Halaman Utama > Dharmaraja Lian-sheng > Karya Tulis Mahaguru > 145_Batin Teduh Seketika > Lencana Emas Paduka Guan


Lencana Emas Paduka Guan

Saya sering merasa prihatin, dunia ini sejak ribuan tahun yang dulu senantiasa penuh gejolak. Orang yang sadar berjumlah sedikit, orang yang sesat berjumlah banyak sekali. Susah sekali menemukan orang yang berhasil memperoleh pencerahan di dunia, sebaliknya, yang tidak berkarma baik ada di mana-mana, sungguh menyesalkan.

Saya teringat sebait syair:
Kemakmuran dan reputasi sungguh menyesatkan
Manusia di dunia terperangkap dalam keduniawian
Hanya tahu kesenangan duniawi yang serba untung-untungan
Tak pernah terpikir karma bahwa vipaka diam-diam menjerat

Pencerahan saya, terus terang, sangatlah alamiah, tidak terbentuk dan tak terungkapkan. Orang-orang merasa ragu pada saya, para sadhaka juga merasa ragu. Ini memang wajar, karena hal pencerahan tak dapat dilihat, tak dapat didengar, tidak berwujud, juga tidak terungkapkan. Sekalipun ditulis dengan menggunakan Gunung Semeru sebagai pena dan air empat samudera sebagai tinta, tetap sulit untuk dituliskan.

Saya hanya dapat berkata demikian:
Mencapai pencerahan menampakkan sifat sejati
Mengendalikan kelahiran dan kematian
Sepuluh penjuru Dharmaloka
Memancarkan cahaya maha terang

Suatu ketika saat menjelajahi Dharmaloka sepuluh penjuru, saya mengamati dari jauh dengan mata prajna, tampak hawa kebajikan menerobos ke angkasa, memperlihatkan fenomena bijak.

Rupanya Paduka Guan (Sangharamapala atau biasa disebut Guan Gong), Panglima Zhou Cang, dan Guan Ping sedang menuju kemari. Saya melihat pula seseorang dari dunia fana perlahan-lahan naik ke angkasa, orang ini diselimuti awan merah. Ia bersujud di hadapan Paduka Guan. Dan, Paduka Guan menganugerahi sebuah lencana emas padanya.

Saya sangat terkejut dan bertanya, “Siapakah orang ini?”

Paduka Guan menjawab, “Tuan Wen Ping.”

“Jangan-jangan seorang sadhaka yang berhasil?”

“Meski bukan seorang sadhaka yang berhasil, tapi sudah mendekati suci.”

“Rupanya mendekati suci, sungguh langka, saya mesti mengingat namanya.”

Paduka Guan tersenyum, “Berjodoh atau tidak, di kemudian hari Anda akan tahu.”

Saya berkata, “Semoga Tuan Wen Ping memahami sumber kelahiran dan kematian, berjodoh dengan Buddhaloka.”

Secara kebetulan, saya telah berkesempatan menyaksikan penyerahan lencana emas kepada Tuan Wen Ping oleh Paduka Guan, Panglima Zhou Cang, dan Guan Ping.

Tuan Wen Ping menerima lencana emas pada hari ketiga belas bulan kelima penanggalan lunar, bertepatan dengan hari turunnya Paduka Guan ke dunia. Sungguh tidak mudah, rupanya Tuan Wen Ping telah memuja Paduka Guan selama dua puluh tahun.

Selama dua puluh tahun, setiap pagi dan malam ia tak pernah lalai mempersembahkan dupa dan sarana puja. Setiap pagi dan malam ia membaca Sutra Kesadaran Moral Paduka Guan satu kali.

Ketulusan hati ini telah menggugah hati Paduka Guan. Dalam mimpi, Tuan Wen Ping telah melihat Paduka Guan, juga mengetahui hal penganugerahan lencana emas oleh Paduka Guan.

Lencana emas telah diberikan, sungguh luar biasa.

Dulu, saya pernah menceritakan, ketika Bhiksuni Cheng Yen dari Tzu Chi bermaksud bermalam di Kuil Maha Dewi Wangmu Niangniang di Taitung—saat itu Bhiksuni Cheng Yen sedang mengembara dengan penuh duka – beliau berdoa pada Maha Dewi Wangmu Niangniang.

Maha Dewi Wangmu Niangniang (Yaochi Jinmu) melihat bahwa beliau adalah seorang bhiksuni yang berbakti, lalu berkenan menganugerahinya sebuah gelang ruyi (bermakna sesuai kehendak).

Begitu gelang ruyi itu diberikan, menakjubkan! Sejak itu takdir telah berubah total!

Karena pribadi Bhiksuni Cheng Yen sangat berwelas kasih dan tekun, ditambah lagi gelang ruyi dari Maha Dewi Wangmu Niangniang, maka terintislah Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi (Lembaga sosial yang memiliki cabang di seluruh dunia) yang sekarang ini.

Dunia hanya menyaksikan kesuksesan luar biasa dari perbuatan amal Bhiksuni Cheng Yen.

Tetapi, hanya sayalah yang tahu hal ini, bahwa gelang ruyi Maha Dewi Wangmu Niangniang telah memancarkan maha cahaya.

Mari kita kembali membicarakan lencana emas Tuan Wen Ping.

Sebelum memiliki lencana emas, penghasilan Tuan Wen Ping tergolong menengah ke bawah, hanya memiliki sedikit investasi di usaha P & D serta bidang properti.

Namun, begitu memperoleh lencana emas, usaha P & D Tuan Wen Ping menjadi sangat bagus, konsumen ramai berdatangan. Usaha orang lain sepi, hanya usaha dia yang laris.

Ia membuka banyak cabang usaha P & D di seluruh negeri, semuanya maju pesat.

Setelah menuai laba, ia mulai bergelut di bidang perumahan. Harga pasaran kemudian naik tajam, dan Tuan Wen Ping menjadi hartawan. Semua orang mengetahuinya, ia menjadi orang mewah di deretan yang mewah.

Ia berdiam di rumah yang mewah, bepergian dengan kendaraan impor yang mewah, berpakaian yang bermerek, serta menikmati hidangan lezat yang langka.

*

Suatu hari….

Tuan Wen Ping datang menemui saya. Ia bertanya, “Berapa kehidupankah saya akan berjaya terus?”

Saya menjawab, “Hanya satu kehidupan saja.”

Dengan kurang senang ia bertanya, “Apakah saya akan naik ke alam dewa?”

“Saya adalah alam dewa, Anda adalah alam neraka,” jawab saya.

Ia bertambah marah.

“Sheng-yen Lu, tahukah Anda di badan saya bawa apa?”

“Tahu, tapi tidak tahu,” jawab saya.

“Anda ini omongnya tidak jelas. Kelihatannya Anda pun tidak mengetahuinya. Orang lain mengatakan ramalan Anda sangat mengagumkan, rupanya hanya gadungan saja.”

“Tidak tahu tapi tahu,” sahutku.

“Apa itu tidak tahu tapi tahu?”

“Meski saya berkata tidak tahu, sebenarnya saya tahu, maka saya berkata tidak tahu tapi tahu.”

“Saya tidak peduli Anda tahu tapi tidak tahu atau tidak tahu tapi tahu, berikan saya jawaban hari ini juga atau saya tidak akan mempercayai Anda lagi. Jika Anda membuat pernyataan yang plin-plan, berarti Anda omong-kosong. Saya akan merusak nama baik Anda dan Anda tidak akan dapat mencari nafkah lagi!”

Saya menyadari bahwa orang ini sangat sulit untuk dihadapi. Saya lalu menulis dua kata, “Lencana Dewa.”

Ia bertanya, “Apa arti kedua kata ini?”

“Lencana adalah stempel tradisional. Dewa berarti lencana yang dianugerahi dari alam dewa.”

Ia terdiam.

Saya berkata, “Memiliki Lencana Dewa, tentu patut diucapkan selamat, tapi ketahuilah, Anda harus belajar menghargai, memahami prinsip hidup bermoral. Jika tidak, sekali pemberkahan usai dinikmati, bencana akan datang menghancurkan hidup Anda.”

Tuan Wen Ping sangat marah, ia berkata, “Menurut saya, Anda hanya tahu sedikit ilmu sesat yang pasaran saja, kelihatannya Anda tidak mempunyai kemampuan yang sejati. Mana ada sih prinsip hidup bermoral, saya tidak akan mendengarkan omong kosong Anda.”

Tuan Wen Ping pergi meninggalkan saya.

Saya mendesah, “Sangat disayangkan! Meski Tuan Wen Ping telah membaca Sutra Kesadaran Moral Paduka Guan selama dua puluh tahun sampai dirinya mendapat Lencana Emas, namun ia hanya tahu membaca saja, tidak memahami artinya sama sekali. Saya mengkhawatirkan orang ini, begitu berkahnya habis, bencana pun tiba. Saya mencoba memberi sedikit petunjuk, tak disangka hati mulianya telah tertutup, sama sekali tidak berupaya untuk cari tahu. Sungguh tak berdaya, terserah sajalah.”

*

Setelah beberapa waktu berselang, saya mendengar bahwa Tuan Wen Ping berkata pada orang lain, “Ramalan Sheng-yen Lu tidak akurat, pembicaraannya plin-plan, hanya omong kosong belaka, peramal gadungan. Di mulut berbicara Buddha, padahal mempraktekkan jalan sesat. Jangan tertipu orang ini, jangan-jangan seorang penipu.”

Tuan Wen Ping menjalin hubungan dengan sejumlah bhiksu di vihara, ia mengkritik saya, “Dukun palsu, pembohong, setan, sesat!”

Tuan Wen Ping terus memamerkan kemampuan dan kekayaannya. Ia tidak lagi tinggal di rumah mewahnya, tetapi membeli sebidang tanah yang luas, dan menguruknya hingga datar, lalu membangun sebuah istana model Versailes di Eropa.

Rumahnya bagaikan sebuah kastil.

Di sekeliling rumahnya dihiasi patung-patung manusia yang berseni.

Setiap keeping batu, atap dan tembok dari bangunan yang seperti istana ini diukir oleh tenaga ahli yang telaten. Lantai dari seluruh bangunan dilapisi dengan marmer Italia yang indah. Interior bangunan dilapisi dengan meniru gaya Istana Versailes di Perancis dan Istana Fontainebleau serta halama Istana Hampton di Inggris. Air terjun di taman halaman depannya didesain oleh tenaga khusus. Pintu dan jendela yang terukir berbagai ornament membuat banyak orang terpukau!

Pemborosan Tuan Wen Ping juga mengundang decak kagum banyak orang!

*

Tuan Wen Ping kemudian dibujuk oleh sejumlah teman yang tidak baik untuk berkunjung ke klub malam. Sejak itu ia mulai menyenangi kehidupan malam yang penuh dengan minuman keras dan berbagai hiburan seronok. Tiap malam ia pasti mengunjungi klub.

Di klub malam terdapat Nagasi, bisa ber-karaoke ria. Ada pramuria klub menemani, dan setiap wanita pramuria berpenampilan menggiurkan dengan mengenakan pakaian tradisional China dengan belahan samping yang tinggi. Para wanita ini memang mempesona.

Minuman keras dan aneka makanan lezat dan hangat disajikan di klub malam. Pramuria di klub malam mempunyai banyak cara yang unik dalam menyajikan arak.

Seorang pramuria klub bersiap-siap menghidangkan anggur kepada seorang tamu.

Tamu tersebut bertanya, “Bagaimana saya meminumnya?”

Pramuria menjawab, “Disuapi!”

“Bagaimana cara menyuapinya?”

Pertama-tama, pramuria meminum seteguk arak, kemudian mencium si tamu dan menyuapinya melalui bibir. Si tamu tidak hanya meminum arak tapi juga mencium si pramuria. Bahkan beberapa tamu mencium lidah lembut si pramuria. Mereka saling berpelukan dan saling menggoda.

Ketika musik Nagasi dimainkan, para tamu dapat berdansa dengan para pramuria.

Di klub malam, tamu boleh bernyanyi, berdansa, dan bersenang-senang. Ada wanita cantik, ada makanan lezat, ada anggur.

Tuan Wen Ping telah mabuk. Ia telah kehilangan dirinya.

Bagaimana mungkin Tuan Wen Ping pada saat itu masih mengingat tentang sila tidak minum-minuman keras dan tidak memakan daging seperti yang tertulis dalam Sutra Kesadaran Moral. Padahal antara suci dan noda tak boleh diaduk. Tidak boleh serakah memakan daging, karena itu berarti membunuh makhluk, apalagi minuman keras yang merupakan racun. Tiga kali meneguk, wajah pun memerah, dan nafsu pun bergejolak. Begitu melewati batas kemampuan minum, bagaikan tak waras, apapun dapat dilakukannya, terhanyut dalam khayalan, kehilangan akal sehat.

Ketika mabuk, seseorang akan kehilangan segala sopan santun, melupakan moral, bertemperamen buruk, berlaku kasar, picik, dan kehilangan rasa hormat.

Berbicara lagi soal nafsu birahi. Sutra Kesadaran Moral menekankan bahwa etika adalah dasar dari perilaku manusia. Sehingga seseorang harus belajar menahan perilaku amoral, mengendalikan nafsu birahi, dan mampu mengontrol pikiran yang liar, harus tahu etika malu. Inilah perbedaan antara orang suci dengan orang awam. Coba pikirkan, manusia bukan hewan, hanya hewan yang bersetubuh secara bebas. Kalau tidak menghargai norma kesopanan dan rasa malu, maka manusia tak ada bedanya dengan hewan.

Dalam kondisi mabuk, Tuan Wen Ping jatuh hati pada seorang pramuria klub bernama Meifei.

Teman yang nakal membujuknya, “Bawa dia keluar!”

“Bawa dia keluar untuk apa?”

“Disembelih! Mereka menggoda.

“Apa maksudnya disembelih?”

“Satu per satu disembelih, malam ini Anda adalah kaisar.”

Meifei diajak keluar oleh Tuan Wen Ping. Akhirnya, hampir semua pramuria di klub malam pernah diajak keluar oleh Tuan Wen Ping.

Pramuria klub adalah selir.

Tuan Wen Ping adalah kaisar.

Uang dihambur-hamburkan.

Tuan Wen Ping bertanya pada teman-temannya dengan rasa was-was, “Apakah ini dosa?”

Mereka menjawab, “Ini dibeli dengan uang, bagaimana mungkin transaksi dengan uang dikatakan berdosa?” Anda suka, mereka suka, sama-sama suka.”

Tentu saja, para pramuria melakukannya demi uang. Mereka mengetahui bahwa Tuan Wen Ping adalah pria kaya raya, sehingga mereka turuti semua keinginannya. Para pramuria ini tentu tidak sadar bahwa karma buruknya berat. Mereka mana mungkin mengetahui etika moral, karena semuanya asyik menjual tubuh demi uang. Para pramuria ini patut dikasihani, karena mereka tidak menyadari sifat murni mereka, tidak menyadari makna kehidupan, kasihan. Mereka tersesat dan terjerumus ke dalam samsara dan tidak tahu bersadhana. Demi mempertahankan hidup, mereka tidak menjalani nafkah yang benar. Kasihan mereka yang belum memahami penyebab kelahiran dan kematian!

Ada pramuria yang menyembah dewa, tak tahunya yang disembah adalah makhluk cabul, seperti karakter manusia berkepala babi simbol mata keranjang yang suka memeluk wanita cantik dalam roman klasik Perjalanan ke Barat. Pramuria menyembah makhluk cabul, berarti berdoa semua pria di dunia menjadi pria cabul.

Demi uang, mereka memuja makhluk cabul, saling menjunjung, bersama-sama terjerumus dalam samsara.

Banyak juga pramuria atau wanita penghibur menyembah makhluk seratus marga, dan makhluk pengabul doa. Tujuannya sama, agar dapat memperoleh banyak pelanggan, atau mengharapkan para makhluk liar bersedia membuka jalan agar memperoleh rejeki sampingan. Tujuan akhirnya sama, semua demi satu hal, uang.

*

Setahu saya, ada satu acara di alam dewa sebagai berikut: pada tanggal dua puluh empat bulan dua belas penanggalan lunas, hari di mana Dewa Dapur (Dewa Sejati Pengawas Kehidupan) naik ke langit memberi laporan perbuatan manusia.

Begitulah Dewa Sejati Pengawas Kehidupan dari rumah Tuan Wen Ping naik ke langit dan melapor pada Paduka Guan.

Dewa Sejati Pengawas Kehidupan bertutur dalam syair,
Terlahir dari nafsu birahi
Mati oleh nafsu birahi
Bagaikan tak bangun dari mimpi
Bangun tapi tak sadar
Sadar tapi tak terbangunkakn
Keruh dan kelam
Meneliti kebenarannya
Yang bermoral bejat
Semuanya berzinah

Paduka Guan yang mendengarkan hal ini menjadi marah. Orang yang telah dianugerahi Lencana Emas akan dibantu ratusan dewa berkah. Ke mana pun ia pergi selalu aman sejahtera, penuh dengan keberuntungan. Selain itu, ia amat berjodoh dengan Buddha yang dapat mengatasi kelahiran dan kematian. Maka itu pemegang Lencana Emas mana boleh orang yang bermoral bejat.

Paduka Guan memerintahkan Zhou Cang untuk menarik kembali Lencana Emas itu.

Zhou Cang terbang ke udara dan melesat pergi. Sementara terdengar beduk langit mendentum, Lencana Emas sudah berada di tangan Zhou Cang.

Lencana Emas ini di luar waktu dunia, dan tidak diketahui asal muasalnya. Nama asalnya adalah Lencana Emas Dewa yang dapat berlalu lalang tanpa jejak.

Karena saya tahu masalah ini, saya sungguh menaruh kekuatiran pada Tuan Wen Ping. Saya pernah meminta seseorang menyampaikan pesan padanya, agar ia bersedia segera bertobat.

Namun, Tuan Wen Ping tidak mau mendengar, dan ia tidak percaya. Ia merasa uang yang ia peroleh seumur hidup ini tidak akan pernah habis untuk difoya-foyakan. Asalkan tidak berjudi, cuma sekadar berkunjung ke bar dan klub malam dan mengajak pramuria bersenang-senang, pasti uangnya tak akan habis dipakai.

Tuan Wen Ping memang benar, seorang hartawan paling tabu terlibat perjudian. Karena betapa pun banyaknya uang, akan ludes di meja perjudian. Apalagi perjudian paling mudah memancing emosi, seorang hartawan sungguh tabu terlibat perjudian.

Kalau tidak main judi dan hanya menghabiskan uang di tempat minuman keras dan klub malam, pada dasarnya kekayaan Tuan Wen Ping tidak akan habis dinikmati.

Tuan Wen Ping juga bermimpi Zhou Cang datang meminta kembali Lencana Emasnya.

Tuan Wen Ping bertanya, “Lencana Emas sudah diberikan kepadaku, mengapa Anda memintanya kembali?”

Zhou Cang menjawab, “Bukan hanya meminta kembali Lencana Emas, saya sekalian akan mencabut nyawamu.”

Tuan Wen Ping bertanya, “Mengapa Anda akan mencabut nyawaku?”

Zhou Cang menjawab, “Tidakkah Anda membaca Sutra Kesadaran Moral bahwa seorang pria cabul harus merasakan Golok Naga Hijau Pengejar Rembulan (nama golok Guan Gong)?”

Tuan Wen Ping bingung dengan mimpinya, tetapi ia tidak takut sama sekali, juga tidak bertobat sama sekali.

*

Setelah Lencana Emas ditarik kembali, memang, hanya sebuah Lencana Dewa, belum tentu akan terjadi sesuatu.

Akan tetapi, bagaikan cuaca yang mudah berubah, pasang surut silih berganti, ungkapan ini sungguh benar adanya. Sesuatu telah terjadi di restoran milik Tuan Wen Ping. Apa yang terjadi? Ratusan pengunjung keracunan bersama, sehingga semua pengunjung restoran dilarikan ke rumah sakit gawat darurat. Ternyata, kuman dalam makanan telah menyebabkan keracunan. Mesti tak seorang pun meninggal, dampaknya besar sekali.

Restoran Tuan Wen Ping cukup banyak, namun yang aneh adalah restoran lain yang menjadi miliknya juga mengalami hal yang sama, keracunan makanan.

Begitu berita ini muncul di surat kabar, bisnis restorannya segera sepi. Yang semula ramai, sekarang menjadi sepi. Bisnisnya anjlok, tidak lagi seperti masa jayanya dulu, bahkan setiap hari mengalami defisit. Akhirnya satu per satu restorannya ditutup.

Meskipun ia membuka restoran baru dan memasang iklan, bisnisnya tidak juga membaik.

Usaha pembangunan dan property Tuan Wen Ping tadinya juga amat jaya, tetapi, kini mengalami hal yang sama. Badai hujan dahsyat menghancurkan tanah dan fondasi beton pada area perumahan yang dibangun Tuan Wen Ping. Bangunan bertingkat menjadi tak berfondasi. Beberapa bangunan bertingkat tinggi tampak miring, menjadi bangunan yang berbahaya.

Sebagai akibatnya, ganti rugi mencapai jutaan dolar. Kegagalan pembangunan ini bukan hanya kehilangan uang, tetapi juga terlibat perkara tuntutan. Oleh karena itu, yang bisa diselesaikan dengan uang terpaksa ia selesaikan, namun perkara tak dapat dielak, sungguh parah!

Yang membuat keadaan tambah buruk, organ hati Tuan Wen Ping pun rusak akibat mengkonsumsi minuman keras secara berlebihan. Dia didiagnosa menderita sirosis liver. Dalam waktu setengah tahun, nyawanya sudah tak terselamatkan.

Tuan Wen Ping meninggal.

Melihat Tuan Wen Ping dari memperoleh Lencana Emas sampai kehilangan Lencana Emas, lalu meninggal, saya menjadi terkesima, dunia kini semakin kelabu. Di zaman sekarang, bisnis pornografi berkembang dengan pesat, banyak remaja mempunyai akses ke buku dan gambar-gambar porno yang menyebabkan mereka timbul niat yang tak sehat.

Bisnis pornografi berawal dari penerbitan buku-buku porno, setiap buku yang terbit telah mencelakai puluhan ribu orang.

Pengarang buku porno munkin berpikir bahwa keisengan mereka hanya demi honor naskah. Masalah pembaca mau baca atau tidak tergantung pada si pembaca, tidak ada tanggung jawab moral yang mesti dipikulnya. Namun, pengarang harus tahu pula bahwa jika buku tidak ditulis, bagaimana mungkin buku ini ditemukan di pasaran buku? Gambar pria wanita setengah telanjang yang terpampang di cover buku itu hasil karya siapa? Para remaja yang matanya tertarik oleh pajangan buku, siapa pula yang telah menciptakan karma buruk ini?

Saya masih ingat, dulu seorang teman SD saya yang bermarga Zhang, berotak cemerlang, berprestasi bagus di sekolah. Ia bersekolah di SMU ternama, tapi mulai terpikat oleh buku porno yang ia beli dari pasar gelap. Zaman itu pemerintah melarang keras penjualan buku porno, tapi ada saja orang yang jual lewat pintu belakang. Zhang suka membaca buku porno dan sering melakukan masturbasi. Ia juga merekomendasikannya padaku. Begitu saya lihat, sempat kaget, untung saja tidak terpikat.

Zhang masih seorang remaja yang baru mau menginjak dewasa, namun energinya terkuras habis, tubuhnya menjadi lemah. Akhirnya ia tampak kurus kering, muka pucat pasi, badan tidak sehat. Orang tuanya sangat terkejut dan tidak dapat berbuat banyak.

Terakhir Zhang menderita depresi dan masuk rumah sakit jiwa.

Siapa yang telah merusak Zhang?

Buku porno, gambar porno.

Pengarang buku porno dan gambar porno yang secara tidak langsung telah membunuh Zhang.

Dalam pandangan saya, tentu Zhang bukan satu-satunya korban buku porno dan gambar porno. Remaja yang menajdi korban tak terhitung banyaknya. Apalagi para remaja putra-putri penasaran melihat buku yang penuh gambar vulgar, bukan saja sendiri yang beli, mereka bahkan merekomendasikan dan meminjamkan pada teman-teman. Semuanya tergiur, jiwanya rusak. Konsep pikiran mereka menjadi amoral dan abnormal.

Jangan kira para remaja saja yang tercemar, mereka yang sudah tengah baya dan lanjut usia pun tak beda banyak! Banyak di antara mereka yang tak tahan digoda.

Saya pernah melihat wanita etalase di Belanda dan Denmark.

Di Bangkok, pernah melihat wanita pembasuh Thai.

Di Hong Kong, terdapat satu rumah burung hong.

Di Taiwan, ada pula yang disebut workshop pribadi.

Di New York, pernah seorang wanita kulit hitam yang memakai jaket menghentikan saya. Ia menyodorkan secarik kertas yang tertulis, “Maukah Anda berkencan dengan saya?”

Saya menggelengkan kepala.

Wanita hitam manis itu berkata, “Saya dapat menjadikan Anda seorang kaisar.”

Saya kembali menggelengkan kepala.

Dia melanjutkan, “Saya dapat meniup, Anda akan terbang ke surge.”

Saya menjawab, “Tidak.”

Wanita hitam manis itu lalu membuka jaketnya. Ketahuilah, tubuh di dalamnya sama sekali telanjang, tak sehelai benang pun.

Saya sangat terperanjat dan lari meninggalkannya. Ia malah tertawa terbahak-bahak.

Dewasa ini, iklan surat kabar saja banyak bermuat bisnis pornografi, penuh kekotoran dan jebakan. Ada wanita mempesona yang sengaja menyerahkan diri. Godaan semacam ini dapat ditemukan di mana saja.

Kita mudah terpengaruh oleh lingkungan, belum lagi dorongan teman nakal. Kalau saja tidak mengandalkan kekuatan bhavana sehari-hari, sungguh mudah terpuruk.

Di Perancis, saya melihat adanya acara saling tukar istri, wadam, dan homoseks.

Saya merasa bahwa iklim moral telah tercemar, integritas manusia telah hancur, lahir batin manusia telah rapuh. Yang paling parah lagi, banyak yang meninggal akibat penyakit menular seksual, atau cacat tak dapat reproduksi lagi. Sungguh menyesalkan, saya harap manusia jangan terlibat dalam perangkap krisis pornografi.

*

Tuan Wen Ping dianugerahi Lencana Emas Paduka Guan, seyogyanya suatu hal yang maha sejahtera. Jika dihargai dengan sungguh-sungguh, tentu suatu hal yang amat terpuji dan patut disyukuri.

Sangat disayangkan, setelah memperoleh maha karunia, malah melanggar sila berzinah sehingga Paduka Guan menarik kembali Lencana Emasnya. Sesuatu yang maha sejahtera, akhirnya berubah menjadi maha petaka.

Sesuai ungkapan gatha:
Petaka dan berkah saling bergantungan
Berkah dan petaka saling mengintai
Duka dan suka berada dalam satu gerbang
Suka dan duka berada dalam satu wilayah

Demikianlah dalam semua petaka terdapat berkah, dalam semua berkah tersembunyi petaka. Suka dan duka berdampingan dalam kehidupan manusia, satu sumber pula.

Jika tadinya Tuan Wen Ping tidak memiliki Lencana Emas, hidupnya akan menjadi sederhana, paling tidak tiada kekuatiran.

Dengan adanya Lencana Emas, berkah pun tiba, begitu berkah tiba, nafsu pun tiba. Begitu nafsu tiba, petaka pun muncul. Kelihatannya Lencana Emas ini suatu batu ujian pula.

Saya tahu bahwa dewa selalu mengawasi dari atas. Orang yang berbuat kebajikan akan dapat mengubah nasibnya, akan memperoleh status dan panjang usia, keberuntungan berlimpah dan mendapat prajna. Orang yang berbuat jahat akan mengalami pemotongan usia, karir hancur dan terkena penyakit. Mungkin meninggal mendadak, menemui kecelakaan fatal, bahkan berkahnya dicabut.

Kejadian yang dialami Tuan Wen Ping adalah contoh kasus yang otentik.

Ada seorang umat Zhenfo Zong, setelah memperoleh fu kesehatan yang saya buatkan sendiri, sepanjang tahun ia mengenakannya, dan sangat menghargainya. Suatu ketika di suatu tempat umum, ia bertemu dengan seorang wanita yang cantik jelita dan keduanya berbincang-bincang dengan sangat riang. Tatapan mata wanita tersebut seakan-akan menawarkan harapan pada dirinya.

Rekan-rekan juga membujuknya segera bertindak.

Ketika pikiran umat ini mulai terpikat, tiba-tiba telinganya menangkap sebuah suara, “Tidak boleh!”

Aneh! Ini jelas-jelas suara Mahaguru, tapi ia tak melihat Mahaguru.

Sesaat kemudian, ia mendengar lagi, “Tidak boleh!” Di sekeliling sungguh tak melihat Mahaguru, dari mana suara itu berasal? Ia agak ragu.

Umat ini seorang petugas dinas lapangan sebuah perusahaan. Dalam tugasnya tak luput dari keperluan bergaul. Biasanya ia dapat menahan diri, ia merasa mesti mematahkan nafsu rendah yang timbul bukan pada tempatnya. Di rumah ada istri dan anak, ia tekun berlatih Sadhana Tantra, menaati Sila Bodhisattva. Ia tidak sembarangan berbuat hal yang menyimpang.

Akan tetapi, wanita ayu yang baru saja ditemuinya itu, bagaikan arwah penjerat dari kehidupan lalu, begitu bertemu langsung berjodoh. Wajahnya anggun, penampilannya gemulai, kelihatannya bukan seorang wanita murahan, lebih mirip seorang mahasiswi. Mereka berdua saling tertarik saat berbincang-bincang, oleh sebab itu, ia menaruh perhatian khusus padanya. Ketika wanita cantik itu mengisyaratkan kesempatan, dirinya tidak menolak.

Rekan-rekan memaksanya lagi.

Saat nafsu mulai membara di pikiran, saat dirinya ingin meluruskan kehendak hati, mendengar untuk ketiga kalinya, “Tidak boleh!”

Ia tersentak, orang yang menekuni Sadhana Tantra, menaati Sila Bodhisattva, teringat ajaran Sesepuh Tantra, “Semua yang bocor akan terjerumus.” Hidup manusia yang tidak membarakan nafsu, energi akan menyalur ke lima organ, mengalir bebas di nadi kiri dan nadi kanan serta nadi tengah. Begitu nafsu timbul dan membara, maka akan membakar kelima organ, sari sumsum mulai berkeliaran, pertama-tama akan berhambur keluar dari pintu nyawa. Sekalipun belum berhamburan, dengan membaranya hawa nafsu, ibarat kobaran api membakar air dalam kuali, air akan segera susut, demikianlah kebenaran nafsu membakar fisik.

Banyak remaja yang nafsunya memanas tidak terkendali, sering badan menjadi sakit karena mengkhayal. Ini sering terjadi.

Siswa ini segera memahami bahaya yang mengintai, langsung ia mencari alasan kabur dari tempat.

Malam itu, rekannya yang lain mengantar wanita cantik itu pulang ke rumah.

Mereka tidur bersama.

Meski hanya semalam, rekannya ini terkena penyakit! Saluran air seni rekannya mulai terinfeksi, tidak dapat buang air kecil, menahan sakit sampai wajahnya pucat pasi. Setelah diperiksa di rumah sakit, ternyata wanita cantik yang tampak anggun itu menularkan penyakit kelamin.

Meskipun rekannya tidak meninggal, namun ratapan kesakitannya menyedihkan.

Rekan yang lain semua menertawakannya, sungguh ia mencari-cari petaka.

Umat Zhenfo Zong tadi datang memberitahuku hal ini. Ia yakin larangan dari Mahaguru ini dikarenakan dirinya mengenakan fu kesehatan dari Mahaguru!

Ia bertanya padaku, “Tidak boleh! Apakah Mahaguru mengetahui hal ini lalu bersuara?”

Saya hanya tersenyum

Dia kembali bertanya.

Saya menjawab, “Alam ini penuh dengan dewa.”