Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Dharmadesana Mahaguru > Ceramah Terbaru Dharmaraja Liansheng Tahun 2014 > 2014-12-13 Mahaguru Transmisi Sadhana Supaya Semua Dharma Bisa Harmonis


2014-12-13 Mahaguru Transmisi Sadhana Supaya Semua Dharma Bisa Harmonis

Ceramah Sadhana Dzogchen ke-117 oleh Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada Upaara Agung Homa Jambhala Kuning, Sabtu, 13 Desember 2014 di Taiwan Lei Tsang Temple

Pertama-tama, kita sembah puja pada guru silsilah, sembah puja pada Bhiksu Liaoming, sembah puja pada Guru Sakya Dezhung, sembah puja pada Gyalwa Karmapa ke-16, sembah puja pada Guru Thubten Dhargye, sembah puja pada Triratna Mandala, sembah puja pada adinata homa Jambhala Kuning.

Gurudhara, Thubten Ksiti Rinpoche, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma yang hadir, dan umat se-Dharma di internet, tamu agung kita hari ini adalah Coordinating Committeefor North American Affairs, Executive Yuan Secretary-General Dubes Daniel T.C. Liao dan nyonya Sdri. Judy, terima kasih. Secretary-General ofthe Taiwan Provincial Government Bapak. Zheng Pei-fu, penasihat hukum TBF Pengacara Zhuo Zhong-san, tim Profesor Doktor Zhenfo Zong – profesor yang khusus direkrut Wang Jin-xian, Prof. Wang Li, Prof. Mai Yun-huang, Prof. Cai Guo-yu, Prof. Gu Hao-xiang, Prof. Ye Shu-wen, Prof. You Jiang-cheng, DR. Liang Chao-fan, dr. Lin Jun-an. Perwakilan anggota legislatif Cai Qi-chang Ibu Chen Hui-mei, Perwakilan anggota parlemen Kota Tainan Cai Wang-quan, CEO Media Group Bpk. Zheng Mao-chen, ketua umum Lotus Light Charity Society dunia Acarya Changren, Ketua umum Lotus Light Charity Society kawasan Taiwan Bpk. Li Chun-yang, pengusaha terkemuka Hong Kong Bpk. Datuk Lei Feng-yi dan nyonya Ibu Nadine Zeng Mei-ting, Bhutan Namgyal Khenpo, my university classmates Bpk. Zhu Jin-shui dan nyonya Ibu Cheng Ze-xia, presiden direktur CHING YI BIOTECH CO.,LTD Ibu Zheng Yu-zhen, perusahaan perabot Chipin Nona Huang Shu-qi, produser acara Gei Ni Dian Shang Xin Deng di CTI Sdri. Xu Ya-qi, produser Sembilan Tingkat Dzogchen, Diktat Hevajra, dan Ulasan Risalah Agung Tahapan Jalan Tantrayana Acarya Lianyue dan pembawa acara Sdri. Pei-jun, my sister Ibu Sheng-mei Lu. Selamat siang semua! Apa kabar semua! (Bahasa Taiwan) Selamat siang semua! Apa kabar semua! (Bahasa Mandarin) Apa kabar! Apa kabar semua! (Bahasa Kanton) Emkoi! Emkoisai! (Bahasa Kanton: terima kasih semua) Selamat siang and selamat petang! (Bahasa Indonesia) (Bahasa Jepang: apa kabar) Good afternoon! (Bahasa Inggris) Hola Amigo! (Bahasa Spanyol: apa kabar) Kam-sam-ni-da! (Bahasa Korea: terima kasih) Sawadika! (Bahasa Thai: apa kabar)

Hari ini kita menekuni Sadhana Jambhala Kuning, Jambhala Kuning menetap di istana Kristal selatan, biasanya, keempat arah ada empat raja langit, sebenarnya mereka semua adalah dewa rejeki, antara lain: Vaisravana, Virapaksa, Dhṛtarāṣṭra, Vidradhaka. Keempat raja langit ini bisa menganugrahi berkah, rejeki, umur panjang, dan kemujuran. Semoga hari ini kita semua mengecap hawa rejeki, bekal yang sempurna, uang banyak, uang berlimpah. Setelah uang berlimpah, di dunia ini harus banyak melakukan kebajikan, banyak berdana; semakin berbuat kebajikan, semakin berdana, uang dan berkah kita akan sempurna, ini sangat penting. Banyak jenis berdana, antara lain: berdana Dharma, berdana materi, berdana ucapan, berdana senyuman; tersenyum juga semacam berdana, mengucapkan kata-kata positif juga semacam berdana, menjadi relawan juga semacam berdana, mengerahkan dana dan tenaga juga semacam berdana. Bagaimana pun, mengucapkan satu kata positif juga semacam berdana, banyak cara berdana, belum tentu harus menggunakan uang. Uang, di dunia ini tidak ada orang yang tidak suka, setiap orang suka uang. Namun, mesti kekayaan yang benar, kekayaan yang benar-benar layak kita miliki disebut kekayaan yang benar. Kekayaan yang benar disebut kekayaan yang bersih, menggunakan kekayaan yang bersih untuk berdana yang bersih, barulah disukai oleh Buddha. Empat raja langit akan melihat semua berkah yang diperbuat oleh manusia, kemudian menganugrahi berkah yang sempurna kepada insan. Seperti Vaisravana Jambhala Kuning, Beliau akan menganugrahi sadhaka Tantra karir yang lancar, usaha yang digeluti dapat berjalan baik, bahkan dapat terjual. Dulu, kita pernah japa sebuah Sutra Bepergian, setiap hari bangun tidur, saat bepergian, japa satu paragraf Sutra, yaitu Sutra Bepergian, “(Bahasa Taiwan) Chu men sheng yi jing, xia jie jiu yu dao guan shi yin, dong ye yi qun fo, xi ye yi qun fo, nan ye yi qun fo, bei ye yi qun fo, wo suo mai de huo pin quan bu mai qing, fo fo fo..., yi qie sheng yi tong tong shun li, yi qie huo pin tong tong chu qing.” Dulu saya bahkan bisa mengucapkan dengan Bahasa Inggris, sekarang entah masih bisa mengucapkan atau tidak? Every morning, when I open the door, I see guan shi yin Bodhisattva. In the East, there are so many buddhas. In the West, there are so many buddhas. Buddha, Buddha, Buddha, Buddha, Buddha...My business is good, because all of my items are sold out. Begitulah Sutra Bepergian dalam Bahasa Inggris.

Jambhala bisa menganugrahi rejeki pada kita. Saya sering mengatakan, dewa rejeki di air adalah Raja Naga, dewa rejeki di atas bumi adalah Dewa Gunung, dewa rejeki di langit adalah Empat Raja Langit, Mereka bisa menganugrahi uang dan kekayaan kepada kita. Sesungguhnya, langit, bumi, di dalam air, juga merupakan tempat produksi kekayaan yang sebenarnya, semua benda, sebagian besar keluar dari bumi, atau keluar dari air, selain itu, ditambah karunia dari langit. Berlian dan emas, benda yang paling, semua berasal dari tambang di dalam gunung, semua muncul dari bumi; seperti koral merah yang paling mahal, berasal dari dalam laut; yang kita makan, yang kita pakai, sebagian besar dihasilkan dari bumi. Sehingga, bumi bisa menganugrahi kekayaan pada manusia, laut juga sama, bisa menganugrahi kekayaan pada manusia, langit juga sama, bisa menganugrahi kekayaan pada manusia, semua kekayaan langit, bumi, manusia sempurna, kita pun menjadi manusia yang paling kaya. Bekal sempurna banyak manfaatnya, yang terpenting adalah harus berdana, harus memberikan persembahan. Asalkan kita berwelas asih dan menolong dunia, kita gunakan bekal yang kita miliki, atau bekal yang dapat kita gunakan, bisa melakukan banyak kebajikan. Semoga setiap umat Zhenfo Zong memiliki hati maitri-karuna-mudita-upeksa, dapat menjalankan catur-apramana, berkah kita dengan sendirinya akan sempurna. Sekian perkenalan Jambhala.

Lanjut mengulas Dzogchen Tantra, “Makna utama saya transmisi sadhana: pertama, agar semua Buddhadharma harmonis, tidak saling bertentangan, menyempurnakan semua Dharma. Kedua, membuktikan sabda di dalam Buddhadharma, setiap orang membuktikan sendiri. Ketiga, mengeksplorasi dengan kebijaksanaan, agar setiap orang memahami esensi makna rahasia kitab Sutra. Keempat, mengikis rintangan karma kehidupan lampau, mengubah hitam menjadi putih, memancarkan cahaya yang terang-bendernta, segera mencapai kesempurnaan. Di dalamnya, harus perlahan-lahan mencerahi maksud dan tujuan dari wujud Buddhata, kebijaksanaan mencapai Sunyata.” Hari ini mengulas empat poin penting ini, 9 Tingkat Dzogchen mencakup 9 Dharma, satu adalah Sravakayana, satu adalah Pratyekayana, satu adalah Bodhisattvayana, selanjutnya, tergolong Tantra, ada Kriyayana, Caryayana, Anuttarayana, selanjutnya adalah Mahayoga, Anuyoga, dan Atiyoga, dijumlahkan pas 9 yana. Sembilan yana sama dengan 9 tingkat, konsisten, makanya sempurna. Setiap yana tidak saling kontradiksi, melainkan sempurna. Sehingga, semua Buddhadharma bisa harmonis. Tadinya pada zaman Buddha Sakyamuni, yang ditransmisikan adalah Agama Buddha primitif, kemudian, Agama Buddha Ilmiah, dibagi menjadi Mahasamghika dan Sthavira. Kemudian? Dibagi menjadi Agama Buddha Theravada. Kemudian dibagi lagi menjadi Prajnayana, juga tergolong Mahayana. Kemudian lagi, ada lagi Vajrayana, tergolong Ajaran Tantra. Sebenarnya, satu sama lain mesti saling menyempurnakan, sebenarnya tidak ada perbedaan terlalu besar. Perbedaannya adalah pembagian sekte, seperti Agama Buddha dibagi menjadi Sekte Vinaya, menaati sila secara keras, juga ada Sekte Zen China, juga ada Sekte Sukhavati, tergolong alam suci, menjapa nama Buddha, seperti Sekte Tantra, tergolong Vajrayana. Semua perbedaan ini hanya berbeda dalam metode melatih diri, sebenarnya harmonis, setiap ajaran harmonis, tidak hanya empat, di antaranya masih ada sepuluh, bahkan lebih banyak lagi, semua saling harmonis. Kita menyampaikan Dharma, kita tidak boleh mengatakan Dharma lain tidak benar, sebenarnya bisa harmonis, tidak saling bertentangan, tidak ada perbedaan, tidak bertentangan dengan Buddhahdarma, menyempurnakan semua Dharma.

Kita yang terutama menyampaikan tentang 3 Corak Dharma, Empat Corak Dharma, kebenaran yang disampaikan Sang Buddha yaitu 3 Corak Dharma, “Anicca”, tidak ada satu pun yang tidak berubah. Seperti tubuh saya akhir-akhir ini, saat saya berada di Seattle, saya tidak batuk, begitu kembali langsung batuk, anicca. Sekarang tidak batuk lagi, namun, suara masih serak, agak serak. Ini juga perubahan, anicca! Saya bukan Ajishi, Dubes Liao lebih mengerti etiket internasional, saya hanya mengerti tidak ada pikiran negatif. “Jika ada fans, tiba-tiba, saya terpaksa layani.” Namun, saya tidak ada pikiran negatif. “Karena saya tidak sempat merespon, mulut saya mati rasa.” Saya tidak berani melakukan etiket internasional semacam itu. Terus tearng, hanya dapat cium pipi, dengan kata lain, menyentuh sebentar pipi, ini adalah etiket internasional. Dubes Liao, benar tidak? Benar. Itu barulah etiket internasional. Apakah ciuman bibir itu etiket internasional? Dubes Liao mengatakan, ciuman bibir itu bukan etiket internasional.  Kita tidak boleh melakukan etiket internasional seperti ini, hanya bisa cium pipi, juga hanya boleh dengan anak-anak. Di Taiwan, tidak ada kebiasaan cium pipi, kalangan internasional ada. Sungguh, walaupun saya berdomisili di Amerika, boleh dianggap internasional! Saya juga tidak berani cium pipi. (Mahaguru bercanda) Jika kalian telah mencapai pencerahan, cari saya, pencerahan adalah sebuah Dharma yang tidak ditransmisikan kepada orang ketiga, hanya boleh dua orang, okay? Saya telah mengatakan sangat jelas, lokasi tentu di motel yang sangat rahasia, saya harus menyampaikan 2 jam, tidak hanya 30 menit! Saya kira saya sendirian, bebas, saya bisa transmisi pencerahan, tak disangka, langit tidak mengabulkan harapan manusia, membiarkan saya batuk sebulan, setiap hari duduk diam di altar mandala, menghadap Buddha Bodhisattva, hanya bertobat, setiap hari bertobat di sana. Mengapa? Karena batuk! Begitu saya pegang gagang telepon mau bicara, saya pun batuk, tidak dapat bicara, telepon sama sekali tidak digunakan, telepon genggam juga tidak digunakan, karena bicara dua kalimat pun batuk. Sungguh, Buddha Bodhisattva sangat hebat, tahu bahwa saya tidak ada pikiran negatif, jujur dan tidak egois, saya tidak akan menyimpang, juga tidak akan bersilat lidah, saya ini bicara jujur. Buddha Bodhisattva membiarkan saya batuk sebulan, saya pikir pasti ada penyebabnya, membiarkan saya sama sekali tidak bebas dan diam di rumah, bengong melewati sebulan. Sekarang suara serak, saya harus hidup seperti ini lagi selama sebulan. Tidak boleh! Saya berceramah Dharma pada orang dengan mulut saya, suara serak juga tidak baik, harus lekas sembuh. Oleh karena itu, harus harmonis, harus jujur, harus tidak bertentangan, jalan ini harus sangat lancar, seperti yang saya katakan, “Harus menyempurnakan semua Dharma, harus dapat sempurna.” Kali ini kembali, walaupun batuk, juga dianggap sempurna. Tiga kali upacara sebelumnya, saat saya berceramah Dharma tidak batuk, selesai ceramah batuk, ceramah Dharma tidak batuk, sekarang batuk sudah sembuh, upacara keempat, suara agak serak, namun juga dianggap sempurna, Buddha Bodhisattva juga membuat saya sempurna.

Mari cerita sebuah lelucon! Jika rival Anda jatuh ke sungai, ia tidak bisa berenang, sedangkan Anda bisa, apa yang Anda lakukan? Ini seharusnya jawaban Bodhisattva, “Semua insan adalah setara, tidak seharusnya karena prasangka sendiri, membuat orang kecewa pada saat orang lain paling membutuhkan kita; hidup itu berharga, setiap orang memiliki dunia sendiri, sekalipun itu rival, ia juga memiliki orang tua, kerabat, teman, tidak boleh egois. Sehingga, saya akan terjun ke sungai tanpa pamrih, berenang di depannya, agar ia melihat sambil belajar.” Bodhisattva ini tidak sempurna, tidak boleh berenang di depannya, agar ia melihat sambil belajar! Mana sempat belajar? Berenang tidak bisa dipelajari dalam sekejap, Bodhisattva ini bermasalah, ia egois. Jadi, jika kita mau menjadi seorang Bodhisattva sejati, harus menyempurnakan semua insan, sekalipun rival jatuh ke laut, jika Anda bisa berenang, Anda juga harus menolongnya tanpa pamrih, ini barulah sempurna, ibu barulah harmonis. Sungguh, jangan membeda-bedakan insan, saat benar-benar dalam keadaan bahaya, musibah, sebagai Bodhisattva mesti mengulurkan tangan, tidak boleh egois. Egois adalah kejahatan, menyempurnakan harapan insan adalah kebajikan. Ulasan Sadhana Dzogchen justru hendak menyampaikan pada Anda semua bahwa hati setiap orang harus luas, harus dapat menoleransi semua insan baru bisa luas, jangan sekali-kali berprasangka buruk terhadap orang lain, yang satu ini sangat penting. Anda mau menjadi seorang Bodhisattva, kelak mau mencapai kebuddhaan, maka harus belajar menyempurnakan, seperti Sadhana 9 Tingkat, Anda harus pelajari satu demi satu, 9 tingkatan adalah tingkatan yang sempurna, semua adalah sempurna, tidak ada yang bertentangan.

Saya memperlakukan Anda semua, baik Anda seorang nenek maupun gadis cantik, di mana sakit, Mahaguru pun memberikan pemberkatan, sama-sama memberikan pemberkatan, tidak membeda-bedakan, semua sama. Tentu saja, jika nenek tiba-tiba berkata, “Mahaguru, saya ada wasir, bolehkah Anda menjamah wasir saya?” Saya akan berkata padanya, “Saya memohon pada Bodhisattva, saya jamah kepala, semoga kekuatan itu dapat mencapai dubur Anda.” Tentu saja tidak boleh langsung menjamah bokongnya, ini tidak boleh. Seperti gadis cantik, ia mengatakan jantungnya bermasalah, saya akan menepuk punggungnya, karena punggung dan jantung juga menyambung, kita tahu jantung di sebelah kiri! Gadis itu berkata, “Jantung saya tidak sehat.” Saya pun menepuk punggung kirinya, ini ada perbedaan, tidak boleh sembarangan. Sebagian besar manula lebih dulu mengalami kerusakan lutut, saya menjamah lutut itu boleh, namun, ada beberapa bagian tidak boleh, ini adalah perbedaan. Mari cerita lagi sebuah lelucon, suatu kali, Xiaoming demi membelikan teman wanita sarung tangan, pergi ke mal bagian pakaian wanita, pramuniaga bertanya, “Anda mau model apa?” Xiaoming menjawab, “Saya tidak tahu tangan teman wanita saya sebesar apa.” Pramuniaga muda itu tidak ingin kehilangan pembeli, terpaksa menjadikan tangannya sebagai perbandingan untuk Xiaoming. Selesai membeli, pramuniaga wanita bertanya lagi pada Xiaoming, “Ada lagi yang mau dibeli?” Xiaoming berkata, “Ada, saya masih ingin membelikan pakaian dalam untuk teman wanita saya, namun saya tidak tahu ukuran.” Pramuniaga wanita tidak bicara lagi. Inilah yang tadi sempat dikatakan, ada perbedaan; walaupun sempurna, juga ada sedikit perbedaan kecil.

“Kedua, membuktikan sabda di dalam Buddhadharma, setiap orang membuktikan sendiri.” Di dalam Zhenfo Zong, saya membuktikan sendiri, sekarang saya bertanya pada Anda semua, “Hadirin, yang pernah bermimpi Mahaguru silahkan angkat tangan?” Wah! Banyak orang angkat tangan, hampir semua orang angkat tangan. (Hadirin tepuk tangan) Inilah pembuktian.

Setelah kita bermimpi, yang terbukti silahkan angkat tangan? Banyak orang angkat tangan! Thubten Ksiti tidak? Do you have dream? Master Lu inside in your dream? (Apakah Anda bermimpi? Apakah bermimpi Mahaguru?) Do you have? Ada. Mengapa Anda tidak angkat tangan? Semua angkat tangan. Saya melihat Japanese Master tidak angkat tangan, I know, because you don’t know Taiwanese and Chinese, Acarya Japanese, (Bahasa Jepang: Salam kenal, mohon petunjuknya), saya bertanya padanya pernahkah bermimpi Mahaguru? Ia pasti tidak mengerti, siapa bisa bicara Bahasa Jepang? (Prof. Ye Shu-wen maju dan bertanya) Anda lihat, semua terbukti. Jadi, saya pun mengajari Anda semua seperti ini, kita Zhenfo Zong “membuktikan sabda di dalam Buddhadharma, setiap orang membuktikan sendiri.” Ada seorang umat Indonesia, Beliau pergi ke Seattle, Beliau memberikan saya sebuah thanka, yaitu Vajra Yogini, sangat cantik, luar biasa cantik, Vajra Yogini yang dilukis cantik sekali, ketika saya melihat Vajra Yogini, ingin sekali melakukan etiket internasional dengannya, seluruh hati pun dibawa pergi olehnya. Seorang ibu yang menghadiahkan saya thanka, namanya adalah Elizabeth, otaknya ada tumor, setelah saya ramal, saya berkata padanya, “Mohon Mahadewi Yaochi memberikan Anda petunjuk mimpi.” Ia pun memohon pada Mahadewi Yaochi, kemudian bakar kertas sembahyang. Alhasil, ia bermimpi Mahaguru datang, Mahaguru muncul di dalam mimpinya, Mahaguru tak disangka berpakaian seragam dokter, bahkan tangan membawa pisau bedah dan membedah otaknya, serta mengeluarkan tumor di dalam otaknya.

Terus terang, Elizabeth sangat cantik, bukan karena dia cantik saya baru masuk ke dalam mimpinya! Ia menceritakan pada saya bahwa ia bermimpi Mahaguru membedah otaknya, sudah mengeluarkan tumornya, kemudian ia kembali ke Indonesia, kemudian pergi ke Singapura untuk periksa. Pokoknya, dokter yang memintanya untuk operasi, sebelum operasi, diperiksa sekali lagi, seberapa besar tumor itu? Sebesar 3 cm, tak disangka hilang. Beliau dari vihara mana? Vihara Maha Svara, Jakarta. Ia adalah seorang ibu, sangat cantik, Mahaguru benar-benar mengeluarkan tumor di dalam otaknya. Ini adalah semacam pembuktikan, banyak sekali.

“Membuktikan sabda di dalam Buddhadharma, setiap orang membuktikan sendiri”, inilah membuktikan sendiri. Banyak orang bermimpi Mahaguru, semua membuktikan sendiri, ini barulah True Buddha School, Zhenfo Zong, yaitu Buddha sejati.

Suatu hari, setelah Xiaoming dan Xiaohua selesai ujian, saat pulang sekolah saling diskusi. Xiaoming bertanya, “Kali ini bagaimana ujianmu?” Xiaohua menjawab, “Saya menyerahkan lembaran kosong.” Xiaoming berkata, “Saya juga! Kalau begitu, apakah guru akan mengira kita menyontek?” Xiaohua berkata, “Mungkin saja! Karena, saya tiba-tiba tidak tahu bagaimana menulis nama saya sendiri, terpaksa saya menulis namamu.” Ini ada pembuktian, mereka berdua menyerahkan lembaran kosong dalam ujian, Xiaohua tiba-tiba lupa namanya sendiri, tak disangka menulis nama orang lain, ini adalah pembuktian. Mahaguru masuk ke dalam mimpi, semua mimpi ada pembuktian. Ini adalah pembuktian yang sejati.

“Ketiga, mengeksplorasi dengan kebijaksanaan, agar setiap orang memahami esensi makna rahasia kitab Sutra.” Yang terpenting dari Buddhadharma adalah prajna, yang disampaikan dalam Prajnaparamita Hrdya Sutra adalah kebijaksanaan, semua yang disampaikan di dalam Sutra Vajra adalah kebijaksanaan Buddha.

Harus membuat setiap orang memahami esensi makna rahasia di dalam Sutra Hati, Sutra Vajra, dan Sutra Mahaprajna, dan esensi makna rahasia di dalam ajaran Tantra, semua harus kita semua pahami, setelah memahami, disebut mencapai pencerahan dan memahami hati. Mahaguru menjamin, Mahaguru benar-benar mencapai pencerahan dan memahami hati, karena jika Anda dapat mencapai pencerahan dan memahami hati, baru dapat toleransi segalanya. Jika Anda tidak dapat mencapai pencerahan dan memahami hati, Anda pun tidak dapat toleransi. Anda tetap ada perbedaan hitam dan putih, serta perbedaan baik dan jahat, juga terdapat bermacam-macam perbedaan, semua bukan kebijaksanaan Tathagata, kebijaksanaan Tathagata tergolong Dzogchen. Pencerahan sejati itu adalah Dzogchen, mutlak sesuai dengan 5 kebijaksanaan Tathagata; Dharmadhatuta-jñāna, pratyavekṣa-jñāna, ādarśa-jñāna, samatā-jñāna, anuṣṭhāna-jñāna, jika kelima jenis kebijaksanaan ini sempurna, itu seharusnya mahapurna. Mari kita berpikir sejenak, siapa dapat memperoleh mahapurna sejati? Seperti Ajishi, kesalahan yang ia lakukan, sebenarnya banyak orang akan melakukannya, tentu saja ada juga yang tidak akan melakukannya, seperti idiot dari lahir, dari lahir sudah idiot tentu saja tidak akan melakukan kesalahan, Jika orang normal akan melakukan kesalahan, hanya orang yang tidak normal baru tidak akan melakukan kesalahan, Mahaguru tergolong di antara normal dan tidak normal. Saya mengatakan satu kalimat, “Mahaguru adalah bhiksu, tidak seharusnya melakukan kesalahan, namun, Mahaguru juga seorang pria.” Kalian harus dengarkan dengan seksama, ini barulah disebut pencerahan, barulah disebut sempurna. Bhiksu adalah pria, Bhiksuni adalah wanita, tidak ada perbedaan! Mana ada perbedaan? Semua sama, yang mau melakukan kesalahan, kesalahan tetap akan dilakukan; Anda tidak akan melakukan kesalahan, maka tidak akan melakukan kesalahan. Apapun pekerjaan Anda, menjadi dekan juga bisa melakukan kesalahan, menjadi koki juga bisa melakukan kesalahan, banyak orang juga bisa melakukan kesalahan.

Sebagai pengacara, saya juga melihat pengacara melakukan kesalahan, menjadi jaksa, juga ada jaksa melakukan kesalahan, semua ada. Setiap jenis orang, siapapun mungkin melakukan kesalahan ini. Jadi, ada normal, ada juga tidak normal, kita melatih diri hingga berada dalam kondisi antara normal dan tidak normal, kita tidak akan melakukan kesalahan. Jadi, saya bukan Ajishi, namun, saya juga bukan Mahaguru Lu.

Ada sebuah restoran pizza tergantung spanduk, “Layanan antar pizza pasti diantar ke rumah Anda dalam waktu 30 menit, jika lewat 30 menit, gratis.” Setiap kali pelayan restoran pizza mengantarkan pizza, akan memberitahu pembeli, “Bapak/nona, saya antar dalam waktu 20 menit, ini adalah pizza Anda.” Suatu hari, Yingying memesan sebuah pizza, beberapa menit kemudian seseorang menekan bel, “Nona, saya tiba dalam waktu 20 menit, namun, saya lupa bawa pizza.” Ketahuilah, tidak boleh lupa, semua hal yang kita lakukan adalah esensi, setiap orang membuktikan sendiri, mengeksplorasi dengan kebijaksanaan, agar setiap orang memahami esensi makna rahasia kitab Sutra. Mahaguru tadi baru mengatakan, antara normal dan tidak normal; antara kelahiran dan tiada kelahiran, ini adalah kebijaksanaan agung; antara aku dan tiada aku, ini adalah kebijaksanaan agung. Antara kelahiran dan tiada kelahiran, antara aku dan tiada aku, antara normal dan tidak normal, ini adalah kebijaksanaan Buddha, Tathagata, setiap orang memahami esensi makna rahasia kitab Sutra. Banyak Dharma berada di antara kelahiran dan tiada kelahiran. Semua Sadhana Vajra berada di antara kelahiran dan tiada kelahiran, inilah kebijaksanaan Tathagata.

“Keempat, mengikis rintangan karma kehidupan lampau, mengubah hitam menjadi putih, memancarkan cahaya yang terang-bendernta, segera mencapai kesempurnaan. Di dalamnya, harus perlahan-lahan mencerahi maksud dan tujuan dari wujud Buddhata, kebijaksanaan mencapai Sunyata.” Di dalam Buddhadharma, Sunyata itu sangat penting, “maksud dan tujuan dari wujud Buddhata”, yaitu kebijaksanaan mencapai sunayta, kita harus mengikis rintangan karma kehidupan lampau, tentu harus mengubah hitam menjadi putih, menghasilkan terang, baru dapat segera mencapai Dzogchen. Mari cerita sebuah lelucon, seorang bos baru masuk kantor, istri manajer departemen menerobos masuk, sambil melambaikan sepotong celana dalam wanita, berkata pada bos, “Suami saya pulang malam, tak disangka mengenakan celana dalam wanita, Anda harus urus.” Bos terus-menerus mengangguk, berkata, “Ya ya ya...” sembari memasukkan celana dalam ke dalam saku. Malamnya pulang, istri bos saat cuci baju, menemukan celana dalam di dalam saku bos, ia pun berkata pada bos, “Lain kali kamu jangan bercanda seperti ini, membuat saya mencari seharian.” Apa maksudnya? Harus bijaksana.

Kita harus memahami satu hal, kita harus memiliki logika, harus memiliki kebijaksanaan; dapat memiliki kebijaksanaan, kita pun dapat mengikis rintangan karma kehidupan lampau kita, yang hitam berubah menjadi putih, bahkan menghasilkan terang. Kita jangan menciptakan karma, usahakan berbuat karma putih, agar karma putih kita meningkat, karma hitam dikikis, agar tubuh kita menghasilkan terang. Jika kita dapat menghasilkan terang demikian, maka dapat mencapai Dzogchen. Sehingga, melatih diri lebih dulu melatih saṃbhāra-mārga. Mengapa? Ketika kita menghimpun bekal karma baik, kita akan memperoleh jodoh Dharma, jodoh Buddhadharma akan dihasilkan, jika kita dapat yakin pada jodoh Dharma, kita pun dapat melatih diri, setelah kita melatih diri, kita pun akan memperoleh terang; dengan adanya terang ini, kita baru dapat memahami hati dan menyaksikan Buddhata, baru dapat memperoleh mahapurna, menyempurkan kesembilan tingkat Dzogchen. Om Mani Padme Hum.