Halaman Utama > Tren Topik > 【 Kitab Pusaka Gambar Rupang Zhenfo 】Je Tsongkhapa


【 Kitab Pusaka Gambar Rupang Zhenfo 】Je Tsongkhapa



Sabtu, 9 Maret 2019 pukul 15:00 ( Waktu Taiwan ) di Taiwan Lei Tsang Temple (台灣雷藏寺), Dharmaraja Liansheng Shengyen Lu Akan Memimpin Upacara Agung Homa Je Tsongkhapa (宗喀巴祖師), menganugerahkan Abhiseka : Sadhana Penjapaan Je Tsongkhapa, dan Tri-maha-siddhi Tantra ( Meliputi : Siddhi Japa Mantra, Siddhi Samadhi, dan Siddhi Homa ), dan Melanjutkan Pengulasan Lamdre.

【Mantra Hati Je Tsongkhapa】(Pendek):“Om. Biezha. Zongkaba. Gelu. Suoha.”
【Mantra Hati Je Tsongkhapa】(Panjang):“Om A Hum. Biezha. Zongkaba. Gelu. Suoha.”

【Mengenal Pratima Je Tsongkhapa】

Je Tsongkhapa berkepala satu, berlengan dua, dan berkaki dua, tubuh berwarna putih, berparas welas asih nan sempurna, agung seperti Buddha, tubuh mengenakan jubah Dharma berwarna kuning, kepala memakai topi Dharma berwarna kuning, duduk bersila penuh di atas padma cakra candra di atas Dharmasana yang ditopang oleh 8 Maharaja Simha, kedua tangan membentuk Mudra Dharmacakra di depan dada. Masing-masing tangan memegang tangkai padma, di atas padma tangan kanan terdapat pedang mestika Prajna, di atas padma tangan kiri terdapat Sutra Prajna.

Sekujur tubuh Je Tsongkhapa memancarkan cahaya Prajna terang-benderang, membabarkan Buddhadharma nan mendalam ; Di atas kepala terdapat Buddha Trikala : Dipankara Buddha, Sakyamuni Buddha, dan Maitreya Buddha. Serta Rigsum Gonpo : Manjusri Bodhisattva, Avalokitesvara Bodhisattva, dan Vajrapani Bodhisattva. 

Berikut merupakan urutan visualisasi para Adhinatha :
Namo Dipankara Buddha
Namo Avalokitesvara Bodhisattva
Namo Sakyamuni Buddha 
Namo Manjusri Bodhisattva 
Namo Maitreya Buddha
Namo Vajrapani Bodhisattva
Je Tsongkhapa 
Sadhaka

【 Kutipan Dharmadesana Dharmaraja Lian-sheng 】

Secara spiritual, saya berkomunikasi dengan Je Tsongkhapa. Semua masih ingat, Ganden Tripa ke-100, pemimpin spiritual Gelugpa, pernah berkunjung ke Seattle Ling Shen Ching Tze Temple, yang masih ingat silakan angkat tangan, beliau memberikan sebuah jubah Dharmaraja yang pernah beliau kenakan kepada Mahaguru, dan sebuah kalasa abhiseka, sebuah vajraghanta, sebuah vajra, sebuah damaru, dan alat-alat Dharma yang digunakan dalam bersadhana. Ganden Tripa mewakili siapa ? Mewakili Je Tsongkhapa. Di Gelugpa hanya ada tiga tokoh besar, yang saat keluar ruangan, ada tiga orang yang menggunakan payung kuning untuk membuka jalan, ada juga yang mengantar dengan membawa dupa cendana, yaitu Dalai Lama, Panchen Lama, dan Ganden Tripa. Ganden Tripa mewakili Je Tsongkhapa, beliau memberikan jubah Dharmaraja, kalasa abhiseka, vajraghanta, vajra, japamala, dan damaru kepada Mahaguru.

Sesungguhnya, Ganden Tripa merupakan pemimpin spiritual Gelug, saat keluar ruangan, di depan ada yang membuka jalan, membuka payung berwarna kuning aprikot, ada pembuka jalan yang membawa dupa cendana. Hanya ada tiga tokoh 3, yaitu Dalai Lama, Panchen Lama, dan Ganden Tripa, sebab beliau adalah seorang pemimpin spiritual.

Saat Je Tsongkhapa meninggalkan kampung halaman menuju ke Tibet, Beliau membuat persembahan besar di Vihara Jokhang dan Ramoche, kemudian Avalokitesvara Bodhisattva membawa Beliau ke puncak sebuah gunung tertinggi, di sana Beliau melihat teratai berwarna hijau, Beliau mengambil teratai hijau tersebut, Avalokitesvara Bodhisattva memberitahunya : “Anda adalah Padmakumara berwarna hijau.” Saya beritahu Anda satu rahasia, Y.A. Atisa merintis Kadampa, Je Tsongkhapa merintis Gelugpa, Guru Lu merintis True Buddha School Zhenfo Zong. Sesungguhnya, Padmakumara adalah perintis ajaran, ini adalah rahasia pertama.

Avalokitesvara Bodhisattva memberitahu Je Tsongkhapa : “Anda adalah Padmakumara Hijau”, jika Anda memerhatikan riwayat Je Tsongkhapa di dunia, ada bagian yang mengungkapkan hal ini, ini adalah rahasia pertama.

Rahasia kedua, di masa hidupnya, Je Tsongkhapa sangat menganggumi Y.A. Atisa, pernah belajar banyak Dharma dari Kadampa, baik itu Sutrayana dan Tantra. Y.A. Atisa menulis Bodhipathapradipa, ‘dipa’ dalam artian obor, ada juga yang menyebutnya Risalah Pelita Jalan Menuju Pencerahan. Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan dari Je Tsongkhapa mengadopsi dari Bodhipathapradipa dan Ajaran Mengenai Tiga Jenis Insan Sesuai dengan Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, untuk menulis Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan yang berisi ajaran Sutrayana dan Tantra, sungguh luhur. Karena Beliau mengadopsi ajaran Kadampa, oleh karena itu, vihara pertama yang Beliau dirikan adalah Vihara Kadam, sekarang disebut sebagai : Biara Ganden, digunakan untuk mengenang Y.A. Atisa. Lihatlah, Bodhipathapradipa dari Y.A. Atisa ditransmisikan kepada Je Tsongkhapa, sehingga Je Tsongkhapa menuliskan : Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan.

Semasa hidup-Nya, Je Tsongkhapa memiliki 3 orang Guru, tiga orang Guru utama Beliau pandang sebagai Mulacarya, sedangkan Guru lainnya ada 14 orang, jika disebutkan lebih banyak lagi, Beliau punya 32 orang Guru, menjalin jodoh Dharma dengan 32 Guru. Beliau mempelajari Sutrayana dan Tantra.

Guru dari Mahaguru, ada 27 orang. Je Tsongkhapa berguru kepada 32 orang Guru, pengetahuan-Nya sangat luas dan mendalam, dan yang terutama adalah Madhyamika. Jangan dikira Je Tsongkhapa hanya belajar Madhyamika, keliru, Beliau juga belajar lima sastra Yogacara, dan lima sastra Madhyamika, serta mempelajari risalah yang ditulis oleh banyak Guru Sesepuh, Beliau mempelajari semuanya. Pengetahuan Beliau sangat tinggi dan dalam, berpengetahuan luas.

Guru pertama Beliau adalah Dondrup Rinchen Rinpoche, Je Tsongkhapa dibesarkan olehnya, Beliau mengajarkan Tantra kepada Je Tsongkhapa, memberikan abhiseka, Kalacakra, Yamantaka, Guhyasamaja, Cakrasamvara, kemudian juga mempelajari Hevajra, dan semua Vajra. Guru pertamanya, Dondrup Rinchen Rinpoche mengajarinya Tantra, bahkan membesarkannya sampai usia 16 – 17 tahun, kemudian mengirimnya ke Tibet.

Di Tibet, Je Tsongkhapa mengarungi seluruh Tibet, U-Tsang, Shigatse, semua wilayah telah dijelajahi oleh-Nya. Beliau berjumpa dengan seorang Guru, mulai belajar Dharma, ajaran Sutrayana dan Tantra semua dipelajari. Oleh karena itu, Beliau telah mempelajari Tantra, juga telah menekuninya, dan Guru tersebut adalah Jetsun Rendawa. Semula Jetsun Rendawa berasal dari Biara Sakya, tergolong dari sekte Sakya. Guru utama yang kedua dari Je Tsongkhapa adalah Jetsun Rendawa. Jetsun Rendawa mengajarinya Madhyamika dan Hetuvidya.

Namun, Je Tsongkhapa masih punya banyak pertanyaan atas ajaran Madhyamika, demikian pula dengan Vijnaptimatra, Beliau berjumpa dengan satu orang, orang ini adalah : Lama Umapa yang dapat bekomunikasi dengan Manjusri Bodhisattva. Je Tsongkhapa memohon kepada Lama Umapa untuk menyampaikan semua pertanyaannya kepada Manjusri Bodhisattva, kemudian Manjusri Bodhisattva langsung menjawab semua pertanyaan dari Je Tsongkhapa, sampai pada akhirnya dapat menyempurnakan Je Tsongkhapa, membentuk tiga hal utama, yaitu pandangan benar Madhyamika. Gelugpa paling mementingkan naiskramyacitta, yang kedua adalah Bodhicitta, dan yang ketiga adalah pandangan benar Madhyamika, inilah yang diberitahukan oleh Je Tsongkhapa kepada saya. Mereka mementingkan hal ini. Selain itu, juga mementingkan sila. 

Malam hari tanggal 6 September 2018, Je Tsongkhapa muncul di studio saya, parasnya sangat sempurna, nampak penuh semangat, cahaya yang dipancarkan tubuhnya beraneka warna, tangan memegang teratai hijau. Saya bertanya, siapakah Beliau, Je Tsongkhapa menjawab : “Simhanada Tathagata.”, Beliau langsung tampil dalam wujud Tathagata, saat Je Tsongkhapa mencapai Kebuddhaan, Gelar Kebuddhaan Beliau adalah : Simhanada Tathagata, ini adalah rahasia yang kedua. Siapa yang tahu bahwa Beliau adalah Simhanada Tathagata ? Silakan angkat tangan. Tidak perlu sungkan. Jika kalian tahu bahwa Beliau adalah Simhanada Tathagata silakan angkat tangan. Jika kalian tidak tahu, maka memberitahu Anda, Beliau adalah Simhanada Tathagata. Ini adalah rahasia Beliau.

Saya bertanya kepada-Nya : “Dari mana kah Anda ?” Je Tsongkhapa menjawab : “Saya ada di Aula Dalam Maitreya di Surga Tushita.” Sesungguhnya, Beliau tersenyum dan berkata : “Dharmakaya tak terhitung.” Beliau mengatakan bahwa saya adalah emanasi Beliau, Guru Lu adalah emanasi Je Tsongkhapa. Saya mengatakan : “Sepertinya saya tahu Anda adalah Je Tsongkhapa, saya sedang mencari Anda.” Je Tsongkhapa mengatakan : “Saya telah datang sendiri, Anda tidak perlu mencari.” Saya membuat permohonan : “Mohon babarkan asal-usul Anda.” Je Tsongkhapa menjawab : “Saya adalah nirmanakaya dari Manjusri Bodhisattva.”

Je Tsongkhapa juga adalah Padmakumara. Beliau mengatakan bahwa semua aktivitas-Nya adalah aktivitas Buddha, ini yang dikatakan oleh Je Tsongkhapa. 

Beliau mengatakan, di Jokhang dan Ramoche memperoleh petunjuk dari Avalokitesvara Bodhisattva, “Di puncak gunung Aku mengambil teratai berwarna hijau, oleh karena itu, Aku adalah Padmakumara Hijau.” Saya menjawab : “Ternyata satu akar.” Mengenai perjalanan bhavana Beliau, Je Tsongkhapa menjawab : “Pada usia 3 s.d. 16 tahun, belajar Tantrayana kepada Dondrup Rinchen Rinpoche, abhiseka yang diterima dan ditekuni adalah Manjusri Bodhisattva, Sarasvati Devi, dan kemudian belajar Yamantaka Vajra, Cakrasamvara, Hevajara, dan Vajrapani Bodhisattva.” Saat itu Je Tsongkhapa mengatakan : “Y.A. Atisa kerap muncul memberi petunjuk, dan meramalkan bahwa kelak saya akan membabarkan ajaran Kadampa.” Vihara pertama yang didirikan oleh-Nya adalah Vihara Kadam, saat ini adalah Biara Ganden.

Je Tsongkhapa mengatakan : “Saya adalah seorang bhiksu yang hidup suci, semua hanya demi membabarkan Dharma agung dan menyelami Buddhadharma nan luas.” Beliau mengatakan, terlebih dahulu mempelajari Madhyamika dari Nagarjuna Bodhisattva, Arya-deva, dan Candrakirti, serta Vijnaptimatra dari Maitreya, Asanga, dan Vasubandhu, juga mempelajari Hetuvidya, “Guru sarana ada banyak, mendengar dan merenungkan semua risalah.” Risalah yang Beliau pelajari sangat banyak, sekarang saya hanya sebutkan beberapa saja : Abhisamayalankara dari Maitreya Bodhisattva ; Abhidharmakosakarika atau Risalah Cahaya Terang, yang membahas mengenai tahapan mulai berbhavana sampai Kebuddhaan ; Ada lagi, Mulamadhyamakakarika, dan karya Candrakirti Bodhisattva : Madhyamakavaratara Sastra, serta karya Dignaga Bodhisattva : Pramana-samuccaya, juga : Pramanavartikka, dan Vinayakarika yaitu mengenai vinaya. Mulacarya utama dari Je Tsongkhapa adalah Jetsun Rendawa, yaitu Mulacarya yang paling dijunjung tinggi.

Je Tsongkhapa mengatakan : “Mempelajari Sutrayana dari karya tulis Nagarjuna Bodhisattva, Arya-deva, serta Asanga, Vasubandhu, Dignaga, dan Dharmakirti ; Selain itu juga mempelajari Sadhana Pancamahavajra dalam Tantra.” Menekuni Yamantaka Vajra untuk mengatasi petaka nyawa. Je Tsongkhapa mengalami banyak malapetaka, yang terutama adalah petaka nyawa.

Coba Anda renungkan, Dharmapala Mahaguru adalah Yamantaka Vajra Vidyaraja, sama seperti Je Tsongkhapa. Karya tulis Je Tsongkhapa antara lain : Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, dan Risalah Agung Tahapan Jalan Tantra, kedua risalah ini adalah yang utama, karya tulis yang lain masih sangat banyak, apakah kalian masih ingat ? Saat saya mengulas : Risalah Agung Tahapan Jalan Pencerahan, siapa yang muncul untuk mengadhisthana Mahaguru ? Je Tsongkhapa hadir untuk mengadhisthana Mahaguru.

Saat Je Tsongkhapa belajar ajaran Kadam, Y.A. Atisa juga hadir mengadhisthana, saat saya mengulas Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, Manjusri Bodhisattva dan Je Tsongkhapa muncul bersamaan untuk mengadhisthana Guru Lu, ini benar-benar terjadi, sebuah kenyataan. Je Tsongkhapa juga mengatakan : “Manjusri Bodhisattva secara langsung hadir untuk memberikan petunjuk dan bimbingan, mengatasi segala keraguan, Lama Umapa juga merupakan salah satu Guru utama.”

Oleh karena itu, jumlah Guru Akar Beliau ada 3, Dondrup Rinchen Rinpoche, Jetsun Rendawa, dan Lama Umapa. Je Tsongkhapa mengatakan : “Karena telah sempurna dalam belajar dan praktik Sutrayana dan Tantra, juga membabarkan vinaya, maka mendirikan Gelugpa.” , arti dari ‘Gelug’ adalah vinaya. Pada akhirnya, Beliau secara langsung melihat Manjusri Bodhisattva dan 35 Buddha, serta melihat semua Adhinatha, memperoleh keberhasilan tertinggi. 

Beliau mengutamakan naiskramyacitta, Bodhicitta, Madhyamika, dan vinaya. Di akhir, saya bertanya kepada Je Tsongkhapa : “Apa yang paling ingin Anda sampaikan kepada kami ?” Je Tsongkhapa mengatakan : “Menjaga sila dan tekun.” Je Tsongkhapa berharap supaya kita siswa Zhenfo harus menjaga sila dan tekun. Saya hanya mengungkapkan garis besarnya saja. Y. A. Atisa, Je Tsongkhapa, dan Guru Lu, ketiganya manunggal, semua adalah Padmakumara, tiada berbeda, ini adalah sebuah rahasia yang sangat besar. Je Tsongkhapa mencapai Kebuddhaan sebagai : Simhanada Tathagata. Beliau tidak menggunakan karmamudra, Beliau memahami perihal karmamudra, namun, Beliau tidak menggunakannya. Beliau mencapai Kebuddhaan melalui bardo, dengan gelar : Simhanada Tathagata, sangat mulia. 

Saya telah menulis “Sadhana Penjapaan Je Tsongkhapa”, kalian bisa lihat gambar Je Tsongkhapa di belakang, mantra-Nya ada yang panjang dan pendek, “Om. Biezha. Zongkaba. Gelu. Suoha” bisa juga dijapa : “Om A Hum. Biezha. Zongkapa. Gelu. Suoha.” Mudranya adalah Dharmacakra Mudra, saya peragakan, ( Mahaguru memperagakan ), sebenarnya tidak perlu diperagakan, sebab, yang digambar adalah Dharmacakra Mudra, tangan kanan mendorong ke arah luar, tangan kiri ke arah dalam, ini bermakna memutar Dharmacakra. Y.A. Atisa masuk ke Tibet memenuhi undangan raja kerajaan Guge yang memohonnya untuk memutar Dharmacakra di Tibet. Je Tsongkhapa memutar Dharmacakra agung di Tibet, Guru Lu juga memutar Dharmacakra, mudra dari Padmakumara adalah : Satu tangan Dharmadesana, satu tangan memegang padma ( Mahaguru memperagakan, kedua tangan dibentuk di depan dada ) ini juga merupakan Dharmacakra Mudra, tangan kanan mendorong ke arah luar, tangan kiri ke dalam, ini juga memutar Dharmacakra. Apakah semua juga telah merasa bahwa Je Tsongkhapa sangat penting ?

Je Tsongkhapa juga belajar Kalacakra Vajra, Guhyasamaja Vajra, Hevajra, Yamantaka, dan Mahottara Heruka, selain itu, Cakrasamvara, semua dipelajari oleh-Nya, termasuk semua Anuttara-tantra. Beliau juga pernah bertapa. Supaya Buddhadharma terus lestari, dibutuhkan beberapa siswa agung yang mendukung. Beliau menganugerahkan kedudukan Dharmaraja, jubah, dan topi Beliau sendiri kepada siswa pertama Beliau : Gyaltsab Dharma Rinchen. Sedangkan Putra Hati Beliau adalah : Khedrup Gelek Pelzang, siapa kah Beliau ? Yaitu yang kemudian menjadi silsilah Panchen Lama, ditransmisikan dari Khedrup Gelek, sedangkan Gyaltsab Je menjadi Ganden Tripa Sang Pemimpin Spiritual. 

Selain itu, bhiksu yang paling menjaga kemurnian vinaya adalah Jetsun Dragpa Gyaltsen, ada lagi, yaitu Shakya Yeshe yang diutus oleh Je Tsongkhapa untuk menjumpai Kaisar Yongle, Mingchengzu, dan Kaisar Yongle menganugerahkan Gelar Dharmaraja kepadanya : Jamchen Choje ( Dharmaraja Mahamaitri / Daci Fawang ) ; Gelar Dharmaraja Mahamaitri ( Daci Fawang ), Dharmaraja Mahayana ( Dasheng Fawang ), dan Gyalwa Karmapa ( Dabao Fawang ) merupakan gelar Dharmaraja yang dianugerahkan oleh Kaisar Yongle, salah satunya diberikan kepada Shakya Yeshe. Di Mongolia, Shakya Yeshe menitis sebagai Jetsun Dampa, dalam Bahasa Mandarin adalah : Zhangjia Huofo ( Changkya Khutukhtu ), Mahaguru memiliki silsilah dari Kanjurwa Rinpoche. Changkya Khutukhtu merupakan titisan  dari siswa dari Je Tsongkhapa, Panchen Lama juga merupakan titisan dari siswa Je Tsongkhapa, yaitu : Khedrup Gelek Pelzang. 

Sedangkan yang baru saja bersarana pada saat 5 tahun terakhir masa hidup Je Tsongkhapa adalah : Gedun Drup yang kemudian menjadi Dalai Lama, merupakan siswa paling kecil dari Je Tsongkhapa. Akan tetapi, Putra Hati yang sesungguhnya adalah Panchen Lama. Dalai Lama, Panchen Lama, Ganden Tripa, Changkya Khutukhtu dari Mongolia, Kanjurwa Khutukhtu. Saya membabarkan perihal kisah hidup Je Tsongkhapa di masa lalu, kelak harus ada seorang penerus silsilah yang agung yang akan meneruskan silsilah ini. 

Dahulu, saat Je Tsongkhapa hidup di dunia, terlebih dahulu mendirikan Vihara Kadam atau Biara Ganden, kemudian mendirikan Vihara Drepung, dan disusul dengan pendirian Biara Sera, ini adalah tiga vihara utama Gelug di Tibet, selain itu, ada juga Biara Tashi Lhunpo di perbatasan Shigatse, biara Kumbum di tempat kelahiran Je Tsongkhapa di Qinghai, dan Biara Labrang di Gansu, disebut sebagai enam vihara utama Gelug. Demikianlah keagungan kehidupan Je Tsongkhapa.

Saat itu, ketika saya berjumpa dengan Dalai Lama, Dalai Lama menanyai saya : “Bagaimana Anda menjelaskan mengenai ‘rupa’ dan ‘sunya’.” Dengan kata lain, ‘eksistensi’ dan ‘sunya’, saya mengatakan : “Berpasangan.”, otak kalian jangan melantur, begitu membicarakan berpasangan, kalian pun berpikir pasangan pria dan wanita, sungguh otak pernuh kotoran. Makna dari berpasangan bukan seperti itu, “Rupa tiada berbeda dengan sunya, sunya tiada berbeda dengan rupa, rupa adalah sunya, dan sunya adalah rupa.”, ini adalah “Rupa dan sunya berpasangan.”, “Eksistensi dan sunya berpasangan”.

Saat itu, ada banyak yang berpegangan pada konsep sarvastivada, yaitu : Empat Kebenaran Mulia, ada juga yang berpegangan pada konsep segala sesuatu tidak nyata ( ajaran sunya ), Manjusri Bodhisattva dan Je Tsongkhapa mengatakan : “Saya beritahu Anda, Empat Kebenaran Mulia adalah Dharma lokiya, Anda mesti menghargainya, tanpa Dharma lokiya tidak akan ada Dharma lokuttara, belajar Buddhadharma dimulai dari Dharma lokiya, sampai pada akhirnya muncul Kebenaran Terunggul dari lokuttara.” Ini adalah : “Eksistensi dan sunya berpasangan”, saya menjawab Dalai Lama : “Berpasangan.” Entah apa yang dipikirkan oleh Dalai Lama, beliau menjawab : “Alamiah, Anda mengatakan ‘berpasangan’, saya mengatakan ‘alamiah’.” Ternyata beliau tidak tahu bahwa ‘berpasangan’ yang ditransmisikan oleh Gurunya yang paling awal : Je Tsongkhapa, adalah : Eksistensi dan sunya berpasangan, rupa dan sunya berpasangan, “Rupa tiada berbeda dengan sunya, sunya tiada berbeda dengan rupa, rupa adalah sunya, dan sunya adalah rupa.”, ini disebutkan dalam Sutra Hati, Sakyamuni Buddha juga tahu, ‘eksistensi’ dan ‘sunya’ semua mesti dihargai, tanpa ‘eksistensi’ tiada ‘sunya’, dari sini muncul : Madhyamika-svatantrika, sebab sifat diri juga sunya. Saya beritahu Anda, sifat nidana adalah sunya, sifat diri juga sunya, ini adalah ajaran kebenaran terunggul. Pada akhirnya, Je Tsongkhapa memahami rupa dan sunya berpasangan, Beliau mengatakan : “Nidana terbentuk.”, “Sifat nidana adalah sunya” dan “Nidana terbentuk” keduanya berpasangan menjadi : Madhyamika-prasangika. 

Saya beritahu Anda, ilmu di dalam ini sangat mendalam, Madhyamika-svatantrika, dan Madhyamika-prasangika, Je Tsongkhapa berpedoman pada : Madhyamika-prasangika, menurut Beliau, kebenaran duniawi sangat penting, tanpa kebenaran duniawi tidak akan ada sunyata, nidana terbentuk, demikianlah Manjusri Bodhisattva membabarkan kepada Je Tsongkhapa, mestinya adalah : Eksistensi dan sunya berpasangan. Selain itu, ada : Sukha dan sunya berpasangan, sukha adalah upaya kausalya, sunya adalah kebenaran terunggul. Keutamaan pada Je Tsongkhapa adalah, pada saat Beliau memasuki samadhi, sukha dan sunya berpasangan, eksistensi dan sunya berpasangan. 

◎ Je Tsongkhapa juga mengajarkan satu hal lagi kepada saya, apa itu ‘samatha-vipasyana’ ? Ada dua metode bhavana, yang satu adalah pelatihan penghentian pikiran, dan yang satu adalah pelatihan visualisasi, jika Anda lebih berpihak kepada penghentian pikiran, maka Anda akan masuk ke dalam sunya, tiada pikiran apa pun, ini adalah pelatihan samatha. Di saat Anda belum berhasil dalam samatha, Anda mesti berlatih menggunakan visualisasi, oleh karena itu : “Samatha dan vipasayana berpasangan”. Demikianlah metode memasuki samadhi yang dibabarkan oleh Je Tsongkhapa kepada saya, ada dua macam cara untuk memasuki samadhi, yang satu adalah latihan menghentikan pikiran ( samatha ), dan yang satu adalah latihan visualisasi ( vipasyana ), di saat Anda tidak bisa menghentikan pikiran, gunakan latihan visualisasi, di saat visualisasi Anda mencapai puncak, Anda gunakan penghentian pikiran, ini adalah : “Samatha dan vipasyana berpasangan”, ini adalah cara terbaik untuk memasuki samadhi. Anda tidak bisa hanya berlatih samatha, sebab pikiran tidak bisa dihentikan, di saat muncul pikiran untuk menghentikan pikiran, itu masih merupakan pikiran, di saat Anda ingin menghentikan pikiran Anda, pikiran masih merupakan pikiran, oleh karena itu, Anda mesti bervisualisasi dengan fokus, terus sampai semua pikiran tiada, barulah merupakan : “Samatha dan vipasayana berpasangan”, terus sampai keberhasilan. Inilah pedoman dari Je Tsongkhapa, diajarkan oleh Manjusri Bodhisattva, yaitu pandangan benar Madhyamika. 

◎ Perhatian : Penekunan sadhana tantra Zhenfo harus sesuai kaidah Dharma, yaitu memiliki tekad Bodhicitta, bersarana kepada Dharmaraja Liansheng, menaati sila, menguatkan fondasi Catur-prayoga dan Guru-yoga, kemudian barulah memohon abhiseka sadhana adhinatha ini.

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://indonesia.tbsn.org/modules/news3/article.php?storyid=5

Judul Asli :
【真佛法相寶典】宗喀巴祖師

Sumber : 
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=38&csid=1&id=3825

◎ Tautan Siaran Langsung Upacara Homa di Taiwan Lei Tsang Temple, setiap hari Sabtu pukul 14:00 ( WIB )

Klik di sini untuk tautan siaran langsung dengan penerjemah bahasa Inggris

Klik di sini untuk tautan siaran langsung bahasa Mandarin

◎ Segera berlangganan (Subscribe) video resmi Zhenfozong :
http://youtube.com/c/truebuddhaschoolnet
https://vimeo.com/truebuddhaschool

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra : 
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Indonesia :
https://www.facebook.com/syltbsnindonesia 

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Inggris :
https://www.facebook.com/syltbsnenglish

◎ Laman facebook TBSN Bahasa Mandarin :
www.facebook.com/syltbsn

Mari bookmark situs resmi dan laman facebook Zhenfo Zong TBSN , kami akan senantiasa berusaha menyajikan berita dan Dharmadesana terbaru dari Dharmaraja Lian-sheng, supaya kita semua senantiasa bersama Buddha Guru.