Halaman Utama > Fokus Internasional > Liputan Upacara Akbar Homa Marici Devi Bodhisattva di Taiwan Lei Tsang Temple Tanggal 10 Maret 2018


Liputan Upacara Akbar Homa Marici Devi Bodhisattva di Taiwan Lei Tsang Temple Tanggal 10 Maret 2018

【Liputan TBSN】

Pada tanggal 10 Maret 2018 di Taiwan Lei Tsang Temple (台灣雷藏寺), Dharmaraja Liansheng Sheng-yan Lu memimpin Upacara Akbar Homa Marici Devi Bodhisattva, menganugerahkan Abhiseka Mahasadhana Avenika Marici Devi ( Meliputi : Sadhana Menyembunyikan Diri, Sadhana Menyingkirkan Kantuk, Sadhana Mudra Pelindung Diri, Sadhana Pahat Rupang Menyingkirkan Petaka, Sadhana Menjahit Mata dan Telinga, Sadhana Penyembuhan, Sadhana Mengambil Barang, Sadhana Bantuan Ratusan Roh ) ; Serta melanjutkan pengulasan Lamdre. 

Bertepatan dengan dekatnya Hari Menanam Pohon, maka sebelum upacara, Dharmaraja memandu segenap siswa untuk menanam pohon bersama, selain menaburkan benih Buddhadharma, juga menanam tunas pohon bagi bumi Taiwan, mendukung kegiatan pelestarian lingkungan, memberikan sumbangsih bagi penghijauan di Taiwan.
 
Mantra dari Adhinatha Homa hari ini adalah : “Om. Malizhiyi. Suoha.”

Wujud Marici Devi : 
 
Marici Devi berkepala tiga, bermata tiga, berlengan delapan ( Tangan kiri : memegang pasa ( tali ) , busur, dahan Pohon Asoka dan benang ; Tangan kanan : memegang Vajra, jarum, ankusa dan anak panah ) 
 
Wajah utama berparas damai, tersenyum dan berwarna kuning tua, mata terbuka, bibir merah, merupakan raut gagah berani dan leluasa ; Wajah kanan berwarna merah tua bagaikan warna padma ratna manikam bulan purnama musim gugur, memancarkan terang teragung, berparas welas asih penuh sukacita, merupakan rupa seorang gadis ; Wajah bagian kiri adalah wajah varahi, mahakrodha ( sangat menyeramkan ), taring mencuat, berwarna biru, alis mata mengrenyit, lidah terjulur ; Bodhisattva berdiri atau duduk di atas sebuah kereta perang yang ditarik oleh babi emas. Marici Devi adalah Vajra yang memiliki ikrar untuk melindungi dan mendukung Zhenfo Zong, gelar Beliau adalah : Vajra Kewibawaan Perang ( Zhanwei Jingang ), Marici miirp dengan Athena, Dewi Perang Yunani. 

Metode dalam Sadhana Marici Devi sangat banyak, dan sudah pernah ditransmisikan, antara lain : Sadhana Menyembunyikan Diri, Sadhana Menyingkirkan Kantuk, Sadhana Mudra Pelindung Diri, Sadhana Pahat Rupang Menyingkirkan Petaka, Sadhana Menjahit Mata dan Telinga, Sadhana Penyembuhan, Sadhana Mengambil Barang, dan Sadhana Bantuan Ratusan Roh.

Dharmaraja Liansheng menjelaskan kenapa menekuni Sadhana Marici Devi bisa memperoleh bantuan dari ratusan roh, sebab Marici Devi menguasai semua konstelasi dan makhluk halus, seperti : Dewa Surya, Dewa Candra, 28 Dewa, Navagraha, 36 Tian-gang, 72 Di-sha, rasi bintang ( Mantian Huagai ), segenap Dewa Tahunan 60 Jiazhi, dan para makhluk halus.

Dalam Dao, Marici Devi disebut sebagai Induk Perbintangan ( Doumu Xingjun ), dalam Tantra disebut sebagai Marici Devi Bodhisattva, dapat menyingkirkan berbagai malapetaka, antara lain :

1. Bahaya dari Raja, atau bahaya politik.
2. Bahaya perampokan, bahaya dari perampok atau pencuri.
3. Bahaya perjalanan, saat berada di luar, bertamasya, naik perahu atau naik pesawat.
4. Bahaya tanah – air – api dan angin.
5. Bahaya peperangan dan senjata.
6. Bahaya makhluk halus dan devata, bahaya benturan spiritual ( chongfan ).
7. Bahaya racun.
8. Bahaya binatang buas.
9. Bahaya musuh / orang jahat, atau orang yang berniat dan berusaha mencelakai Anda, mereka tidak akan sanggup mencelakai Anda.

Dharmaraja Liansheng berbagi pengalaman, pernah suatu ketika menghadapi suatu bahaya, dan memohon petunjuk Mahadewi Yaochi bagaimana mengatasi bahaya ini, Mahadewi Yaochi memberikan petunjuk untuk memohon kepada 2 Bodhisattva, yang satu adalah Ibunda diri sendiri ( Emanasi Avalokitesvara Bodhisattva ), dan yang satu adalah Marici Devi. Di hadapan altar, Dharmaraja menjapa Mantra Hati Marici Devi, dan membentuk Mudra Menyembunyikan Diri ( Tangan kiri mengepal dengan menyisakan ruang di tengah, jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran, ketiga jari lainnya mengepal, ada ruang kosong di tengah kepalan tangan, mudra dibentuk di depan dada. Visualisasi diri sendiri mengecil menjadi titik cahaya, masuk ke dalam kepalan tangan kiri. Kemudian telapak tangan kanan menutup lubang kepalan tangan kiri, saat itu diri sendiri telah memasuki Mudra Menyembunyikan Diri, demikianlah Sadhana Marici Devi untuk Menyembunyikan Diri ). Marici Devi memberikan petunjuk supaya Dharmaraja meninggalkan Seattle dan pergi ke Tahiti, dan berfoto bersama babi di Tahiti. Dharmaraja melakukan sesuai dengan petunjuk dari Marici Devi, terlebih dahulu terbang ke Hawaii, kemudian terbang selama 4 jam ke Tahiti, menyewa sebuah mobil untuk masuk ke hutan, ternyata di sana sungguh melihat segerombolan babi, dan setelah berfoto bersama babi, berkeliling Tahiti selama seminggu, setelah menetap selama 7 hari di Tahiti, kembali ke Seattle, kemudian terbang ke Taiwan untuk hidup menyepi. Ini adalah strategi Marici Devi untuk memancing musuh keluar dari wilayah kekuasaan, foto Dharmaraja berfoto bersama babi dimuat dalam Surat Kabar Zhenfo, dan membuat semua orang mengira bahwa Dharmaraja sedang hidup menyepi di Tahiti, dengan demikian terhindar dari sebuah malapetaka.


Dalam masa hidup menyepi, Dharmaraja menciptakan tiga buah pulau, pulau Dongxing, pulau Tianxi, dan pulau Xiyue, sesungguhnya adalah : Gedung Dongxing, GedungTianxi, dan gedung Teater Nasional Taichung. 

Dalam buku, Dharmaraja menulis setiap hari berenang di Danau Daun, yang dimaksud adalah kolam renang di Gedung Tianxi yang berbentuk seperti daun. Dharmaraja hidup menyepi di Taichung selama 3 setengah tahun, Dharmaraja juga menuturkan bahwa selama hidup menyepi, telah menerima petunjuk dari Marici Devi untuk mencari seorang siswa ( Acarya Lianji ), Acarya Lianji menjaga dan memberikan persembahan selama Dharmaraja Liansheng hidup menyepi. Pada saat hidup menyepi di Taiwan, Dharmaraja berharap dapat merasakan kembali kenangan masa kecil, yaitu suara saat angin topan meniup jendela, akan tetapi Marici Devi memberitahu Dharmaraja : “Selama 3 setengah tahun menyepi di Taiwan, tidak akan ada angin topan yang menerpa Taiwan.” Ada seorang siswa yang merupakan pejabat emigran, ia memberikan catatan kondisi saat Dharmaraja masuk dan meninggalkan Taiwan, dari catatan tersebut terbukti bahwa selama 3 setengah tahun, sama sekali tidak ada angin topan yang menerpa Taiwan. 

Saat itu ada SARS yang menyerang Taiwan, Dharmaraja memanjatkan permohonan kepada Mahadewi Yaochi dan Marici Devi, Mahadewi Yaochi dan Marici Devi menganugerahkan kantong kecil berwarna putih yang bisa membesar dan mengecil, ia membesar tertiup angin, kemudian mengisap seluruh virus SARS masuk ke dalam kantong, dan mendadak SARS pun lenyap, Marici Bodhisattva sungguh memiliki Dharmabala yang tak terhingga.

Kemudian Dharmaraja kembali ke Seattle dan melanjutkan penyepian selama 2 setengah tahun, dengan demikian total masa penyepian adalah 6 tahun, segalanya berjalan dengan tenteram, begitu keluar dari penyepian langsung memenangkan perkara di pengadilan, terhindar dari petaka raja ( petaka politik ), Dharmaraja mengungkapkan bahwa semua ini adalah berkat perlindungan dari Marici Devi, Ibunda ( Nenek Guru ), dan Ibunda di Langit ( Mahadewi Yaochi ), sehingga dapat mencapai kondisi batin : “Tidak girang dalam kondisi lancar, dan tidak gelisah dalam kondisi sukar.” 

Dharmaraja juga mengungkapkan Dharmabala Mahadewi Yaochi yang tanpa batas, dan pentingnya Mahadewi Yaochi, Mahadewi Yaochi telah membukakan mata batin Dharmaraja, saat itu Dharmaraja masih merupakan umat Kristen, telah menerima pembatisan dari pendeta Su Tianming (蘇天明) di Gereja Presbiterian Xinxing Kaohsiung, saat itu sama sekali tidak mengerti ajaran Tantra. 

Dharmaraja Liansheng mengungkapkan bahwa sampai saat ini beliau masih percaya kepada Yesus Kristus, ada beberapa tahun masa kehidupan Yesus dari Nazaret yang tidak tercantum dalam Alkitab, sesungguhnya, saat itu Yesus pergi ke Gunung Himalaya untuk belajar ajaran Kagyudpa, jubah yang Yesus kenakan sama seperti jubah Kagyudpa, Yesus juga mengenakan jubah Lama berwarna merah, pernah masuk belantara menerima tempaan, ajaran yang dibabarkan oleh Yesus memiliki kesamaan dengan ajaran Buddha, selain itu Beliau juga melakukan beberapa mukjizat ( Mengubah air menjadi anggur, mukjizat 5 roti dan 2 ikan, berjalan di atas permukaan air, menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta, menyembuhkan orang tuli, dan lain sebagainya ), Yesus mengerti Buddhadharma, dan memahami konsep tri-mandala-parisuddhi ( Pemberi, barang yang diberikan, dan penerima bersifat sunya ). Beliau mengajarkan ksanti kepada kita semua ( jika orang menampar pipi kananmu, berikan juga kepadanya pipi kirimu ; Barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu ) 

Yesus Kristus adalah salah satu Guru dari Dharmaraja, saat baru meninggalkan agama Kristen dan mulai mempelajari Buddhisme, Yesus Kristus pernah menampakkan diri dengan paras sukacita, mengenakan jubah putih, di hadapan tempat tidur Dharmaraja, dan mengatakan : “Jalan yang Anda tempuh, sama dengan jalan yang Aku tempuh, apa yang Kita pelajari, merupakan pelita bagi kaki para insan, yang menuntun semua untuk manunggal dengan Istadevata Anda Yang Mahatinggi.”

Dharmaraja Liansheng melanjutkan pengulasan Lamdre – Phowa

Dalam Lamdre disebutkan : “Saat penekunan perpanjangan usia sudah tidak berfungsi, maka tekunilah Phowa jelang wafat, yang terbagi menjadi tiga : Sadhana Phowa Transformasi Wujud ; Sadhana Phowa Terang ; Sadhana Phowa Suara.”

1.    Sadhana Phowa Transformasi Wujud

Mulai saat ini mesti dilatih dalam prayoga dan tiap kali sebelum tidur, terus sampai kelak munculnya tanda-tanda kematian, mengundang kehadiran wujud Guru dan Istadevata yang tiada berbeda, muncul di angkasa di hadapan sadhaka, apabila memungkinkan, mesti lakukan persembahan riil, jika tidak ada, boleh lakukan persembahan secara pikiran, melakukan persembahan sesuai kemampuan, dan bertobat atas segala kesalahan baik itu yang disengaja maupun tidak disengaja.

Apabila di tempat sadhaka ada Guru, mohonlah anugerah abhiseka utama dalam marga ; Apabila Guru tidak ada, sadhaka mesti menekuni tata ritual, melakukan Trimula-puja dan memberikan persembahan torma. Dan lagi, ketika Kesadaran Mahatinggi muncul dalam wujud yang lain, lepaskan wujud Istadevata Anda, ganti dengan perenungan wujud yang muncul di hadapan Anda saat itu juga, jadikan rupa tersebut sebagai wujud Istadevata dan manunggal mencapai samarasayoga dengan kesadaran diri sendiri, dengan demikian tidak akan muncul fenomena antarbhava, merealisasi keberhasilan Vidyadhara ( Siddhi Japa Mantra ).

Dharmaraja menjelaskan, ketika Sadhana Memperpanjang Usia sudah tidak berfungsi lagi, dan tanda-tanda kematian tetap ada, maka sadhaka mesti mencari cara terbaik untuk meninggalkan kantong kulit yang busuk ini ( tubuh jasmani ), saat itu cara yang digunakan adalah 3 metode seperti yang disebutkan di atas.

Dharmaraja mengungkapkan, tiap kali hendak tidur, mesti lakukan latihan persiapan mangkat :

1.    Melafal : “Terlahir di alam suci, terbebas dari duka, Namo Amituofo !” ( 3 kali )
2.    Melafal : “Mohon Mahadewi Yaochi memutuskan.” ( 3 kali )
3.    Melafal : “Namo Amitabha Buddhaya dalam nama agung berjumlah tiga ratus enam puluh triliun seratus sembilan belas ribu lima ratus” ( 3 kali )
4.    Melimpahkan jasa : “Semoga semua yang melafal Nama Buddha, kelak terlahir di Sukhavatiloka. Ke atas membalas budi : Ayah Bunda, Guru, Sang Buddha, dan Negara. Ke bawah menolong mereka yang berada di tiga alam samsara (Alam Neraka, Alam Preta, Alam Binatang). Bertekad mencapai Kebuddhaan dan terbebas dari tumimbal lahir. Seperti Sang Buddha yang menyeberangkan semua makhluk samsara.”
5.    Menjapa Mantra Trini Arya Sukhavati : “Om. Amidiewa. Xie. Om. Mani. Beimi. Hum. Om. Xu Xu. Suo. Suoha.” ( 3 kali ) memohon Trini Arya Sukhavati muncul di hadapan.
6.    Melakukan Sadhana Cahaya Tidur : Visualisasi sinar putih, merah, dan biru dari “Om. A. Hum” memancar ke angkasa, muncul suara mantra : “Bang !”, berubah menjadi jala sinar yang menaungi sadhaka, sadhaka tidur dalam cahaya terang. 

Ini merupakan latihan untuk melepaskan kantong kulit busuk ( tubuh jasmani ) saat menjelang wafat, dan mengeluarkan kesadaran diri melalui ubun-ubun. 

Saat menjelang wafat, ketika mengundang Guru dan Istadevata, tidak boleh muncul diskriminasi, lebih lanjut Dharmaraja menjelaskan melalui contoh : Saat mengundang Mahadewi Yaochi, ada kemungkinan yang muncul adalah Mahadewi Yaochi dalam wujud yang berbeda, tidak peduli Mahadewi Yaochi yang mana yang muncul di hadapan, sadhaka mesti tetap visualisasikan Mahadewi Yaochi di tengah angkasa memancarkan tri-cahaya adhisthana “Om. A. Hum” kepada diri sendiri, kemudian visualisasi diri sendiri berubah menjadi Mahadewi Yaochi, mesti sama persis dengan Mahadewi Yaochi di angkasa, visualisasi Mahadewi Yaochi memasuki tubuh sadhaka, atau visualisasi diri sendiri masuk ke dalam Mahadewi Yaochi, inilah “Memasuki Aku dan Aku Memasuki.” Setelah manunggal, sadhaka tidak perlu lagi melalui tubuh bardo, langsung masuk alam suci Mahadewi Yaochi, inilah Sadhana Phowa Transformasi Wujud.

Apabila saat menjelang wafat Istadevata tidak muncul, namun Guru yang hadir ( Guru merepresentasikan Buddha, Dharma, dan Sangha ), maka sadhaka mesti visualisasi diri sendiri berubah menjadi Guru, dengan demikian sadhaka dapat langsung terlahir di Negeri Buddha. Dharmaraja Liansheng memberikan contoh, apabila Yesus Kristus yang hadir, maka Dharmaraja akan visualisasikan diri sendiri menjadi Yesus Kristus, melebur dalam Yesus Kristus, dengan demikian dapat memasuki Kerajaan Yesus Kristus. 

Zhenfo Zong tidak merendahkan agama dan sekte apa pun, semua agama dan sekte dapat belajar dalam Zhenfo Zong, Dharmaraja memiliki pandangan yang sama dengan Guru Mahasuci ( Konfusius ), yaitu mencapai kondisi persatuan dan perdamaian dunia. 

Dharmaraja menggunakan lelucon untuk menyampaikan bahwa dalam hidup dan di tempat kerja, kadang tidak bisa membantah. Agama Buddha bersifat hidup, mesti gunakan agama Buddha yang hidup untuk menyeberangkan para insan. 

Orang yang belajar Buddha mesti belajar untuk melepas, orang zaman sekarang seringkali saat patah hati, akan muncul niat untuk balas dendam, ini sungguh tidak baik, cinta yang sejati berarti tahu melepas dan merestui, orang yang belajar Buddha tidak boleh mendendam dan tidak boleh punya musuh. Jadi orang mesti tenang, jangan berniat jahat, hadapi semua jodoh dengan selaras, jangan menggerutu.

Buddhadharma mengajarkan kita, “Jangan berbuat jahat, perbanyaklah perbuatan baik, sucikan hati dan pikiran, inilah ajaran para Buddha.” Apa yang diajarkan oleh Tantra ? Yaitu menekankan pada : “Sucikan hati dan pikiran”, setelah Anda menyucikan pikiran, maka tubuh, ucapan, dan pikiran pun akan bersih, dan karena Anda telah bersih, maka Anda dapat menjadi Istadevata, manunggal dengan Istadevata. 

Usai Dharmadesana yang sangat istimewa ini, Dharmaraja berwelas asih menganugerahkan Abhiseka Mahasadhana Avenika Marici Devi ( Meliputi : Sadhana Menyembunyikan Diri, Sadhana Menyingkirkan Kantuk, Sadhana Mudra Pelindung Diri, Sadhana Pahat Rupang Menyingkirkan Petaka, Sadhana Menjahit Mata dan Telinga, Sadhana Penyembuhan, Sadhana Mengambil Barang, Sadhana Bantuan Ratusan Roh ) Segalanya manggala dan paripurna.

Judul Asli :
2018年3月10日台灣雷藏寺【摩利支天菩薩護摩法會】報導

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4555

◎ Tautan Siaran Langsung Dharmaraja Liansheng Mengulas Lamdre di Taiwan Lei Tsang Temple, setiap hari Sabtu pukul 14:00 ( WIB ) :

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah Inggris

◎ Klik di sini untuk tautan siaran langsung Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Guru Buddha.