Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Dharmadesana Mahaguru > Ceramah Terbaru Dharmaraja Liansheng Tahun 2014 > 2014-11-02 Mahaguru Seratus Persen Memberikan Persembahan kepada Mulaguru Sehingga Memperoleh Abhiseka Sejati


2014-11-02 Mahaguru Seratus Persen Memberikan Persembahan kepada Mulaguru Sehingga Memperoleh Abhiseka Sejati

Ceramah Sadhana Dzogchen ke-111 oleh Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada Upacara Agung Homa Mahakala, 2 November 2014 di Rainbow Temple

Pertama-tama, kita sembah puja pada guru silsilah, sembah puja pada Bhiksu Liaoming, sembah puja pada Guru Sakya Dezhung, sembah puja pada Gyalwa Karmapa ke-16, Guru Thubten Dhargye, sembah puja pada Triratna Mandala, sembah puja pada adinata homa hari ini Mahakala.

Gurudhara, Para Acarya, DharmAcarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, dan umat se-Dharma di internet, tamu agung yang hadir hari ini Nyonya Sekretaris Jenderal Coordinating Committee for North American Affairs, Executive Yuan Dubes Daniel T.C. Liao - Sdri. Judy, akuntan True Buddha Foundation Sdri. Teresa and her husband, produser acara Gei Ni Dian Shang Xin Deng di CTI Sdri. Xu Ya-qi, dr. Lin Shu-hua, dr. Zhuang Jun-yao, dr. Chen Zhi-yang, penasihat Overseas Chinese Affairs Sdri. Xie Ming-fang, dr. Gao Huan-xian. Selamat siang semua! Apa kabar semua! (Mandarin) Selamat siang and selamat petang! (Bahasa Indonesia: selamat siang) Apa kabar! Apa kabar semua! (Bahasa Kanton)

Hari ini mengadakan homa Mahakala, mudra Mahakala adalah bersilangan seperti ini, bijaksara adalah aksara “Mo”, atau aksara “Hum”, keduanya boleh. Mantra-Nya adalah, “Om. Mahakalaya. Suoha.” Dewa Vajra pada umumnya, di dalam lukisan thanka Tibet, semua memiliki wajah yang sama. Visualisasi yang terpenting adalah tangan Mahakala, Ia memiliki 2 tangan, 4 tangan, 6 tangan, dan 8 tangan. Kita kenali Mahakala, yang terpenting, kedua kaki-Nya pasti menginjak di atas gajah putih yang berbaring terbalik. Ini adalah ciri khas utama-Nya, dan masih banyak benda-benda simbolik. Oleh karena itu, ketika kita memvisualisasikannya, visualisasi alat Dharma di tangan-Nya, dan Ia berdiri di atas gajah putih. Karena ciri khas-Nya pasti berdiri di atas gajah putih. Ia memegang japamala tulang, khatvanga loba-dosa-moha, masih ada Kapala, Trigug, dan damaru, serta tali Vajra. Pratima yang satu ini adalah Mahakala bertangan 6. Di Tantra Tibet, Mahakala adalah Dharmapala yang sangat ganas. Di Tantra Timur, malah menjadi seorang lansia yang ramah, membawa ransel, merupakan salah satu dari 7 dewa rejeki Tantra Timur; sama dengan Mahakala Tantra Tibet, namun Tantra Timur adalah penguasa kekayaan. Akan tetapi, Mahakala di Tantra Tibet juga menguasai berkah, kejayaan, umur panjang, dan kekayaan, semua berada di dalam kekuasaannya. Sesosok Dew Dharmapala dapat menguasai berkah, keyajaan, umur panjang, dan kekayaan itu sangat jarang. Bahkan setiap benda yang dipegang-Nya memiliki simbol. Ada wujud, ada mudra, ada mantra, sehingga menjadi sebuah Sadhana Penjapaan atau Sadhana Yoga.

Mahakala sangat penting, karena status-Nya sangat istimewa. Ada versi yang mengatakan Ia adalah titisan dari Vairocana, juga ada versi yang mengatakan Ia adalah titisan dari Dewa Shiva India, bahkan ada versi yang mengatakan bahwa Ia adalah titisan dari Avalokitesvara, banyak versi asal muasal status-Nya, semua berbeda. Di Tantra Timur tergolong salah satu dari 7 dewa rejeki; di Tantra Tibet, Ia adalah pelindung pemakaman, merupakan Dewa Pelindung semua pemakaman. Ketika Padmasambhava sedang membangun Samye Monastery, ada makhluk halus datang merusak, Padmasambhava mengundang Mahakala, saat Mahakala datang, semua rintangan makhluk halus disingkirkan. Jadi, terhadap rintangan dalam membabarkan Dharma, saya sangat menekankan, dalam pembabaran Dharma, jika Anda menemui rintangan, Anda mohon Mahakala untuk menjadi Dharmapala Anda, Ia akan turun melindungi pembabaran Dharma Anda, berubah menjadi bebas rintangan. Kekuatan Mahakala sangat besar, Dharmabala sangat kuat.

Selain itu, Ia bahkan bisa mengundang seluruh makhluk halus, mudra adalah lebih dulu kepal ke dalam, kemudian jari kelingking dan jari manis berdiri terpisah, ibu jari saling bergesekan, kemudian japa mantra Mahakala, maka bisa mengundang makhluk halus. Ini adalah sebuah mudra mengundang makhluk halus, asalkan menjapa “Mahakala leling”, semua makhluk halus akan datang bersama-sama. Sehingga, Mahakala memiliki Dharmabala mengundang makhluk halus. Thanka di sisi naga Zhenfo Miyuan, ada sebuah Mahakala putih. Mahakala putih adalah titisan dari Avalokitesvara, Ia dapat menuntun makhluk akhirat terlahir di Buddhaloka yang bersih, ini adalah metode Mahakala putih bertangan enam. Ia sendiri tidak hanya Dharmapala kebijaksanaan, juga Dharmapala bekal. Di dalam Kitab Gambarupang Zhenfo, saya menulis tentang metode memberikan persembahan kepada Mahakala, mari kita baca dengan seksama, maka kita pun tahu. Banyak orang Tibet berharap mendapatkan Abhiseka sesosok Dharmapala, Gyalwa Karmapa ke-16 mangkat pada tahun 1981, tempat mangkat di Chicago. Kemarin saya sempat menceritakan beberapa hal seputar Gyalwa Karmapa, sebenarnya Beliau juga menderita banyak penyakit. Tahun 1980, saya bertemu Gyalwa Karmapa di Karma Triyana Dharmachakra, Upstate, New York. Kadang-kadang, Beliau tidak begitu sudi bertemu orang, kadang-kadang, Beliau juga mudah dekat dengan orang lain. Kadang-kadang, Beliau suka menyendiri; kadang-kadang, Beliau juga suka bersama banyak orang. Saat saya pergi, beruntung sekali, sama sekali tidak ada orang, suasana hati-Nya juga sangat baik. Saya juga memohon Beliau melakukan Abhiseka, salah satu Abhiseka adalah Abhiseka Mahakala. Mahakala adalah Dewa Dharmapala yang paling penting dalam Sekte Putih Kargyupa, di Tibet, sekte apapun baik Merah, Kuning, Putih, Kombinasi, semua menekuni Sadhana Mahakala. Namun, di Kargyupa paling dihormati, dianggap sebagai dewa Dharmapala Sekte Putih. Sehingga, saya baru memohon Beliau mengAbhiseka saya.

Pernah ada kisah seperti ini, Puncak Jomolangma di Gunung Himalaya tentu saja adalah puncak tertinggi. Di bawah puncak gunung,di tempat sekitar 5400 meter, sangat dekat dengan posko pendakian Puncak Jomolangma, ada sebuah vihara bernama Thubten Linqiu Monastery, di dalam ada seorang ketua vihara bernama Trulshig Rinpoche. Beliau senantiasa bertapa di dalam vihara gunung tinggi. Namun, satu-satunya cita-citanya sepanjang hidup adalah berharap dapat bertemu Gyalwa Karmapa ke-16, serta memohon pada-Nya Abhiseka Mahakala. Memohon Abhiseka ini, tentu saja harus menunggu kesempatan. Ketika Gyalwa Karmapa berada di Rumtek Monastery, Sikkim, Trulshig Rinpoche turun gunung mengunjungi Beliau, alhasil di bawah gunung turun salju yang sangat lebat, salju lebat menghalanginya, ia tidak mampu melakukan perjalanan, sehingga membuatnya tidak bisa pergi. Ketika Gyalwa Karmapa berada di India, Trulshig Rinpoche juga ingin pergi ke India untuk menemuinya, memohon Abhiseka Mahakala pada Beliau. Ketika ia berada di tempat itu, ia menemukan bahwa sangat sulit untuk bertemu Glaywa Karmapa, banyak halangan, berlapis-lapis rintangan, seorang Rinpoche seperti Beliau pun tidak mampu bertemu Gyalwa Karmapa. Suatu kali, saat Gyalwa Karmapa berada di Nepal, Trulshig Rinpoche juga bersiap-siap mengunjunginya, alhasil ia sendiri jatuh sakit. Sehingga, tidak dapat bertemu Gyalwa Karmapa. Ketika Trulshig Rinpoche memiliki bekal, setelah semua persiapan telah matang, ia ingin pergi ke Amerika Serikat bertemu Gyalwa Karmapa, alhasil Gyalwa Karmapa mangkat. Trulshig Rinpoche pada akhirnya tetap tidak bertemu Gyalwa Karmapa. Ia tidak berdaya, karena Gyalwa Karmapa telah tiada, ia mulai menekuni Sadhana Gyalwa Karmapa, “Om. Karmapa Qiannuo.” Ia terus-menerus menjapa mantra hati Gyalwa Karmapa, kemudian ia juga memohon semua dewa Dharmapala Tantra menyingkirkan semua rintangannya, ia berharap seorang pemimpin spiritual Kargyupa, Gyalwa Karmapa ke-16 mengAbhisekanya Abhiseka Mahakala. Ia menekuni banyak sadhana. Akhirnya suatu hari, di dalam mimpi, akhirnya ia bertemu Gyalwa Karmapa ke-16 muncul bercahaya, bercahaya adalah seluruh tubuh memancarkan cahaya; Gyalwa Karmapa benar-benar mengAbhiseka Beliau Sadhana Mahakala, kemudian, menjelaskan rumus dan esensi Sadhana Mahakala.

Nasib manusia berbeda-beda. Pertama kali saya pergi ke Amerika Serikat tahun 1980, begitu mendarat di Amerika Serikat, gunung berapi meletus, itu bulan Mei 1980, Mt. St. Helen (berada di negara bagian Washington, 3 jam dari Seattle) gunung berapi meletus; kemudian diikuti dengan gempa bumi, seluruh Portland City diselimuti abu gunung berapi. Pada hari saya benar-benar mendarat di Amerika Serikat, begitu kaki menginjak bumi Amerika Serikat, gunung berapi meletus. Setelah itu, saya menjelajahi seluruh Amerika Serikat, ketika sampai di New York, bertemu putri seorang umat dari Changhua, ia dan kekasihnya kuliah di New York. Saya memohon padanya, saya berharap bertemu dengan Gyalwa Karmapa ke-16, ia mengatakan bahwa ia tahu tempat itu, di Upstate New York ada sebuah gunung, di kaki gunung ada sebuah vihara bernama Karma Triyana Dharmachakra, saat itu orang lain bangun untuk Gyalwa Karmapa, di sana saya bertemu Gyalwa Karmapa. Dari putri umat Changhua, ia bersama kekasihnya menyetir mengantar saya dan Huang Chao-chu, pergi bertemu Gyalwa Karmapa. Huang Chao-chu kenal baik dengan putri umat Changhua, saya pertama kali bertemu, saya memohon pada mereka, mereka pun menyetir mengantar kami bertemu Gyalwa Karmapa.

Sehingga saya mendapatkan Abhiseka Pancadhyani Buddha dan Mahakala dari Gyalwa Karmapa. Saya jauh lebih beruntung daripada Trulshig Rinpoche, bahkan saat bertemu Gyalwa Karmapa, Beliau sangat gembira, Beliau bahkan memberikan saya japamala kristal, memberikan saya barang dari giok, hingga sekarang saya masih simpan. Tentu saja, saya juga mempersembahkan semua uang yang saya bawa kepada Beliau.

Huang Chao-chu tidak memberikan persembahan. Mengapa tidak memberikan persembahan? Karena uangnya dicuri oleh maling di hotel New York, termasuk kopernya, semua dicuri. Ini adalah satu kejadian yang sangat aneh. Sebenarnya, saat itu, saya juga tidak begitu mengerti ajaran Tantra, namun, bertemu Gyalwa Karmapa malah sangat senang, kemudian Ia terus-menerus mengAbhiseka saya. Saya berkata padanya, “Kelak Anda adalah guru saya, saya menjadikan Anda sebagai mahkota saya.” Maksudnya adalah, setiap kali saya bersadhana, saya pasti menunjung Beliau di atas kepala saya. Maka, hingga sekarang saya masih tidak melupakan Mulaguru saya.

Terhadap Mulaguru Mahaguru, seperti Bhiksu Liaoming, Guru Sakya Dezhung, Gyalwa Karmapa ke-16, Guru Thubten Dhargye, saya menjunjung mereka semua di atas kepala saya.

Namun, hari ini, umat Zhenfo Zong sangat mulia. Semulia apa? Saya sendiri adalah seorang yang menghormati guru, menghargai Dharma, dan serius bersadhana, selamanya menghormati guru saya pernah saya bersarana. Saya tidak pernah membicarakan kesalahan ataupun kekurangan guru sendiri, saya tidak berani membicarakan. Penyakit Gyalwa Karmapa sangat banyak, terakhir Beliau mangkat karena kanker, kanker lambung, saat itu Beliau baru berumur 57 tahun. Selain itu, gula darah Beliau sangat tinggi. Selain itu, giginya juga berpenyakit, dan masih banyak penyakit lainnya, bahkan sendi tulangnya ada tanda-tanda bengkok dan berubah bentuk. Namun, tidak boleh karena penyakit yang diderita guru lantas merendahkannya. “Lihat, Anda adalah seorang sadhaka, seorang pemimpin tertinggi Kargyupa, mengapa menderita begitu banyak penyakit?” Tidak boleh merendahkannya, karena kekuataan kesadaran dan batinnya adalah seorang raksasa. Saya terhadap guru sarana saya, saya selalu sangat menghormati, hanya umat sarana Zhenfo Zong kita! Saya tidak tahu bagaimana siswa melihat Mahaguru. Tentu saja, yang menghormati Mahaguru juga sangat banyak. Sebenarnya, yang meninggalkan tetap meninggalkan, yang tidak berjodoh tetap tidak berjodoh, benar tidak? Buat apa? Buat apa menembak pong pong pong? Mahaguru telah memperlihatkan teladan pada Anda semua, saya juga sering dimarahi oleh guru, Guru Thubten Dhargye juga memarahi saya, Bhiksu Liaoming juga memarahi saya; Guru Sakya Dezhung juga memarahi saya, saya hanya bertemu Gyalwa Karmapa beberapa kali saja, Beliau tidak memarahi saya; hanya Beliau tidak memarahi saya. Tiga lainnya lebih sering berhubungan, paling banyak dimarahi. Namun, saya tidak boleh karena mereka memarahi saya, saya lantas memarahi mereka, membalas perbuatan mereka, tidak boleh. Guru sendiri harus dijadikan mahkota silsilah, wajib, yang satu ini sangat penting. Maksud saya adalah, hari ini kita sangat tidak mudah memperoleh Abhiseka Mahakala di sini, tidak gampang! Untuk memohon sebuah Abhiseka, perlu mempersembahkan semua uang sendiri, memohon sebuah Abhiseka Pancadhyani Buddha, tentu harus mengeluarkan uang sendiri. Saat saya mengAbhiseka Anda semua, tentu saja ada sebagian orang beli bahan persembahan, namun, ada sebagian orang tidak tahu harus beli bahan persembahan. Mahaguru membiarkan Anda semua sukarela, kita sangat mudah memperoleh sebuah Abhiseka Dharmapala yang tertinggi dalam Kargyupa, Mahakala; seperti Trulshig Rinpoche itu terus-menerus bermimpi ingin memohon Abhiseka Mahakala, beberapa kali mempersiapkan bekal untuk mencari Gyalwa Karmapa ke-16, namun tidak menemukan, tidak seberuntung itu bertemu dengannya, hanya setelah Beliau mangkat, memancarkan cahaya di dalam mimpi Trulshig Rinpoche, Trulshig Rinpoche baru dapat menerima Abhiseka Mahakala. Sedangkan saya menerima Abhiseka dari Gyalwa Karmapa pribadi di Karma Triyana Dharmachakra. Menerima satu Abhiseka, sangat tidak mudah! Setiap orang di sini, entah telah menerima berapa banyak Abhiseka.

“Pada zaman ini, Sadhana Tantra palsu dan Acarya palsu ada di mana-mana, ada orang kira pergi sekali ke Tibet, pulang lalu menjadi Acarya, ada orang kira menjadi pesuruh Rinpoche Tibet, belajar beberapa jurus lantas menjadi Acarya, sebenarnya Acarya sejati, setelah memperoleh silsilah Sadhana Tantra yang sejati, segalanya belajar berdasarkan ajaran dan bimbingan dari Acarya, memperoleh pencerahan yang sejati, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, menentukan sendiri hidup dan mati, penekun Tantra demikian, baru memenuhi kriteria mengaku sebagai Acarya.” Juga tidak boleh dikatakan “mengaku sebagai Acarya”, sesungguhnya Anda benar-benar mencapai pencerahan, juga memahami hati dan menyaksikan Buddhata, juga dapat menentukan sendiri hidup dan mati.

Tentu saja, saat itu, Anda adalah seorang Acarya, walaupun tidak ada orang memberikan Abhiseka Acarya kepada Anda, Anda juga seorang Acarya. Dapat menentukan sendiri hidup dan mati, menentukan sendiri mau terlahir di mana, ini adalah menentukan sendiri. Jika Anda dapat menentukan sendiri, walaupun Anda tidak ada gelar Acarya, sebenarnya Anda adalah Acarya. Seperti hari ini mengadakan homa Mahakala, Mahakala memperlihatkan diri, membawa seorang Bhagawati, Bhagawati itu berwarna biru. Seperti ini baru dapat mengundang Mahakala, kita pun dapat kontak yoga dengan banyak adinata, ini barulah kriteria sesungguhnya menjadi seorang Acarya.

Selain itu, saat saya memohon Anuttara Tantra, saat saya memohon Abhiseka dari Guru Thubten Dhargye, sebenarnya persembahan yang saya berikan pada Beliau tidak banyak, saya hanya memberikan pada Beliau 10 ribu USD, tidak terbilang banyak. Namun, dibandingkan Bhiksu Lama kita memohon satu Abhiseka tentu saja masih banyak. Umumnya, aturan saya seperti ini, saya memohon satu Abhiseka 10 ribu USD; semua bekal yang saya tabung dan siapkan, semua dipersembahkan kepada guru sendiri, ini adalah wujud menghargai Dharma, saya sangat menghargai sadhana ini.

Jika Anda tidak hargai, menerima satu jenis Abhiseka 5 USD, 10 USD, 20 USD. Anda mana tahu Mahaguru Anda menerima satu jenis Abhiseka itu berapa harganya, sungguh! Semua gaji saya diberikan. Jangan bicara uang lagi, bicara uang merusak suasana.

Mari cerita sebuah lelucon. Matapelajaran keempat pagi hari, Xiaohua lapar, sehingga tidak konsentrasi mendengarkan pelajaran, duduk di tempat duduk melamun ingin makan roti, sandwich, hotdog, melamun hingga air liur hampir menetes. Guru matematika menemukan ia melamun, lalu bertanya padanya, “1200 titik desimal digeser satu ke kanan, bagaimana hasilnya?” Xiaohua sangat gembira menjawab, “Pelajaran selesai! Akhirnya boleh makan.” Mahaguru sangat beruntung memperoleh Abhiseka dari beberapa Guru. Saat saya di Ballard, saya setiap hari menyetir keluar sekali, untuk latihan menyetir, saya menyetir ke parking Green Lake lalu parkir, melihat seorang Lama di sana menjapa mantra dengan suara keras, saya pikir saya sendiri juga belajar Tantra! Seharusnya bernamaskara pada-Nya, saya pun bernamaskara pada-Nya, tak disangka Beliau adalah Sakya Dezhung Rinpoche dari Sakya Monastery, Beliau di sana menjapa mantra dengan suara yang sangat keras. Beliau mengajari saya beberapa mantra, mentransmisikan saya beberapa sadhana, yang terpenting adalah Hevajra, Beliau menjelaskan Hevajra pada saya. Semua adalah semacam kebetulan!? Mari cerita sebuah lelucon. Seorang suami bertanya pada istri, “Sayang, kamu keluar rumah apakah ada yang memujimu?” Istri menjawab, “Memuji saya apa?” Suami menjawab, “Memuji kamu mempunyai tubuh atletis.” Istri menjawab, “Tidak ada! Tubuh saya cocok olahraga apa?” Suami menjawab, “Angkat berat.” Mari cerita sebuah lelucon lagi, istri bertanya pada suami, “Hei! Setan, kamu masih tidak cepat pergi ke terminal menjemput ibu saya?” Suami berkata, “Saya tidak berani pergi.” Istri bertanya, “Mengapa?” Suami menjawab, “Saya tidak berani melawan perintahmu, kamu pernah membuat aturan untuk saya, selain kamu, tidak boleh menemui wanita manapun.”

Guru yang Mahaguru temui, masing-masing ada jodoh karmanya, seperti Bhiksu Liaoming, jodoh karma sangat kental, banyak mantra dan ilmu belajar dengan Beliau. Selain itu, Guru Sakya Dezhung, Gyalwa Karmapa ke-16, Guru Thubten Dhargye, semua orang tahu, guru sarana saya yang terakhir adalah Guru Thubten Dhargye. Banyak umat pergi ke tempat Guru Thubten Dhargye, umat Zhenfo Zong sangat mengganggu Guru Thubten Dhargye, hingga Guru Thubten Dhargye berkata, “Selain siswa Zhenfo Zong, saya temui. Siswa Zhenfo Zong saya tidak temui.” Lihat, seorang guru diganggu sedemikian rupa, hingga Beliau jatuh sakit.

Beliau mangkat pada usia 75 tahun, 3 hari sebelum Beliau mangkat, saya pergi ke Hong Kong mencari Beliau, saat itu Beliau tidak menemui siapapun, hanya menemui saya. Beliau bahkan menjulurkan tangan memberkati saya dan Gurudhara. Tiga hari sebelum Beliau mangkat, hanya bertemu 2 orang, yaitu saya dan Gurudhara, jodoh karma sedemikian dalam dan kental, saat itu Belau telah sakit sangat berat, Belau berbaring sambil memakai tabung oksigen, tidak dapat bicara, suara pun tidak jelas, begitu mendengar saya dan Gurudhara mau menemui Beliau, Beliau langsung bertemu. Sementara, saat Beliau di sana sudah tidak bertemu siapapun. Tangan Beliau dijulurkan, gemetar, namun, masih memberkati kami. Ketika saya melihat guru seperti ini, yakni 3 hari menjelang mangkat, tak disangka Beliau menjulurkan tangan memberkati kami, kami sangat terharu.

Beliau tidak bertemu siapapun, hanya bertemu saya dan Gurudhara, saya barulah Acarya sejati, karena guru sangat menghargai saya, ada silsilah sejati, sangat penting, bukan palsu. Pelayannya khusus memberitahu saya, “Guru hanya menemui kalian berdua, orang lain tidak.” Sejak Beliau berbaring sakit, Beliau tidak menemui siapapun, hanya bertemu kami berdua. Saat itu, pelayan bertanya pada Beliau, “Apakah mau bertemu Mahaguru Lu dan Gurudhara?” Beliau mengangguk dan berkata mau bertemu, nyatalah bahwa acarya sejati adalah siswa kesayangan guru sendiri, sama halnya dengan putra kesayangannya, sehingga baru bertemu. Kelak, saat saya mangkat, berbaring di atas ranjang pasien, seseorang datang menemui saya, begitu saya lihat, jika orang ini tidak ada di hati saya, saya tidak akan bertemu. Tentu siswa di hati saya baru saya temui; saya menghargainya, saya menganggapnya berbakat besar, siswa kesayangan saya, seratus persen acarya, saya baru temui. Oleh karena itu, ketahuilah, Mahaguru bukan acarya palsu, ketika guru berada dalam kondisi paling kritis, saya mengunjungi Beliau, Beliau masih menemui saya, jika Beliau saat itu berkata, “Tidak bertemu!” Kaki saya pun lemas. Karena Anda bukan siswa kesayangan Beliau, titik berat ada di sini. Di sinilah perbedaan antara acarya sejati dan acarya palsu. Nanti, tunggu saja tanggal mainnya. Ketika Mahaguru berada dalam kondisi kritis, jika pada saat-saat menjelang mangkat masih menemui Anda, artinya siswa kesayangan yang sesungguhnya baru bisa diperlakukan demikian.

Seorang pramuniaga sedang menyeka debu di papan merek, terlalu kuat, sehingga papan merek tertarik dan jatuh ke lantai, retak menjadi dua bagian. Pemilik toko memucat begitu melihatnya, pramuniaga dalam kondisi panik, timbul kebijaksanaan, berkata, “Ini adalah firasat baik.” Bos bertanya, “Papan merek sudah jatuh, masih ada firasat baik apa lagi?” Pemilik toko berkata, “Patah menjadi dua bagian adalah firasat baik mau buka cabang.” Menjadi seorang siswa, Anda mesti memiliki kebijaksanaan. Kita tahu bahwa ada dua jenis bekal, satu adalah bekal berkah dan pahala, satu lagi adalah bekal kebijaksanaan. Kita mesti pintar, Anda ikut di sisi Mahaguru, harus lihat dengan jelas, barang Mahaguru, Anda harus ambil secara terpisah; barang sitaan, Anda harus ambil secara terpisah, ini adalah letak kecerdasan seorang pelayan.

Pelayan Mahaguru harus seperti ini, orang lain memberitahu Anda, “Ini mau dipersembahkan kepada Mahaguru.” Saya pun ambil, karena bawaan terlalu berat, saya pun ambil dan berikan pada pelayan, pelayan pun ambil dan taruh di tengah, begitu saya pulang dan melihat, dilihat bagaimana pun tetap satu NT, dihitung-hitung, disita. Pelayan harus sangat pintar, barang mana Mahaguru butuh, barang mana Mahaguru tidak butuh, saat itu Mahaguru butuh apa, ia mengerti, ia bijak, ia bisa membedakan, pelayan demikian barulah pelayan yang baik. Ketika Mahaguru sedang bicara dengan wanita cantik, pelayan harus tahu diri, buat apa selalu berdiri di samping mendengarkan rahasia orang? Benar tidak? Orang lain sedang menceritakan rahasia di hatinya, bukan ada apa-apa dengan Mahaguru, namun, ia sedang menceritakan rahasia di dalam hatinya, pelayan seharusnya menjauh sedikit, berdiri di samping pintu, cukup jangan melihat saja. Namun, tetap harus di samping pintu, tidak boleh tidak menghiraukan lalu pergi, ini juga tidak boleh, harus jaga satu jarak, agar ia mencurahkan isi hatinya, ini juga sebuah rumus penting.

Ketika Mahaguru sedang melayani guru sendiri juga demkian, begitu melihat guru kurang bersemangat, sayapun mengerti harus menjauh, membiarkan guru istirahat. Ketika Anda bertanya Dharma, saat guru sedang jengkel, Anda juga harus mengerti bahwa guru sedang jengkel. Oleh karena itu, antara guru dan murid, harus mengerti prinsip ini, harus mengerti tata krama ini, tata krama dan etika. Saya melihat guru saya pasti bernamaskara, yang satu ini tidak ada alasan. Saat itu, saya telah menjadi Mahaguru, sudah merintis Zhenfo Zong, saya melihat guru sarana saya, tidak ada sekalipun saya berdiri, sama tinggi dengan Beliau, saya tidak boleh duduk sama tinggi dengan Beliau. Guru menyuruh Anda duduk, kadang-kadang sedang menguji Anda. Misalnya, Beliau akan berkata, “Ini adalah tempat duduk Mahaguru Lu setiap kali datang, hari ini saya biarkan Anda duduk. Setiap kali Mahaguru Lu datang selalu duduk di tempat duduk ini, saya duduk di sini, Beliau duduk di sana. Hari ini biarkan Anda duduk.” Anda harus mengerti pernyataan ini, jika Anda sebagai seorang Acarya berjalan ke sana dan duduk, selanjutnya Beliau akan mengadu pada saya, “Acarya ini duduk di kursi Anda, Anda harus perhatikan, Acarya ini ada maksud tertentu, ia ambisius. Saya pernah memberitahunya bahwa tempat duduk ini adalah tempat duduk Mahaguru Lu, saya mempersilahkan ia duduk itu sedang mengujinya, apakah ia dapat menghormati tempat duduk Anda Mahaguru Lu ini.” Beliau berkata pada saya, “Mahaguru, Anda boleh mengabaikan acarya ini.” Beliau langsung mengatakan seperti ini pada saya. Setiap orang datang, Beliau pun mengujinya. Oleh sebab itu, harus bijaksana! Jika Anda tidak bijaksana, maka akan gagal dalam ujian Guru Thubten Dhargye.

Guru Thubten Dhargye bahkan segaja memarahi saya, “Mahaguru Lu, apa itu Padmakumara? Sama sekali tidak ada Padmakumara, Mahaguru Lu juga bukan Padmakumara.” Anda dengar, “Aduh? Ucapan kakek guru, siswa pasti dengar! Beliau adalah guru Mahaguru, lantas, mutlak tidak ada Padmakumara.” Anda berpikir seperti ini berarti gagal dalam ujiannya. Beliau berkata pada saya, “Siswa demikian, saya bicara seperti ini padanya, ia juga mendengar kata-kata saya, bahkan ikut-ikutan saya, berkata, “Sungguh tidak ada Padmakumara, saya juga tahu Mahaguru itu palsu.” Guru saya berkata pada saya, “Abaikan saja siswa ini! Mendengar kata-kata saya lantas menfitnah Anda, siswa demikian, abaikan saja!” Beliau berkata seperti ini pada saya. Oleh karena itu, acarya sejati dan acarya palsu, Anda harus bijaksana, dapat membedakan, jangan sembarangan dengar dan bertindak sembarangan. Beliau memberitahu saya, “Ini adalah tempat duduk Mahaguru Lu, Beliau setiap kali duduk di sini, mari, siswa ini silahkan duduk.” Anda pun benar-benar duduk, Anda kira Anda sangat mulia, sangat terhormat, sebenarnya Beliau sedang menguji Anda. Berikutnya, Beliau pun berkata, “Abaikan saja acarya ini.” Harus lebih pintar. Acarya sejati memiliki pencerahan sejati, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, menentukan sendiri hidup dan mati, penekun Tantra harus memiliki kriteria dijuluki Acarya. Anda telah mampu menentukan sendiri hidup dan mati, dapat memahami hati dan menyaksikan Buddhata, juga telah mencapai pencerahan, ini barulah acarya sejati. Walaupun Mahaguru mengAbhiseka Anda sebagai Acarya, namun, Anda tidak mencapai pencerahan, juga tidak dapat menentukan sendiri hidup dan mati, juga tidak memahami hati dan menyaksikan Buddhata, itu bukan sejati, penting sejati.

Pria sibuk dari pagi hingga malam, setelah pulang ke rumah langsung internetan main game. Istri sangat marah, “Kapan kamu baru menemukan bahwa anak bukan anak kandungmu?” Begitu si pria mendengar, naik pitam, “Sedari awal saya telah lama curiga padamu, akhirnya kamu mengaku.” Istri berkata, “Mengapa saya tidak berani mengaku? Kamu lihat saja di ruang tamu, apakah anak yang kamu jemput di Taman Kanak-kanak itu anakmu?” Ia menjemput anak orang lain, karena ia sibuk main game!

Kita belajar Buddhadharma, Anda tidak boleh salah mengenal guru sendiri, tidak boleh salah mengenal acarya sendiri, tidak boleh salah mengenal guru sarana yang sesungguhnya; menyadari bahwa Beliau benar-benar memiliki silsilah sarana, memiliki sadhana Tantra sejati, benar-benar memiliki bukti nyata, Anda harus mengikutinya seumur hidup. Ini barulah disebut Eka-sarana, yang ditekankan oleh Guru Thubten Dhargye adalah Eka-sarana. Setiap kali saya di sana, guru juga ada, siswa Zhenfo Zong masuk, begitu melihat dua orang guru, satu adalah kakek guru, satu adalah saya, ada siswa bernamaskara pada saya, kemudian bernamaskara pada kakek guru, ini benar. Jika lebih dulu bernamaskara pada kakek guru, saya di sana, bahkan melirik pun tidak, kemudian ia pun duduk, ia kira kakek guru paling agung, bukan! Mulaguru Anda paling agung. Saya tentu saja bernamaskara pada kakek guru, benar tidak? Siswa lain masuk, mereka juga memiliki aturan mereka, namun, Tantra ada aturan Tantra, seharusnya lebih dulu bernamaskara pada Mulaguru, kemudian baru bernamaskara pada kakek guru, ini barulah benar, jangan keliru. Banyak hal dilakukan secara salah.

Seorang pramugari yang cantik, ia sangat cantik, namun, ia sangat pintar buang angin, bahkan baunya tak terbandingkan. Suatu kali dalam penerbangan, pramuniaga cantik ini buang angin lagi, seketika seluruh pesawat diselimuti bau menyengat, seorang penumpang tidak tahan lagi, lalu bertanya, “Pramuniaga, mengapa bisa sebau itu?” Pramuniaga sangat malu, namun, pasti tidak boleh mengaku, karena sangat memalukan. Pramuniaga timbul ilham, menjawab, “Ini normal, karena pesawat terbang kita kebetulan terbang melewati lapisan ozon.” Ini adalah kebijaksanaan, kita harus belajar banyak kebijaksanaan. Dua jenis bekal, satu adalah bekal berkah dan pahala, satu adalah bekal kebijaksanaan, jika kita memiliki kebijaksanaan, maka mengerti bagaimana membedakan, mengerti bagaimana belajar Sadhana Tantra berdasarkan prosedur. Akhir-akhir ini ada orang memohon Abhiseka kedua, Abhiseka kedua adalah Abhiseka bunga merah dan putih, tadinya Abhiseka bersamaan Bodhi Merah dan Bodhi Putih, yaitu Bodhi Putih guru dengan Bodhi Merah Bhagawati, Abhiseka peleburan keduanya dalam makna Tantra. Namun, sampai zaman sekarang, berubah, sekarang bunga merah melambangkan Bodhi Merah, bunga putih melambangkan Bodhi Putih, ini tergolong Abhiseka kedua. Ketika saya menerima Abhiseka kedua, saya mempersembahkan seluruh gaji tabungan pribadi saya selama setahun kepada Bhiksu Liaoming, Abhiseka yang diperoleh barulah sejati. Karena saya benar-benar seratus persen memberikan persembahan kepada Mulaguru, memperoleh berkah, memperoleh pahala, dan memperoleh kebijaksanaan, memperoleh semua bekal, sangat penting. Kita melakukan puja api juga semacam persembahan yang sangat besar. Oleh karena itu, setiap orang sebaiknya belajar puja api, atau belajar puja asap, atau puja air. Ini sangat penting.

Sekarang ada orang mewakili saya bicara, “Saya boleh mewakili Mahaguru memberikan Abhiseka keempat Dzogchen kepada Anda semua, semua uang diambilnya.” Banyak umat Zhenfo Zong ditakut-takuti olehnya, ini palsu!

Anda harus membedakan dengan jelas, Abhiseka Dzogchen tidak diAbhiseka sembarangan seperti ini, tidak ada kejadian demikian! Semua orang harus membedakan dengan jelas, bahkan seorang wanita, berperawakan pendek, aneh dan jelek tiada tara, Mahaguru mana mungkin menyerahkan Sadhana Dzogchen kepadanya, menyuruhnya mewakili transmisi Abhiseka Sadhana Dzogchen? Sekalipun sangat cantik, wanita yang sangat cantik, saya juga tidak mungkin berikan! Apalagi sejelek itu? Benar tidak? Ia mengatakan Mahaguru setiap hari meneleponnya, sambil memutar kaset ceramah Dharma Mahaguru, ia berkata, “Anda dengar, Mahaguru di samping, itu suara Mahaguru! Saya mewaikili Mahaguru memberikan Abhiseka Dzogchen.” Wanita itu jelek lagi, tak disangka bisa percaya padanya? Memangnya Mahaguru mengagumi wanita jelek? Mustahil! Alhasil, tetap ada orang yang percaya, Amitabha! Seakan-akan penglihatan saya sangat dangkal. Om Mani Padme Hum.