Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Dharmadesana Mahaguru > Ceramah Terbaru Dharmaraja Liansheng Tahun 2014 > 2014-12-27 Sifat Dasar Manusia Terus-menerus Berubah Tiada Aku dan Tiada Kelahiran Baru Dapat Mewujudkan Makna Sunya


2014-12-27 Sifat Dasar Manusia Terus-menerus Berubah Tiada Aku dan Tiada Kelahiran Baru Dapat Mewujudkan Makna Sunya

Ceramah Sadhana Dzogchen ke-119 oleh Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada Upacara Agung Homa Kalacakra, Sabtu, 27 Desember 2014 di Taiwan Lei Tsang Temple

Kita sembah puja pada guru silsilah, sembah puja pada Bhiksu Liaoming, sembah puja pada Guru Sakya Dezhung, sembah puja pada Gyalwa Karmapa ke-16, sembah puja pada Guru Thubten Dhargye, sembah puja pada Triratna mandala, sembah puja pada adinata homa Buddha Kalacakra.

Gurudhara, Thubten Ksiti Rinpoche, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, dan umat se-Dharma di internet, tamu agung yang hadir hari ini adalah Sekretaris Jenderal Coordinating Committee for North American Affairs, Executive Yuan Dubes Daniel T.C. Liao dan istri Sdri. Judy, Akademisi Academy of Sinica Prof. Hsi-yi Chu dan istri Ibu Chen Wen-wen, Nantou County Aboriginal Council Ketua Zhang Zi-xiao dan istri Ibu Cai Bao-lian, Zhongshan Medical University Hospital director of plastic surgery DR. Zheng Sen-long, Asian Institute of Knowledge Management in Hong Kong DR. Li Da-cheng dan istri Ibu Lin Mei-yi, tim Profesor Doktor Zhenfo Zong – profesor yang direkrut khusus Wang Jin-xian, Prof. Wang Li, Prof. Hong Xin-yi, Prof. Lin Xiu-ju, Prof. Cai Guo-yu, Prof. Gu Hao-xiang, Prof. Ye Shu-wen, Prof. You Jiang-cheng, DR. Liang Chao-fan, dr. Lin Jun-an. Perwakilan anggota parlemen Kota Tainan Cai Wang-quan, perwakilan anggota parlemen Kota Kaohsiung Xu Hui-yu, perwakilan anggota parlemen Kota Taichung Su Bo-xing Ibu Liu Neng-xiu, penasihat hukum TBF Pengacara Luo Ri-liang, Pengacara Huang Yue-qin, ketua umum Lotus Light Charity Society dunia Acarya Changren, Ketua umum Lotus Light Charity Society kawasan Taiwan Bpk. Li Chun-yang, master ukiran pasir Master Wang Song-guan, seniman terkenal Hong Kong Bpk. Alex Fong dan Nona Stephy Tang, my university classmates Bpk. Zhu Jin-shui dan nyonya Ibu Cheng Ze-xia, presiden direktur CHING YI BIOTECH CO.,LTD Ibu Zheng Yu-zhen, manajer Bagian Perencanaan dari Taiwan financial holding insurance on behalf of the Bank of Taiwan Bpk. Lin Wen-hong,  produser acara Gei Ni Dian Shang Xin Deng di CTI Sdri. Xu Ya-qi, my sister Ibu Sheng-mei Lu. Selamat siang semua! Apa kabar semua! (Bahasa Taiwan) Selamat siang semua! Apa kabar semua! (Bahasa Mandarin) Apa kabar! Apa kabar semua! (Bahasa Kanton) Emkoi! Emkoisai! (Bahasa Kanton: terima kasih semua) Thank you for coming. Good afternoon! (Bahasa Inggris) (Bahasa Jepang: apa kabar) Selamag siang and selamat petang! (Bahasa Indonesia) Hola Amigo! (Bahasa Spanyol: apa kabar) Sawadika! (Bahasa Thai: apa kabar) Kam-sam-ni-da! (Bahasa Korea: terima kasih) Merry Christmas and Happy New Year! Selamat natal dan tahun baru!

Hari ini adalah homa Kalacakra. Saat saya transmisi Sadhana Kalacakra, pertama kali adalah tahun 2000, saya transmisi di Hong Kong. Kemudian saya juga transmisi abhiseka agung Kalacakra bersusulan di banyak negara, sadhana yang ditransmisikan sangat banyak, termasuk Sadhana Vajrakila Sejati Kalacakra, Sadhana 9 Tingkat Dhyana Kalacakra, Sadhana Adidharma Kalacakra, Sadhana Perisai Perlindungan Kalacakra, Sadhana Cakra Surya dan Candra Kalacakra, Sadhana Maha-avineka Rantai Vajra Kalacakra.

Saya ingat ada Hong Kong, Singapura, Sadhana Adidharma (di Australia) atau Taiwan Lei Tsang Temple? Sadhana Perisai Perlindungan di Stadium Linkou, Sadhana Cakra Surya dan Candra di Panama, Sadhana Rantai Vajra di Indonesia, Inggris? Sadhana Sila. Malaysia? Oh! Di Malaysia transmisi Sadhana Vajrakila. Selain itu, juga ditransmisikan di New York, banyak tempat. Jadi, abhiseka hari ini termasuk Sadhana Vajrakila Sejati Kalacakra, Sadhana 9 Tingkat Dhyana, Sadhana Adidharma, Sadhana Perisai Perlindungan, Sadhana Cakra Surya dan Candra, Sadhana Avineka Rantai Vajra, Sadhana Sila, dan masih banyak sadhana, di sini tidak dituliskan, pernah ditransmisikan di banyak negara di berbagai penjuru dunia. Hari ini sama-sama mau abhiseka 7 jenis abhiseka agung, satu adalah abhiseka air, melambangkan lima elemen utama menjelma menjadi lima Bhagawati; abhiseka mahkota, yaitu melahirkan usnisa, dengan kata lain, lima skanda menjelma menjadi lima Buddha; abhiseka pita, pita adalah perhiasan Tathagata lima penjuru, seperti yang Mahaguru sekarang kenakan tergolong pita, arti dari pita adalah perhiasan, menyucikan prana sadhaka; abhiseka gantha dan vajra, yaitu hati Buddha dan ucapan Buddha, menyucikan sepasang nadi; abhiseka perilaku, yaitu menjaga silsilah, menjaga Sila, tidak melanggar Samaya; abhiseka nama, yaitu memberikan nama suci; abhiseka memperkenankan, diperkenankan menekuni sadhana Tantra Kalacakra. Di sinilah makna utama dari tujuh jenis abhiseka agung ini. Lingkup Sadhana Kalacakra sangat luas, di bumi Tibet hanya Lama agung mentransmisikan Sadhana Kalacakra, Dalai Lama mentransmisikan Sadhana Kalacakra, Panchan Lama mentransmisikan Sadhana Kalacakra, selain itu,  Gongtang Tshang Rinpoche mentransmiskan Sadhana Kalacakra, dulu Kalu Rinpoche juga mentransmisikan Sadhana Kalacakra. Selain itu jarang sekali, dari Bangsa Han, tidak ada orang mentransmisikan Sadhana Kalacakra, saat ini hanya Mahaguru seorang saja yang mentransmisikan.

Sadhana Kalacakra harus memiliki silsilah, dua silsilah saya yang terpenting, pertama adalah Kanjurwa Rinpoche dari Mongolia, Mongolia ada dua orang Rinpoche agung yang berhubungan dengan pemerintah, satu adalah ICang-skya Khutukhtu, satu adalah Kanjurwa Rinpoche. Kanjurwa Rinpoche mentransmisikan sadhana kepada Thubten Nima, Beliau pada zaman Dinasti Man dan Qing, pernah menyusun semua Sutra Tibetan Tantra, Thubten Nima mentransmisikan sadhana kepada Thubten Dali, Thubten Dali adalah guru dari Thubten Dhargye, Thubten Dharyge mentransmisikan sadhana kepada saya Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu, ini adalah silsilah pertama. Saya ingat pada saat upacara Hong Kong, saya sempat memperlihatkan pada Anda semua cenderamata silsilah yang diberikan oleh Guru Thubten Dhargye kepada saya, yaitu sepucuk surat, di dalam tertulis silsilah dan metode penekunan Sadhana Kalacakra, ini adalah Sadhana Kalacakra yang Mahaguru transmisikan, ada silsilahnya, bukan transmisi sembarangan, juga bukan transmisi palsu, melainkan silsilah asli. Silsilah kedua adalah Panchan ke-9, saat Panchan ke-9 kembali dari Beijing ke Tibet, sampai di Gansu, di Qinghai, Yushu, Acarya Changren pernah melakukan bakti sosial di sana, saat Panchan ke-9 berada di Qinghai, Yushu, mentransmisikan Sadhana Kalacakra yang terakhir kali. Guru Sakya Dezhung di sana mendapatkan Sadhana Kalacakra, Beliau mentransmisikan kepada saya, yaitu Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu, ini adalah dua sislilah. Sehingga, merupakan silsilah sejati, bukan silsilah palsu, juga bukan ditransmisikan sembarangan, melainkan sejati.

Arti dari Kalacakra itu sendiri, sebenarnya sangat sederhana, namun, sulit sekali diulas secara terperinci. Jika setiap kali transmisi sadhana diulas secara terperinci, menjelaskan sangat detil, hari ini jika mau diulas secara terperinci, mulai sekarang duduk, kalian kira-kira harus duduk selama sebulan, baru bisa selesai diulas, ini adalah bagian pengulasan secara terperinci, karena mentransmisikan begitu banyak sadhana. Jika kalian butuh data transmisi sadhana, mintalah cd-nya pada panitia setempat, apakah ada pengulasan sadhana Kalacakra yang lengkap? Dengan demikian, kalian dapatkan semuanya. Masing-masing ada panitia yang menyusun semua ulasan Mahaguru.

Kalacakra disebut juga Kalacakra Dalam. Apa itu Kalacakra Dalam? Yaitu kalian sendiri, tubuh kalian sendiri ada Kalacakra Dalam, pelatihan prana, nadi, bindu merupakan penekunan Kalacakra Dalam; ada satu lagi adalah penekunan Kalacakra Luar. Dijelaskan secara sederhana, penekunan Kalacakra Luar adalah alam semesta, yaitu matahari, bulan, dan bintang, ditambah satu logo, yaitu yidam Kalacakra Anda – Kalacakra Vajra adalah logo. Jika kita mampu manfaatkan perpaduan dari Kalacakra Dalam dan Kalacakra Luar, maka memasuki Kalacakra Lain. Apa yang dimaksud Kalacakra Lain? Yaitu Kalacakra Dalam ditambah Kalacakra Luar menjadi Kalacakra Lain; karena berubah menjadi Kalacakra Lain, sama halnya kita adalah Buddha Kalacakra. Makanya, ada manfaat demikian, karena kita menekuni Sadhana Kalacakra, kita pun akan berubah menjadi Buddha Kalacakra.

Sadhana Kalacakra memiliki Adidharma yang sangat agung dan sangat luar biasa, mari kita jelaskan sebentar; pertama—memperoleh abhiseka Kalacakra, jika dapat menekuni sungguh-sungguh dan menjaga Sila, maka bisa mencapai kebuddhaan dalam 7 kehidupan; kedua, memperoleh abhiseka Sadhana Kalacakra, kemudian menjapa mantra dan bersadhana, bisa terhindar dari segala bencana; ketiga, menekuni Sadhana Kalacakra dan menjapa mantra, kelak dalam kehidupan turun-menurun tidak akan masuk ke 3 alam samsara; keempat, menerima abhiseka Sadhana Kalacakra, bisa mencapai kebuddhaan dalam 7 kehidupan, menekuni sadhana ini bisa meredakan perang dan bencana, membantu kedamaian dan keselamatan, iklim teratur, panen berlimpah, negara makmur dan rakyat aman sentosa, terlahir di alam suci yidam Kerajaan Shambhala.

Dulu ada sebuah lagu Shangri-La, sebenarnya adalah Shambhala, itu adalah sebuah alam suci. Raja kedua Shambhala adalah Raja Pundarika, yaitu inkarnasi dari Mahaguru. Raja Pundarika menulis sebuah buku berjudul Sastra Terang Tanpa Cela (disebut juga cahaya tanpa cela, cahaya bersih), buku ini tersebar luas, ditulis oleh Raja Pundarika. Raja Yuexian (Dharmaraja) dari Shambhala, memperoleh Sadhana Kalacakra dari Sang Buddha, lalu dibawa pulang ke Shambhala, ditransmisikan kepada raja dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, Sadhana Kalacakra adalah suatu Dharma yang tersebar luas di dalam alam suci Shambhala. Raja Pundarika adalah raja generasi kedua (dari enam Dharmaraja setelah melanjutkan kepemimpinan Yuexian, Raja Pundarika adalah Raja Cakravartin kedua), raja generasi pertama seharusnya adalah titisan dari Bodhisattva Manjushri, raja generasi kedua adalah Raja Pundarika, atau titisan dari Padmakumara sendiri. Oleh karena itu, Beliau menulis Sastra Terang Tanpa Cela,  khusus mengulas tentang Sadhana Kalacakra. Mahaguru dapat memperoleh transmisi sadhana demikian, mengulas Sadhana Kalacakra begitu lama, karena ada asal usulnya, ada sebabnya. Jadi, Mahaguru bisa mengulas Sadhana Kalacakra. Saya juga lama sekali mengulas Sadhana Kalacakra, lama sekali mentransmisikan Sadhana Kalacakra. Kita semua harus ingat, banyak kegunaan dan manfaat Sadhana Kalacakra, harus melatih prana, nadi, bindu dari dalam, dan sunyata dari Kalacakra itu sendiri. Mantra hati Kalacakra mengandung sepuluh makna, total keseluruhan ada sepuluh aksara, “Om. Ha. Ka Ma La. Wa La Ya. Suo Ha.” Pas sepuluh aksara, masing-masing mengandung arti di dalamnya, saya juga pernah menjelaskan, yaitu Sadhana Adidharma Kalacakra. Jika kita memahami Sadhana Adidharma, maka bisa mengetahui arti dari Kalacakra, saat itu ketika kita menekuni Sadhana Kalacakra, bisa memasuki Kalacakra Lain, mendapatkan Adidharma; setelah mendapatkan Adidharma, kita adalah Buddha Kalacakra, sama halnya titisan dari Buddha Kalacakra. Ini sangat penting.

Mari kita bahas lagi tentang Dzogchen Tantra, saya baca satu paragraf buku, “Dharmacakra telah mulai berputar. Dharmacakra dari sadhana Tibetan Tantra yang pertama telah mulai berputar. Anuttara Tantra Sadhana Dzogchen akan muncul di seluruh dunia. Sadhana Dzogchen adalah sadhana pertama yang tertinggi, merupakan sadhana yang paling luar biasa dari semua sadhana luar biasa, merupakan esensi, sepenuhnya adalah sifat dasar seutuhnya dan mewujudkan makna sunya merupakan Dharma ekayana yang mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang, dimohon kepada orang yang suka dan orang yang berjodoh untuk segera menerima abhiseka sarana, asalkan menaati bimbingan yang tepat dari Acarya Liansheng, gigih dan tekun, pasti bisa memperoleh tingkatan alam unggul yang sempurna dan mencapai Siddhi kebuddhaan Padmakumara. Dharmacakra diputar oleh Vajracarya Liansheng yang memiliki kebijaksanaan dan berkah yang sempurna, serta silsilah Padmasambhava yang mahatinggi, acarya demikian adalah acarya yang luar biasa, Acarya Liansheng memberikan adhistana kepada para siswa, para siswa setiap hari bersadhana tanpa berhenti di tengah jalan, siswa demikian, kelak pasti akan memperoleh keberhasilan agung, buah mulia pencapaian kebuddhaan dalam tubuh sekarang pun bisa diperoleh dengan mengulurkan tangan. Dharmacakra agung Dzogchen diputar oleh Vajracarya Liansheng.”

Sifat dasar seutuhnya dan mewujudkan makna sunya, kedua kalimat ini dalam satu paragraf artikel ini paling penting. Saya pernah menceritakan satu hal, dulu, kulit saya terkena sedikit penyakit, saya mencari seorang dr. Liao, saya bertanya padanya, “Dr. Liao, apakah penyakit kulit saya akan sembuh?” Dr. Liao menjawab, “Akan sembuh.” Saya bertanya, “Apakah akan kambuh lagi?” Dr. Liao menjawab, “Akan kambuh lagi.” Saya berkata, “Setelah diobati akan kambuh lagi, apa maksudnya?” Dr. Liao bertanya pada saya, “Mahaguru Lu, pernahkah Anda demam?” Saya berkata, “Pernah.” “Apakah demam Anda akan kambuh lagi?” “Ya.” Dr. Liao menjawab, “Begitulah.” “Kapan penyakit kulit sembuh hingga ke akar-akarnya dan sembuh selamanya?” Dr. Liao menjawab, “Setelah meninggal dunia, tidak akan kambuh lagi.” Setelah manusia meninggal dunia, penyakit apapun tidak ada lagi.

Saya beritahu Anda semua! Kita semua mengira tubuh ini adalah milik kita sendiri, inilah sifat dasar seutuhnya, sifat dasar manusia, kita mengira orang yang duduk di sini adalah Sheng-yen Lu, belum tentu. Menurut Anda, tangan ini adalah milik Sheng-yen Lu? Tentu saja bukan. Apakah kaki milik Sheng-yen Lu? Juga bukan. Jantung milik Sheng-yen Lu? Juga bukan. Anda kira bisa mengendalikan diri Anda sendiri? No, Anda tidak mampu mengendalikan diri Anda sendiri. Mengapa? Ketika seseorang suatu hari terkena stroke, tangannya bukan miliknya, ia tidak mampu kendalikan; kaki juga bukan miliknya, karena ia tidak mampu berjalan.

Anda kira jantung Anda milik Anda sendiri? “Aduh? Jantung adalah milik saya.” Sesungguhnya, suatu hari jantung tidak berdetak lagi, jantung masih milik Anda? Tentu saja bukan, ketika Anda lupa ingatan, ah? Changzhi dan saya hampir lupa ingatan, manula berumur 70 tahun! Saya sebentar lagi umur 71 tahun, saya hilang ingatan, lantas, otak milik saya? Bukan. Saya tidak mampu mengingat nama saya sendiri, saya tidak mampu mengingat alamat saya sendiri, tidak mampu mengingat di mana tempat tinggal saya. Lantas apa yang merupakan milik saya? Ini merupakan sifat dasar seutuhnya. Mari kita pikirkan sejenak terlebih dahulu, benda apa yang merupakan milik saya, tidak ada satu benda pun merupakan milik saya, wajah terus-menerus berubah, saya yang masih seorang pelajar, saya yang masih muda, saya yang baru lahir, dengan saya yang sekarang berumur 70 tahun, mana yang merupakan diri saya? Semua sedang mengalami perubahan, inilah sifat dasar.

Mari kita cerita satu yang sangat sederhana, akhir-akhir ini terlihat dalam berita, pemimpin Sunflower Student Movement, Chen Wei-yan, jika Anda membaca berita, Anda pun tahu tangan bukan miliknya, tangannya bisa loncat sendiri, tiba-tiba satu pikiran timbul, tangannya pun loncat ke tempat lain, ia tidak menyuruhnya loncat! Tetapi loncat sendiri. Jadi, bukan kesalahan Chen Wei-yan, melainkan kesalahan tangan. (Mahaguru bercanda) Karena ia tidak mampu mengendalikan tangannya, tidak mampu mengendalikan menjadi residivis, dapat mengendalikan, maka bukan residivis. Mahaguru masih lumayan, Mahaguru dapat mengendalikan, ada orang tidak dapat mengendalikan tangannya sendiri. Saya pernah dengar ada seorang putri konglomerat yang sangat kaya raya, ia tidak mampu mengendalikan tangannya sendiri, semua benda yang dirabanya akan dicuri, ada orang seperti ini, keluarganya sangat kaya-raya, apapun mampu dibelinya, namun, setiap benda yang disentuhnya, ia curi. Jadi, jika ia bertandang ke rumah Anda, benda-benda mahal harus disimpan, karena tangan bukan miliknya! Mengapa? Karena semua benda yang dirabanya, ia akan curi. Seperti tangan Bapak Chen, sebenarnya juga bukan miliknya, seharusnya bukan kesalahannya, saya mengira ini adalah semacam penyakit, otak dan tangan, begitu pikiran bergerak, tangan pun pergi, ia tidak berdaya, ia juga tahu ini tidak benar, namun, tangan tidak mampu dikendalikan. Mahaguru bisa mengendalikan. Mantan teman wanita Mahaguru, setiap kali Mahaguru ingin mengejar teman wanita, saya akan berkata padanya, “Bolehkah saya mencium Anda sebentar?” Ini meminta persetujuannya, jika ia diam-diam mengiyakan, tidak menolak, saya pun boleh menciumnya sebentar, ini diperkenankan, ini berada dalam lingkup diperkenankan, itu boleh, tidak termasuk melakukan pelanggaran. Jika Anda melakukan etiket internasional tanpa izin, mutlak melakukan pelanggaran. Saya pernah bertanya pada Duta Besar, apa itu etiket internasional, apakah etiket internasional cium bibir? Ia mengatakan tidak ada, cium pipi barulah etiket internasional, etiket internasional ini diperkenankan. Oleh karena itu, Anda tentu harus meminta persetujuan pasangan Anda, Mahaguru adalah orang yang mampu mengendalikan, ketahuilah, dijamin Anda semua sangat aman.

Oleh karena itu, saya telah menjelaskan, apa yang dimaksud tiada aku? Kita bisa mencapai tiada aku di dalam fungsi sifat manusia. Selain “mewujudkan makna sunya” setelah tiada aku baru dapat mewujudkan makna sunya. Seperti semua yidam di dalam angkasa, semua adalah makna sunya, Sadhana Kalacakra, Sadhana 5 Maha-vajra, semua berada antara kelahiran dan tiada kelahiran, ini adalah satu poin yang sangat penting. Oleh karena itu, “sifat dasar seutuhnya” dan “mewujudkan makna sunya” kedua ungkapan ini sangat penting, sama halnya dengan mengulas tentang pencerahan pada Anda semua.

Suatu hari masuk pelajaran Mandarin, guru mengatakan, “Lain kali main internet, jangan sembarangan menyebut diri sendiri penulis, karena sekarang sama sekali tidak perlu menulis dengan pulpen.” Siswa balik bertanya, “Kalau begitu, harus disebut apa?” Guru berkata, “Jianren (homonim dengan orang murahan), karena Anda menekan papan tuts.” Dulu ada sebuah lelucon, ada seseorang pintar memainkan pedang, sampai akhirnya ia melatih hingga mencapai penyatuan manusia dan pedang, akhirnya berubah menjadi manusia pedang. Jangan sebut diri sendiri penulis, sekarang tidak ada penulis lagi, karena tidak menulis dengan pulpen lagi! Siswa bertanya lagi, “Smart phone yang sekarang menggunakan model sentuh, juga tidak ada papan tuts, kalau begitu, bagaimana menyebutnya?” Guru berkata, “Harus disebut Chusheng (homonim dengan hewan) baru benar.” Ini juga berubah, sedang berubah! Dulu, kita menulis artikel menyebut diri sendiri penulis, sekarang bukan laig, sekarang menggunakan computer, menggunakan papan tuts, tidak menulis lagi. Oleh karena itu, tidak bisa disebut penulis, itu adalah semacam perubahan. Jadi, kita sendiri sedang berubah. Bukankah Jay Chou akhir-akhir ini mau menikah dengan Hannah Quinlivan! Saya ingat dulu rambut saya sama seperti Jay Chou, cukup gagah, sungguh! Hanya saja perawakan saya kalau dengan Jay Chou saja. Jay Chou tidak tinggi? Saya kira ia tinggi dan tampan, kalau tidak tinggi, berarti hampir sama tinggi! Saat saya muda, boleh dikatakan gagah juga, mempunyai rambut yang jika dikibaskan kira-kira menutupi sebelah mata. Juga bisa berubah-ubah, sungugh! Semua adalah perubahan! Buddha mengatakan, anicca, yaitu perubahan. Jadi, jika kita dapat memahami sifat dasar, kita akan mengerti bahwa itu adalah semacam perubahan, dari dalam perubahan, karena kita mengamati dengan cermat, mengalami dengan seksama perubahan-perubahan demikian, kita tahu ternyata adalah sunya, kita sendiri adalah sunya. Semua orang mengatakan, “Di mana hati itu?” “Hati adalah pikiran.” Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran adalah hati. Di mana hati yang sesungguhnya? Yang dilihat mata Anda, didengar telinga, dicium hidung, dikecap lidah, disentuh tubuh, diterima pikiran, kita merasakan semuanya. Sesungguhnya setelah diuraikan, kita juga tidak mampu melihat hati kita, tidak ada benda yang bisa mewakili hati kita, itu sebabnya, hati itu tidak ada, tubuh juga tidak ada, maka mewujudkan makna sunya, di sinilah titik berat dari makna sunya.

Paman Abao sebelum meninggal dunia berkata pada Abao, “Saya telah meninggal dunia, kamu katakan saja bahwa saya terkena aids, jangan katakan kena kanker.” Abao berkata, “Paman, aids sangat tidak enak didengar!” Paman Abao berkata, “Memang tidak enak didengar, akan tetapi, jika mengatakan seperti ini, setidaknya tidak ada orang yang mengejar bibimu.” Jurus ini sangat hebat, banyak hal akan berubah, sungguh! Contohnya menikah, telah bertunangan, telah menikah, berarti sudah beres, ditebas, pisau ini ditebas, beres. Sesungguhnya belum! Saling balas dendam, kapan selesai? Ini baru mulai! Hari-hari berikutnya masih lama! Setiap kali saya memberkati pernikahan kalian, saya tidak berani menjamin kalian akan langgeng sampai tua, jika kalian kekal berpisah, bagaimana? Kalau begitu, kalian berdua sama-sama menjadi bhiksu/ni! Kalian menjadi mitra, alangkah baiknya jika kalian berdua bersama-sama menjadi bhiksu/ni! Semua sedang berubah, rencana terus-menerus berubah. Yang disabdakan oleh Buddha adalah kebenaran, sifat dasar adalah semua sedang berubah. Ketika kita telah mencapai tiada aku, bahkan tiada kelahiran, baru dapat mewujudkan makna sunya Anda, setelah masuk tiada aku, berikutnya adalah tiada kelahiran.

Kita semua tahu, Mahaguru ada banyak kehidupan lampau, past life, sekarang masih ada? Semua tiada kelahiran. Cepat sekali, kehidupan sekarang juga akan menjadi kehidupan lampau, juga tidak ada lagi. Inilah mewujudkan makna sunya! Justru supaya kita semua tahu, saya harus beritahu Anda semua apa itu mewujudkan makna sunya, kemudian, dari sini Anda mencerahi sebuah kebenaran, itulah pencerahan.

Mari cerita sebuah lelucon, suatu hari istri sangat terharu dan berkata, “Menikah bertahun-tahun, kamu masih menaruh foto saya di dalam dompet.” Suami berkata, “Ketika terjadi masalah, sesulit apapun saya, saya melihat fotomu, saya pun lega.” Istri berkata, “Betapa besarnya kekuatan pengaruh saya terhadap dirimu!” Suami berkata, “Benar! Menatap fotomu, saya bertanya pada diri sendiri, masih ada kesulitan apa lagi yang lebih besar dari ini?” Ternyata istri adalah kesulitan terbesar. Memang demikian, tidak salah. Lihat saja! Mahaguru setiap hari mengenang Mahaguru. Pada upacara, Beliau jelas-jelas tidak ada, meja kursi kosong, saya tetap memanggil Gurudhara, ini bisa menyingkirkan banyak kerisauan saya. Gurudhara karena kurang sehat, semua orang selalu bertanya saya masalah ini, Beliau mesti istirahat, karena dokter menasihatinya harus istirahat, harus banyak istirahat, Beliau adalah ibu dari 5 juta siswa, Beliau benar-benar demi aliran, terus-menerus sibuk 40 tahun, sangat lelah, banyak masalah besar, masalah kecil, semua diatasi olehnya, masalah apa yang bukan diatasi olehnya? Semua diatasi olehnya, aliran mengalami banyak kesulitan, semua diatasi olehnya. Saya merupakan menteri “tidak mau tahu”, saya tidak tahu apa-apa, urusan apapun dikerjakan oleh Gurudhara, sekarang Gurudhara tidak ada, saya baru tahu ternyata Beliau juga ada kesulitan, masalah apapun harus ditanggung sendiri! Namun, ada masalah paling besar, saya tetap secepatnya telepon, atau minta Acarya Huijun memberitahu Gurudhara untuk mencari cara penyelesaian masalah. Pada tanggal 12 April 2015, Mahaguru akan pergi ke Fuyou Leizangsi, Hsinchu mengadakan Upacara 7 Dewa Berkah, melakukan kegiatan sosial demi kaum papa. Ini adalah kantong berkah Mahadewi Yaochi, di luar ada Mahadewi Yaochi dan mantra, di dalam ada fu yang Mahaguru gambar yang bisa mendapatkan berkah. Ini adalah galang dana untuk kegiatan sosial demi kaum papa pada Upacara 7 Dewa Berkah yang diadakan di Fuyou Leizangsi tanggal 12 April, kantong berkah hanya dijual 100 NTD, mereka minta saya memperkenalkan ini.

Di sini ada 3 lelucon, ada seorang suami berkata pada istri, “Terima kasih atas pujianmu di depan tetangga bahwa saya punya 3 bakat.” Istri berkata, “Anda tidak punya uang, tidak punya tampang, tidak punya kedudukan, jika saya tidak memuji kamu mempunyai bakat, orang lain akan menertawai saya bodoh.”

Lelucon kedua, suami berkata pada istri, “Saya sudah lama sekali tidak ada perasaan jantung berdegup kencang.” Keesokan harinya, istri membawa saya jalan-jalan ke toko perhiasan. Bukankah saya pernah menceritakan sebuah lelucon? Yaitu seorang istri berkata pada suami, “Sekarang kamu melihat saya, apakah masih ada perasaan seperti rusa yang asal tabrak?” Dulu, saat saya menatap teman wanita saya, juga akan merasa seperti rusa yang asal tabrak, suami itu dengan jujur menjawab, “Rusa telah mati tertabrak.” Tidak akan asal tabrak lagi. Lelucon ketiga, hari ini melihat istri kalang-kabut saat bunuh ikan, sehingga ingin mempermalukannya sebentar, saya pun bertanya, “Apa hubunganmu dengan babi?” Siapa sangka, ia menoleh dan menjawab, “Hubungan suami istri.” Semua ini adalah perubahan, perubahan tutur kata juga sangat hebat. Jadi, bagaimana mewujudkan makna sunya? Kita mengatakan, langit cerah tanpa awan adalah makna sunya. Apakah langit cerah tanpa awan adalah makna sunya? Tentu saja bukan juga. Tidak ada satu pun yang tepat, itu barulah paling nyata. Bahkan, kita dapat memahami, barulah pencerahan yang sejati, yang dapat kita bayangkan, itu bukan pencerahan, yang tidak dapat kita bayangkan, barulah pencerahan. Jadi, kadang-kadang, mesti menggunakan cara lain, agar sifat manusia, agar sifat dasar dapat mewujudkan makna sunya, atau sulit sekali dijelaskan. Di dalam semua Buddhadharma, Buddhadharma hanya alat mencapai kebuddhaan, kita jangan melekat dengan Buddhadharma. Karena Buddhadharma tetap berada di dalam tingkatan alam “ada”. Ketika kita benar-benar memahami hati dan menyaksikan Buddhata, kita telah mencapai pencerahan, bahkan Buddhadharma pun tidak perlu lagi. Buddhadharma membuat kita mencapai kebuddhaan, namun, ketika kita benar-benar mencapai kebuddhaan, Buddhadharma tidak perlu lagi, ini barulah mewujudkan makna sunya. Sadhana Dzogchen terutama untuk mewujudkan makna sunya, Sadhana Kalacakra pada akhirnya juga mewujudkan makna sunya. Istri saya berkata pada saya, “Tahukah kamu mengapa kamu bisa bertemu saya? Karena saya adalah dewi yang turun ke dunia fana untuk balas budimu.” Saya melirik istri dua kali, “Kamu lebih baik kembali! Saya merasa kamu datang balas dendam.” Balas budi dan balas dendam sulit sekali dikatakan dengan jelas. Melahirkan putra-putri, supaya Anda bahagia, Anda tahu putra-putri Anda datang balas budi atau balas dendam? Ia datang pasti karena berjodoh dengan Anda, jodoh baik atau jodoh buruk, ini adalah sebuah pertanyaan. Suami istri juga sama, yang datang adalah jodoh baik atau jodoh buruk, Anda belum tentu tahu. Jadi, di sini justru mengandung makna sunya.

Acarya Lianmiao dulu pernah mengatakan, suami istri itu saling menindas dan berbohong satu sama lain. Di sini ada sunyata. Mari cerita sebuah lelucon, seorang ibu setelah memandikan sepasang kembar, lalu menaruh mereka di atas tempat tidur, salah satunya terbahak-bahak, ibu bertanya, “Tertawa apa?” Ia menjawab, “Ibu memandikan adik dua kali, sedangkan saya belum mandi satu kali pun.” Inilah Watasiwa Wakaru, I don’t know. Sesungguhnya, saya sampai umur selanjut ini, sudah umur 70, 80, bisa pikun, masalah apapun akan lupa. Jadi, saya katakan pada Anda semua, Anda semua berikan saya produk nutrisi, kadang-kadang sehari saya makan banyak, kadang-kadang lupa, kadang-kadang tidak makan apa-apa, dikira sudah dimakan semua, sebenarnya tidak makan apa-apa, jadi, di rumah ada berbotol-botol produk nutrisi, sebotol demi sebotol, banyak sekali. Bisa lupa, namun, lupa juga ada manfaatnnya, lupa itu tidak ada kerisauan, masalah apapun dilupakan, maka tidak ada kerisauan, Anda ingat, Anda sendiri tidak mampu lagi memasukkan secara paksa, benda yang Anda ingat terlalu banyak, di dalam ada sunyata, ketika mengosongkan segalanya, Anda pun tertidur, jika Anda memikirkan setiap hal, Anda pun akan insomnia. Ada sebuah desa, kepala desa seperti biasanya melakukan patroli malam, ia melihat seorang anak kecil duduk murung di pinggir jalan, kepala desa bertanya pada si anak kecil, “Semalam ini, apa yang kamu lakukan di luar sendirian? Mengapa tidak masuk ke rumah?” Si anak kecil menjawab, “Ayah ibuku sedang bertengkar?” Kepala desa berkata, “Benar-benar keterlaluan! Siapa ayahmu?” Si anak kecil menjawab, “Justru tidak tahu, karena mereka berdua sedang mempertengkarkan ini.” Ucapan Acarya Lianmiao telah terbukti.

Saya ingat ada sebuah lelucon, ada sebuah desa, penduduk desa memeluk Agama Katolik, ada seorang pastur, setiap kali penduduk desa selalu melakukan pengakuan pada pastur, para istri berkata, “Saya selingkuh.” Pastur pun berkata, “Lain kali jangan katakan selingkuh, katakan jatuh, cukup katakan “Saya terjatuh.” Nah, banyak wanita desa mengatakan padanya, “Saya terjatuh.” Pastur pun membiarkannya melakukan pengakuan, “Anda tidak berdosa.” Belakangan si pastur mau mengundurkan diri dan digantikan pastur baru, ia memberitahu kepala desa desa kecil ini, “Anda harus beritahu pastur baru bahwa yang namanya jatuh adalah selingkuh.” Kepala desa berkata, “Saya sudah mengerti.” Pastur baru pun datang, kepala desa lupa memberitahunya, sehingga setelah lewat satu kurun waktu, pastur baru memberitahu kepala desa, “Jalanan desa harus ditambal, harus diperbaiki, karena banyak sekali orang jatuh.” Kepala desa ini merasa geli sekali, karena ia tahu mengapa. Pastur memberitahu kepala desa, “Apa yang Anda tertawai? Istri Anda dalam minggu ini sudah jatuh 3 kali.”

Ketahuilah, suami istri berubah-ubah. Ketahuilah, putra-putri adalah orang terdekat Anda, berubah-ubah. Ketahuilah, teman Anda, teman yang paling baik, berubah-ubah. Ketahuilah, acarya favorit Anda sekarang, acarya yang paling dihormati, berubah-ubah. Ketahuilah, bhiksu, bhiksuni, berubah-ubah. Ketahuilah, semua orang berubah-ubah. Dari sini Anda harus mewujudkan makna sunya, apa itu aku, apa itu Anda, apa itu dia. Om Mani Padme Hum.