Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Dharmadesana Mahaguru > Ceramah Terbaru Dharmaraja Liansheng Tahun 2014 > 2014-05-25 Sadhana Dzogchen: Para Insan adalah Buddha, Asalkan Anda Melatih Diri, Kelak Akan Mencapai Kebuddhaan


2014-05-25 Sadhana Dzogchen: Para Insan adalah Buddha, Asalkan Anda Melatih Diri, Kelak Akan Mencapai Kebuddhaan

Ceramah Ke-67 Sadhana 9 Tingkat Dzogchen oleh Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada Upacara Agung Homa Kurukulle tanggal 25 Mei 2014 di Rainbow Temple

Sepenuh hati sembah puja pada Bhiksu Liaoming, Guru Sakya Dezhung, Gyalwa Karmapa XVI, Guru Thubten Dhargye, sembah puja pada adinata homa Kurukulle Bhagawati, sembah puja pada para arya di altar mandala.

Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, dan umat se-Dharma di internet, apa kabar semuanya. Tamu agung hari ini adalah nyonya Sekjen Coordinating Committee for North American Affairs, Executive Yuan Dubes Liao Dongzhou, Sdri. Judy, penasihat hukum TBF Pengacara Jennifer Chow bersama putra dan putri, akuntan TBF Sdri. Teresa, Nyonya Komisaris OCAC Overseas Credit Guarantee Fund Xue Shenghua Sdri. Xue Wang Shumei, dr. Zhuang Junyao dan ayahanda. Thank you for coming. Next Sunday, see you soon. Minggu depan tanggal 1 Juni, pukul 3 sore, adinata homa adalah Sahasrabhujanetra Avalokitesvara, Ia adalah salah satu yang sangat terhormat di antara seluruh Bodhisattva Avalokitesvara, karena Ia memiliki 1000 tangan dan 1000 mata, sehingga Ia dapat menyeberangkan banyak insan, menjelma tiada tara. Mantra Sahasrabujanetra Avalokitesvara, "Namo Sanmanduo. Muduonan. Warila. Damo. Xie." Ini adalah mantra dari Sahasrabhujanetra Avalokitesvara, mudra-Nya adalah mudra ini, mirip sekali dengan mudra 1000 tangan dan 1000 mata, luas tak terhingga, welas asih tak terhingga, Sahasrabhujanetra Avalokitesvara yang mendengarkan seruan dan menyelamatkan insan dari penderitaan. Jika Anda dapat menjalin jodoh dengan Sahasrabhujanetra Avalokitesvara, bahkan menekuni yidam-Nya dan memperoleh kontak yoga. Ia adalah Bodhisattva bhumi ke-11, Bodhisattva bhumi ke-11 setara dengan Subuddhi, atau Buddha, tingkat pencapaian Sahasrabhujanetra Avalokitesvara sama dengan Buddha. Ia memiliki 11 kepala, Ia adalah Buddha Subuddhi. Namun, Ia juga Bodhisattva, karena Ia menyeberangkan insan luas. Jika berhasil menekuni yidam yang satu ini, pasti bisa mencapai kebuddhaan; berhasil dalam sadhana Yidam, pasti bisa mencapai kebuddhaan. Manfaat-Nya sangat banyak. Yidam yang satu ini dijadikan mula-yidam, setelah Anda berhasil, Anda memohon pada-Nya, Ia memiliki 1000 tangan, Ia bisa menyelamatkan Anda di mana pun; Ia memiliki 1000 mata, Ia bisa melihat Anda di mana pun. Beliau adalah Bodhisattva yang sangat mulia. Ia adalah adinata homa minggu depan, jika kalian melewatkan kesempatan menjadi donatur utama yidam ini, berarti meremehkan-Nya. Pada malam saya kembali ke Seattle dari Taiwan, abhiseka yang saya berikan pada umat adalah yidam yang satu ini. Saat itu, saya membentuk mudra teratai, juga mewakili mudra seluruh Bodhisattva. Mudra Sahasrabhujanetra Avalokitesvara yang sesungguhnya adalah seperti ini.

Selamat siang semua! Apa kabar semua! (Bahasa Mandarin) Selamat siang semua! Apa kabar semua! (Bahasa Taiwan) Apa kabar! Apa kabar semua! (Bahasa Kanton) Emkoi! Emkoisai! (Bahasa Kanton: Terima kasih) Hari ini menggelar Sadhana Memanah Sepuluh Penjuru dari Kurukulle Bhagawati, di depan telah ditata altar mandala, kalian tata sesuai altar mandala demikian. Apa arti dari Sadhana Memanah Sepuluh Penjuru? Dulu bukankah pernah pelajari "Om. Gulu Gulie. Chuli. Suoha." Bahkan Sadhana Kurukulle Bhagawati bukankah sudah pernah diabhiseka juga? Mengapa masih ada Sadhana Memanah Sepuluh Penjuru? Sadhana Memanah Sepuluh Penjuru berarti Kurukulle Bhagawati Dzogchen, setelah Ia memanah ke sepuluh penjuru, tidak ada satu pun yang kelewatan. Oleh karena itu, setelah kita menekuni Sadhana Kurukulle Bhagawati Memanah Sepuluh Penjuru, harus memohon "Kurukulle Bhagawati di atas, Kurukulle Bhagawati di bawah, Kurukulle Bhagawati delapan penjuru." Dijumlahkan menjadi 10 penjuru, dijamin tidak akan kelewatan.

Menekuni Sadhana Kurukulle Bhagawati pasti akan berhasil. Anak panah-Nya adalah anak panah bunga, begitu dipanahkan, setiap orang terkena, setiap orang menghormati dan menyayangi Anda. Pokoknya asalkan Anda memanah, setiap orang menjadi penolong Anda, tidak ada musuh.

Kurukulle Bhagawati berwajah marah sekaligus tersenyum, ini kita tidak mampu, Buddha Bodhisattva mampu, di dalam amarah-Nya, juga bisa tersenyum. Itu sebabnya, Ia memiliki kekuatan penaklukkan, juga memiliki kekuatan keharmonisan, keduanya berpadu. Sehabis menekuni Kurukulle Bhagawati, Ia tidak hanya yidam wasikarana (cinta kasih) yang teragung, Ia juga yidam abhicaruka (penaklukan), Ia bisa menaklukkan musuh, agar musuh dapat menghormati dan menyayangi Anda. Di dalam amarahnya mengandung senyum, di dalam senyum mengandung amarah, saya tidak mampu melakukannya. Tempo hari, saya sempat memberikan contoh, yaitu lukisan Leonardo da Vinci "Senyuman Monalisa" itu demikian. Sepertinya di dalam amarah mengandung senyum. Suami pulang larut malam, istri berdiri di depan pintu, melihat suami pulang, ia pun begini (ekspresi tersenyum sambil marah, "Hm...lihat saja nanti") gaya seperti inilah. Saya sendiri berjalan ke Musée du Louvre, melihat Senyuman Monalisa, melihat lama sekali, tidak seperti tersenyum, seperti marah, dikatakan marah! Seperti tersenyum, tersenyum dan marah, seperti itulah Kurukulle Bhagawati. Saya baru saja melihat wajah-Nya, seluruh tubuh-Nya berwarna merah, gaya Ia memanah sangat indah, satu tangan-Nya adalah busur, satu tangan adalah anak panah, satu tangan adalah kaitan, satu tangan adalah tali. Kaitan itu mengait Anda, tali itu mengikat Anda, kemudian busur dan anak panah mengenai diri Anda. Mari kita semua memanah! Namun, jangan panah Mahaguru, Mahaguru sudah berumur seventy 70 tahun, I am an old and senior man. I retired. Saya adalah manula yang sudah pensiun, hampir masuk panti jompo. Mahaguru sudah berumur 70 tahun, hidup itu dimulai dari umur 70 tahun. Kalian pun memanah dambaan hati Anda, menekuni sadhana ini, membuat asmara Anda dapat lancar, membuat pernikahan Anda dapat sempurna, membuat Anda  dihormati dan disayang atasan Anda, dihormati dan disayang rekan kerja Anda, dihormati dan disayang oleh banyak orang, dihormati dan disayang oleh semua orang. Ini adalah makna utama Sadhana Kurukulle Bhagawati memanah sepuluh penjuru. Keharmonisan Kurukulle Bhagawati bisa menjadi seagung tokoh politik, menjadi seagung presiden tertinggi, jika Anda menekuni Sadhana ini, semoga mendapatkan yang teragung, mendapatkan suara rakyat, memilih Anda sebagai presiden; jika seniman, Anda bisa mendapatkan banyak penggemar, berlaksa-laksa penggemar.

Seperti My Love from the Star (Drama Korea), ia (Kim Soo Hyun) memerankan My Love from the Star, ditayang di seluruh dunia, setiap orang mengenalnya, setiap orang suka padanya, ia memiliki kekuatan semacam ini. Pria itu, sepertinya ada orang memasangkan wajah Mahaguru saat muda dengan wajahnya, siapa yang lebih cakap? Saya melihat lama, saya lebih cakap, saat saya muda, sepertinya juga sangat cakap. Seperti My Love from the Star, mereka memanggilnya Prof. Do (Kim Soo Hyun memerankan Do Min Joon), pancaindera termasuk sempurna, namun, mana seperti mata kebijaksanaan saya yang begitu terpendam dalam? Sama halnya, Mahguru memperoleh cinta kasih sepuluh penjuru. Terlalu banyak cinta kasih, juga ada orang merespon. Karena saya telah menyeberangkan begitu banyak insan, mereka pun merasa iri. Sebenarnya, saya tidak mengenal mereka, namun, ia juga tidak senang, ini adalah hal yang lumrah. Asalkan Anda menggunakan Sadhana Memanah Sepuluh Penjuru, jika seniman, mendapatkan cinta kasih sepuluh penjuru; tokoh politik, mencapai titik tertinggi. Jika Anda dapat berhasil menekuni sadhana ini, akan ada gadis seksi suka pada Anda. Wanita suka langsing, orang timur sampai ke barat memiliki keunggulan, karena, setelah pergi ke barat, menemukan bahwa kegemukan orang barat sangat menakutkan, entah makan apa hingga segemuk itu. Dulu saya sering menyampaikan sebuah lelucon, saat merayakan tahun baru, ada seorang pemuda berkata, "Kaya atau miskin, memperistri seorang wanita merayakan tahun baru." Di sampingnya ada seorang wanita berkata padanya, "Kalau begitu, saya menikah saja denganmu." Begitu ia lihat, ternyata adalah seorang wanita jelek, ia pun berkata, "Tahun ini saya tidak merayakan tahun baru." Pokoknya, Anda menekuni sadhana ini, akan mendapatkan cinta kasih banyak orang, banyak musuh juga akan mundur, orang yang tidak baik pada Anda, dengan sendirinya akan berbalik menghormati dan menyayangi Anda. Demikian manfaat menekuni sadhana ini, ada fungsi penaklukan dan cinta kasih.

Sadhana ini sangat baik, sebenarnya adalah Dhumapuja Kurukulle, di tengah adalah tungku Dhumapuja, asap akan naik. Tuliskan nama kekasih Anda, kemudian ditaruh di dalam tungku Dhumapuja, taruh nama kekasih Anda di dalam asap Dhumapuja. Ada satu jenis lagi, yaitu menggunakan 108 helai putih teratai merah, ditaruh dan dibakar bersama di dalam tungku Dhumapuja, kesih Anda dengan sendirinya timbul cinta kasih terhadap Anda. Mahaguru tahu sadhana ini. Saya pernah menekuni Sadhana Kurukulle, namun tidak pernah menekuni Sadhana Memanah Sepuluh Penjuru Kurukulle, karena saya belum tentu menjadi tokoh politik, kondisi saya sekarang sudah sangat baik. Diri sendiri juga telah berumur 70 tahun, sudah cukup repot, jika saya sembarangan memanah, menekuni lagi Sadhana Memanah Sepuluh Penjuru, akan gawat! Karena akan ada banyak jeratan. Di dalam hati saya sudah banyak simpul, jika simpul bertambah lagi, saya akan sesak napas, waktu juga tidak cukup digunakan. Kalian boleh menekuni sadhana ini, Mahaguru tidak boleh menekuni sadhana ini. Ketika kalian menekuni sadhana ini, paling baik jangan taruh nama dan 8 data kelahiran saya di dalam tungku Dhumapuja. Jika ditaruh di dalam, hati saya akan galau, itu tidak baik.

Cara menata tungku Dhumapuja ada matahari, bulan, dalam bulat luar persegi, meja persegi, di dalam disusun yang bulat, dulu, kita sering menjapa satu mantra, yaitu "Tian Yuan Si Fang", cara penataan di sini adalah dalam bulat luar persegi, tengah adalah Gunung Sumeru, yaitu tempat tungku Dhumapuja. Empat penjuru adalah pratima Kurukulle, 7 laut adalah 7 gelas air, empat benua besar adalah vajra bersilangan Kurukulle. Empat benua besar antara lain: Purvavideha, Jambudvipa, Uttarakuru, Aparagodaniya, inilah yang disebut sebagai 4 benua besar dalam Agama Buddha, masih ada 8 benua kecil, diwakilkan dengan lilin merah, ada lagi anak panah bunga persik, anak panah bunga persik adalah anak panah kecil, disusun di antara 7 gunung emas dan 7 laut. Di dalam tungku Dhumapuja juga ada bubuk bunga persik, dulu pernah menerangkan sadhana ini, mari kita perhatikan sejenak, bahan Dhumapuja yang disusun di dalam tungku Dhumapuja sama dengan kita biasanya, namun, ada sedikit yang berbeda yaitu harus memetik 108 kuntum bunga persik, setelah dikeringkan, dihaluskan menjadi bubuk, dicampur di dalam bubuk Dhumapuja, ini adalah teknik. Asap yang berasal dari hasil pembakaran 108 kuntum bunga persik, belum tentu satu arah, asap bisa mengarah ke atas, mengarah ke bawah, mengarah ke delapan penjuru, dengan demikian akan ada penolong sepuluh penjuru, bunga persik sepuluh penjuru, cinta kasih sepuluh penjuru, bahan persembahan ditaruh di keempat sisi altar mandala. Dari aspek cinta kasih Kurukulle, tidak hanya cinta kasih antara pria dan wanita, juga semua keharmonisan di dalam rumah tangga, lingkungan kerja, lingkungan masyarakat, bahkan menarik semua insan datang bersarana. Kurukulle sangat dahsyat, memiliki power yang sangat besar, juga memiliki fungsi penaklukan.

Kurukulle adalah Zuoming Fomu. Tara Putih, Usnisa Vijaya, dan Amitayus adalah 3 adinata panjang umur, Kurukulle bukan adinata panjang umur, namun, menurut saya, Ia juga bisa menjadi adinata panjang umur, mengapa? Karena Ia sendiri berasal dari Amitabha, sehingga Ia berwarna merah. Lihatlah, hari ini banyak orang berpakaian merah, Mahaguru juga berpakaian merah, bertopi merah. Kurukulle adalah berwarna merah, bijaksara-nya adalah Chuli, mantra hati adalah Om. Gulu Gulie. Chuli. Suoha. Kalau begitu, Chuli adalah bendera yang berasal dari Amitabha; mudra-Nya seperti sebuah mudra kait, kedua tangan begini (Mahaguru memperagakan), jari manis dikait bersama, ini adalah mudra Kurukulle, Ia memiliki gambarupang, sehingga ada Sadhana Penjapaan-Nya. Saat menjapa, harus khusus mengundang Kurukulle, pengundangan sederhana adalah "Memohon: Kurukulle atas, Kurukulle bawah, Kurukulle delapan penjuru." Harus mengundang seperti ini, sama halnya dengan mengundang Kurukulle sepuluh penjuru. Kemudian, Anda mulai menekuni Sadhana Kurukulle, kemudian membakar Dhumapuja. Tadi sempat dijelaskan, bubuk Dhumapuja sangat penting, di dalam harus ada 108 kuntum bunga persik. Sebenarnya, yang terpenting adalah bubuk bunga persik, jika kalian mau menekuni sadhana ini, harus ingat, harus mencampurkan 108 kuntum bunga persik, mudah sekali, boleh dihaluskan menjadi bubuk bunga persik. Sepertinya dijual di Taiwan, jika kalian butuh, di sana dijual bubuk bunga persik, kalian beli, ia akan berikan Anda satu bungkus, isinya adalah 108 kuntum bunga persik yang dikeringkan, bubuk bunga persik adalah satu titik berat. Selain itu, 108 helai putik teratai merah juga boleh. Homa Kurukulle, juga boleh ditaruh 108 kuntum bubuk bunga persik, ketika kita melakukan Puja Api, sama-sama boleh menggunakan 108 helai putik teratai merah. Apakah ditaruh dalam puja api hari ini? Kelebihan? Dikatakan 108 ya 108, kelebihan, sisanya bagaimana? Nanti, bahkan nenek, anak kecil pun suka pada Anda, repot, Anda terlalu berlebihan! Sekian perkenalan Sadhana Kurukulle Memanah Sepuluh Penjuru, karena sadhana ini sudah pernah ditransmisikan, nanti akan memberikan abhiseka pada Anda semua, saat itu ditransmisikan di Taiwan, di sini adalah pertama kali! Yang tidak hadir sebanyak ini? Sangat disayangkan bagi yang tidak hadir,  lain kali kalian tidak ada penolong, banyak musuh, yang menerima abhiseka ini, semua akan memiliki penolong; yang tidak pernah menerima abhiseka ini, akan memiliki banyak musuh. Sadhana Wasikarana Kurukulle sangat penting, sungguh, juga memiliki kekuatan penaklukan.

Mengulas sedikit tentang Sadhana Dzogchen. Di dalam Sadhana Dzogchen, terutama mengulas tentang semua insan adalah Buddha, asalkan Anda telah menekuni, pasti mencapai kebuddhaan, di kehidupan yang akan datang, atau kehidupan sekarang, atau beberapa kehidupan berikutnya, semua akan mencapai kebuddhaan. Di dalam Sutra Hevajra disebutkan, "Insan adalah Buddha, namun, dihalangi oleh rintangan luar, jika rintangan luar dibersihkan, insan tetap adalah Buddha." Sesungguhnya, smeua insan memang Buddha, karena banyak rintangan menghalangi Anda, sehingga Anda adalah orang awam, jika semua rintangan luar dibersihkan semua, Anda tetap adalah Buddha. Di dalam Sastra Ratnamaya disebutkan "kesalahan ibarat agantu", kita setiap manusia memiliki kesalahan, semua memiliki karma hitam, tadi saya menyebutkan, "Biarlah semua karma hitam sirna", dengan kata lain, semua rintangan karma sirna, karma putih meningkat, dengan kata lain, karma baik dapat meningkat. Jati diri kita manusia sebenarnya adalah pahala, kesalahan juga adalah agantu, atau rintangan; yaitu sementara di sisi kita menjadi rintangan, disebut sebagai agantu. Buddhata asal kita, sampai akhirnya, tetap tidak berubah, tetap Buddhata asal kita, Buddhata adalah Buddhata, tidak akan berubah, selamanya tidak berubah. Inilah Buddhata. Selainnya akan berubah, seperti kesalahan akan meningkat juga akan sirna. Oleh karena itu, saya tadi sempat menyebutkan "Biarlah semua karma hitam sirna, biarlah semua karma putih meningkat", ini sangat penting.

Sadhana Dzogchen adalah sadhana yang sangat langka, boleh dikatakan merupakan kombinasi dari banyak sadhana, juga sangat luar biasa. Mahaguru pernah mengemukakan silsilah saya sendiri, di dalam Nyingmapa, adalah Bhiksu Liaoming, Bhiksu Liaoming pernah belajar Dharma pada Acarya Norna, Xikang, China, Beliau telah belajar Sadhana Dzogchen, sehingga Beliau pernah memberikan abhiseka Sadhana Dzogchen pada saya. Selain itu, pernah dalam satu kehidupan lampau saya menjadi Raja Tibet, Raja Trisong Detsen, yaitu zaman Padmasambhava. Padmasambhava 50 tahun di Tibet, ketika Beliau meninggalkan Tibet, Ia menaruh Terma-Nya di dalam ubun-ubun kepala Raja Tibet. Dengan demikian, saya pun memiliki sadhana Terma di dalam badan saya. Ketiga, Padmasambhava mentransmisikan sadhana kepada Raja Trisong Detsen dan Yeshe Tsogyal, Yeshe Tsogyal adalah Bhagawati-Nya, terutama mentransmisikan kepada mereka berdua, sama halnya silsilah lain, satu adalah silsilah Terma, satu lagi adalah silsilah langsung. Selain itu, ada lagi silsilah dunia manusia, Mahaguru memiliki 3 silsilah, oleh karena itu, baru berani mentransmisikan sadhana ini, juga berani mengulas sadhana ini. Sadhana ini adalah rahasia yang sangat besar, walaupun Sadhana Dzogchen tersebar luas, namun tetap sangat sedikit, seperti silsilah aliran Nyingmapa, silsilah ini adalah sejati dan tiada dua, merupakan silsilah sejati Padmasambhava.

Saya ingat saat saya menulis buku, saat itu Padmasambhava juga mentransmisikan saya sadhana Tantra, dalam kehidupan saya sekarang ini, Ia membawa saya ke dalam sebuah gua kuburan kuno di Nepal, di sana menerima dua kali abhiseka, pertama kali adalah saya langsung dimakan, kemudian keluar dari cakra kemaluan-Nya, sama halnya dengan semua rintangan saya disingkirkan; kedua kali adalah seluruh tubuh Padmasambhava memancarkan cahaya, cahaya yang terang benderang, seluruh cahaya-Nya masuk ke dalam pori-pori saya, ini juga sebuah silsilah, sangat penting.

Saat itu, ketika saya sedang mempelajari sadhana ini, saat menulis buku ini, ada nidana yang sangat besar, di dalam Dzogchen Tantra tertulis, "saat memasuki samadhi, melihat tubuh sendiri menjadi sangat besar dan tinggi", ini sering terjadi. Ketika saya memasuki samadhi, tubuh bisa memenuhi seluruh alam semesta, memenuhi seluruh angkasa. "Tangan kiri saya memegang matahari, tangan kanan memegang bulan, saat ini, kedua cakra dari surya dan candra memancarkan cahaya yang sangat terang, seluruh alam semesta, sepuluh penjuru dunia dipenuhi oleh cahaya, menjadi alam suci yang sangat terang." Memang benar, abhiseka yang terakhir adalah Abhiseka Maha-terang, abhiseka terakhir dari Sadhana Dzogchen adalah Abhiseka Maha-terang. Tangan memegang cakra surya, candra memancarkan cahaya yang sangat terang menerangi dunia, yaitu firasat agung munculnya sadhana anuttara di dunia ini." Saat itu, ketika saya menulis buku ini, muncul gejala semacam ini. Saat kita memasuki samadhi, bukan tidur, melainkan sadar, yaitu antara tidur dan sadar, itulah samadhi. Ketiduran, itu bukan samadhi, belum tidur, yaitu sadar. Samadhi itu boleh dikatakan berada di antara tidur dan sadar, saat itu, kondisi yang muncul bisa besar hingga tak terhingga, kecil hingga seperti sebutir pasir, bahkan lebih kecil daripada pasir, boleh membesar dan mengecil. Fenomena seperti ini ada di dalam samadhi, bahkan diri sendiri berubah menjadi sunya, tidak ada lagi. Abhiseka terakhir adalah Abhiseka Alam Suci Maha-terang.

Lelucon ini mengenai kencan buta, saat kencan buta, si pria bertanya pada si wanita, "Pria apa yang Anda sukai?" Si wanita sangat elegan, ia berkata, "Saya hanya seorang wanita sederhana, saya ingin mencari seorang pria sederhana." Sekarang populer istilah "dan-dan" (sederhana). Si pria canggung, "Maaf, mungkin kita tidak cocok, karena saya punya dua "dan-dan" (zakar) (homonim dengan dan-dan)." Sebenarnya, kata "dan-dan" sekarang sering digunakan, dulu, sepertinya tidak ada orang menggunakan kata "dan-dan", sepertinya sangat tenang, sangat mantap. Orang ini sangat mantap, artinya orang ini melatih diri, tidak akan gegabah. Kebalikan mantap adalah gegabah, terlalu gegabah sungguh tidak baik, terlalu mudah panik itu tidak baik. Ada orang bersifat mudah panik, sepanik apa? Ia bisa jalan ke sana ke mari di kamarnya, sampai akhirnya, meledak seperti halilintar, panik sampai seperti hampir naik ke langit, seperti mau masuk ke dalam neraka, masuk ke dalam lubang, ini tidak baik. Orang zaman sekarang terlalu banyak urusan, terlalu galau, banyak orang menjadi sepanik ini, berjalan juga buru-buru, apapun buru-buru, makan juga buru-buru. Setiap kali sehabis makan, saya bertanya pada Anda semua, "Apakah kalian sudah kenyang?" Semua orang sudah kenyang, tinggal saya belum kenyang. Saya terlalu tenang, kalian terlalu buru-buru, lagipula tidak berebutan makanan dengan kaian, mengapa kalian makan seburu-buru itu? Benar tidak? Apakah sayuran siang ini cukup? Jelas-jelas sayuran sangat cukup, buat apa Anda berebutan makan? Benar tidak? Mahaguru setiap kali makan sangat pelan, makan dengan tenang, makan sangat lambat. Bekerja juga jangan terlalu gegabah, orang yang bersifat gampang panik harus diperbaiki, berubah menjadi tenang. Bersadhana juga sama, Anda jangan terlalu gegabah, jika gegabah tidak akan mendapatkan hasil. Saat Mahaguru bersadhana, setiap gerakan, melewati otak saya, melewati hati saya, kemudian dicamkan di hati, dengan demikian bersadhana baru akan berhasil, sangat mantap, tidak asal-asalan. Ketika Anda menjapa Sutra Zhenfo Zong kita, Sutra Satya Buddha (Zhenfo Jing), satu kata demi satu kata melewati hati Anda; Anda menjapa Sutra Raja Agung, satu kata demi satu kata melewati hati Anda, setelah menjapa nama Buddha, ditaruh di hati Anda, digeser, nama Buddha lain masuk lagi, kemudian digeser, masuk lagi...demikianlah, sangat alami, bahkan sangat mantap, bukan sangat gegabah. Anda menjapa dengan gegabah, "Guan shi yin pusa. Namo fo. Namo fa. Namo seng. Fo guo you yuan. Fo fa xiang yin. Chang le wo jing. You yuan fo fa. Namo mo he bo ye bo luo mi. Shi da shen zhou. Namo mo he bo ye bo luo mi. Shi da ming zhou. Namo mo he bo ye bo luo mi. Shi wu shang zhou. Namo mo he bo ye bo luo mi. Shi wu deng deng zhou. Namo jing guang mi mi fo. Fa zang fo. Shi zi hou shen zu you wang fo. Fo gao xu mi deng wang fo. Fa hu fo. Jing gang zang shi zi you xi fo. Bao sheng fo. Shen tong fo. Yao shi liu li guang wang fo. Pu guang gong de shan wang fo. Shan zhu gong de bao wang fo. Guo qu qi fo. Wei lai xian qie qian fo..." Anda menjapa seperti ini, seperti memutar cd lewat begitu saja, tidak ada niat. Setidaknya Anda harus menjapa nama Buddha, dicamkan di hati, kemudian selanjutnya. Menjapa 1000 kali, sebentar saja sudah tidak ada lagi, satu kitab Sutra, satu menit sudah selesai dijapa, apa gunanya menjapa seperti ini? Setiap hari Anda putar cd saja! Anda tidak ada niat! Oleh karena itu, bersadhana harus serius, serius baru mantap, baru bisa tenang, ada perasaan mantap, belum tentu harus menjapa yang banyak, bersadhana belum tentu harus buru-buru, belum tentu harus banyak. Alam Suci Maha-terang adalah Abhiseka Maha-terang, yakni abhiseka terakhir dari Sadhana Dzogchen, di Taiwan sudah pernah saya jelaskan.

Ada seorang ibu naik kendaraan umum, setelah tiba di terminal, saat turun dari kendaraan, ia meraba saku, ia meninggalkan kunci di kendaraan. Saat ini, kendaraan sudah melaju, ia mengejar sambil berteriak, "Kunci saya di kendaraanmu (homonim dengan saya mau mati di kendaraanmu)." Ia mati-matian berteriak, supir melihatnya dari spion, mendengar, "Saya mau mati di kendaraanmu." Supir pun mengucapkan, "Gila! Mengapa memilih mati di kendaraan saya?" Ia menginjak gas langsung pergi. Tentu saja, ini adalah salah paham. Jangan salah paham terhadap Sadhana Dzogchen. Bicara hingga sekarang, kalian merasa bingung terhadap Sadhana Dzogchen, "Mahaguru, Anda mengajari kita begitu banyak, bagaimana kita harus memulainya? Bagaimana menekuni Sadhana Dzogchen?" Menjadi sebuah pertanyaan di sini. Sadhana Dzogchen juga ada urutannya, menurut sadhana Tantra, yang paling dasar, ketika Anda menekuni Sadhana Dalam, Anda mesti lebih dulu menekuni Penjapaan Vajra, Bradha Kumbha Prana, agar nadi tengah terbuka; kemudian lebih dulu menekuni Anasrava, kemudian menekuni Api Tummo, terakhir menekuni Sadhana Bindu. Setelah menekuni Sadhana Bindu, menekuni melihat cahaya, ada sebuah urutan, tidak boleh bingung, begitu bingung, sama seperti ibu ini, "Saya mau mati di kendaraanmu". Kunci saya di kendaraanmu, ucapkan beberapa kata lagi supaya orang lain mendengar lebih jelas.

Oleh karena itu, Mahaguru juga harus menjelaskan urutan Sadhana Dzogchen, bagaimana menekuni Trekcho, yaitu melatih pencerahan; bagaimana menekuni Togal, yaitu melatih melihat cahaya. Trekcho adalah langsung menghentikan, langsung menghentikan khayalan; Togal adalah melampaui seketika. Oleh karena itu, harus ada pandangan demikian, melatih diri ada sebuah urutan, lebih dulu menekuni Trekcho kemudian menekuni Togal.

Ini juga sebuah lelucon. Saya memutuskan membenahi rumah dengan baik, keluarkan beragam kain lap, sapu, cairan pembersih, bersiap-siap mulai membersihkan dan membenahi rumah, tiba-tiba teringat Patriak VI berkata, "Pada dasarnya tidak ada satu benda pun, di mana debu menempel", sehingga, saya pun mandi, tidur. Saya tidak melakukan. Sebenarnya, Buddhadharma juga demikian, ada Dharma seketika, ada Dharma bertahap. Dharma bertahap adalah melatih perlahan-lahan, jika Anda dapat mencapai pencerahan dalam kehidupan sekarang, artinya kehidupan lampau Anda telah melatih diri, sehingga sampai kehidupan sekarang, Anda cepat sekali mencapai pencerahan, itu lebih dulu bertahap kemudian seketika. Yang namanya Dharma seketika, seperti "pada dasarnya tidak ada satu benda pun, di mana debu menempel", ini adalah Dharma seketika dalam ajaran Buddha atau Trekcho yang paling final. Kita sadhaka seharusnya setahap demi setahap, lebih dulu memikirkan dari teori, apa itu pencerahan? Mahaguru sudah berkali-kali mengatakan, Mahaguru mengulas Sutra Altar Patriak VI, saya menulis kurang lebih belasan buku Koan Zen, yaitu memberikan petunjuk pada kalian, setiap orang harus mencapai pencerahan, harus cerah seketika, dapat mencerahi jalan kebenaran. Namun, mencerahi jalan kebenaran ini juga dicerahi dari antara banyak pembinaan diri. Itu sebabnya, di dalam Dharma seketika juga ada Dharma bertahap. Lelucon ini menyampaikan bahwa sama sekali tidak ada Dharma bertahap, seketika berubah menjadi mencerahi Dharma, berubah menjadi Dharma seketika.

Nona Yuxian di mana? Hari ini saya menyampaikan banyak lelucon darinya, ada sebuah lelucon lagi, saya ingat, ia bangun pagi, apakah ada bed work? Ada tidak? Tidak ada. Ia sangat jujur, hati orang ini sangat baik, jika hati tidak baik, boleh membohongi Mahaguru. Sesungguhnya, dulu Yuxian juga demikian, ia tinggal sebentar di Rainbow Temple, sebentar di rumah saya, saat ia bangun tidur, ia menendang selimut, lalu pergi. Orang yang melihatnya berkata padanya, mengapa Anda tidak bed work, bed work adalah melipat selimut dengan baik, simpan dengan baik, membenahi tempat tidur dan sarung bantal, tempat tidur kelihatan bersih, malam tidur lagi! Nona Yuxian berkata pada kami, ia berkata, "Pokoknya malam masih mau tidur, mengapa harus dirapikan? Malam ditarik sudah bisa tidur, bukankah repot sekali merapikan?" Namun, jika ada tamu datang, atau orang masuk ke kamar tidur Anda, melihat kamar tidur Anda berantakan, selimut ditendang ke kolong tempat tidur, ditendang ke satu sisi, seluruh tempat tidur anjlok, sarung bantal juga sangat berantakan, bahkan di atas tempat tidur ada kertas koran, juga ada buku-buku yang ditumpuk sembarangan, barang pungutan juga ditumpuk di kolong tempat tidur, pakaian juga tidak dirapikan, sembarangan lempar di atas tempat tidur, dilempar di lantai. Nona Yuxian, sekarang bertanya lagi pada Anda, "Apakah kamar tidur Anda bersih dan rapi? Ada tidak?" Tidak. Ia sangat jujur. Saya selalu tahu, kamar tidurnya seperti tempat pembuangan sampah, ia sering menekuni Sadhana Memanah Sepuluh Penjuru, memanah sembarangan, pulang ke rumah, pulang ke kamar Anda sendiri, begitu pakaian ditanggalkan, dilempar sembarangan, benar tiadk? Ada tidak? Amitabha! Istri demikian, saya tidak berani nikahi. Saya pribadi sangat suka kebersihan, begitu karpet ada selembar kertas putih, saya pasti pungut; pakaian pasti digantung pada tempat yang sama; barang pasti ditaruh di tempat yang sama; jam tangan pasti ditaruh di tempat yang sama, termasuk dua cincin, pasti ditaruh di tempat yang sama, mutlak tidak akan hilang. Karena, asalkan berjalan ke sana, maka bisa diambil, dua cincin ditaruh bersama, ditaruh di tempat yang sama, jam tangan ditaruh di tempat yang sama, tpi, pakaian ditaruh di tempat yang sama, mutlak tidak akan kacau, saya sangat rapi dan teratur. Melatih diri juga sama, program hidup setiap hari adalah sama, sama seperti tentara, saat menjadi tentara, selalu mengerjakan urusan internal, urusan internal adalah selimut dilipat dengan baik, seperti sepotong tahu, rapi, sedikit pun tidak boleh keliru, semua barang ditaruh di dalam lemari, setingkat demi setingkat disusun, terakhir dimasukkan ke dalam baskom, sikat gigi, odol, handuk, semua ditaruh rapi di dalam lemari.

Penekunan Sadhana Tantra juga sama, Anda harus rapi dan teratur, terang dan bersih, semua debu dilap, pembinaan diri demikian, barulah pembinaan diri yang benar. Hidup tidak boleh kacau balau, pikiran harus fokus, kalau tidak, pasti akan keliru. Melatih diri juga sama, ada urutannya, Sadhana Dzogchen ada urutannya. Oleh karena itu, tidak boleh keliru.

Pesawat terbang sedang terbang, latihan terjun payung, instruktur memanggil tentara baru terjun payung, tidak ada orang berani terjun, wajah instruktur sangat marah. Saat ini, ia melihat seseorang diam-diam sedang tersenyum, instruktur menendangnya, supaya ia terjun payung. Saat ini, setiap orang seperti Jiaozi (Gyoza) satu demi satu terjun ke bawah. Instruktur merasa heran, "Bukankah kalian tidak berani terun? Mengapa sekarang berani?" Ia pun menangkap yang terakhir dan bertanya, "Tadi membiarkan kalian terjun, kalian tidak terun, mengapa saya tendang satu keluar, kalian semua terjun?" Tentara baru menjawab, "Instruktur! Anda juga cepat terjun! Karena yang Anda tendang keluar adalah pilot pesawat terbang." Ada kekeliruan di tengah kesibukan, pilot pesawat terbang pun ditendang keluar. Suatu hari, istri mendengar suami sedang menangis, lalu bergegas membangunkan suami, "Ada apa?" Suami menjawab, "Saya bermimpi diri saya telah menikah." Istri berkata, "Bukankah itu sangat baik? Bukankah kamu dari dulu ingin mencari istri lagi? Apa yang kamu tangisi? Seharusnya bahagia!" Suami berkata, "Saat malam pertama, kerudung kepala dibuka, ternyata masih kamu." Apapun tidak boleh sembarangan, bersadhana tentu harus ada urutannya, harus rapi, memahami urutan melatih diri itu sangat penting. Om Mani Padme Hum.

來源:Rainbow Temple