Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Dharmadesana Mahaguru > Ceramah Terbaru Dharmaraja Liansheng Tahun 2013 > 2013-09-07 Anda Mengerti Trekcho Maka Mengerti Menetap dalam Kesetaraan


2013-09-07 Anda Mengerti Trekcho Maka Mengerti Menetap dalam Kesetaraan
Anda Mengerti Trekcho Maka Mengerti Menetap dalam Kesetaraan


Ceramah Ke-24 Sadhana 9 Tingkat Dzogchen oleh Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada kebaktian Sadhana Yidam Cundi tanggal 7 September 2013  di Ling Shen Ching Tze Temple

Pertama-tama kita sembah puja pada guru silsilah Bhiksu Liaoming, sembah puja pada Guru Sakya Dezhung, sembah puja pada Gyalwa Karmapa XVI, sembah puja pada Guru Thubten Dhargye, sembah puja pada Triratna mandala, sembah puja pada adinata kebaktian hari ini Bhagawati Cundi. Om. Zheli Zhuli. Zhunti. Suoha.

Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, dan umat se-Dharma di internet, tamu agung hari ini adalah akuntan TBF Sdri. Teresa, produser acara Gei Ni Dian Shang Xin Deng CTI Sdri. Xu Ya-qi, dr. Zhou Heng, dan dr. Li Guilin yang datang dari Taiwan. Dan masih banyak tamu agung, yang datang dari jauh, setiap hadirin adalah tamu agung. Terima kasih semua, selamat malam semua! Apa kabar semua! Apa kabar! Apa kabar semua! (Bahasa Kanton).

  

Pertama-tama, ada lagi dua orang siswa yang memanah, mengenai aspek Trekcho langsung menghentikan, siswa yang satu ini menuliskan, "Siswa mau mengenai target, semua target mewakili maksud hati Mahaguru, Mahaguru menghendaki para siswa memahami apa maksud hati Mahaguru." Oh! Ia menulis banyak. "Sebenarnya, Mahaguru ingin mewariskan pencerahan dan pencapaian pencerahan yang paling berharga di dunia ini kepada para insan, Mahaguru berharap setiap siswa dapat tercerahkan dan mencapai pencerahan, hingga mencapai tingkatan alam parinirvana. Mahaguru menghendaki para siswa menemukan pencerahan, mencapai kata-kata pencerahan di dalam Sutra Hati, karena dukha-samudaya-nirodha-marga, 12 nidana, dan 3 kali pemutaran Dharmacakra berada di dalam Sutra Hati. Saat Sang Buddha pertama kali berceramah Dharma di hadapan 5 Mahabhiksu, Sang Buddha mengajarkan prinsip parinirvana dan moksa dengan Empat Kebenaran Mulia dan Delapan Jalan Kebenaran, bahkan mengajarkan inti 3 pemutaran dan 12 wujud. Oleh karena itu, Mahaguru menghendaki siswa menemukan jawaban di dalam Sutra Hati itu ada alasannya. Sebenarnya, Mahaguru juga sering berceramah Dharma dengan menggunakan 37 Bodhi Paksikadharma, Mahaguru menghendaki supaya siswa memahami apa itu Sambhara-marga, apa itu Prayoga-marga, apa itu Arya-marga, dan apa itu Bhavana-marga. Pengetahuan siswa dangkal, tidak pintar mengutarakan maksud hati sendiri, begitu saya tahu prinsip ini, terlebih tidak boleh egois, menyimpan apa yang saya pelajari, saya mau meneladani kebesaran hati Mahaguru, membagikan segalanya sebagai wujud menjalin karma baik kepada para umat dan para siswa. Semoga Mahaguru dapat memperkenankan saya menjalin karma baik dengan orang-orang dalam Bahasa Inggris, saya juga berharap TBF dapat mengizinkan saya mengajar di vihara lain, karena Empat Kebenaran Mulia dan Delapan Jalan Kebenaran, Tiga Pemutaran dan 12 Nidana adalah esensi pencapaian pencerahan hingga parinirvana. Mahaguru setiap saat melebur ke dalam lautan Dharma, seperti Sang Buddha di dunia, setiap saat mengulas Sutra dan berceramah Dharma. Saya juga berharap maksud hati Mahaguru diwariskan ke hati insan, semoga lebih banyak insan mendapatkan manfaat. Terakhir, saya membuat kesimpulan dengan kata-kata hati, "Memanah adalah mengungkapkan apa yang tak terungkapkan, tetap harus mengungkapkan, bagaimana mengungkapkan, mengungkapkan seperti ini, demikianlah." Terima kasih Mahaguru atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya, menguji diri sendiri pada mata pelajaran Agama Buddha Sthavira, saya menghaturkan syukur yang sedalam-dalamnya." Ia menjadi bhiksu pada tanggal 4 Februari 2012, ia mengatakan bahwa ia mengecap pendidikan Bahasa Inggris, taraf Bahasa Mandarin tidak tinggi. Taraf Bahasa Mandarin tidak tinggi? Ia bisa menuliskan "tidak terungkapkan, tetap harus mengungkapkan, bagaimana mengungkapkan, mengungkapkan seperti ini, demikianlah." "Benar" adalah "benar", namun, Anda tidak mengungkapkan. Terima kasih! Semoga Anda mengungkapkan, menulis Bahasa Inggris juga tidak apa-apa, di sini ada translator penerjemah, karena di sini adalah Amerika, banyak orang mengerti Bahasa Inggris. Jika Anda telah tercerahkan, Anda menggunakan conversation Bahasa Inggris yang sangat sederhana di dalamnya, benar-benar telah mencapai pencerahan, asalkan beberapa kata sederhana saja sudah mengerti, sudah tahu, semoga Anda tetap harus mengungkapkan. Ini adalah langsung memutuskan yang pertama.

Kedua, "Bersyukur atas pemberkatan dan nasihat Mahaguru, "Bagaimana langsung menghentikan kerisauan?" memadamkan hati sendiri," ingat tiga kata di depan, hati sendiri padam; semua Dharma berhenti, semua masalah telah berhenti; langsung menghentikan, langsung memutuskan; tidak membuang tenaga, tidak perlu membuang tenaga. Kerisauan adalah fungsi dari hati, hati adalah sumber dari kerisauan, hakikat dan fungsi adalah sama, nama palsu adalah beda. Sunyata adalah tidak berkondisi, hanya digunakan sesuai jodoh karma, akhirnya tetap pergi dan datang, tidak menerima maupun menolak, hati tidak membedakan cinta dan benci, mengikuti jodoh dan menuruti Buddhata. Bagaimana mengembalikan kerisauan ke sunyata? Kerisauan tidak ada tempat untuk kembali, berwujud namun tidak ada penyertaan hati, wujud terlahir dari hati yang padam, ada penyertaan hati namun tidak berwujud, wujud terlahir dari hati, jalan agung tidak terhitung, tidak berguna dan tidak berkondisi." Ini ditulis oleh seorang siswa, ia menulis sepatah demi sepatah, seperti di dalam Dharmapada, sepatah demi sepatah petuah, atau seperti sebuah gatha, atau seperti sebuah sajak. Banyak sekali yang disampaikan, juga sangat masuk akal. "Hati sendiri padam", bukankah hati telah mati! Apapun telah berakhir. Jika hati telah mati, apapun telah berakhir, saat ini telah berhenti, tidak perlu membuang tenaga. Saya beritahu Anda semua, di dalamnya ada sebuah pertanyaan -- saat ini, apa yang dimaksud "saat ini"? Saat ini adalah waktu, di dalam Sutra Vajra menyebutkan, "Hati yang telah berlalu tidak bisa dipegang", yakni masa lalu telah berlalu, sehingga tidak bisa dipegang; "hati yang sekarang tidak bisa dipegang", sekarang juga akan berubah menjadi masa lalu, saat ini juga akan berubah menjadi masa lalu; "hati yang akan datang tidak bisa dipegang", yang akan datang juga tidak bisa dipegang, karena yang akan datang belum datang, sehingga sama sekali tidak bisa dipegang. "Hati sekarang tidak bisa dipegang", hati pada saat ini tidak bisa dipegang. Sebenarnya juga tidak perlu menghentikan. Mengapa? Karena, ia tidak ada awal, juga tidak ada akhir. "Tidak membuang tenaga" itu benar, tidak perlu membuang tenaga untuk menghentikan, namun, "saat ini" yang ia katakan mewakili waktu, ini salah. Yang namanya "menghentikan saat ini", menghentikan pada saat ini, ada keberadaan waktu. "Saat ini" adalah ajaran Zen untuk siswa TK, baru menggunakan saat ini, seharusnya bahkan "saat ini" pun tidak ada. Oleh karena itu, "saat ini" adalah salah.

"Hati sendiri padam", jika, Anda sendiri masih ada hati, kemudian hati dipadamkan, ini juga salah, karena, sama sekali bahkan "hati sendiri" pun tidak ada, buat apa memadamkan? Ini mengajarkan kita bagaimana langsung menghentikan kerisauan. "Hati sendiri tidak ada, semua Dharma berhenti, tidak perlu menghentikan, tidak membuang tenaga", ini barulah benar, sudah menjawab kalimat pertama Anda. Cerahi lagi, panah lagi.

Kerisauan adalah fungsi hati, apa fungsi hati? Jika orang awam risau, hati tentu saja ada fungsi, semua pikiran yang tidak benar dan kerisauan timbul dari hati. Namun, di sini Anda menyebutkan, masih ada hati ini, "hati adalah sumber dari kerisauan", artinya Anda masih orang awam, masih ada hati, barulah bisa menuliskan "hati adalah sumber kerisauan". "Hakikat dan fungsi adalah sama, nama palsu adalah beda", ini tidak perlu dikatakan lagi, karena Anda masih menyebutkan tentang hati, selebihnya adalah pernyataan. Wujud! Hati! Kerisauan! Hakikat, sunyata! Semua dharma adalah sunyata, kerisauan juga demikian....semua ini adalah benar, ada beberapa yang salah, mohon Anda cerahi lagi. Keduanya mengenai Trekcho.

  

Hari ini adalah kebaktian Bhagawati Cundi. Apa yang dimaksud melatih diri? Sungguh sulit sekali dikatakan. Kita mengadakan kebaktian untuk mengembangkan dan memajukan, yakni menggunakan perbuatan, ucapan, dan pikiran kita untuk mendekati yidam kita, Bhagawati Cundi disebut Parisudhi Vajra, sesosok Vajra yang sangat bersih. Bhagawati Cundi memiliki beberapa nama Vajra, boleh menjadikan-Nya sebagai yidam, juga boleh dijadikan Dharmapala, sesosok yidam yang sangat baik. Ia sangat dihormati di Tantra Timur Jepang. Kalian semua jangan mengatakan Mahaguru selalu mencari kesalahan artikel memanah, karena memang benar, karena semua adalah istilah di dalam Buddhadharma, bisa diatasi dengan empat kata sederhana; bahkan dijelaskan lebih rinci, cukup diberikan penjelasan lagi di bawah empat kata. Lebih dulu menyampaikan lelucon "san cong si de", wanita zaman dulu ada yang namanya "san cong si de", namun "san cong si de" zaman sekarang adalah, "selalu bersikap kasar, tidak pernah memberikan perhatian, selalu berdalih"; "si de": "tidak boleh dikecam, tidak boleh dipukul, tidak boleh dimarahi, tidak boleh diganggu". Ini membicarakan wanita, sangat masuk akal. Sekarang dan zaman dulu beda, sehingga penjelasannya berbeda. Tadi ada umat yang datang berwisata dari Beijing ke Vancouver, di sini ada sebuah lelucon, apa yang dimaksud dengan wisata? Pengalaman banyak orang dalam berwisata adalah, "Naik bus tidur, turun bus buang air kecil, berfoto di mana-mana, pulang ke rumah tidur", pulang ke hotel tetap tidur. Dulu, kita begini, begitu rombongan tour keluar, mencari vihara, beda dengan lelucon tadi, kita "naik bus tidur, turun bus buang air kecil, melihat vihara di mana-mana, keheranan". Keesokan hari begitu ditanya, apapun tidak tahu. Ini semua adalah lelucon.

Sayah jelaskan Trekcho pada Anda semua, jika Anda mengerti memahami hati dan menyaksikan Busddhata, ia mengandung sebuah teori. Begitu Anda mengerti apa itu mencapai pencerahan, Anda pun akan menghasilkan beberapa fenomena pada diri Anda. Beberapa hari ini, Acarya Lianwang mengajukan sebuah pertanyaan, ia mengatakan ia bermeditasi, memasuki langit cerah tanpa awan, apapun tidak ada. Acarya Lianwang berkata, benar tidak? Saat ia bermeditasi, memasuki ke dalam langit cerah tanpa awan, hatinya sangat takut, alhasil tidak berani masuk, sehingga keluar; dengan kata lain, bermeditasi saat memasuki sunya, ia tidak berani masuk, ia pun keluar, hati sangat panik. Saya beritahu Anda, ini belum "Trekcho", jika Anda benar-benar telah mencapai pencerahan, Anda tidak takut. Mengapa Anda bisa tidak takut? Hati Anda bingung berarti Anda takut, Anda takut terhadap alam sunya.

Sebenarnya, penekun meditasi tahu, Anda duduk bermeditasi di rumah, atau duduk di Dharmasana, atau duduk di atas kursi, Anda sama sekali tidak goyah, lagipula tidak ada gempa bumi, juga tidak ada banjir, juga tidak ada kebakaran, juga tidak ada topan, Anda takut apa? Anda duduk di sana! Meditasi ya meditasi, hati Anda tidak perlu takut; seperti sebagian orang merasa diri sendiri seperti mau masuk, namun, di dalam sangat gelap, hati Anda pun panik. Sebenarnya, tidak ada yang ditakutkan, tidak akan takut apapun, inilah Trekcho, juga langsung menghentikan, apapun tidak ada. Saat ini, jika Anda bermeditasi turun ke neraka, Anda juga tidak takut neraka. Karena Anda mengerti apa itu neraka. Di sini saya tidak boleh katakan, apa itu neraka sebenarnya. Jika ANda di dalam meditasi, memasuki tumimbal lahir, Anda tiba di alam hewan, tiba di alam pretta, tiba di alam neraka, tiba di alam asura, tiba di alam surga, Anda juga tidak takut apapun, tidak gentar sedikit pun. Seperti lelucon yang tadi Mahaguru sampaikan, "san cong si de", "san cong" adalah "selalu bersikap kasar, tidak pernah memberikan perhatian, selalu berdalih", "si de" adalah "tidak boleh dikecam, tidak boleh dipukul, tidak boleh dimarahi, tidak boleh diganggu". Jika Anda bertemu, Anda juga seharusnya tidak gentar. Mengapa? Pada dasarnya tidak ada masalah apapun, di kolong langit ini pada dasarnya tidak ada masalah apapun, Anda takut apa?

Sekarang, penyakit kejiwaan ada semacam penyakit bernama Panic Disorder, hati selalu panik, tidak tahu besok akan terjadi peristiwa apa; atau bulan ini akan terjadi peristiwa apa; tahun ini akan terjadi peristiwa apa; keluar akan terjadi peristiwa apa, hati terus-menerus kuatir, terus-menerus panik. Saya mengajari mereka, jika Anda telah mencapai pencerahan, Anda tidak panik sedikit pun, tidak perlu panik.

Mengapa Anda harus panik? Tidak perlu panik. Karena gampang sekali, Anda tidak takut hidup maupun mati, apa yang perlu dipanikkan? Sama sekali tidak ada hidup dan mati, lantas apa yang perlu dipanikkan? Apakah ada yang lebih menakutkan daripada kematian? Orang lain berkata "bahkan mati pun tidak takut", tentu saja apapun tidak perlu ditakutkan. Oleh karena itu, Anda juga tidak perlu panik, bermeditasi dengan tenang, tidur dengan tenang, hati pun tenang. Bhiksu Shengyan menuliskan beberapa kata, "Hati tenang adalah ketenteraman", bagus sekali! Pepatah sangat bagus! Hati Anda bisa tenang, itulah ketenteraman. Namun, Beliau tidak mengajari kita bagaimana menenangkan hati. Mengapa saya mau menjelaskan bagaimana menenangkan hati? Mengapa hati Anda bisa tenang? Karena Anda sama sekali tidak memiliki hati, buat apa menenangkan? Dari mana datangnya ketenangan? Dari mana datangnya bahaya? Ketenangan maupun bahaya tidak ada. Bukankah mengajari Anda tiada masalah dan tiada hati? Tiada hati, masih harus menenangkan apa? Tidak perlu menenangkan hati, juga tidak perlu takut apapun, karena Anda telah tiada hati! Oleh karena itu, Acarya Lianwang, jika Anda tiada hati, Anda memasuki samadhi, biarkan langit cerah tanpa awan maupun neraka maupun 3 alam samsara, Anda pergi atau pulang, Anda tidak pergi maupun pulang. Mengapa Anda tidak tenang? Jadi, tenang saja. Mengenai hal-hal duniawi, itu adalah hal duniawi, sama sekali tidak perlu dihiraukan.

Anda berkata, "Saya mau melihat Buddha Sakyamuni, saya mau ke surga Tridhatu, ke Karmadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu." Di dalam Trekcho, jika Anda mengerti cara meditasi, Anda juga tidak perlu menuntut apapun, cukup bermeditasi saja, selebihnya tidak perlu dihiraukan, bahkan meditasi pun tidak perlu dihiraukan. Jika Anda terus berpikir, "Saya mau meditasi, saya mau meditasi, saya mau meditasi...." Baiklah! Anda pun tidak bisa memasuki samadhi. Anda bahkan jangan memikirkan meditasi, Anda pun nmemasuki samadhi; inilah tidak menuntut, apapun tidak menuntut. Xiaoming berkata pada teman semeja, "Kemarin saya salah menulis satu kata di dalam artikel, lalu ditinju keras oleh ayah saya." Teman semeja sangat terkejut bertanya, "Tulisan apa?" Xiaoming berkata, "Tulisan leluhur turun temurun ditulis menjadi leluhur yang bobrok" salah satu kata, pemanah tadi juga salah satu kata, hati sendiri padam, Anda masih memiliki hati sendiri; Anda memadamkan hati, ini tidak benar, tidak ada hati! Oleh karena itu, menyuruh Anda memasuki samadhi, berarti tiada masalah dan tiada hati, tiada masalah dan tiada hati harus dilatih hingga mahir, Anda pun dapat memasuki samadhi.

  

Sebuah lelucon, ibu mengajari putri, berkata, "Mencari suami adalah hal besar dalam hidup, harus buka mata hati. Lihat saja ayahmu, apapun bisa diperbaiki, bisa perbaiki alat elektronik, perbaiki mobil, perbaiki keran, semua diperbaiki sendiri, bahkan lemari rusak pun, ia juga bisa perbaiki sendiri." Putri pun memotong pembicaraan, "Saya telah mengerti. Lain kali juga harus menmcari seorang suami yang seperti ayah." Ibu berkata, "Kamu mengerti apa? Jika kamu juga cari suami seperti ayahmu, seumur hidupmu jangan pernah berpikiran menggunakan barang baru." Mahaguru sangat hebat, tahukah Anda? Mahaguru sendiri tidak mengerti peralatan eletronik apapun, mobil juga tidak bisa perbaiki, saya hanya mengerti menyetir saja, selebihnya tidak mengerti. Keran rusak, juga tidak bisa perbaiki, bahkan lemari pakaian rusak pun, saya juga tidak bisa perbaiki, apapun tidak bisa; saya bahkan tidak mengerti mencuci pakaian; bahkan menggunakan penyedot debu pun saya tidak bisa. Oleh karena itu, semua dikerjakan oleh Gurudhara. Gurudhara sangat pintar memperbaiki, apapun bisa dikerjakan, memaku juga bisa, menggergaji juga bisa, obeng juga bisa, membaut apapun Beliau bisa. Saya tidak mengerti apapun, saya hanya mengerti berceramah Dharma, selebihnya saya tidak mengerti. (Hadirin tepuk tangan) Gurudhara mengerjakan banyak hal, sangat melelahkan. Saya pribadi demikian, karena Beliau mengerti apapun, biarkan Beliau mengerti apapun, Mahaguru selamanya tidak perlu belajar apapun. Saya memberikan kelelahan pada orang lain, karena saya tidak menuntut apapun! Benar tidak? Ini sangat baik, saya tidak menuntut apapun. Saya juga tidak mengerti menggunakan komputer, juga tidak ada e-mail, Gurudhara kadang-kadang berkata pada saya, "Sangat sederhana, saya mengajari Anda bagaimana menyalakan komputer, Anda pun mengerti menggunakan, mengajari Anda belajar." Saya berkata, "Saya tidak perlu, saya tidak menggunakan komputer." Saya tidak memiliki komputer, Gurudhara memiliki komputer, oleh karena itu, Gurudhara sangat lelah, Beliau setiap hari harus melihat tulisan komputer, tangan terus-menerus bergerak, terus-menerus melihat, banyak orang mengirim e-mail padanya, Beliau setiap hari sibuk sekali bekerja. Bahkan Bahasa Inggrisnya juga sangat hebat, Bahasa Inggris sangat lumayan, setiap kali order barang apa, Beliau telepon order, saya tidak perlu, saya cukup memberikan barang untuk di-order oleh Beliau. Ia mengerti komputer dan memiliki email, banyak orang mengirim e-mail kepadanya, telepon genggam juga sering berbunyi tidak berhenti, di sini sibuk telepon genggam, di sana sibuk komputer, juga harus mengerjakan tugas rumah tangga. Lihatlah, saat Mahaguru kecil, hanya bisa memasak nasi goreng telur, hingga sekarang juga hanya bisa memasak satu macam saja. Namun, sejak menikah, tidak pernah sekali pun masuk dapur, juga tidak pernah masak sekali pun. Maaf! Semua dimasak oleh Gurudhara. (Hadirin tepuk tangan) Saya benar-benar sangat sempurna, sangat senang, sangat bahagia melewati hari.

Di dalam Trekcho juga menyebutkan, jika Anda mengerti Trekcho, Anda pun mengerti "menetap dalam kesetaraan", tidak ada perbedaan atas dan bawah. Saya mengerti Trekcho, sehingga di dalam hati Mahaguru, tidak ada cantik dan jelek, tidak ada baik dan buruk, tidak ada orang yang dibenci, tidak ada orang yang disukai, semua berubah menjadi menetap dalam kesetaraan.

Namun, Anda berkata, sepenuhnya tidak ada orang yang disukai? Juga tidak! Mahaguru tetap ada orang yang disukai, seperti bertemu yang sangat berjodoh, Mahaguru tetap sangat suka. Namun, di dalam wujud sejati suka, harus dianggap sunya, ini barulah Trekcho yang sesungguhnya. Karena Anda suka, Anda pun melekat, semua kemelekatan akan menghasilkan kerisauan, sama seperti cinta dan benci, berasal dari satu sumber. Tadi sudah dikatakan, asalkan Anda telah cinta, Anda pun ada kerisauan, Anda pun melekat; walaupun Anda mencintai apa yang dicintai, namun, Anda mengubah cinta menjadi sunya, dengan demikian baru tidak akan ada kerisauan. Jika Anda membenci, Anda juga sama akan ada kerisauan, kerisauan pun muncul, Anda juga mesti menganggap benci sebagai sunya. Dengan demikian, Anda pun tidak akan risau, ini disebut menetap dalam kesetaraan, Anda akan menetap dalam kesetaraan, dengan kata lain, para insan setara, Anda dan saya adalah setara, kita semua adalah setara, pria dan wanita adalah setara, baik dan buruk juga setara, cinta dan benci juga setara, cantik dan jelek juga setara, bencana dan berkah setara. Trekcho adalah mencapai tingkatan alam ini. Sampai mencapai pencerahan, Anda tidak akan membenci seseorang, tidak boleh membenci seorang pun, walaupun, ia kelihatan sangat memuakkan, "Orang ini benar-benar brengsek, sangat memuakkan", brengsek ditambah brengsek ditambah telur busuk, telur apapun tercampur di dalamnya, sungguh sangat memuakkan. Namun? Kita harus tahu, jika kita ada kebencian, kerisauan kita pun timbul. Kita harus memandang benci itu setara, cinta itu setara. Cinta juga semacam kerisauan, benci juga sama-sama kerisauan, benci juga sama-sama kerisauan, apapun adalah kerisauan, asalkan kita menetap di sana, mutlak ada kerisauan. Kita mesti memahami sepenuhnya cinta Anda, memahami sepenuhnya benci Anda, baru disebut mempraktekkan Trekcho. Saya bicara seperti ini, kita semua seharusnya memahami. (Hadirin tepuk tangan) Oleh karena itu, lelucon tadi, "leluhur turun temurun" dan "leluhur yang bobrok", sebenarnya dipandang dengan kesetaraan, hanya sebuah kesalahan kata, sebagai ayah tidak perlu memukulnya begitu keras, cukup diberitahu saja, "Kamu salah tulis, cukup diperbaiki saja." Sebenarnya, sungguh, "leluhur turun temurun" juga benar-benar adalah "leluhur yang bobrok". Leluhur China kita, Tang, Yu, Xia, Shang, Zhou, Qin, Han, Tiga Kerajaan, Wei, Jin, Dinasti Selatan dan Utara, Tang, Song, Yuan, Ming, Qing, hingga Republic of China, dinasti mana yang bukan "leluhur turun temurun"? Dinasti mana yang bukan "leluhur yang bobrok"? Banyak kaisar, mana kaisar yang baik? Apakah Kaisar Wu dari Dinasti Han adalah kaisar yang baik? Gemar melakukan hal besar dengan menghalalkan segala cara, membunuh banyak orang, teritori dinasti sangat luas, sehingga kita baru disebut Orang Han, diwakilkan oleh Han. Namun, apakah Kaisar Wu dari Dinasti Han adalah kaisar yang baik? Ia tanpa sebab menjajah perbatasan! Genghis Khan adalah perintis Dinasti Yuan, namun ia juga sembarangan membunuh manusia di mana-mana! Apakah Qin Shi Huang adalah kaisar yang baik? Di dunia ini, di dalam sejarah, tidak dapat dibedakan mana yang baik, mana yang buruk, kita hanya bisa memandang seperti ini, memandang dengan hati kesetaraan, semua insan memiliki Buddhata, semua setara. Oleh karena itu, leluhur kita belum tentu baik semua. Contohnya kakek saya, apakah kakek saya adalah kakek yang baik? Tentu saja, Beliau menghasilkan banyak uang, saat itu, Beliau pergi ke Penghu, sampai di Chiayi, di Chiayi menjadi konglomerat, Beliau memiliki 6 orang istri, apakah Beliau kakek yang baik? Beliau tentu saja juga ada sisi baik, juga ada sisi tidak baik. Sisi yang baik adalah orang lain beli beras dengan berutang, orang yang berutang padanya, semua tidak ditagihnya; baik yang bayar utang maupun berutang, semalam sebelum perayaan musim semi penanggalan lunar, Beliau membakar semua bon utang; orang lain berutang padanya, pada hari itu dibakar bersamaan, Beliau berbuat kebajikan besar, Beliau adalah kakek yang baik. Beliau sangat temperamen, beberapa tante saya, dan kakak saya, dipukul setengah mati, sangat galak. Oleh karena itu, ayah saya juga berubah menjadi sangat galak. Mahaguru sendiri juga sangat galak, satu generasi kami, saya sebut sebagai suku bebek bermuka merah. Karena sebentar saja sudah naik pitam, kemudian mulai pukul orang. Mahaguru sejak kecil dipukul, terus dipukul hingga sekolah menengah atas. Saya lahir di dalam suku ini, saat tidak melatih diri, saya sendiri juga sangat temperamen. Namun, saya tahu derita dipukul, sejak itu, saya tidak pukul anak kecil. Seumur hidup saya tidak pernah pukul anak kecil, ada perubahan. Namun? Diwariskan hingga satu generasi berikutnya, saya tidak berani katakan. Oleh karena itu, tetap "leluhur yang bobrok".

Manusia! Ada sisi baik, juga ada sisi buruk. Namun, kita harus menganggapnya setara. Ketika sejarah menilai seseorang, tidak dapat diambil satu patokan, hanya bisa dari satu sisi diambil satu patokan untuk dinilai, seseorang tidak dapat dinilai secara keseluruhan, itu sebabnya setiap orang yang buruk, hatinya juga ada sisi baik; orang yang sebaik apapun, juga ada sisi buruk. Maka, kita belajar Buddha, kita belajar Mahaguru, belajar sisi baik, jangan belajar sisi buruk. Kita anggap setiap orang adalah guru ktia, belajar sisi baiknya, jangan belajar sisi buruknya, dengan demikian bisa setara. Kita anggap setiap orang adalah orang baik, semua adalah Buddha Bodhisattva. Ketika mencapai yoga satu rasa, siapapun adalah Buddha, setiap orang adalah Bodhisattva, kata-katanya adalah manmtra, tempat tinggalnya adalah istana, yaitu alam Buddha, yang satu ini sangat penting. Ada sebuah lelucon, seorang putra terlahir dengan wajah yang gemuk, begitu neneknya melihat, berkata, "Lihat saja betapa manisnya anak ini, kelak pasti memiliki berkah, beri saja nama You Fu (memiliki berkah)!" Begitu ayah mendengar, tidak setuju, berkata, "Tidak boleh, terlalu jelek, beri saja nama You Bing (berpenyakit)!" Karena ayah si anak bermarga "Mei", Mei dari kata bunga Mei, jika diberi nama You Fu, maka menjadi Mei You Fu (pelesetan dari tidak memiliki berkah), jika diberi nama You Bing, maka menjadi Mei You Bing (pelesetan dari tidak berpenyakit), ini adalah cara memberikan nama. Sebenarnya, lebih bagus ambil yang nama, menurut saya, jika ambil Mei You Fu, peduli amat memiliki berkah atau tidak, berkah dan bencana saling bergantungan. Ada seorang siswa Mahaguru, kurang baik disebut namanya, sekarang Beliau adalah pejabat yang sangat besar, namun, akhir-akhir ini terjadi sesuatu, berkah dan bencana saling bergantungan, bencana telah datang, berikutnya adalah berkah; berkah telah datang, selanjutnya adalah bencana. Kedudukannya sangat tinggi! Di atas tingkat menteri, namun, tetap memiliki berkah dan bencana. Saya ambil sebuah contoh yang sangat sederhana, Presiden Abian, bukankah berkahnya paling besar? Namun, Anda tahu, berkahnya juga paling besar.

Presiden tentu saja memiliki berkah paling besar baru dapat menjadi presiden! Namun, berkahnya lebih besar. Beliau tidak menjadi presiden, maka tidak akan tertimpa bencana, Beliau menjadi presiden selama dua periode, ketika menjadi presiden pada periode terakhir, bencana telah datang. Berkah adalah bencana, bencana adalah berkah, visualisasi kesetaraan, jika Anda mengerti prinsip ini, tidak apa-apa tertimpa bencana. Tidak memiliki berkah juga tidak apa-apa. Benar tidak? Mei You Bing? Ketahuilah, di dunia ini tidak ada orang yang tidak berpenyakit, semua berpenyakit, setiap orang berpenyakit jiwa. Apakah kalian pernah marah? Pernah marah, pada saat itu, Anda pun sakit, karena Anda tidak mampu mengendalikan diri sendiri, Anda marah, itu berarti tidak dapat mengendalikan diri sendiri, saat ini Anda pun sakit, kesadaran Anda tidak dapat mencernanya, saling bersilangan dan membakar, api pun menyala, ini berarti berpenyakit. Yang dilarikan ke rumah sakit jiwa adalah orang-orang yang mengumbar amarah secara berlebihan, bahkan selalu mengumbar amarah baru akan dilarikan ke rumah sakit jiwa, kita mengumbar amarah untuk sementara, berarti sakit jiwa sementara; ada juga yang selalu berpenyakit jiwa, maka akan dilarikan ke rumah sakit jiwa. Samata-prajna, batin selalu damai dan tenteram, mengendalikan diri sendiri, sehingga tidak akan sakit. Di Taiwan terjadi banyak fenomena, banyak pria berdiri di depan tangga, di jembatan penyeberangan atau di lantai atas, lantai bawah, wanita yang memakai rok mini naik, ia pun memotret dari belakang dengan telepon genggam, itu berarti berpenyakit, juga semacam penyakit jiwa, tidak dapat mengendalikan diri sendiri. Jika kita dapat mengendalikan diri sendiri, maka tidak berpenyakit; tidak dapat mengendalikan diri sendiri, maka berpenyakit. Ada maling, tidak mencuri uang dan materi apapun, hanya mencuri celana dalam dan bra. Menurut Anda, ia mencuri celana dalam untuk dipakai sendiri? Tidak mungkin, ia adalah pria. Bra untuk dipakai sendiri? Juga tidak mungkin! Ia adalah kolektor celana dalam dan bra yang dijemur orang di luar rumah, buat apa dicuri? Bukankah itu berpenyakit? Itu berpenyakit. Ada yang berprofesi sebagai dokter, saya tidak sebut siapa, pokoknya ia bertemu pria, ia tidak akan memeriksa nadinya; bertemu ibu-ibu jelek, ia juga tidak akan memeriksa nadinya; ia memeriksa nadi banyak gadis cantik, ia tidak pernah memeriksa nadi Mahaguru. Kita pikirkan sendiri, sebagai dokter! Anda mengerti pengobatan China, mengerti pengobatan barat, mengapa selalu mencari gadis cantik untuk diperiksa nadinya? Mengapa tidak mencari ibu-ibu untuk diperiksa nadinya? Mengapa tidak mencari Mahaguru, dan mencari kaum pria untuk diperiksa nadinya? Mereka berpenyakit! Bukan tidak berpenyakit, ada sebagian orang berpenyakit! Mengapa Anda tidak memeriksa nadi mereka? Mengapa mati-matian memegang tangan gadis dan tidak melepasnya, bahkan memeriksa nadi cukup lama? Ini berarti berpenyakit, bahkan seorang dokter! Dokter juga berpenyakit! Ia berpenyakit jiwa. Hemat kata, insan berpenyakit, lelucon tadi, semua berpenyakit. Maka, kita harus memandang insan setara. Cinta, benci, semua adalah penyakit.

Di dalam Sravakayana menyebutkan prinsip pertama, "Jangan menyakiti orang lain", tingkat pertama dari "Sadhana 9 Tingkat Dzogchen", kita belajar Buddha, maka harus mengerti ini, "Jangan menyakiti satu insan pun." Harus memandang insan secara setara. Prinsip kedua, selain "jangan menyakiti satu insan pun", bahkan harus "membantu setiap insan", itulah Mahayana; selain peduli dengan diri sendiri, harus membantu insan, maka menjadi Bodhisattva. Jika kita berhasil mencapai tingkat Sravakayana, apapun tidak perlu ditekuni lagi. Banyak orang senang menyakiti insan, ini berarti dirinya sendiri berpenyakit, ini bukan belajar Buddha. Orang yang belajar Buddha, mutlak tidak akan menyakiti insan; orang yang belajar Buddha, mutlak membantu insan, prinsip harus dipegang. Anda mengerti Trekcho, maka Anda harus membangkitkan Bodhicitta membantu para insan. Ada sebuah lelucon, suatu hari jari kaki seseorang tertimpa benda berat, ia pun pergi ke rumah sakit, tabib berkata, "Anda lakukan Electroencephalograph!" Orang itu sangat bingung, "Jari kaki saya tertimpa, bukan kepala yang tertimpa, mengapa harus melakukan Electroencephalograph?" Tabib memandang sepintas orang ini, dengan sungguh-sungguh berkata padanya, "Jika otak Anda cepat bereaksi, mengapa bisa tertimpa?" Lelucon ini walaupun tidak terlalu nyata, karena kadang-kadang tidak perhatikan baru bisa tertimpa! Apa hikmah yang kita bisa petik dari lelucon ini? Kita setiap manusia itu memiliki reaksi, karena ada reaksi, baru disebut seorang manusia; jika tidak ada reaksi, bukan manusia lagi. Bukan manusia, lantas apa? Yakni, ketika kita mencapai Trekcho, kita pun tidak akan memiliki reaksi yang terlalu besar, juga bukan memiliki reaksi yang terlalu besar, yakni reaksi ini diperlihatkan, namun, dianggap sebagai peristiwa yang biasa, baru disebut Trekcho.

Anda dimaki oleh seseorang, tentu saja beraksi, namun, berpikir sejenak, ia adalah orang awam, Anda adalah sadhaka, jika orang yang mencapai pencerahan dalam melatih diri, tidak akan menghiraukan makiannya. Buddha Sakyamuni pernah berkata, dulu ṣaṭ-śāstārāḥ memaki-Nya; Cincamana juga memaki-Nya; Sundari juga memaki-Nya, saat itu, mengapa Ia tidak ada reaksi? Bodhisattva Manjushri pun bertanya pada Buddha Sakyamuni, "Saat Nona Sundari berdiri dan memaki, mengapa diam saja?" Buddha Sakyamuni berkata, "Jika ada orang memaki angkasa, apakah angkasa menjawabnya?" Demikian jawaban Buddha Sakyamuni. Jika ada orang memaki langit, terus-menerus memaki, memaki tanpa henti, apakah langit menjawabnya? Tentu saja tidak perlu, hati Buddha Sakyamuni laksana langit. Sehingga, Ia tidak perlu menjawab apapun. Dari sini, Anda pun boleh ketahui, ketika seorang yang sangat jahat memaki Anda, Anda akan bereaksi, "Orang ini memaki saya, hati saya tidak nyaman." Anda timbul kerisauan. "Saya mesti melawannya." Sebenarnya tidak perlu, karena jika Anda mengerti Trekcho, Anda memahami ia adalah orang awam, sedangkan Anda adalah arya yang telah mencapai pencerahan dalam melatih diri, Anda pun tidak perlu menghiraukan makiannya. Demikiannya, sudah lebih mengerti tentang Trekcho!? Om Mani Padme Hum.

來源:Seattle Ling Shen Ching Tze Temple