Halaman Utama > Sadhana Tantra Satya Buddha > Vinaya


Vinaya

 

Sistem Dharma Zhenfozong

Hingga kini nama “Zhenfozong”, hanyalah sebutan lain dari aliran bhavana saya dan para siswa. Kami tidak ada organisasi, tersebar di seluruh pelosok dunia, Dharmasala yang sesungguhnya baru mulai dibangun di Amerika Serikat. Sejujurnya, saya tidak ingin Zhenfozong diorganisasikan, saya hanya ingin menjadikan Zhenfozong sebagai Metode Dharma yang transparan, agar setiap orang dapat menerima kebajikan sejati dari Budhadharma, memahami tumimbal lahir, mencapai pencerahan, menjalani Bodhicitta, setiap orang berbhavana, setiap orang pun akan mencapai Kebuddhaan.
Saya pribadi melatih diri dimulai dari ajaran Tao, jadi setiap siswa Tao harus menghormati Tiga Guru Sesepuh Taoisme, juga harus menghormati Para Dewata yang berada di Langit, serta menghormati Dewata yang berada di Kamadhatu. Terutama kepada Guru Spiritual Tak Berwujud Sanshan Jiuhou, Qingzhen Daozhang. Jangan karena telah menekuni sadhana lain, malah mencela ajaran Tao. Sebenarnya ajaran Tao cukup dalam dan tidak mudah diterka, kalau tidak mendalami ajaran Tao, pasti tidak akan paham ‘Zhoutian Mihe’, jangan mengira ajaran yang dikomentari Buddhisme ialah ajaran Tao, konon yang dikomentari Buddha Sakyamuni ialah Brahmanisme dan berbagai ajaran di India, serta ajaran Tao yang diluar Tiongkok. Saya sebagai Daozhang di ajaran Tao.
Mengenai ajaran eksoterik, saya pribadi sudah menekuninya selama sepuluh tahunan, sudah menerima Bodhisattva Sila. Para siswa Zhenfozong juga boleh mempelajari ajaran Tanah Suci atau ajaran lainnya, melatih diri sesuai bimbingan Bhikkulama, kami mengira setiap ajaran maupun eksoterik atau esoterik bersifat samata, setiap Dharma juga samata, hanya saja kemampuan berbhavana setiap orang berbeda-beda, terdapat 84.000 jenis manusia yang menekuni 84.000 jenis Metode Dharma, namun kita tetap menghormati seluruh Bhikkulama ajaran eksoterik. Saya sebagai upasaka yang menerima Bodhisattva Sila di ajaran eksoterik.
Perlindungan terakhir saya ialah Tantrayana, menekuni Sadhana Tantrayana akan mengubah trikarma menjadi triguhya, yang juga merupakan Dharma Rahasia, Dharma Mahapurna Prajna. Siswa Zhenfozong harus menghormati Padmasambhava, sebab Padmasambhava ialah Guru Sesepuh Pertama di Tantra Tibet, setelah saya menerima abhiseka rahasia, mampu melebur dalam samudera kemurnian sifat Vairocana, kemudian baru mengajarkan kepada para siswa, dalam Tantrayana saya sebagai ‘Mahatantrika Bermahkota Merah dan Berpita Suci’.

Meskipun Zhenfozong tidak ada organisasi, namun para insan yang bersarana berasal dari seluruh pelosok dunia, saya harap Anda dapat mengingat:

1. Zhenfozong merupakan perpaduan sadhana dari Taoisme, ajaran eksoterik, ajaran esoterik, didirikan karena kebutuhan dunia kini, yang mana merupakan Metode Dharma yang paling cocok ditekuni oleh manusia jaman sekarang, mempunyai berkah Dharma yang luar biasa, kelak akan lebih menakjubkan.
2. Bagi yang bermaksud membabarkan ajaran Zhenfozong harus memiliki kualifikasi seorang Acarya. Identitas resmi Acarya terdiri dari dua yaitu: pertama, Acarya diakui langsung oleh Mahaguru. Kedua, harus ‘mencapai pencerahan, mampu mengendalikan tumimbal lahir’ dalam sadhana, harus melalui keabsahan dari Adinata, serta Buddha, Bodhisattva, Adinata berkenan menampakkan diri, baru dapat diakui sebagai seorang Acarya. (Dalam hal ini harus bertindak jujur, jika berdusta, akan terjerumus ke Neraka Avici, tidak akan terbebaskan selama-lamanya.) Bagi yang telah diakui sebagai Acarya, juga tetap harus menekuni Taoisme, ajaran eksoterik dan esoterik selama bertahun-tahun, harus sering mengamati Dharma, bersadhana, mencerahi Dharma, harus memiliki bukti nyata baru bisa sebagai Guru yang menjadi panutan siswa, kalau tidak, akan mencemari nama baik Tantrayana, malah terjerumus ke Neraka Avici juga.
3. Setelah bersarana kepada Mahaguru, ataupun Acarya lain, tidak diperbolehkan menerima sarana dari aliran lain lagi, agar tidak mengacaukan garis silsilah. Harus diingat, sangat penting.



Sila-sila Zhenfozong

Kini, siswa Tantrayana di seluruh duniasudah lebih dari 100.000 orang, siswa yang bersarana berasal dari berbagai negara di dunia, jumlah ini berdasarkan dengan pembagian Sertifikat Sarana oleh saya. Stiap hari selalu ada yang datang bersarana, langsung datang ke USA untuk menerima Abhiseka Sarana, ataupun menulis surat memohon Abhiseka Sarana jarak jauh, yakin dalam beberapa tahun kemudian, jumlah siswa akan bertambah hingga sepuluh atau seratus kali lipat.
  

Banyak siswa Tantrayana setelah bersarana bertanya kepada saya, dalam Tantrayana harus menaati sila apa saja? Dalam Sertifikat Sarana tertulis: “Mengingat maksud dan tujuan pokok seorang Buddhisme. Setulus hati bersarana kepada Buddhisme. Menghormati dan mengakui Guru Bijak. Bersarana kepada Buddha Hidup Liansheng. Selama hayat masih dikandung badan, memberi persembahan kepada Buddha dan melakukan kebajikan. Selama hayat masih dikandung badan, menaati sila sesuai Dharma. Selama hayat masih dikandung badan, mengabdi kepada Negara. Berbakti kepada orang tua. Menghormati Guru dan umat sedharma. Sepanjang masa. Jalani dengan ketulusan hati. Dengan ini tertulis di naskah doa. Para Buddha Bodhisattva di sepuluh penjuru berkenan menjadi saksi.”
Terlebih dahulu yang harus diulas ialah Sila-sila Zhenfozong, yang dimaksud dengan ‘Selama hayat masih dikandung badan, menaati sila sesuai Dharma’, adalah bersedia menggunakan kekuatan sepanjang masa untuk merealisasikan Sadharma, untuk menaati sila (dengan ketat). Sila-sila ini merupakan Pancasila Buddhis, Zhenfozong merupakan aliran sejati, merupakan Buddhadharma sejati, maka harus menaati Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis sebagai berikut:

1. Tidak membunuh: Dengan welas asih menyayangi maklhuk hidup, tidak membunuh. Akan lebih baik jika melakukan pelepasan satwa.
2. Tidak minum minuman keras: Yang dimaksud tidak minum minuman keras berarti tidak mabuk-mabukan, tidak membuat onar karena mabuk.
3. Tidak berasusila:Selain hubungan suami istri, yang lain termasuk perbuatan asusila.
4. Tidak berdusta: Tidak membalikkan fakta, melanggar karma ucapan, menfitnah orang dan Dharma sejati, semua dianggap melanggar sila ini.
5. Tidak mencuri: Tidak boleh mencuri atau merampok bukan hak milik pribadi.

Ini merupakan sila yang paling dasar dalam Zhenfozong, dan juga merupakan sila paling dasar dalam Buddhisme, siswa Zhenfozong juga merupakan siswa Buddha, tentunya harus menaati Pancasila Buddhis ini. Selain itu, dalam mempelajari Buddhadharma, berbakti kepada orang tua, menghormati Guru dan umat sedharma, ini merupakan pokok dasar setiap manusia, harus dapat direalisasikan, apabila pokok dasar ini saja tidak dapat ditaati, silahkan kembalikan ‘Sertifikat Sarana’ kepada Guru. Sebab, siswa yang tidak menaati sila dianggap tidak benar, meskipun bersarana kepada Zhenfozong, namun tidak menaati sila sesuai Dharma, berarti percuma saja, menyimpan selembar ‘Sertifikat Sarana’ bagaikan kertas sampah.

Bagi siswa yang menaati Pancasila Buddhis dan Kusala Karmapatha, saya doakan, pertama agar terhindarkan dari musuh, dijauhkan dari segala penyakit, panjang umur dan sehat sejahtera. Kedua, keluarga harmonis dan tentram, dijauhkan dari segala penjilat, dihormati orang banyak. Ketiga, bagi siswa yang menaati sila dan berbuat kebajikan, akan terhindarkan dari musibah atau malapetaka, tidak ada korban jiwa. Keempat, akan sering dilindungi oleh Para Dewata, sehingga para siswa dapat menghormati Triratna, melatih Bodhicitta. Kelima, ladang kebajikan sempurna.

Berhubung manusia di dunia tidak semua adalah orang suci, pasti ada manusia yang melanggar sila, apabila manusia yang melanggar sila memiliki penyesalan, maka harus menekuni Sadhana Ksamayati. Bersumpah menyesal atas kesalahan yang telah diperbuat sebelumnya di hadapan Para Buddha dan Guru.

Kesalahan manusia sangatlah banyak, tidak dapat dihitung satu per satu, seperti banyak sekali yang tidak mempercayai ‘Hukum karma’, tidak mempercayai balasan karma, sekali buka mulut langsung berucap ‘saya tidak percaya apapun’, maksud dari kalimat ini ialah, ‘menganggap diri sendiri hebat’, demikian sangat mudah kelalaian, lantas menciptakan karma buruk.

Orang suci di dunia sangat sedikit, orang awam paling banyak, segala perbuatan tidak luput dari jeratan kebodohan, salah pergaulan akan mudah terjerumus, maka harus berhati-hati dalam pergaulan, jauhi teman yang mempunyai kebiasaan buruk, sebab, setelah mengikutinya sekali, pasti akan tertanam akar untuk terus mengikutinya, demikian akan mudah menciptakan banyak karma buruk.

Keserakahan juga merupakan salah satu kebiasaan manusia, bibit keserakahan akan memikat manusia terjerumus pada dosa, seperti nafsu birahi, setiap orang menyukai keindahan, serakah akan sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki, bibit keserakahan ini sangat mengerikan, seorang sadhaka seharusnya menggunakan metode ‘Visualisasi Kesunyataan’ dan ‘Tidak Bersih’ untuk mengalihkan pikiran nafsu birahi ini. Kalau tidak demikian, setiap malam Bhiksu Tua, Taoism Tua pun akan mengalami mimpi basah. Tidak melekat pada ‘keindahan’, baru disebut sadhaka sejati yang berbudi baik, apabila melakukan perbuatan asusila, maka akan menciptakan karma buruk yang sungguh berat. Serakah akan kekayaan juga demikian, manusia meninggal karena kekayaan, burung meninggal karena makanan, selain memperoleh hak milik pribadi, serakah akan kekayaan lain merupakan bibit dari kilesa, sadhaka yang berbhavana harus sadar akan ‘rasa syukur menciptakan kebahagiaan’, barang siapa yang tidak serakah akan kekayaan, maka memiliki nilai diri yang tinggi.

Dan juga karena iri hati, melukai insan lainnya, maka akan sering merasakan kegelisahan.

Masih ada dosa yang lebih berat, yakni ‘Anantarika Karma’. Seperti merusaki Pagoda Buddha atau Vihara, membakar kitab suci, menghancurkan Pratima Buddha, mencuri Tripitaka. Mengecam Buddhadharma, memaki Guru, mencelakai sadhaka. Membunuh orang tua, mendarahi tubuh Buddha, memecah-belah Sangha, membunuh Arahat. Tidak mempercayai Hukum Karma, tidak menjalani Kusala Karmapatha, inilah ‘Anantarika Karma’ yang sungguh berat.

Bagi yang telah melakukan kesalahan ini, harus segera bertobat, membabarkan Sadharma, membantu para insan, menaklukkan mara dengan Sadharma, memutar Roda Dharma, menghapus karma buruk karena tidak menjalankan Kusala Karmapatha, menaklukkan dosa, lobha, moha, serta menghapus kilesa dengan metode Sad-paramita, sehingga tubuh memancarkan cahaya dan memperoleh kesempurnaan.

Siswa Zhenfozong, dengan Maha Prajna kehidupan lampau, dapat mengingat ratusan ribu kehidupan, dapat menekuni Sadharma yang ditransimisikan oleh Sang Hyang Buddha setiap hari, melakukan segala kebajikan, berlindung kepada Guru yang paling mulia, terhindarkan dari segala ketidaksempurnaan, menolong para insan yang menderita, dan segera mencapai Maha Bodhi.

‘Sadhana Ksamayati’ memiliki lima point utama:

1. Memohon Buddha Menjadi Saksi:

Pertama-tama harus mengundang ‘Wuliangshou Fo, ‘Sheng-guang Fo’, ‘Miaoguang Fo’, ‘A-zhu Fo’, ‘Gongdeshan-guang Fo’, ‘Shizi-guangming Fo’, ‘Riguangming Fo’, ‘Wang-guangming Fo’, ‘Baoxiang Fo’, ‘Baoyan Fo’, ‘Yanming Fo’, ‘Yansheng-guangming Fo’, ‘Jixiang-shangwang Fo’, ‘Weimiaosheng Fo’, ‘Miaozhuangyan Fo’, ‘Fachuang Fo’, ‘Shang-shengshen Fo’, ‘Ke’ai-seshen Fo, ‘Guangming-bianzhao Fo’, ‘Fanjingwang Fo’, ‘Shangxing Fo’. Sebab, sebelah barat telah mengundang tiga Buddha, sebelah timur mengundang lima Buddha, sebelah selatan mengundang lima Buddha, sebelah utara mengundang delapan Buddha. Kedua puluh satu Buddha ini divisualisasikan secara bersamaan, dan berkenan menetap di angkasa, sebagai saksi dari pertobatan Anda.

2. Memancarkan Cahaya Menghapus Karma Buruk:

Kedua puluh satu kekuatan Buddha ini dapat menghapus karma buruk, sehingga memperoleh berkah, yang juga merupakan pahala sejati dari Kedua puluh satu Buddha. Sadhaka bervisualisasi 21 Buddha senantiasa menetap di angkasa, dari pori-pori tubuh 21 Buddha memancarkan cahaya yang tiada tara, terdapat banyak warna cahaya, lalu menyatu menjadi cahaya tiada tara yang penuh dengan warna. Begitu cahaya terpancarkan, alam Dhatu di sepuluh penjuru berubah menjadi Buddhaloka, dan diri sendiri juga merasakan tenang dalam cahaya Buddha. Cahaya Buddha memancari segala Panca-kasaya.

Cahaya yang dipancarkan oleh 21 Buddha, pertama, tempat yang tercemar, berubah menjadi Buddhaloka. Kedua, kepada para insan, membebaskan para insan dari karma buruk Kusala Karmapatha, Anantarika Karma, mengecam Triratna, tidak menghormati Guru, tidak berbakti kepada orang tua, yang seharusnya terjerumus ke Alam Neraka, Alam Preta, Alam Binatang, semuanya lenyap karena pancaran cahaya 21 Buddha, sehingga memperoleh ketenangan dan kedamaian, segala berkah bertambah, anggun bagai Buddha, dan dapat menyaksikan Para Buddha dari Sepuluh Penjuru Tiga Kehidupan.

3. Melafalkan Nama Agung dan Menjapa Mantra:

Apabila sadhaka memperoleh pencerahan, harus cerah hingga ke hati, melafalkan 21 Nama Agung Buddha sebanyak dua kali, dilanjutkan menjapa Mantra Saptabuddha Menghapus Karma Buruk: “Lipolipodi. Qiuheqiuhedi. Tuoluonidi. Niheladi. Pilinidi. Mohejiadi. Zhenlingqiandi. Suoha.” Menjapa mantra ini sebanyak 108 kali sampai 1080 kali.

4. Visualisasi dan Mudra:

Tangan kiri dikepal diletakkan pada bagian pinggang. Tangan kanan dibuka, kelima jari diluruskan, bagaikan memancarkan panca cahaya, tangan kanan diletakkan pada bagian dada.

5. Melimpahkan Jasa dan Bertobat:

Menurut latar belakang karma buruk yang pernah diperbuat seharusnya akan terjerumus ke Alam Neraka, Alam Preta, Alam Binatang, atau Alam Asura, bahkan Delapan Rintangan, namun karena saya menekuni Sadharma dan bertobat, segala karma buruk pun terkikiskan, kelak tidak menerima balasan karma lagi. Seperti Para Buddha Bodhisattva masa lampau, melatih diri Berbodhicitta, menyesali segala kesalahan, dan saya juga menyesali segala kesalahan yang pernah diperbuat, tidak berani tidak mengaku, berharap segala karma buruk dapat terhapuskan, kelak tidak berani menciptakan karma buruk lagi. Dengan ini mengundang 21 Buddha menampakkan diri dan menjadi saksi.

Pelatihan sadhana ini, merupakan Sadhana Ksamayati Mula Lingxian, sadhaka yang menekuni sadhana ini, juga harus menambahkan ‘Sadhana Catur Prayoga’ dan ‘Sadhana Guruyoga’, penekunannya berdasarkan tata ritual, upaya untuk terbebaskan dari jeratan karma buruk, dan memperoleh berkah yang tak terhingga.

 

14 Sila Dasar Tantrayana

Mungkin Tata Sila Tantra akan lebih ketat dari non-Tantra, sejak dulu Tantrayana memang sudah memiliki 14 Sila Dasar. Bagi setiap Vajrayana wajib memahami segala sila rahasia vajra, bahkan harus dipahami secara mendalam, menaati setiap butir sila, selamanya tidak melanggar sila, terutama ke-14 sila dasar ini, sebutir pun tidak boleh dilanggar.

Sila ke-1: Tidak menghormati Mulacarya melalui ucapan, pikiran, dan perbuatan.
Penjelasan: Mulacarya mewakili Buddha membabarkan Dharma, merupakan perwujudan dari Triratna. Dalam Tantrayana, Catursarana yang pertama adalah bersarana kepada Mulacarya, untuk itu, sehari-hari hendaknya memperlakukan Mulacarya layaknya seorang Buddha. Sebelum bersarana, hendaknya seorang siswa terlebih dahulu memahami Mulacarya, agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari yang mengakibatkan tidak menghormati Mulacarya melalui ucapan, pikiran, dan perbuatan. Begitu bersarana, hendaknya menghormati serta menghargai Mulacarya, dengan demikian, akan membuahkan karma baik dan kelak mencapai keberhasilan dalam mendalami Buddhadharma. Apabila mengecam Mulacarya, berarti telah melanggar sila ke-1 dari “14 Sila Dasar Tantrayana”, dan kelak akan terjerumus ke dalam Neraka Vajra.
Apabila setelah bersarana kepada Mulacarya, ternyata Mulacarya tersebut memang tidak benar, dan tidak memiliki kemampuan dalam Buddhadharma, maka jauhilah Mulacarya tersebut, dan bersarana kepada Mulacarya lain yang sejati. Namun, sebagai seorang sadhaka Vajrayana, janganlah mengecam mantan Mulacarya tersebut.

Sila ke-2: Tidak mematuhi Tata Sila Tantra maupun non-Tantra.
Penjelasan: Baik Tantrayana maupun non-Tantra terdapat banyak sila, dan sila-sila ini bermaksud untuk mencegah umat Buddha melakukan perbuatan jahat, antara lain: Pancasila Buddhisme, Kusala Karmapatha, dan 250 Sila. Kekuatan yang diperoleh dari mematuhi sila disebut kekuatan sila. Sadhaka Vajrayana wajib mematuhi Tata Sila Tantra maupun non-Tantra.

Sila ke-3: Menaruh rasa dendam dan menghujat sadhaka sedharma.
Penjelasan: Sesama saudara sedharma baik Tantra maupun non-Tantra,
hendaknya tidak menaruh rasa dendam ataupun menghujat. Oleh sebab itu, dalam Zhenfo Zong terdapat sila yang amat penting, yaitu “Menghormati saudara sedharma dan menghormati Mulacarya”.

Sila ke-4: Tidak memiliki maitri karuna.
Penjelasan: Sadhaka Vajrayana hendaknya memiliki maitri karuna, janganlah beriri hati.

Sila ke-5: Gentar akan kesulitan dan meninggalkan Bodhicitta.
Penjelasan: Hendaknya memiliki maitri karuna dalam upaya membebaskan sesama makhluk dari samsara, sekalipun terhadap manusia yang berwatak jahat. Dengan tidak gentar dan tidak patah semangat menyadarkan bahwa semua makhluk memiliki Buddhata. Gentar terhadap kesulitan akan mengakibatkan lenyapnya Bodhicitta, padahal dalam mengembangkan Bodhicitta yang utama adalah membantu bebaskan sesama makhluk dari samsara.

Sila ke-6: Mengecam Sutra Tantra maupun Sutra non-Tantra bukan berasal dari Buddha.
Penjelasan: Dewasa ini masyarakat banyak mengecam bahwa sutra yang ini palsu, sutra yang itu palsu. Hendaknya jangan sembarangan memberi komentar jika belum mengerti dengan jelas, sebab salah komentar dalam hal ini merupakan kecaman yang juga melanggar sila.

Sila ke-7: Mengajarkan Sadhana Tantra tanpa memiliki kualifikasi.
Penjelasan: Hanya orang yang memiliki kualifikasi seorang Acarya yang telah diakui keabsahannya oleh seorang Mulacarya dan Adinata baru diperkenankan mengajarkan Sadhana Tantra, dan itupun setelah ia mampu melebur dalam samudera kemurnian sifat Vairocana. Jadi, kalau belum memperoleh abhiseka dan keabsahan dari seorang Mulacarya, seseorang tidak diperkenankan mengajarkan Sadhana Tantra.

Sila ke-8: Melekat pada pancaskhanda yang merugikan sesama.
Penjelasan: Seorang Vajracarya layaknya seorang Buddha, dan sadhaka
Vajrayana juga layaknya Pewaris Dharma. Perbuatan merugikan orang lain dan menyakiti diri sendiri yang penuh dengan kemelekatan pada pancaskhanda, tidak sesuai dengan vinaya Buddhadharma.

Sila ke-9: Mengabaikan sunya dan abhava.
Penjelasan: Sunya dan abhava, kedua-duanya amat penting. Dan jangan mengabaikan upaya pelatihan mencapai sunya.

Sila ke-10: Bersekutu dengan orang yang mengecam.
Penjelasan: Sila ke-10 ini kelihatannya bertentangan dengan sila ke-5, sebenarnya tidak demikian. Kita boleh berupaya membantu bebaskan mereka yang mengecam Buddhadharma agar meninggalkan samsara, begitu pula mereka yang perbuatannya merugikan orang banyak; namun kita tidak bersekutu dengan mereka, artinya kita tidak melibatkan diri dengan perbuatan mereka, juga tidak bersenda gurau dengan mereka.

Sila ke-11: Memamerkan kekuatan spiritual dan melupakan makna mulia sebenarnya.
Penjelasan: Sering memamerkan kekuatan spiritual pribadi, dan telah melupakan makna mulia semula belajar Sadhana Tantra, yaitu mencapai kebuddhaan, membantu bebaskan sesama makhluk dari samsara serta mengembangkan Bodhicitta.

Sila ke-12: Tidak mengajarkan Sadhana Tantra yang sejati berarti merusak akar kebajikan.
Penjelasan: Seorang Acarya yang sejati wajib mengajarkan Sadhana Tantra yang sejati, dan membantu bebaskan sesama makhluk dari samsara. Kalau tidak, ia telah merusak akar kebajikan dan termasuk melanggar sila.

Sila ke-13: Tidak memiliki alat ritual yang lengkap.
Penjelasan: Setiap pelatihan dan pengajaran Sadhana Tantra harus memiliki perlengkapan alat ritual yang komplit, agar tidak melanggar sila.

Sila ke-14: Mengecam kebijaksanaan kaum wanita.
Penjelasan: Tidak mengecam kebijaksanaan kaum wanita, berarti menjalani konsep persamaan derajat.
Ke-14 butir sila diatas merupakan sila dasar dari Tantrayana, bagi yang ingin mempelajari Tantrayana wajib menerima Abhiseka Paripurna, dan juga wajib memahami 14 Sila Dasar Tantrayana, jika tidak menerima Abhiseka Paripurna dan tidak menaati 14 Sila Dasar Tantra, tetapi turut menekuni Sadhana Tantrayana, maka cara demikian tidak benar, dianggap sesat.

Bersarana Harus Mengabdi Kepada Guru

Banyak yang merasa heran, mengapa nama Dharma Acarya Shengyan-Lu adalah Liansheng, sedangkan kata pertama dari nama Dharma para siswa juga ‘Lian’. Bukankah ini sangat menbingungkan? Biasanya, kata pertama dari nama Dharma Guru dan siswa itu pasti berbeda, seperti Guru saya Guru Yinshun, nama Dharma saya ialah Huiyan, dan bersarana kepada Bhiksu Leguo, nama Dharma saya Daoyan dan lain sebagainya.

Sebenarnya, alasan saya menyamakan kata pertama dari nama Dharma Guru dan siswa terdiri dari tiga, yakni:

Pertama, Tingkat Pencapaian sama. Saya berharap sadhana siswa dapat mencapai tingkatan seperti saya, setiap orang dapat terlahir ke Mahapadminiloka.


Kedua, Tingkatan Dharma sama. Saya tidak membedakan nama Dharma saya dan siswa, agar memperoleh tingkatan Dharma yang sama, kita semua ialah perpaduan dari Triratna, demikian akan terasa lebih akrab, Dharma dari Guru langsung diturunkan ke siswa, setiap orang memperoleh Dharmasukha, tiada perbedaan kekeluargaan, memperoleh manfaat secara samata.

Ketiga, Guru dan Siswa Adalah Keluarga. Saya sebenarnya mempunyai pandangan seperti ini, jika bhavana siswa memperoleh keberhasilan, seperti sebuah ungkapan: ‘hijau berasal dari biru, namun warnanya lebih gelap dari biru’, saya berharap bhavana siswa dapat melampaui saya, lebih baik dari saya, oleh karena itu tidak membedakan nama Dharma siswa dengan saya, yang berarti Guru dan siswa adalah keluarga, juga mempunyai makna agar lebih akrab.


Selain itu, saya sama sekali tidak mempunyai keangkuhan sebagai seorang Guru, biasa-biasa saja. Dan beberapa siswa juga menganggap saya seperti teman, sudah kebiasaan tidak segan, jadi tidak bisa membedakan yang mana Guru, yang mana siswa. Saya juga tidak mempunyai wibawa, juga tidak bisa memerintah, semuanya tergantung jodoh, beginilah saya.

Namun, dengan Guru saya sendiri, tentu berbeda, setiap bertemu dengan Guru, bagaikan bertemu dengan Buddha, langsung bersujud, mengetukkan kepala hingga menyentuh tanah, mengulurkan kedua tangan, bernamaskara memberi hormat, dengan tata krama seorang siswa menghormati Guru. Selain itu, apabila Guru berada disekeliling, saya pasti akan memberikan persembahan kepada Guru, apabila jauh dari siswa, akan mengirimkan persembahan melalui via pos. Ini merupakan cara saya menghormati seorang Guru.

Saya selalu mengingat Guru saya, berguru sehari, berarti berguru selamanya. Segala tugas Dharma akan mengingatkan saya saat bersarana kepada Guru, oleh sebab itu sangat menitikberatkan Dharma yang ditransmisikan oleh Guru.

Pada dasarnya, Budhadharma menitikberatkan tata krama, oleh karena itu pelimpahan jasa dari ikrar yang diucapkan Asvaghosa Bodhisattva yakni ‘Abdi Guru Pancasika’, terkutip tata krama seorang siswa menghormati Guru. Saya catat, sebab apabila mampu merealisasikannya, maka harus berusaha sebisa mungkin, apabila tidak mampu, biarkan sesuai jodoh. Mari kita bersama-sama mengulas isi dari ‘Abdi Guru Pancasika’, untuk seorang siswa bagaimana baru dianggap sah.





Abdi Guru Pancasika

Ditulis oleh Bodhisattva Asvaghosa. Berikut penjelasan butiran sila:  

Pasal 1, shifang shijie zhong sanshi yiqie fo
Heng yu guanding shi sanshi shen li feng


Penjelasan:
Seorang siswa harus mengingat Guru dan melakukan Namaskara kepada Guru 3 kali setiap harinya (pagi, siang, dan senja). Lakukan dengan penuh rasa hormat sebagaimana terhadap Buddha.

Pasal 2, qi zuishang gongjing hezhang yi chihua
San bi manchaluo tou mian jie zuli


Penjelasan:
Mempersembahkan bunga di altar mandala, lalu lakukan Mahanamaskara kepada Guru.

Pasal 3, bishi huo zaijia ji xinshou ju jie
Zhijing xiangyu qian ze xi zhu yibang


Penjelasan:
Seorang Acarya, baik merupakan seorang bhiksu maupun non-bhiksu, atau yang baru saja diupasampada, jika berada di hadapan rupang, atau kitab suci, harus diberi salam penghormatan, jangan sampai menaruh rasa curiga atau timbul niat jahat untuk memfitnah.

Pasal 4, ruo chujia dizi chang jingxin chengshi
Yi zuo dangqi ying wei chuyu jingli


Penjelasan:
Mengabdi kepada Guru dengan setulus hati, memahami sopan santun untuk memberikan tempat duduk kepada Guru.

Pasal 5, bishi ji dizi dang hu shen qi qi
Ruo bu xian guancha tong de yuefazui


Penjelasan:
Sebelum berguru harus teliti dalam memilih Guru, apakah pantas diangkat sebagai Guru. Selaku Guru juga harus mengamati siswa, apakah pantas dibina. Kalau tidak, sama-sama telah melanggar sila meremehkan.

Pasal 6, ruo fen hui wu ci tan ai duo qing fu
Ao’man zikua jin jueze bu yingyi


Penjelasan:
Jangan berlindung kepada seorang Guru yang pemarah, tidak berwelas asih, serakah, suka kemewahan, sombong, suka memuji diri sendiri. Maka sebelumnya harus memahami sifat dan kebiasaan Guru dengan jelas.

Pasal 7, ju jie ren beizhi zunzhong wu chan qu
liao mimi yifan boxian zhu lunyi


Penjelasan:
Guru yang baik selalu bermaitri karuna, Mahabijaksana, menaati sila, menjaga kehormatan diri, tidak memihak, memahami Dharma. Untuk itu, harus teliti sebelum berguru.

Pasal 8, shanda zhenyan xiang manchaluo shiye
Qizheng shi zhenru zhu genxi qingjing


Penjelasan:
Guru yang bijak selalu memahami segenap Dharma, telah mencapai Dasabhumi Bodhisattva, menjaga kesucian enam indera, dan tidak lagi mempunyai kilesa.

Pasal 9, ruo bi qiufazhe yu shisheng qinghui
Ze bang zhu rulai chang de zhu kunao


Penjelasan:
Seorang siswa yang melatih diri tidak boleh memfitnah Guru. Memfitnah Guru bagaikan memfitnah Sang Buddha, pasti berakibat duka.

Pasal 10, you zeng shang yuchi er huoyu xian bao
Wei e yao zhichi zhongbing xiang chanfu


Penjelasan:
Menfitnah Guru adalah tindakan yang sangat bodoh. Akan menerima balasan karma, makhluk halus mudah merasuki dirinya hingga menderita sakit dan tak terbebaskan.

Pasal 11, wangfa suo biqie ji dushe shangshi
Yuanzei shuihuonan feiren de qi bian


Penjelasan:
Menfitnah Guru berarti melanggar hukum berat, mudah terluka oleh racun serta tertimpa petaka banjir, kebakaran, perampokan, dan para makhluk halus akan sering membawakan musibah.

Pasal 12, bi pin na yejia chang zuo zhu zhang’ai
Congci er mingzhong ji duo yu e’qu


Penjelasan:
Menfitnah Guru akan mendatangkan rintangan dari makhluk halus, setelah meninggal akan masuk ke tiga alam samsara, yakni Alam Neraka, Alam Preta, dan Alam Hewan.

Pasal 13, wu ling asheli shao fen sheng fannao
Wuzhi xiang weibei dingru abiyu


Penjelasan:
Siswa yang mengabdi kepada Guru, jangan menyulitkan Guru. Melawan petunjuk Guru atau mengkhianati Guru akan terjerumus ke Neraka Avici.

Pasal 14, shou zhong zhong jiku shuo zhi shen kebu
You bang asheli yu zhong chang zhizhu


Penjelasan:
Neraka Avici adalah neraka yang paling sengsara. Demikianlah penderitaan menakutkan yang tiada habisnya bila memfitnah Guru.

Pasal 15, bi asheli zhe hongchi zhengfazang
Shi gudang yixin zhemo sheng qingman


Penjelasan:
Seorang siswa wajib sepenuh hati membantu Guru yang membabarkan Sadharma. Dalam hal ini, sikap meremehkan sama dengan melanggar sila.

Pasal 16, chang yu asheli chengshi er gongyang
Fasheng zunzhong xin ze juanchu zhangnao


Penjelasan:
Setulus hati berdana kepada Guru, menghormati Guru. Berkat adhistana dari Guru akan melenyapkan rintangan dan kilesa.

Pasal 17, you fu yu shi suo lexing yu xishe
Bu kouyu ji shen hekuang yu caiwu


Penjelasan:
Seorang Tantrika, nyawa pun siap dikorbankan apalagi harta benda. Oleh karena itu, orang yang suka berdana akan memiliki berkah.

Pasal 18, jinxiu wuliang jienan zheng rulaiguo
Jinyu yisheng zhong asheli ciyu


Penjelasan:
Seorang sadhaka tak dapat mencapai Kebuddhaan sebelum bertemu seorang Guru. Oleh karena itu, keberhasilan seorang sadhaka adalah berkat jasa dan anugerah seorang Guru.

Pasal 19, pu hu qi shen shi gongyang zhu rulai
Gongjing asheli deng tong yiqie fo


Penjelasan:
Mengabdi kepada Guru adalah tekad awal seorang siswa yang sama pentingnya dengan memberi persembahan kepada Buddha.

Pasal 20, xiwei suo ai wu te zhu zui shangzhen
Qiu wujin putixin xi fengxian


Penjelasan:
Guru mewakili Triratna. Oleh karena itu, memberikan persembahan yang terbaik kepada Guru akan membuahkan pahala yang tiada tara.

Pasal 21, shifo asheli niannian chang zengzhang
Shi zui sheng futian su de putiguo


Penjelasan:
Memberi persembahan kepada Guru dan Buddha adalah ladang kebajikan terbaik, mudah mencapai Kebodhian.

Pasal 22, rushi qiufazhe ju jieren gongde
Bu xukuang yu shi dang huo jingangzhi


Penjelasan:
Menghormati Guru secara tulus, penuh kesabaran, dan ikhlas, pasti akan memperoleh kebijaksanaan dari Tathagata.

Pasal 23, ruo zu ta shi ying huo zui ru pota
Yu chuang zuozi ju qi ma zuiguo shi


Penjelasan:
Jangan menginjak bayangan Guru, jangan menduduki Dharmasana Guru, dan jangan menggunakan peralatan yang sering dipakai oleh Guru, semua tindakan ini termasuk melanggar sila.

Pasal 24, ruo shi suo jiaohui huanxi dang tingshou
Ziji huo buneng ze shanyan qibai


Penjelasan:
Terimalah nasihat Guru dengan sukacita. Beritahulah dengan cara yang halus jika tidak sanggup terlaksana dengan baik.

Pasal 25, you yizhi shi gu suozuo jie chengjiu
Xian le ji shengtian he gan da qi ming


Penjelasan:
Berkat pengajaran sadhana oleh Guru sehingga siswa bisa mencapai keberhasilan. Maka dikatakan Guru adalah ladang kebajikan terbaik, janganlah seorang siswa sampai melawan perintah Guru.

Pasal 26, shi cai ru ji ming shi ai jing ruo shi
Shijuan ru ji qinjing fengmu shudai


Penjelasan:
Penjelasan: Merawat harta benda Guru sama seperti jiwa sendiri, jangan sampai ada pemborosan. Hormatilah orang yang dihormati Guru dan hormatilah sanak saudara Guru. Jangan meremehkannya.

Pasal 27, bu ying yu shi qian fu ding ji chengyu
Qiao zushou chayao anran er zuowo


Penjelasan:
Di hadapan Guru harus berpenampilan rapi, jangan bertingkah aneh atau kurang sopan seperti mengangkat kaki atau bertolak pinggang.

Pasal 28, huo shiyuan ling zuo wu shu yu shuangzu
chang ju zhu weiyishi qi su dang qi


Penjelasan:
Umat Buddha wajib bertingkah santun, jangan selonjorkan kaki saat duduk, segera berdiri jika Guru sudah berdiri.

Pasal 29, ruo yu jing xingchu bu ying sui jubu
Duan jinli yu bang wu qi yu tituo


Penjelasan:
Siswa hendaknya siap berdiri di sisi jalan yang akan dilalui Guru untuk penyambutan atau pengantaran. Jangan merasa jijik jika Guru sedang batuk atau usap ingus.

Pasal 30, yi wu yu shi qian siqie er yan shuo
Ji linjin yuxiao gewu zuo chang deng


Penjelasan:
Jangan berbisik-bisik di hadapan Guru. Semua tingkah yang kurang sopan harus dihentikan.

Pasal 31, huo lingzuo huo qi ge’an xu lijing
Ruo yu xianlu zhong ziji zuo qiandao


Penjelasan:
Hendaknya bersikap tenang dan penuh rasa hormat saat menerima petunjuk dari Guru. Wajib berjalan mendahului Guru jika sedang berada di jalanan yang berbahaya.

Pasal 32, you bu yingyu qian shen xian pilao xiang
Qu zhijie zuo sheng yi zhu ji qiangbi


Penjelasan:
Hendaknya bersemangat dan tidak tampak lesu di hadapan Guru, hentikan gerakan yang tak pantas, jangan menyandarkan tubuh ke pilar atau dinding.

Pasal 33, huo huan yi zuozu ji zaoyu deng shi
Xian baishiling zhi suozuo wu lingjian


Penjelasan:
Permisilah kepada Guru sebelum mencuci pakaian, mandi, atau membasuh kaki, agar tidak terlihat oleh Guru.

Pasal 34, you fu yu shi ming bu ying zhe cheng ju
She you guowenzhe dangshi zhi yizi


Penjelasan:
Jangan menyebut nama Guru sesukanya, bila ada yang bertanya, sebutlah nama Buddhis.

Pasal 35, shi huo ling gan ji dang si qi qianshi
Yu bei suo zuoshi yi chi chang bu wang


Penjelasan:
Siap menerima tugas dari Guru, jangan mengabaikan tugas yang diberikan oleh Guru, dan usahakanlah selesai dengan tuntas.

Pasal 36, huo xiao sou shen jiu ze yi shou zhekou
Ruo youshi qiwen dang qu gong ruanyu


Penjelasan:
Tutupi mulut dengan tangan saat tertawa, bersin, atau batuk. Jika ingin berbicara, berilah hormat terlebih dahulu.

Pasal 37, ruo zai jia nvzi jingxin lai tingfa
hezhang ju mieyi zhuanshi yu shimian


Penjelasan:
Umat wanita yang sedang mendengarkan ceramah Dharma harus berpenampilan rapi, beranjali, dan penuh perhatian.

Pasal 38, wen yi dang fengchi sheli yu jiaoman
Chang ru chu shijia dipin shen cannan


Penjelasan:
Umat wanita yang menerima ajaran Dharma dari Guru harus mengamalkannya dengan seksama, tidak angkuh, bersikaplah seperti seorang pengantin baru yang menundukkan kepala.

Pasal 39, yu bei yan shen ju wu fusheng aile
Yu shanfei xiangying jie siwei yuanli


Penjelasan:
Umat wanita yang belajar Dharma harus berpenampilan sahaja, tidak melekat pada perhiasan. Segala hal yang tidak baik harus dijauhi.

Pasal 40, chang mu yu shi ting bu ying qiong xiao guo
Sui shun huo chengjiu qiuguo dang zisun


Penjelasan:
Belajarlah budi pekerti Sang Guru, dan janganlah membesar-besarkan kesalahan kecil Guru. Jadilah siswa yang penurut agar segera memperoleh keberhasilan. Kalau membesar-besarkan kesalahan Guru, meremehkan Guru, hal ini justru akan merugikan siswa sendiri dan gagal mencapai keberhasilan dalam Dharma.

Pasal 41, shuofa du dizi manchaluo humo
chengyi tong shi ju wuzhi buyingzuo


Penjelasan:
Hal yang berkaitan dengan ritual harus sesuai dengan petunjuk Guru. Tidak boleh melakukan ritual di luar petunnjuk Guru.

Pasal 42, huo shuofa suo de jingshi zhu caiwu
Xi yi feng qi shi suide er keyong


Penjelasan:
Dana paramita dari upaya pembabaran Dharma seharusnya untuk Guru. Jangan dipergunakan tanpa seizin Guru.

Pasal 43, tongxue ji fayi buying wei dizi
yi buyu shi qian shou chengshi lijing


Penjelasan:
Silsilah Guru harus dijaga, sesama siswa tidak diperbolehkan saling mengangkat Guru, semua ini ada aturannya.

Pasal 44, ruo yi wu shangshi ershou chi fengxian
Shi huo you suoshi dang gongjing dingli


Penjelasan:
Memberikan sesuatu kepada Guru harus menggunakan dua tangan. Begitu pula menerima sesuatu dari Guru juga harus menggunakan dua tangan lalu mengangkat di atas kepala.

Pasal 45, zi zhuan xiu zhengxing changyi chi buwang
Ta huo fei lvyi ai yu xiang jiaoshi


Penjelasan:
Umat Buddha wajib belajar dengan sepenuh hati dan konsisten. Jangan bertindak tidak sesuai sila, dan jangan secara sengaja mencari-cari kesalahan Sang Guru.

Pasal 46, ruo shi suojiao kou huo bingyuan buzuo
Dangzuo lizi chen si ze wu qi jiu


Penjelasan:
Ajaran Guru harus dilaksanakan semuanya. Jika tidak dapat melaksanakan karena sakit, harus memberi penjelasan secara baik-baik agar tidak melanggar sila.

Pasal 47, chang lingshi huanxi li zhufannao shi
dangqin er xing zhi kong fan gu bu shu


Penjelasan:
Semua tingkah laku siswa harus membahagiakan Guru, wajib berusaha membantu Guru mengatasi masalah yang sulit, tekun berdana dan melayani Guru dengan rasa hormat. Banyak cara untuk mengabdi pada Guru, tidak disebutkan satu per satu.

Pasal 48, bi jingang rulai qin ru shi xuanshuo
ji yu jiao suo ming yishi huo chengjiu


Penjelasan:
Demikianlah sabda Sang Buddha, “Berlindung kepada Guru, akan mendapatkan keberhasilan yang besar.”

Pasal 49, ruo dizi qingjing guiyi sanbao yi
dang fushi shifa xian ling shu feng song


Penjelasan:
Bagi siswa yang baru bersarana wajib membaca “Abdiguru” agar tidak melanggar sila

Pasal 50, ci shou mimi jiao shi cheng zhengfaqi
Genben shisi duo tongying shan song shi


Penjelasan:
Siswa yang sudah menerima abhiseka sarana akan diberikan ajaran Tantra agar menjadi seorang sadhaka yang benar, juga harus diajari “14 Sila Dasar Tantrayana” agar menjadi sadhaka Vajrayana yang sejati.

“Abdiguru Pancasika” ialah sila yang harus ditaati oleh siswa Buddha terhadap Guru. Usai mendalami ‘Abdiguru’, saya sendiri juga menghormati dan mempersembahkan Guru sesuai sila, sepenuh hati merealisasikannya. Sebab, segala Sadhana Rahasia yang saya miliki, tanpa transmisi dari seorang Guru, bagaimana saya bisa mencapai keberhasilan?

Kini, siswa saya semakin hari semakin banyak, di Seattle, USA, bangunan Vihara megah dan pepohonan yang tinggi, agar metode Dharma dapat lebih lengkap. Semoga para siswa di seluruh pelosok dunia, dapat bersama-sama membaca “Abdiguru Pancasika”, memahami tata krama, menghormati Guru dan umat sedharma, tidak melanggar sila, meskipun saya seorang Guru yang menyesuaikan diri dengan para siswa, namun Dharmapala dan Dewata melindungi setiap saat, maka segala hal yang dianggap melanggar sila, pasti akan menerima balasan karma yang berat, kelak saya juga tidak berdaya.