Halaman Utama > Fokus Internasional > 【TBSN Terbaru】Upacara Agung Homa Padmasambhava Upacara Pertama Dharmaraja Liansheng di Tahun 2017


【TBSN Terbaru】Upacara Agung Homa Padmasambhava Upacara Pertama Dharmaraja Liansheng di Tahun 2017

Dharmaraja Liansheng memberikan petunjuk pencerahan : 50 tahun yang akan datang, 100 tahun yang akan datang, apakah Anda masih memiliki persoalan riil ?! Mohon tanya, Apakah Anda masih memiliki kemelekatan ?!

Mengurai persoalan riil, barulah dapat merealisasi Virupa Yogi Leluasa !

【Liputan Acarya Shi Liandian, Nantou】

Upacara pertama yang dipimpin oleh Dharmaraja Liansheng di Taiwan Lei Tsang Temple (台灣雷藏寺) pada tahun 2017 adalah Upacara Agung Homa Padmasambhava.

Usai homa, terlebih dahulu Dharmaraja Liansheng membabarkan adhinatha homa, Guru Padmasambhava yang merupakan tokoh pertama yang membawa ajaran Tantra masuk ke Tibet, Beliau merupakan Mulacarya rahasia terdalam dari Dharmaraja Liansheng.

Apa itu rahasia terdalam ? Seperti dalam Sutra Hati : “Ketika Avalokitesvara Bodhisattva menyelami Prajnaparamita…” ; Yaitu, silsilah yang sangat rahasia, yang diperoleh dalam samadhi mendalam. 

Guru Padmasambhava memberi instruksi, silsilah tak berwujud tidaklah cukup, masih diperlukan silsilah dunia manusia, dengan demikian barulah sesuai dengan ajaran Tantra.

Pernyataan mengenai memperoleh silsilah rahasia, tidak akan bisa diterima oleh orang lain, sebab yang tak berwujud tidak bisa dilihat oleh orang lain, mereka akan mempertanyakannya, oleh karena itu Anda mesti mencari Guru di dunia fana, yang bisa mentransmisikan ajaran dan silsilah kepada Anda, tanpa ini, berarti Anda belum memenuhi persyaratan ajaran Tantra.

Contoh : 

Silsilah Lamdre berawal dari Virupa, setelah menjalani bhavana rahasia, Beliau menuliskan Vajraslokha.

Silsilah Dzogchen, Guru dari Padmasambhava adalah Srisimha, di atasnya ada Manjusrimitra, di atasnya lagi adalah Prahevajra, dan masih ada lagi…, inilah silsilah Dzogchen, memiliki silsilah baru bisa disebut sebagai Tantra. Dzogchen adalah ajaran dalam Nyingmapa.

Silsilah Mahamudra dalam Kagyudpa, Guru Sesepuh di Tibet adalah Marpa, namun yang paling awal berasal dari Adharma Buddha, ditransmisikan kepada Ratnamatikumara dan Ratnasamudgatakumara, kedua Kumara ini adalah Padmakumara.

Dalam Gelugpa adalah Je Tsongkhapa, dan Guru dari Je Tsongkhapa adalah ‘Jetsun Rendawa’.

Sesungguhnya, Guru Padmasambhava adalah Padmakumara, Gelar Vajra Beliau adalah Saroruha Vajra, Guru Padmasambhava tidak memiliki ayah dan ibu, sebab Beliau adalah Kumara yang bermanifestasi dari dalam padma pancawarna di Samudra Danakosha di India Barat, Beliau adalah Padmakumara. Beliau merupakan emanasi vajra triguhya dari Amitabha Buddha, Avalokitesvara Bodhisattva, dan Shakyamuni Buddha. Di Mahapadminiloka ada Padmakumara yang tak terhitung banyaknya, semua adalah emanasi dari Amitabha Buddha.

Dahulu, Dharmaraja Liansheng yang pertama kali membabarkan perihal Padmakumara, baru kemudian Padmakumara menjadi populer, kemudian setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, dijumpai bahwa sesungguhnya semenjak dahulu di masa Dinasti Tang telah ada penyebaran syair Padmakumara.

Guru Padmasambhava pernah memberikan dua abhiseka yang sangat istimewa kepada Dharmaraja Liansheng :

1.    Mentransformasikan Dharmaraja Liansheng menjadi bindu, kemudian ditelan melalui mulut Guru Padmasambhava, dan dikeluarkan dari cakra svadhisthana Guru Padmasambhava. ( Bermakna : Guru Padmasambhava adalah aku, dan aku adalah Guru Padmasambhava, keduanya tiada berbeda, aku adalah emanasi bindu Guru Padmasambhava. )
2.    Pori sekujur tubuh Guru Padmasambhava memancarkan sinar, dan sinar ini memasuki pori sekujur tubuh Mahaguru. ( Bermakna semua metode Siddhi bhavana dari Guru Padmasambhava memancarkan sinar dan mengabhiseka Mahaguru, dengan demikian, Mahaguru memperoleh semua abhiseka dari Guru Padmasambhava. )

Di dunia ini, silsilah Nyingmapa Mahaguru diperoleh dari Bhiksu Liaoming (了鳴和尚), sedangkan Bhiksu Liaoming memperoleh abhiseka Nyingmapa dari Norlha Hotogtu ketika Norlha Hotogtu membabarkan Dharma ke Tiongkok ; Sedangkan Guru Padmasambhava merupakan Guru Sesepuh Nyingmapa yang dijunjung tinggi oleh keempat sekte utama Tantra Tibet.

Dharmaraja Liansheng menyanyikan sebuah lagu yang saat ini tengah populer : ‘7 Kuntum Padma’ ( Qiduo Lianhua ), di dalamnya terdapat pelantunan Mantra Hati Guru Padmasambhava, kami mengundang Anda semua untuk turut belajar menyanyikan lagu ini : https://www.youtube.com/watch?v=ifnQZ3gEVpw

Guru Padmasambhava menyimpan semua terma Dzogchen ke dalam alam pikiran Raja Trisong Detsen, Raja Tibet emanasi Manjusri Bodhisattva. ( Raja Trisong Detsen merupakan kehidupan lampau dari Dharmaraja Liansheng )

Ketika Guru Padmasambhava berjumpa dengan Raja Trisong Detsen, berarti raja dunia berjumpa dengan Raja Dharma, entah siapa yang harus memberi penghormatan ? ( Catatan penulis : Kisah mengenai ‘etika’ ini telah dibabarkan oleh Dharmaraja Liansheng dalam Dharmadesana transmisi Mahasiddhi Sinar Pelangi )

Dahulu, Raja Tibet : Trisong Detsen membawa banyak orang ( termasuk permaisuri, selir dan dayang-dayang ) untuk menyambut Guru Padmasambhava di tepi Sungai Yarlung Tsangpo. Yang satu adalah raja Tibet, dan yang satu adalah Guru Padmasambhava, keduanya tengah bertemu, dalam perjumpaan ini ada sesuatu yang sangat menarik untuk disimak. 

Raja Tibet berpikir : “Aku adalah seorang raja, raja dari Tibet, di hadapan para menteri, permaisuri, selir, dan dayang, sebagai seorang raja, apabila saya memberikan sembah sujud kepada Guru Padmasambhava, aku bisa kehilangan muka.”

Guru Padmasambhava merupakan emanasi dari Tathagata Trikala ( Lampau, saat ini, dan yang akan datang ), merupakan emanasi dari Shakyamuni Buddha, Amitabha Buddha, dan Avalokitesvara Bodhisattva, Beliau telah berdiri di hadapan Raja Tibet, apakah Beliau harus bersujud kepada Raja Tibet ? 

Ini adalah sebuah etiket. Guru Padmasambhava menggunakan divyacaksu untuk mengamati, dan mengetahui bahwa Raja Trisong Detsen merupakan emanasi dari Manjusri Bodhisattva. Jadi, siapa yang harus bersembah sujud ? 

Raja Tibet berdiri di tempat, Guru Padmasambhava menggunakan divyacaksu untuk mengamati, Raja Trisong Detsen terlahir dari rahim manusia, apalagi saat itu nafsu keinginan Raja Trisong Detsen masih sangat berat, masih melekat kepada rupa dan makanan, ini merupakan ciri-ciri orang awam, tidak berbhavana, dan belum tercerahkan. Walaupun merupakan emanasi dari Manjusri Bodhisattva, namun Raja Trisong Detsen hanyalah seorang raja manusia ; Beliau belum tercerahkan, jadi masih belum bisa disebut sebagai Manjusri Bodhisattva ; Seandainya beliau telah tercerahkan, maka beliau adalah Manjusri Bodhisattva.

Guru Padmasambhava telah tercerahkan, Beliau adalah Dharmaraja, Beliau adalah Tathagata Trikala. Mereka memiliki jodoh istimewa di kehidupan lampau, sehingga saat ini keduanya dapat berjumpa. Yang menjadi tuan rumah adalah Raja Trisong Detsen, yang menjadi tamu adalah Guru Padmasambhava. Guru Padmasambhava berpikir : “Saat ini Aku adalah Tathagata, mana boleh Aku bersujud kepada raja manusia ?” Oleh karena itu, Beliau tidak bersujud ; Tetap berdiri di tempat. Raja Trisong Detsen dan Guru Padmasambhava tetap berdiri di tempat masing-masing.

Lebih lanjut Guru Padmasambhava merenung, demi mengajar para insan di masa yang akan datang, Beliau tidak boleh bersujud kepada Raja Tibet, sebab : Begitu bersujud, maka kelak semua Dharmaraja, para lama, para bhiksu harus bersujud kepada raja manusia, sehingga Dharmaraja harus bersujud kepada Raja Cakravartin, akan muncul persoalan seperti ini. Demi menegakkan etiket, maka Guru Padmasambhava tidak bersujud kepada Raja Tibet.

Akhirnya, melihat kedua orang tetap berdiri diam tanpa saling menyapa, Raja Trisong Detsen pun beranjali dan membungkukkan badan kepada Guru Padmasambhava sebagai penghormatan, memberi penghormatan hanya dengan anjali, tidak bernamaskara, hanya membungkukkan badan.

Guru Padmasambhava juga balas membungkukkan badan, mendadak, segumpal bola api melesat dari tubuh Guru Padmasambhava dan membakar ujung jubah Raja Tibet, apa artinya ? “Raja manusia hanya kedudukan lahiriah belaka, sedangkan Dharmaraja adalah Tathata, Dharmaraja adalah Raja Sejati.” Oleh karena itu, begitu jubah raja terbakar, tiada lagi jabatan raja. Maka raja manusia mesti bernamaskara kepada Dharmaraja.

Di tepi Sungai Yarlung Tsangpo, raja manusia berjumpa dengan Dharmaraja, dan demikianlah etiket telah ditetapkan : Tuan rumah mesti bernamaskara kepada tamu, sebagai tuan rumah Anda mesti bersikap sopan terhadap tamu yang Anda undang, Anda mesti beranjali atau bernamaskara terlabih dahulu kepada tamu.

Raja manusia mesti bernamaskara kepada Dharmaraja, sebab Dharmaraja meliputi jagat raya, sedangkan raja manusia hanya menguasai satu wilayah belaka, oleh karena itu Dharmaraja mengungguli raja manusia ; Tidak peduli bagaimanapun, ketika orang yang belum tercerahkan, berjumpa dengan yang telah tercerahkan, maka ia harus bernamaskara kepada orang yang telah tercerahkan ; Yang lahir dari rahim mesti bernamaskara kepada yang bermanifestasi, Raja Trisong Detsen lahir dari rahim, Guru Padmasambhava bermanifestasi dari padma, yang bermanifestasi dari padma lebih agung dari yang lahir dari rahim. Etiket berikutnya, siswa mesti bernamaskara kepada Guru. Inilah etiket yang ditegakkan oleh Guru Padmasambhjava, ini merupakan tata krama di dunia fana.

Guru Padmasambhava memiliki paling tidak 25 Bhagavati, di antaranya ada 5 yang paling masyhur, sedangkan yang senantiasa menyertai ada 2 Bhagavati, yaitu Yeshe Tsogyal dan Mandarava, wujud Guru Padmasambhava bersama dua Bhagavati kerap terlukis dalam thangka.

Dharmaraja Liansheng melanjutkan pengulasan Lamdre :

Hari ini mengulas : “Menyingkirkan kemelekatan”, kita umat manusia yang hidup di dunia, semua terbelenggu. Untuk menjadi manusia yang leluasa, mesti tiada lagi belenggu apa pun.

Kemelekatan pasti menyebabkan kerisauan, ada orang yang melekat pada hidup perkawinan, ada yang melekat pada asmara, ada yang melekat pada kebencian, ada yang melekat pada uang, pada nama, pada kedudukan, melekat pada harta, rupa, nama, makan, dan tidur.

Dalam sebuah kisah Ko’an disebutkan, ada seorang siswa yang memohon pembebasan dari Guru, Guru menanyainya : “Siapa yang mengikat Anda ?”, jika tiada yang mengikat Anda, berarti Anda telah terbebaskan.

Dharmaraja Liansheng memuji bahwa Gurudara adalah seorang wanita yang kuat dan istimewa, sanggup menanggung banyak hal demi Mahaguru, semua urusan besar maupun kecil dalam keluarga juga ditangani oleh Gurudara, termasuk urusan mengasuh dan membesarkan putra putri, urusan perpajakan dan lain sebagainya, sehingga Mahaguru tidak perlu khawatir dalam membabarkan Dharma. Gurudara sangat teguh dalam melakukan segala sesuatu, Gurudara adalah sandaran !

Dharmaraja Liansheng kembali membahas : “Bagaimana terbebaskan dari persoalan riil.”, caranya adalah mencerahi dunia riil, melepas kemelekatan, inilah pembebasan dari tumimbal lahir. Dengan demikian baru bisa merealisasi Virupa Yogi Leluasa, inilah makna sejati dari Lamdre !

50 tahun yang akan datang, 100 tahun yang akan datang, apakah Anda masih memiliki persoalan riil ?! Mohon tanya, Apakah Anda masih memiliki kemelekatan ?!

Usai Dharmadesana, acara dilanjutkan dengan penyalaan lampu memperingati Ulang Tahun ke-50 Karya Tulis Dharmaraja Liansheng. Upacara manggala dan paripurna.

Judul Asli :
【TBSN最新】蓮生活佛2017年第一場法會「蓮華生大士護摩」。蓮生活佛直指明心:過了50年後,過了100年後,請問,「你還有沒有現實問題?!」請問,「你還有什麼執着?!」

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=8&id=4149

◎ Jadwal Siaran Langsung :

*Upacara Homa di Taiwan Lei Tsang Temple : 
Setiap hari Sabtu, pukul 03 sore ( Waktu Taiwan )
Setiap hari Sabtu, pukul 02 siang ( WIB )

◎ Aplikasi Video Zhenfozong :
Silakan mengunduh di AppStore atau Google Play dengan kata kunci : TBSN ( Nama app : 真佛視頻)
Melalui aplikasi tersebut, kita dapat menyaksikan siaran langsung puja bakti dan api homa yang dipimpin oleh Dharmaraja Liansheng,serta berbagai video Dharma lainnya.

◎ Tautan Siaran Langsung Dengan Penerjemah Inggris : 
http://tbsec.org/en/live-en.html

◎ Tautan siaran langsung mandarin : 
http://tbsec.org/live.html

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Guru Buddha.