Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Dharmadesana Mahaguru > Ceramah Terbaru Dharmaraja Liansheng Tahun 2014 > 2014-07-27 Memperlihatkan Sukha Nirvana dan Mencapai Anuttara Bodhi Mencapai Pencerahan, Memahami Hati, dan Mencapai Keberhasilan


2014-07-27 Memperlihatkan Sukha Nirvana dan Mencapai Anuttara Bodhi Mencapai Pencerahan, Memahami Hati, dan Mencapai Keberhasilan

Ceramah Sadhana Dzogchen ke-84 oleh Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu di Rainbow Temple pada Upacara Homa Mahā-cakra-vajra tanggal 27 Juli 2014

Kita pertama-tama sembah puja pada Bhiksu Liaoming, Guru Sakya Dezhung, Gyalwa Karmapa ke-16, Guru Thubten Dhargye, sembah puja pada Triratna Mandala, sembah puja pada Adinata Homa Mahā-cakra-vajra (sebut 3 kali), sembah puja pada Bodhisattva Avalokitesvara berjubah putih, sembah puja pada Tathagata Surupakaya.

Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, dan umat se-Dharma di internet, selamat siang semua! Apa kabar semua! Apa kabar semua! (Bahasa Taiwan) Apa kabar! Apa kabar semua! Tocesai! (Bahasa Kanton: terima kasih semua) Thank you for coming and see you soon next week. Tamu agung kita hari ini adalah Executive YuanSecretary-General of the Republic of the Coordinating Committee for North American Affairs, Dubes Daniel T.C. Liao dan istri Sdri. Judy, akuntan TBF Sdri. Teresa and her husband, produser acara Gei Ni Dian Shang Xin Deng dari CTI Sdri. Xu Yaqi, dr. Lin Shuhua, Tim Profesor Doktor Zhenfo Zong - Department of Electrical Engineering, National Cheng Kung University, Taiwan Prof. Wang Li, ketua humas Taiwan Lei Tsang Temple Sdr. Wang Zizhu, dr. Zhuang Junyao, Nyonya Xue Shenghua dari Overseas Chinese Affairs Commission Komisaris Overseas Credit Guarantee Fund, Sdri. Xue Wang Shumei.

Hari ini kita berdasarkan contoh minggu lalu, menyeberangkan arwah korban kecelakaan Malaysia Airlines dan TransAsia Airways. Malaysia Airlines telah datang 9 orang, TransAsia Airways telah datang 21 orang, dijumlahkan menjadi 30 orang, sudah sangat lumayan. Karena ada sebagian yang beragama lain, ada yang sama sekali tidak mengenal Mahā-cakra-vajra, juga tidak kenal Bodhisattva Avalokitesvara berjubah putih, juga tidak kenal Tathagata Surupakaya, sehingga tidak berani ikut. Ada sebagian arwah walaupun kenal, namun, mereka tidak ada beragama, ada yang beragama lain, jadi, tidak berani sembarangan ikut. Namun, yang telah datang akan diseberangkan, yang tidak datang, mengikuti jodoh, sesungguhnya memang demikian. Penyeberangan dan lain-lain yang dilakukan hari ini sangat sempurna. Mahaguru sendiri melihat di dalam api homa ada 30 orang berjalan di dalam, kemudian Buddha Amitabha, Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthamaprapta memancarkan cahaya, membimbing mereka meninggalkan Sukhavatiloka Barat, West Very Happy Country Land, juga memberikan selamat pada mereka yang telah diseberangkan dan terlahir di alam suci Buddhaloka.

Yang dilakukan hari ini adalah Homa Mahā-cakra-vajra, gambarupang Mahā-cakra-vajra itu sendiri, Tantra Timur dan Tantra Tibet ada perbedaan, tubuh-Nya berwarna putih. Jadi, hari ini saya mengenakan rompi naga berwarna putih, mengenakan topi berwarna putih, melambangkan Mahā-cakra-vajra. Satu tangan Mahā-cakra-vajra memegang Vajra Trisula, 3 gigi terpisah adalah Tantra Timur atau Jepang; Tantra Tibet itu bergabung, Vajra 5 Sula itu bergabung, Vajra Trisula Tantra Tibet juga bergabung; yang terpisah adalah Tantra Timur, seperti Vajra Ekasula, tidak dapat terpisah. Mahā-cakra-vajra membawa Trisula di atas tangan kiri, tangan kanan memegang japamala. Juga ada semacam gambarupang Mahā-cakra-vajra Tantra Tibet agak beda dengan Tantra Timur, kedua tangan memegang Vajra 5 Sula saling bersilangan, di atas kepala mengenakan topi, berjanggung; Tantra Timur tidak berjanggut. Gambarupang Tantra Tibet berjanggut, mudah sekali dibedakan.

Apa itu Mahā-cakra-vajra? Ada satu versi mengatakan bahwa, Ia adalah titisan dari Sang Perintis Buddha Sakyamuni; versi kedua mengatakan bahwa Ia adalah titisan dari tubuh vajra Bodhisattva Maitreya atau Bodhisattva Maitreya yang menitis menjadi Mahā-cakra-vajra. Bagaimana pun, semua adalah titisan dari perintis Agama Buddha, semua adalah titisan dari Buddha yang Mahakuasa. Sang Perintis Buddha Sakyamuni menitis menjadi Mahā-cakra-vajra, sedangkan Buddha Sakyamuni adalah perintis Agama Buddha; Bodhisattva Maitreya menitis menjadi Mahā-cakra-vajra sedangkan Bodhisattva Maitreya adalah perintis, dunia yang akan datang, hingga saat 3 persamuan Bunga Naga, Bodhisattva Maitreya turun ke dunia menjadi Sang Perintis, Buddha yang Mahakuasa, menyeberangkan semua insan pada 3 persamuan bunga naga. Jadi, yang kali ini menjadi pemohon utama, semua adalah orang-orang di dalam 3 persamuan bunga naga, semua akan hadir di 3 persamuan bunga naga, juga berjodoh dengan Bodhisattva Maitreya, berjodoh dengan Sang Perintis, sama halnya berjodoh dengan Buddhadharma. Hari ini yang tidak menjadi pemohon utama, namun menerima abhiseka, tentu saja juga sangat baik. Mahā-cakra-vajra adalah titisan dari 2 perintis, tidak menjadi pemohon utama untuk yidam yang satu ini, sangat disayangkan! Semua adalah perintis Agama Buddha di dunia manusia! Anda di Dunia Saha pasti akan diseberangkan, karena Anda berjodoh dengan-Nya, Anda pasti akan terlahir pada zaman 3 persamuan Bunga Naga, Buddha Mahakuasa pasti akan membimbing Anda; ada Buddha menetap di dunia, bahkan Buddha yang Mahakuasa. Sekarang yang namanya mencapai kebuddhaan, itu kecil, small, biasa. Buddha yang Mahakuasa itu datang ke dunia Saha menjadi perintis Agama Buddha, terlebih dahulu adalah Buddha Sakyamuni, terakhir adalah Bodhisattva Maitreya, Anda berjodoh dengan kedua perintis, pasti terlahir di alam suci, pasti mencapai kebuddhaan. Hari ini yang menjadi pemohon utama, pasti mencapai kebuddhaan! Tidak menjadi pemohon utama, (Mahaguru mengucapkan Bahasa Jepang: saya tidak tahu). Tidak pernah dikatakan menjadi pemohon adinata apa pasti akan mencapai kebuddhaan.

Mahā-cakra-vajra ini sangat istimewa, boleh mengabhiseka diri sendiri, ini adalah alasan utama. Tidak ada adinata lain yang disebutkan mengabhiseka diri sendiri, bahkan adinata yang satu ini bisa mengabhiseka diri sendiri. Apa yang dimaksud mengabhiseka diri sendiri? Anda menjapa mantra Mahā-cakra-vajra 21 kali, kemudian memohon sesosok adinata datang, Anda pun mengabhiseka diri sendiri. Anda boleh mengambil air, usai menjapa Mahā-cakra-vajra 21 kali, Anda ingin menerima abhiseka apa, Anda pun memohon kehadiran-Nya, kemudian, Anda japa lagi mantra-Nya, Ia pun datang, Anda menyiram air ke atas kepala Anda sendiri, Anda pun menerima abhiseka. Konon, suatu kali Dalai Lama datang ke Taipei, atau Taoyuan, pokoknya di dalam stadium, banyak orang, ia mau melakukan abhiseka. Mereka memberikan kepada setiap orang yang hadir sebotol air mineral, saat Beliau mau mengabhiseka, apa yang Beliau katakan? “Baiklah, silahkan angkat tinggi air mineral  kalian.” Beliau pun beranjali, menjapa mantra adinata upacara, visualisasi adinata upacara masuk ke dalam semua air mineral, “Baiklah saya telah selesai berdoa, kalian buka air mineral, siram kepala Anda sendiri.” Abhiseka pun selesai. Ini dipimpin oleh Dalai Lama, karena orang di dalam stadium terlalu banyak, jika mengabhiseka satu per satu, kapan selesai!

Mereka belum menemukan abhiseka pataka Buddha seperti kita ini, sehingga semua adalah abhsieka botol biasa, yaitu menggunakan air. Wah! Hebat sekali! Justru abhiseka kali itulah, mereka cerita pada saya seperti itu, karena hadirin terlalu banyak, jika satu demi satu diabhiseka dengan botol, kapan selesai! Seluruh stadium ada 20 ribu hingga 30 ribu orang, abhiseka botol 20 ribu hingga 30 ribu orang kapan selesai! Dulu, saya pertama kali kembali ke Taiwan, saya melakukan abhiseka mata batin di Stadium Taoyuan, benar-benar mengabhiseka satu demi satu, setiap orang naik ke atas panggung, saya mengambil stempel mata batin, khok! Cap kening, khok khok khok khok khok, aneh sekali, setiap kali diangkat pasti di kening, tidak akan mengenai hidung, juga tidak akan mengenai mata, setiap kali sangat tepat. Setiap kali abhiseka, naik ke atas panggung, kemudian turun panggung, tangga panggung ambruk, karena orang terlalu banyak, juga ada 20 ribu hingga 30 ribu orang.

Mahā-cakra-vajra bisa mengabhiseka diri sendiri itu ada sebabnya. Setelah Anda memahami sadhana Tantra, mendapatkan kitab sadhana, sedangkan di tempat Anda tidak ada acarya, tidak dapat memohon acarya mengabhiseka Anda, saat itu, Anda japa mantra Mahā-cakra-vajra 21 kali, kemudian memohon adinata yang mau diabhiseka untuk hadir memberikan abhiseka,, ini adalah mengabhiseka diri sendiri. Mahā-cakra-vajra punya kemampuan demikian, adinata lain tidak ada, karena Ia melambangkan Buddha Sakyamuni, melambangkan Bodhisattva Maitreya, melambangkan Buddha yang Mahakuasa, sehingga boleh mengabhiseka diri sendiri. Mudra-Nya, lebih dulu dirangkap dalam, sama dengan mudra Marici, yaitu Mudra Mahā-cakra-vajra (Mahaguru memperagakan). Jari kelingking dan jari manis rangkap dalam, jari tengah dan jari telunjuk, dirangkapkan, inilah mudra Mahā-cakra-vajra. Bijaksara-Nya adalah aksara HUM berwarna putih, mantra pendek Mahā-cakra-vajra adalah “Om. Da La Ma Di. Xi Da. Ga Li Ya. Da Lan. Suoha.” Ada gambarupang, ada mudra, ada mantra, maka bisa menjadi sebuah sadhana, menekuni Mahā-cakra-vajra sama dengan Sadhana Pelafalan Yidam Mahā-cakra-vajra, sebenarnya, Ia adalah titisan dari Buddha Sakyamuni dan Bodhisattva Maitreya. Mahā-cakra-vajra adalah titisan dari Buddha yang Mahakuasa, Ia memiliki kuasa yang sangat besar, semua yang disabdakan-Nya adalah wewenang. Jadi, Dharmabala Mahā-cakra-vajra tidak terhingga, sangat mulia. Di dalam Sutra Kumpulan Dharani disebutkan, “Menjapa mantra ini 3 x 7 kali”, 3 dikali 7 sama dengan 21, “akan memasuki semua mandala, semua yang dikerjakan akan berhasil. Menjapa mantra ada mudra badan dan beragam metode mudra. Jika membuat mudra, menjapa banyak metode mantra, mudah mencapai kontak batin. Jika orang yang belum pernah memasuki mandala abhiseka, tidak dapat membentuk semua mudra. Jika orang menjapa mantra ini, sama seperti memasuki mandala, boleh membentuk mudra, tidak dianggap mencuri sadhana.” Biasanya, tanpa menerima abhiseka, membuka kitab sadhana, dianggap mencuri sadhana. Tanpa menerima abhiseka, menekuni sadhana ini juga dianggap mencuri sadhana, menekuni sadhana apapun, semua tergolong mencuri sadhana. Namun, asalkan Anda menjapa mantra Mahā-cakra-vajra sebanyak 21 kali, Anda memasuki mandala apapun dan melakukan ritual, semua tidak dianggap mencuri sadhana, di situlah perbedaannya. Di dalam Risalah Tripitaka dikatakan, “Di dalam ajaran dikatakan. Semua mudra dan mantra. Mesti diajarkan oleh Guru. Jika belum memasuki mandala cakra abhiseka, membentuk mudra dan melakukan ritual, dianggap dosa mencuri. Semua ritual tidak berhasil. Jika di hadapan Tathagata, menjapa mantra ini 21 kali, maka seperti bertemu Buddha, maka bersama-sama memasuki semua mandala, semua sadhana yang dimohon, akan berhasil.” Ini tercantum di dalam Risalah Tripitaka. Selain itu, di dalam An Le Miao Bao, juga tercantum Sadhana Bodhisattva Mahā-cakra-vajra, transmisi sadhana Tantra mesti diabhiseka sadhana oleh Vajracarya, jika belum diabhiseka sudah menekuni sadhana tersebut, maka dianggap melanggar dosa melampaui sadhana atau dosa mencuri sadhana. Namun, ajaran Tantra juga ada kemudahan dan toleransi, dapat membuat orang yang tinggal di tempat yang terpencil, tidak ada Vajracarya yang menetap, tidak dapat menerima abhiseka juga dapat terus menekuni sadhana Tantra, asalkan menjapa mantra hati Mahā-cakra-vajra, maka boleh bersadhana, di kemudian hari setelah bertemu Vajracarya sejati maka boleh memohon abhiseka langsung.” Ada versi demikian, kalian akan tahu setelah melihatnya, lihatlah! Mahā-cakra-vajra penting atau tidak? (Penting.) Sangat penting, Ia adalah titisan dari Buddha Sakyamuni, Bodhisattva Maitreya, Buddha yang Mahakuasa, mendapatkan abhsieka adinata yang satu ini, Anda akan hadir dalam 3 persamuan bunga naga Bodhisattva Maitreya, bahkan Bodhisattva Maitreya akan menuntun Anda mencapai kebuddhaan.

Mari kita mengulas lagi Dzogchen Tantra. Kemarin sempat bahas tentang menaklukkan Mara, ada Dharmabala agung menaklukkan semua Mara; Mahadharmabala Buddha Sakyamuni menaklukkan semua Mara di bawah Pohon Bodhi. “8, Memperlihatkan Sukha Nirvana dan mencapai Anuttara Bodhi (telah mencapai pencerahan, memahami hati, dan mencapai keberhasilan)”, yaitu mencapai keberhasilan. Sekarang setiap dari kita setiap hari bersadhana, ada yang menekuni satu kali sadhana, ada yang menekuni dua kali sadhana, bhiksu/ ni pada umumnya, setiap hari setidaknya empat kali sadhana, ada sebagian menekuni 6 kali sadhana, sehari 6 waktu, setiap hari menekuni 6 kali sadhana, itu bhiksu/ni. Upasaka/sika, satu kali atau dua kali sadhana. Yang berhasil dalam sadhana, ada bukti nyata, seperti Dubes Liao, Beliau adalah upasaka, Beliau sehari dua kali sadhana, di dalam office kantornya, ia mengatakan kantornya sangat luas, kira-kira berapa luasnya dari ruangan ini? Seperempat? Seperempat dari luas ruangan ini, Beliau setiap hari menekuni dua kali sadhana. Dulu, Beliau boleh melihat cahaya biru safir, di bagian cakra kening Beliau muncul cahaya biru safir, sangat indah. Akhir-akhir ini bersadhana, Beliau maju selangkah lagi, maju seperti apa? Beliau boleh melihat cahaya bindu yang berwarna putih seperti berlian, muncul di depan matanya; asalkan melatih 9 langkah pernapasan Buddha, menjapa mantra, Beliau mengarahkan prana ke ubun-ubun, Beliau pun bisa melihat cahaya bindu seperti berlian, terus-menerus berkilauan. Saya tanya sebentar pada Dubes Liao, apakah yang saya katakan itu benar? Benar! Melakukan di dalam altar mandala rumah, sebelum berangkat kerja dan setelah pulang kerja, ia di dalam office melakukan push-up dan sit-up, ia melakukan push up 200 kali, sama dengan Mahaguru. Sebelum berangkat kerja dan setelah pulang kerja, bersadhana di dalam altar mandala rumah, ia bisa mengarahkan prana ke bagian kening, ia bisa melihat cahaya berwarna biru safir, biasanya ia melihat cahaya biru safir, saat diarahkan ke cakra kening, melihat cahaya bindu, tidak hanya satu cahaya bindu, banyak cahaya berlian muncul, hampir menjadi rantai vajra. Anda lihat, upasaka biasa, sehari dua kali sadhana, saat ia bisa mengarahkan prana ke kening, melihat banyak cahaya bindu, cahaya berlian di depan matanya.

Bahkan melihat dengan sangat cepat, bahkan bukan karena ingin melihat, maka harus visualisasi, harus japa mantra, harus sebut nama Buddha, harus mengarahkan prana, melihat setengah hari, siut! Hilang, berkelebat sebentar lalu hilang. Ia bukan! Ia melihat dengan sangat jelas, banyak bindu muncul di depan matanya. Begitulah orang yang serius bersadhana, bahkan sangat nyata Ia juga tidak perlu berbohong, karena kami juga tidak akan memberikannya angpao! Benar tidak? Juga tidak ada keuntungan apapun! Ia benar-benar melihat cahaya bindu, bahkan banyak sekali, berkilauan seperti berlian, sebutir demi sebutir berkilauan di depan matanya. Tak seberapa orang yang dapat melihat cahaya biru safir, dapat melihat cahaya bindu juga tak seberapa, apalagi dapat melihat sekumpulan cahaya bindu. Dubes Liao bahkan mengatakan, ia melihat Vajrasattva yang kurang jelas. Kelak asalkan cahaya bindu telah terkumpul, di dalam cahaya bindu akan muncul Vajrasattva, akan muncul semua Buddha, Anda terus melihat cahaya tersebut, nanti saat bergabung menjadi sebidang, dari dalam akan muncul Buddha, banyak Buddha akan muncul, bahkan Vajrasattva. Dubes Liao melihat Vajrasattva yang buram, sudah hampir melihat Vajrasattva. Berikan mikrofon padanya! Ceritakan pada kita semua!

(Dubes Liao: Saat saya di Taiwan, menyaksikan ceramah Mahaguru di internet dan saat menghadiri upacara homa di Taiwan Lei Tsang Temple, juga sama, memanfaatkan saat Mahaguru sedang melakukan penyaluran jasa, saya melakukan dua kali Bradha Kumbha Prana (pernapasan botol), kemudian terang pun muncul.)

Oh! Saat Beliau di Taiwan Lei Tsang Temple, menyaksikan ceramah Mahaguru di internet, atau saat Mahaguru melakukan pelimpahan jasa di Taiwan Lei Tsang Temple, ia melakukan dua kali Bradha Kumbha Prana, kemudian mengarahkan prana, cahaya pun muncul di cakra keningnya, sehingga bisa melihat, hari ini juga ada. Hari ini Mahaguru sedang melakukan pelimpahan jasa juga demikian, ia juga melihat cahaya bindu, sangat jelas. Lihatlah, kita semua masih tidak serius bersadhana dengan sungguh-sungguh, tidak serius bersadhana dengan sungguh-sungguh, memangnya hanya membuat Dubes Liao sendirian yang mendapatkan nama harum? Benar tidak? Setiap orang harus serius melihat cahaya yang dipancarkan di dalam hati sendiri, melihat cahaya hati sendiri! Melihat cahaya bindu di dalam cahaya hati sendiri, tentu harus sangat serius.

Dubes Liao dapat melatih dua kali Bradha Kumbha Prana, sehingga dapat melihat, atau sembilan langkah pernapasan? Sehingga dapat melihat. Zhenfo Zong ada begitu banyak acarya, jarang sekali menceritakan pada saya bahwa ia melihat cahaya bindu, atau bagaimana. Seperti Acarya Lianwang, Anda dapat melihat cahaya bindu? (Bisa.) Ia juga bisa melihat cahaya bindu, dapat melihat cahaya tak seberapa, barangkali mereka melihat, hanya saja agak rendah hati, sungkan menceritakan bahwa mereka melihat. Mungkin mereka lebih rendah hati, agak merendah, agak sungkan, atau agak malu. Sebenarnya, cerita juga tidak apa-apa, itu adalah semacam kesaksian. Seperti “Memperlihatkan Sukha Nirvana dan Mencapai Anuttara Bodhi”, saat baru mulai, Anda harus sangat hening baru mampu memancarkan cahaya hati, jika Anda tidak dapat hening, Anda pun tidak dapat memancarkan cahaya hati, ini semua mengandalkan teknik fokus atau Dhyana. Sebenarnya, bicara tentang Dhyana, tidak perlu bicara teori yang terlalu besar; Dhyana bukan apa-apa, Dhyana adalah fokus, jangan memikirkan masa lalu, jangan memikirkan sekarang, jangan memikirkan masa depan, Anda pun fokus, Anda pun bisa berhasil. Jika Anda seharian sampai malam selalu sibuk, sibuk ini sibuk itu, sibuk terus-menerus, mana ada waktu melihat cahaya? Tentu saja, sekarang kita juga melihat cahaya, cahaya matahari sangat terik, mata terbuka bisa melihat cahaya matahari, wah! Cahaya matahari sangat terik. Bukan cahaya semacam itu, beda dengan cahaya di dalam batin Anda. Cahaya batin hanya dapat terlihat pada saat sangat hening, dengan kata lain, cahaya yang terlihat saat fokus, yang satu ini sangat penting, harus sangat fokus. Menceritakan sebuah lelucon, suatu siang, di restoran tampak seorang pria sedang mengandeng tangan wanita turun tangga, tak disangka, pria itu terjatuh, namun, ia tidak melepaskan tangannya, sehingga wanita itu juga ikut terjatuh, keduanya berguling jatuh dari tangga, kondisi mereka sangat menggenaskan. Kejadian ini diceritakan pada kami, ada semacam cinta disebut “melepaskan tangan”. Menggandeng tangan tentu saja baik, namun, si pria terjatuh, malah menarik tangan si wanita terjatuh bersama-sama, dari lantai atas berguling hingga lantai bawah. Saat seharusnya lepaskan tangan tetap harus lepaskan tangan. Namun, ada satu hal, saat berjalan di jalan yang datar dan mantap, memang harus bergandengan tangan, saat berbahaya, juga mau bergandengan tangan, namun, saat turun tangga, jika Ada terjatuh, Anda ingat harus lepaskan tangan, membuat orang lain terjatuh bersama Anda kurang baik. Ketahuilah, fokus adalah melepaskan tangan.

Saya dengar orang lain berkata, “Suasana hati tidak baik.” Mengapa suasana hati tidak baik? Karena tidak bisa melepaskan. Orang lain menggosipkan dirinya, ia dengar dari orang lain, suasana hati menjadi tidak baik, tidak bisa melepaskan. Bersadhana seperti ini tidak ada gunanya, karena tidak bisa melepaskan, maka tidak bisa fokus. Mampu melepaskan, baru dapat melihat cahaya dalam kondisi sangat hening, dapat melihat cahaya bindu, melihat rantai vajra, terakhir melihat layar vajra, terakhir melihat Buddha Bodhisattva, yidam, Vajrasattva. Tentu harus melepaskan baru dapat melihat.

Atau Anda menggunakan visualisasi, Anda duduk, “harus hening”, “harus konsentrasi”, “harus melihat cahaya”, aduh? Melihat teman wanita muncul, itu bukan melihat cahaya? Di dalam benak adalah teman wanita. “Harus hening” “harus mulai melihat cahaya”, alhasil melihat orang lain sedang memarahi Anda, hati sangat jengkel, tidak bisa fokus! Terpengaruh oleh lingkungan luar. Jika tidak terpengaruh oleh lingkungan luar disebut “Dhyana”; sepenuh hati tidak galau, disebut “stabil”, Samadhi! Setiap manusia akan terpengaruh oleh lingkungan luar, sekarang Mahaguru sudah tidak terpengaruh lagi oleh lingkungan luar. Siapapun yang membuat saya marah, saya tetap tidur lelap, apapun yang saya dengar, saya anggap tidak terjadi apa-apa, bukan urusan saya. Banyak yang saya dengar, seperti internet, yang dilihat, yang didengar juga ada, orang lain akan menceritakan pada saya. Saya tidak bisa buka internet, karena saya tidak punya komputer, saya tidak bisa browsing internet, saya juga tidak bisa browsing facebook, saya tidak pernah buka facebook. Saya bertanya apa itu facebook? Gurudhara berkata pada saya, yaitu Anda masuk ke pasar, melihat banyak orang beli sayur, ini jual sayur ini, itu jual sayur itu, ini jual ikan, jual seafood, jual daging, banyak sekali jualan di pasar, silih berganti, pasar tersebut sangat besar, Anda pun jalan sana jalan sini, itulah facebook. Hingga sekarang, saya benar-benar tidak dapat membayangkan, bagaimana pasar itu, saya tidak ada gambaran tersebut, seperti apakah masuk ke pasar? Saya pernah masuk ke pasar, namun, internet juga ada pasar, saya tidak tahu. Jadi, saya tidak dapat membayangkan apa yang ditulis orang lain tentang diri saya. Mahaguru juga bukan orang biasa, agak ternama, karena ada ternama, orang lain akan mengritik, kritik juga normal. Karena tidak ada nama baru tidak ada orang kritik. Ternama baru akan dikritik orang lain, siapapun akan dikritik, setelah menjadi presiden juga dikritik, sama saja! Itu sebabnya, baik yang disampaikan orang lain pada saya, atau apapun, saya tidak ada masalah! Bukan masalah saya, karena saya tidak melihat, yang saya dengar pun belum tentu benar. Jadi, saya sama sekali tidur dengan nyenyak. Bagaimana pun orang lain memarahi saya, semarah apapun, saya tidak merasakan apa-apa. Jadi, saya dapat fokus. Bahkan tidur pun, saya sangat fokus, tidur sangat nyenyak! Sore ini, saya juga tidur, dari pukul 1:30 hingga pukul 2:30, siang saya juga mampu tidur, malam saya juga mampu tidur. Bukan siang telah tidur, malam tidak dapat tidur, malam juga tidur sangat lelap. Ini adalah fokus, tidur pun harus fokus! Apapun harus dilepaskan. Suasana hati tidak baik justru karena tidak mampu melepaskan, setiap hari suasana hati sangat baik, itulah melepaskan. Apakah mau melepaskan? Mau, harus melepaskan. Melepaskan baru dapat hening. Jika Anda dapat hening, hati sangat hening, saat bersadhana melihat cahaya bindu, kelak melihat layar vajra, melihat Vajrasattva muncul dengan sangat jelas, itu berarti sudah hampir berhasil.

Ada seorang pencuri, ia tertangkap saat sedang mencuri, dibawa ke kantor polisi, polisi menemukan bahwa ia adalah residivis, sering mencuri, bahkan khusus mencuri rumah yang berada di dekat tempat tinggalnya. Polisi sangat penasaran, menanyakan alasannya, polisi berkata, “Mengapa setiap kali Anda mencuri adalah barang di dekat rumah Anda? Ini mudah sekali tertangkap.” Polisi menjawab, “Karena akhir-akhir ini keamanan kurang baik, istri minta saya jangan melakukan perjalanan jauh.” Saya merasa begitu, setiap lingkungan akan mempengaruhi seseorang, Anda pergi ke Taiwan, lingkungan Taiwan kotor, kacau, dan menyenangkan; lingkungan Seattle itu berpemandangan indah dan membosankan. Jadi, Seattle seharusnya tempat yang sangat baik untuk melatih diri, Vancouver juga sama, jarang penduduk adalah tempat yang sangat baik untuk melatih diri.

Lihatlah, di Taiwan setiap kali melakukan homa dihadiri puluhan ribu orang, setiap kali adalah 20 ribu hingga 30 ribu orang, DR. Wang Li tahu, setiap kali ia selalu hadir. Dubes Liao juga tahu. Setiap kali puluhan ribu orang, di lokasi penuh dengan orang. Di Seattle, kita melakukan homa hanya satu ruangan ini saja, sebatas jangkauan daya penglihatan, bahkan semua adalah wajah-wajah yang familiar, sulit sekali ditemukan wajah baru.

Hanya beberapa orang saja, juga tidak seberapa wajah baru, dilihat sampai akhirnya tidak ingin melihat lagi, beberapa orang ini saja sudah begitu banyak gosip! Aduh? Di Taiwan puluhan ribu orang, gosip tidak begitu banyak, karena bicara terlalu banyak maka tidak ada lagi, seharusnya juga ada gosip. Di sini justru beberapa orang saja, juga ada gosip, jangan meremehkan beberapa orang ini. Juga bisa ada gosip, saling bertarung, juga bisa bersaing. Kapan baru dapat melepaskan? Sungguh sangat sulit, Anda cukup tidak hiraukan sama sekali. Harus mengerti teori ini, jangan hiraukan, cukup mata tidak melihat, telinga tidak mendengar, mulut tidak bicara, inilah melepaskan.

Pada zaman kuliah, di dalam asrama, seorang rekan mengeluarkan cermin dan bercermin lama, tiba-tiba berkata, “Wah! Saya tampan sekali!” Yang lain menjawab, “You Mother Good! Orang seperti Anda kejam sekali, bahkan diri sendiri pun dibohongi.” Kadang, dipikir-pikir, kita sering membohongi diri sendiri, sebenarnya, wajah kita tidak seberapa. Seperti Mahaguru, wajah tidak seberapa, Mahaguru kira diri sendiri adalah Mahaguru, bercermin, “Hm! Kelihatan aura masih lumayan.” “Aduh? Kelihatan tidak seperti umur 70 tahun!” Kadang, bangun pagi melihat wajah sendiri, “Aduh? Gawat! Apa yang terjadi? Seperti tua bangka!” Umur 70 ya umur 70, tidak bisa bohong. Memang, tidak segagah masa muda, jangan selalu kira diri sendiri sangat tampan, seorang handsome boy, apakah masih seorang handsome boy? Sedari awal sudah seorang tua bangka. Jangan membohongi diri sendiri, sungguh, kenyataannya memang demikian. Saya sering memuji orang lain sangat cantik, “Anda sungguh sangat cantik.” Orang lain juga memuji saya, “Anda sangat tampan!”

Jangan seperti itu! Saya sendiri tahu bagaimana wajah saya, setiap hari bercermin, bangun pagi bercermin, lihat lihat lihat, dicari mana yang lebih agung, alis lebih agung. Pokoknya, diri sendiri harus memahami diri sendiri, Anda benar-benar dapat melepaskan? Anda mengatakan bahwa Anda melihat cahaya, atau ada sebagian orang mengatakan melihat Buddha Bodhisattva, melihat sesuatu, saya merasa Anda biasanya tidak mampu melepaskan apapun. Anda mengatakan bahwa Anda melihat Buddha Bodhisattva, saya bisa percaya? Jangan membohongi diri sendiri, membohongi diri sendiri dan orang lain itu tidak baik.

Mendengar Buddhadharma harus berkelanjutan, sebaiknya berkelanjutan. Karena jika tidak berkelanjutan, kadang kala akan salah paham suatu sadhana. Xiao Yan pergi ke rumah sakit memeriksakan penyakit kaki bengkaknya, dokter memeriksa dengan teliti, memberikannya sebutir pil yang sangat besar, dokter berkata, “Saya ambil air dan segera kembali, Anda tunggu sebentar.” Xiao Yan tidak sabar menunggu, lalu keluar menuju dispenser, bersikeras memasukkan pil ke dalam kerongkongan, dan meneguk air dalam jumlah besar untuk menelan pil ke dalam kerongkongan. Saat ditelan ke dalam kerongkongan, dokter kembali dengan membawa seember air panas, berkata, “Baiklah! Masukkan pil itu ke dalam ember dan biarkan ia larut, kemudian kaki yang bengkak tersebut direndam di dalam air obat selama 30 menit.” Ia sudah telan. Jadi, mendengar ceramah Dharma Mahaguru harus jelas, setiap sadhana harus didengar dengan jelas. Apa yang dimaksud “Memperlihatkan Sukha Nirvana”?

Buddha Sakyamuni menjelaskan tentang Tiga Corak Dharma, “Nirvana adalah Sukha”, Anda harus melepaskan segalanya, saat sepenuhnya mengosongkan diri sendiri, saat itu Dharmasukha yang sejati dan terbesar baru akan muncul, ini pasti. Jika Anda tidak dengar, sembarangan berpikir tidak menentu, seperti lelucon tadi, mengira pil untuk diminum, sebenarnya untuk direndam, namun, Anda minum, malah mencelakai diri sendiri. Jadi, mendengarkan Dharma harus seksama, “Memperlihatkan Sukha Nirvana dan mencapai Anuttara Bodhi” adalah mencapai pencerahan.

Pada hari perceraian, saya meminta suami menggendong saya sama seperti pada hari pernikahan, ia tidak ada reaksi, tetap menggendong saya turun tangga seperti permintaan saya. Saat turun ke lantai bawah dan berpisah, wajahnya memucat, dengan tersengal-sengal, ia melemparkan satu kalimat, “Jaga diri.” Hanya dua kata ini saja, membuat saya merasa suami masih mencintai saya. Sejak bercerai, saya tidak pacaran lagi, sepenuh hati menunggu ia berbalik. Hingga suatu hari, mendengar temannya menyebutkan, “Hari itu, saat menggendongnya, benar-benar kecapaian” sebenarnya ia mengatakan “berat sekali”. Jadi, jangan salah dengar, “jaga diri” atau berat sekali, jangan salah dengar, itulah titik beratnya.

Dharmasukha itu dihasilkan dari dalam keheningan, ketika Anda mencapai kondisi hening, Anda akan mengerti apa itu pencerahan, “anuttara Bodhi”, pencerahan yang maha tinggi, tidak ada pencerahan yang lebih tinggi daripada ini lagi, itulah mencapai pencerahan. “Memperlihatkan Sukha Nirvana dan mencapai anuttara Bodhi” kalimat ini adalah memahami hati dan menyaksikan Buddhata. Selanjutnya adalah “memutar Dharmacakra (menyeberangkan insan)”.

Abao berkata pada ayah, “Seseorang setidaknya mempunyai satu keahlian atau akan tersingkir dari masyarakat.” Ayah berkata, “Lihat kamu, bodoh dan dungu, apa keahlianmu!” Abao berkata, “Tulisan saya, selain saya, orang lain tidak mengerti.” Inilah pencerahan. Mahaguru hari ini karena hendak mengulas tentang penerahan, namun, pencerahan, memahami hati dan menyaksikan Buddhata, Anuttara Bodhi, belum tentu orang lain mengerti, hanya diri sendiri yang mengerti. Jadi, yang mencapai pencerahan, yaitu Abao, karena ia tidak mengerti apapun, hanya memahami diri sendiri. Di dalam lelucon ini, ia hanya memahami diri sendiri, tulisan sendiri hanya bisa dibaca dirinya sendiri, memahami diri sendiri, itulah pencerahan. Anda sendiri tidak memahami diri sendiri? Masalahnya di sini. Oleh karena itu, saat kita bersadhana, Anda akan perlahan-lahan memahami diri sendiri, setelah memahami diri sendiri baru memutar Dharmacakra menyeberangkan insan.

Sepasang suami istri menonton Cabaret Show Thailand, istri bertanya, “Mengapa hanya pria yang berubah menjadi wanita, tidak bisa wanita yang berubah menjadi pria?” Wanita berubah menjadi pria juga ada, lebih jarang. Suami dengan kalem berkata, “Karena menggali sebuah lubang lebih mudah daripada menanam sebatang pohon, setelah pohon ditanam, lebih sulit lagi membuatnya bisa hidup.” Cerita lagi sebuah lelucon, jika anjing Anda menggonggong di belakang rumah, istri Anda berteriak-teriak di depan rumah, siapa yang Anda biarkan masuk terlebih dahulu? Suami menjawab, “Tentu saja anjing! Karena, setidaknya begitu ia masuk ia akan tutup mulut.” Mari kita bayangkan sejenak! Apa itu tutup mulut? Tutup mulut tidak akan berteriak lagi, anjing menggonggong di belakang rumah, istri berteriak-teriak di depan rumah, Anda biarkan siapa yang masuk lebih dulu? Lebih dulu membiarkan anjing masuk, karena setelah anjing masuk, setidaknya tidak akan menggonggong lagi, namun membiarkan istri masuk, istri masih akan berteriak. Jadi, kita harus mengerti mana yang seharusnya lebih dulu, mana yang seharusnya belakangan, seharusnya memahami bagaimana meletakkan, kapan tutup mulut. Suatu kali saya memberikan pemberkatan nikah, saya bertanya pada sepasang suami istri, saya bertanya pada istri, “Setiap kali kalian berkencan, siapa yang berbicara?” Istri menjawab, “Selalu saya yang bicara.” Saya bertanya pada suami, “Apakah Anda bicara?” Ia menjawab, “Tidak, saya selalu mendengar.” Saya tidak bicara. Karena setelah menikah, tamatlah sudah riwayat suami. Jika Anda memperistri seorang istri yang pendiam, “Setiap kali kalian berkencan, siapa yang berbicara?” Istri tidak suka bicara, pria? Pria juga tidak suka bicara, wah! Saya secepatnya memberikan kalian pemberkatan nikah. Mengapa? Keduanya tidak bicara, selamanya tidak akan ada pertengkaran, bagus sekali, keluarga baru akan harmonis. Keduanya tidak bicara, menyampaikan titik berat saja, yang lainnya tidak perlu dibicarakan terlalu banyak. Hari ini mengulas tentang “Memperlihatkan Sukha Nirvana dan Mencapai Anuttara Bodhi”, satu lagi adalah “Memutar Dharmacakra (menyeberangkan insan)”. Om Mani Padme Hum.

來源:Rainbow Temple