bodhicitta, dan Mahamandalapuja dengan sempurna. 

Pembangkitan kundalini sangat penting, sebab dapat membakar habis klesha, sehingga sekujur tubuh menjadi murni dan memancarkan cahaya terang. Sedangkan api eksternal ( homa ), dapat membakar habis semua klesha, memadamkan petaka, mengatasi rintangan, menyeberangkan para arwah ke Negeri Buddha, mencukupi bekal bersadhana, dan membangkitkan kebijaksanaan. Pada saat melakukan homa, ada persembahan arak untuk Dharmapala, sebab arak dapat membangkitkan kekuatan Dewa Vajra. 

Di akhir Dharmadesana, Dharmaraja sekali lagi mengingatkan para siswa bahwa Mahaguru berharap supaya semua dapat mencapai keberhasilan bhavana, instruksi yang diberikan oleh Mahaguru kepada siswa adalah demi kebaikan siswa, Guru mengharapkan yang terbaik bagi siswa. Bagi yang masih dapat ditoleransi, Mahaguru akan berusaha memberikan toleransi, namun yang tidak dapat ditoleransi, perlu ditangani oleh True Buddha Foundation. 

True Buddha Foundation yang sekarang, dan konferensi Acarya yang diselenggarakan, semua membawa atmosfir baru, Mahaguru berharap supaya segenap siswa dapat bekerja sama dengan True Buddha Foundation, untuk bersama menerapkan, supaya semua dapat berbhavana dengan sungguh-sungguh sesuai dengan tahapan. 

Usai Dharmadesana yang sangat berharga ini, Dharmaraja Liansheng menganugerahkan Abhiseka Mahasadhana Avenika Guhyasamaja Vajra kepada semua yang hadir, dan upacara pun telah berjalan dengan mangala dan paripurna. Saat perjalanan pulang, banyak umat yang memotret kumpulan awan mangala dan mentari yang memancarkan cahaya pelangi, sungguh merupakan fenomena alam yang sangat istimewa !

Judul Asli :
密集之密 唯法王知 殷殷付託 望徒成就

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4667

◎ Tautan Siaran Langsung Pembabaran Dharma Mahaguru di Seattle ( Waktu Indonesia ) : Puja Bakti di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, setiap hari Minggu pukul 10:00 ( WIB ) ; Upacara Homa di Rainbow Temple, setiap hari Senin pukul 05:00 ( WIB )

Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.